The Rising Of Demon Slayer Hero

The Rising Of Demon Slayer Hero
Chapter 2: Sihir Api



Chapter 2: Sihir Api


Keesokan harinya, di sebuah mansion yang teramat besar. Lumiere benar benar dibuat kebingungan saat mencari keberadaan si pemilik mansion.


“Tinggal berdua di mansion sebesar ini benar benar tidak enak ya”.


Sesekali Lumiere membuka pintu ruangan yang tidak dikunci, sampai pada salah satu pintu yang terdapat dua buah armor samurai disampingnya. Armor yang lengkap beserta katananya.


“Waahh ini pedang asli”. Gumam Lumiere setelah mengambil Katana dari salah satu armor.


Dirasanya tidak terlalu penting untuk diamati, Lumiere mengembalikan Katana yang dipegangnya lalu segera membuka pintu ruangan. Saat melihat isi dalam ruangan Lumiere dibuat sangat terkejut.


Pasalnya ruangan itu berisi banyak senjata seperti pedang, Katana, rapier, busur, dan pisau lempar. Ada juga beberapa stone of elements bahkan sampai ada beberapa ramuan.


Lumiere yang tertarik pada ruangan tersebut masuk secara tidak sadar. Saat melihat sekeliling-Nya Lumiere dibuat berfikir keras ‘sebenarnya seberapa kaya anak yang menyelamatkan aku ini’. Sampai di ujung ruangan, Lumiere melihat sebuah bola transparan yang diletakkan di atas meja.


Lumiere memang penasaran, namun tidak berani menyentuh apapun yang ada di ruangan itu. Lumiere mengamati bola itu dari jarak satu meter. Saking fokus dia mengamati, sampai sampai dia tidak menyadari keberadaan Ren yang tiba tiba muncul di belakangnya.


“Kalau kamu ingin tahu, bola itu dinamakan kristal komunikasi. Sesuai namanya, Kristal itu bisa membuatmu berkomunikasi dengan orang yang jaraknya jauh sekalipun”.


“Ah begitu ya. Jadi, Ren dari mana saja kamu, kamu bilang akan mengajariku sihir bukan?”.


“Oh benar juga, kalau begitu kebetulan kita berada di ruangan ini”. Jawab Ren meninggalkan sebuah tanda tanya di kepala Lumiere.


Ren berjalan ke salah satu rak di dalam ruangan lalu mengambil sebuah benda yang mirip kristal komunikasi. Dengan perlahan Ren menaruh benda tersebut di sebelah kristal komunikasi.


“Baiklah, kita mulai dengan melihat elemenmu dulu. Sekarang coba letakkan tanganmu diatas kristal ini lalu alirkan manamu!”.


Lumiere mengangguki pelan perintah Ren, lalu meletakkan tangan kanannya di atas kristal. Karena ini adalah pertama kali Lumiere menyalurkan mana, jadi dia agak khawatir akan gagal. Setelah sedikit menarik nafas, Lumiere menyalurkan sedikit mana di tubuhnya.


Secara tiba tiba, muncul sebuah hologram di atas kristal. Dalam hologram tersebut menyatakan:


Nama : Lumiere Chevalier (?)


Mana ; Lv.10


Kekuatan : Lv.3


Kecepatan: Lv.5


Ketahanan: Lv.4


Elemen : Api, air, tanah, angin, petir, es, alam, kegelapan, cahaya.


Magie : 100%


Lumiere yang melihat bakatnya sendiri hampir menjatuhkan rahangnya. Bagaimana tidak, pasalnya anak seumurannya memiliki mana Lv.2, sedangkan dia memiliki kapasitas mana Lv.10 yang seharusnya menjadi level puncak. Belum lagi, dia bisa menggunakan semua elemen.


Disatu sisi dia merasa senang karena potensinya yang hebat. Di sisi yang lainnya dari merasa takut kalau suatu hari dia akan menjadi sombong dan menindas yang lemah.


“Hei Ren, dengan bakatku ini bukankah aku bisa membunuh raja iblis?”.


“Heh jangan bercanda, asal kamu tahu saja. Kalau raja iblis bisa membelah bulan menjadi dua hanya dengan satu tebasan”


“Ren kamu mau melatihku atau menjatuhkan mentalku sih?”. Ucap Lumiere dengan nada lesu.


“Oh iya bukankah seharusnya raja iblis dan pahlawan muncul dua ratus tahun yang lalu?”. Lanjutnya menaikkan semangat.


“Memangnya itu hal penting?”.....


“Lupakan, sekarang ayo segera mulai latihan”.


----------><----------


“Ekhem..... Baiklah mari kita mulai dari elemen api dulu”. Ujar Ren yang telah berada di tempat latihan bersama Lumiere.


“Lumiere, kamu tahu tingkat ke'efektifan elemen api?”.


Lumiere mengangguk pelan kemudian mulai menjelaskan. “Api yang paling tidak efektif adalah api yang berwarna merah. Kemudian api berwarna jingga satu setengah kali lebih efektif atau lebih kuat dari api merah. Dilanjut dengan api berwarna biru yang dua kali lebih kuat dari api jingga. Api emas atau api murni sepuluh kali lebih kuat dari api biru. Api hitam atau api neraka yang lima kali lebih kuat dari api emas. Terakhir api putih atau api suci yang dua kali lebih kuat dari api hitam”. Jelas Lumiere panjang kali lebar.


“Baiklah, sekarang coba ulurkan salah satu tanganmu, kemudian alirkan manamu ke telapak tanganmu sambi mengatakan 'Feu'”.


Dengan konsentrasi tinggi, Lumiere menuruti apa yang dikatakan Ren dan tercipta lah api berwarna merah di telapak tangan Lumiere.


“Wahh kerja bagus kalau begitu langsung saja lanjut ke tahap berikutnya”. Puji Ren lalu meniup api di tangan Lumiere hingga padam.


Lumiere yang mengetahui apinya bisa dipadamkan dengan tiupan pelan dari Ren hanya bisa tersenyum kecut. Dia berfikir apakah apinya setara dengan api lilin?


“Sekarang coba ulangi urutan tadi sambil membayangkan api yang tercipta dari kayu yang dilumuri minyak kemudian nyalakan pemantik api di dekatnya. Ahh dan kali ini jangan gunakan mantra 'Feu'”.


Sekali lagi Lumiere menuruti apa yang dikatakan Ren dengan konsentrasi penuh. Setelahnya muncul kobaran api berwarna jingga di telapak tangan Lumiere.


“Wah kamu bisa melakukannya ya. Normalnya orang akan menambahkan aliran mana mereka dan tetap menggunakan mantra 'Feu'. Tapi itu tidak terlalu efektif dan hanya membuang buang mana, jadi aku menciptakan versiku sendiri. Dan kamu bisa menirunya”.


“Heh maksudmu aku tidak normal begitu?”.


“Ya sejak awal kita berdua memang tidak normal”.


“Baiklah langsung saja lanjut ke tahap selanjutnya”. Lanjut Ren yang sekali lagi mematikan api Lumiere dengan tiupan.


“Bukankah mengeluarkan api biru itu sedikit sulit?”..........


“Emmm baiklah untuk menghasilkan api biru kamu hanya perlu mengulangi proses tadi lalu tambahkan molekul lain seperti oksigen dan hidrogen”. Jelas Ren yang tentu saja tidak dimengerti oleh Lumiere.


“Bisakah kamu menjelaskan dahulu apa itu oksigen dan hidrogen”.


“Akan terlalu lama untuk menjelaskan semuanya. Begini saja, kamu bisa menganggap yang kamu hirup saat bernafas adalah oksigen lalu unsur terbanyak di alam semesta bisa kamu anggap hidrogen. Kalau kamu masih kesulitan untuk membayangkannya, coba bayangkan oksigen dengan simbol O2 lalu Hidrogen bersimbol H2”.


“Masih sulit dipahami tapi baiklah, akan kucoba”.


Setelah itu Lumiere mulai mengulangi proses yang tadi hingga menghasilkan api jingga di telapak tangannya. Lumiere membayangkan simbol simbol yang dikatakan Ren, kemudian menambahkannya ke api di tangannya. Setelah berhasil tentu saja api yang tadinya berwarna jingga sekarang berubah menjadi biru.


“Waahh aku benar benar bisa melakukannya”.


“Hmmm umumnya di dunia ini api berwarna biru memiliki suhu sekitar dua ribu empat ratus derajat Celcius, tapi Lumiere bisa menghasilkan api biru yang mencapai suhu tiga ribu derajat Celcius. Membayangkan ke'efektifannya sangat disayangkan aku menggunakannya untuk membakar buku kemarin”. Gumam Ren pelan.


“Kamu mengatakan sesuatu?”.


“Tidak”.


“Bagaimana Lumiere, mau melanjutkan ke tahap berikutnya?”.


“Tunggu tunggu, kamu mengajakku menjadi monster ya?”.


“Sekali lagi kutegaskan kalau kita berdua tidaklah normal. Jadi, kamu mau bagaimana?”.


“Tentu saja aku memilih lanjut”.


“Baiklah kalau begitu, sekarang untuk menghasilkan api murni cukup gunakan mana alam. Kumpulan di telapak tanganmu lalu bayangkan api tercipta di tempat berkumpulnya mana”.


“Mana alam?”


“Ya, kamu tahu kan kalau manusia memiliki mana ditubuhnya? Berbeda dari makhluk lain yang mengandalkan energi di sekitarnya. Contohnya iblis yang menggunakan sihir iblis yang terbuat dari emosi negatif, lalu para roh yang menggunakan mana murni dari alam atau biasa disebut mana alam. Oleh karena itulah biasanya roh api mengeluarkan api berwarna emas”.


“Ahhh jadi karena itu api ini dinamakan api murni ya”. Ujar Lumiere sambil mengetuk telapak tangan kirinya.


“Tentu saja bukan hanya api. Semua elemen yang dikeluarkan roh ataupun di hasilkan dari mana alam bisa disebut sebagai elemen murni”. Balas Ren membenarkan.


“Ahh begitu ya, kalau begitu bukankah akan lebih mudah jika kita mengontrak roh?”.


“Memang benar, tapi coba pikirkan darimana kamu akan mendapatkan roh? Memikirkan segala kesulitannya akan kembali lagi lebih mudah jika kamu belajar mengendalikan mana alam”.


“Ohh kalau begitu baiklah”.


Setelah sedikit beradu argumen dengan Ren, Lumiere langsung mempraktikkan apa yang dikatakan Ren. ‘Kumpulkan mana alam di telapak tangan kemudian bayangkan sebuah percikan api’. Setelah jeda kurang lebih lima detik, kobaran api berwarna emas muncul di telapak tangan Lumiere.


Lumiere dibuat kegirangan oleh hal itu. Sedangkan Ren, ekspresinya masih datar seperti biasanya.


“Selamat kamu telah menguasai elemen api murni di hari pertama kamu belajar sihir”. Ucap Ren dengan sedikit candaan yang membuat Lumiere terkekeh pelan.


“Oh iya untuk sekarang aku tidak akan mengajarimu sampai ke tahap selanjutnya karena itu membuat elemen kegelapan murni dan cahaya murni. Sebagai gantinya aku akan menunjukkan salah satunya”. Ucap Ren kemudian menunjukkan kobaran api berwarna hitam keunguan di telapak tangan kanannya.


Lumiere yang melihat kobaran api di telapak tangan Ren, dibuat ternganga tak percaya.


“Ren kamu bilang itu butuh elemen kegelapan murni kan? Jangan bilang kamu memilikinya”.


“Tentu saja”.


“Ahhh sekarang aku benar benar percaya kalau kamu tidaklah normal”.


“Dan sayangnya kamu akan melampaui aku di bidang ini”.


“Serius? Kenapa bisa?”


“Karena kamu memiliki elemen cahaya, aku tidak”.


“Heh begitu ya?”. Ucap Lumiere dengan tatapan sinis yang diarahkan kepada Ren.


“Jangan sombong dulu, walaupun kamu melampauiku di bidang elemen, tapi tidak akan untuk bidang lainnya”.


“Oh”


“Jadi, kalau aku menawarkan untuk mengajarimu di bidang lain apakah kamu akan menerimanya?”.


“Tentu saja, aku terima”. Jawab Lumiere dengan tersenyum lebar.


“Maka selesaikan pelatihan sihir elemen dengan segera”.


***


**Rumus untuk menghitung kemampuan fisik seseorang berdasarkan levelnya:


KFL\= KFRM x 10^l


Keterangan:


KFL : Kemampuan Fisik Level


KFRM: Kemampuan Fisik Rata² Manusia


l : Lv. - 1 ( Seandainya level 4 maka dihitung 3**).