The Rising Of Demon Slayer Hero

The Rising Of Demon Slayer Hero
Chapter 4: Hestia



Chapter 4: Hestia


“Lumiere..... Lumiere..... Oi Lumiere saatnya bangun”. Ucap Ren dengan nada agak tinggi sambil menepuk pipi Lumiere yang masih terlelap di atas kasurnya.


Perlahan Lumiere membuka matanya. Saat matanya sudah terbuka sempurna, dia melihat Ren yang berdiri di samping kasur dengan wajah datarnya.


“Ohh Ren bukankah ini terlalu pagi untuk latihan. Kamu kemarin sudah seperti iblis loh. Menyuruhku Push Up lima ribu kali lalu mengelilingi lapangan seratus kali”. Ujar Lumiere sambil mengucek mata kanannya.


“Heh apa peduliku. Oh ya karena dua bulan terakhir kamu sudah berlatih dengan baik, jadi aku akan membiarkanmu libur hari ini”.


“Kalau begitu kenapa kamu membangunkanku sepagi ini”.


“Aku ada urusan hari ini jadi aku ingin memberitahumu”.


“Kalau itu bukankah kamu bisa meninggalkan surat? Ahh sudahlah kalau begitu aku akan ikut”. Protes Lumiere kemudian berjalan ke kamar mandi.


“Aku akan menunggu di depan”. Teriak Ren sambil berjalan ke luar kamar.


----------><----------


“Ren kamu bilang ada urusan, lalu kenapa kita sekarang ada di tengah hutan seperti ini?”. Tanya Lumiere yang sedang berjalan di belakang Ren.


“Tentu saja karena jalannya lewat sini”. Jawab Ren tanpa menoleh.


“Kemana?”.....


“Labirin roh”. Jawab Ren kali ini menoleh.


“Ohh, tunggu apakah dari awal matamu memang agak kuning?”. Tanya Lumiere setelah menatap mata Ren.


“Tentu saja tidak”. Jawab Ren sambil tiba tiba berhenti berjalan.


“Hmmm ada apa Ren?”.


“Pegang pundakku! Kita akan berteleportasi”.


Lumiere mengangguk pelan kemudian melakukan apa yang diperintahkan Ren. Detik berikutnya Lumiere merasakan perasaan aneh, saat itu juga muncul sebuah istana megah di depannya. Saat dia melihat sekeliling pemandangannya masih sama seperti saat belum berteleportasi.


“Kita berteleportasi kemana?”.


“Spirit dimension, lalu istana megah yang disana itu labirin roh”.


“Bukankah itu mirip istana pada umumnya? Bagian mana yang bisa disebut labirin?”.


“Kalau kamu memasukinya sendiri maka kamu akan tersesat dan tidak bisa keluar. Yah jika seandainya itu terjadi mungkin sesuatu dalam tubuhmu bisa memandumu”.


“Hmmm???”..........


“Baiklah agar urusanku cepat selesai ayo segera masuk”.


Namun, saat tiba di depan tempat yang seharusnya ada pintu besar, Lumiere menyadari sesuatu.


“Hei Ren kamu tahu mengapa tempat ini tidak memiliki pintu?”.


“Karena ini adalah labirin”. Jawab Ren santai sambil menyentuh tembok di depannya.


“Kita bahkan belum masuk”.


Namun detik berikutnya muncul sebuah lubang hitam di tembok yang disentuh Ren.


“Ayo masuk”. Ucap Ren santai sambil berjalan memasuki lubang hitam.


Dengan pasrah, Lumiere mengikuti Ren memasuki lubang hitam. Setelah memasukinya, pemandangan di depan Lumiere berubah. Dia melihat ruangan tak terbatas dengan beberapa pilar di dalamnya.


“Selamat datang kembali tuan Ren, kali ini ada urusan apa ya?”. Ujar seorang peri kecil mengejutkan Lumiere.


“Oh Pixie, aku datang untuk memperbarui sihir perubahan wujudku”. Jawab Ren sambil menunjuk ke arah matanya.


“Kalau begitu baiklah tuan, lalu biarkan teman anda bersama saya”.


“Ya......”


Setelah itu Ren berjalan beberapa langkah ke depan kemudian menghilang.


“Kamu sepertinya tidak terkejut ya?”. Tanya Pixie setelah menyadari ekspresi Lumiere yang masih sama.


“Dalam dua bulan ini Ren sudah sering membuatku terkejut. Karena itulah aku sudah tidak bisa lagi terkejut olehnya”.


“Ah begitu, kalau begitu anda bisa mengikuti saya”.


“Kenapa bicaramu tiba tiba menjadi formal”.


“Karena anda adalah temannya tuan Ren sekaligus orang yang mengontrak nona Hestia. Kalau begitu mari”.


Setelah itu, Lumiere hanya berjalan mengikuti Pixie tanpa mengeluarkan kalimat apapun. Sampai pada akhirnya mereka berdua tiba di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan spirit yang masih berbentuk cahaya.


“Apa ini?”. Tanya Lumiere santai.


“Mereka adalah spirit yang masih muda, umurnya berkisar antara seratus sampai seratus lima puluh tahun”.


“Spirit sebanyak ini, bolehkah aku mengontrak salah satunya?”.


“Sayangnya spirit yang masih muda belum bisa dikontrak. Lagipula anda sudah memiliki satu roh kontrak”.


“Apakah yang kamu maksud adalah nona Hestia tadi?”.


“Ya benar”.


“Memang Hestia itu jenis roh apa?”.


“Nona Hestia adalah roh cahaya terkuat”.


“Ahh..... Begitu ya”.


Setelah percakapan singkat itu suasana berubah menjadi canggung membuat Lumiere tidak nyaman. Dia berfikir dia harus mencari topik untuk menghilangkan suasana canggung itu.


“Oh iya bukankah Ren tadi mengatakan sihir perubahan wujud? Untuk apa dia melakukan itu? Jangan bilang dia itu sebenarnya perempuan”. Tanya Lumiere dengan sedikit bercanda.


“Wujud asli tuan Ren memang bisa disebut cantik. Namun beliau adalah laki laki tulen”.


Lumiere hanya mengangguk tanda mengerti. Dia membayangkan Ren dengan wajah cantik sambil mengenakan pakaian feminin. Bayangan itu langsung hilang setelah Lumiere menggelengkan kepalanya sendiri.


“Kamu tadi membayangkan sesuatu?”. Tanya Ren yang tiba tiba muncul di belakang Lumiere.


“Tentu saja”. Balas Lumiere datar.


“Hooo..... Sekarang ikuti aku”.


“Hmm baiklah”.


Lumiere mengikuti Ren dengan berjalan di belakangnya. Beberapa saat kemudian mereka sampai di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh tanaman. Lebih tepatnya sebuah hutan di dalam ruangan.


“Ren ruangan apa ini?”.


“Hunian dryad”.


“Lalu, mengapa kamu mengajakku ke sini?”.


“Aku ada urusan di sini, lagipula daripada meninggalkanmu di sana aku berfikir lebih baik mengajakmu ke sini”.


“Ahh aku mengerti”.


Tiba tiba muncul seorang wanita dari salah satu pohon. Tubuhnya dipenuhi dengan sulur tanaman.


“Selamat datang tuan Ren. Ada yang bisa kami bantu?”. Tanya wanita itu dengan nada lembut.


“Ya aku membutuhkan kacang tanah dan tebu”.


“Baiklah, sekarang ikuti saya”.


Ren mengangguk kemudian berjalan mengikuti wanita itu. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Lumiere mengikuti Ren di belakangnya.


“Yang disini adalah kebun tebu tuan. Lalu yang didepan adalah kebun kacang. Semuanya siap panen, anda bisa mengambilnya sesuka hati tuan”. Ujar wanita tanaman dengan senyum malaikat.


“Emm baiklah”. Jawab Ren sambil memunculkan katana di tangannya.


“Eeeee.... Kamu kamu ini dryad bukan? Boleh aku tahu siapa namamu?”. Tanya Lumiere memulai pembicaraan dengan wanita disampingnya.


“Aku belum pernah mengontrak makhluk lain, karena itulah aku belum memiliki nama”.


“Aah jadi roh yang memiliki nama adalah roh yang terkontrak ya”.


“Tentu saja ada beberapa ekstensi roh kuat yang memiliki nama sebelum terkontrak. Contohnya Nona Hestia dan Nona Restia yang memiliki nama sejak lahir”.


»Itu benar«. Sahut suara imut di dalam kepala Lumiere.


“Eeeh barusan ada yang berbicara di kepalaku”. Ujar Lumiere terkejut.


“Ihihihi, ini aku roh cahaya Hestia, roh terkontrakmu. Aku berbicara denganmu melalui telepati”.


“Hmmmm padahal aku baru mendengar namamu beberapa waktu lalu. Tapi sekarang aku bisa berbicara denganmu seperti ini”.


»Karena saat ini aku sedang kesepian«.


“Memangnya sejak kapan kamu menjadi roh terkontrakku? Aku tidak ingat pernah mengontrak roh”.


»Aku menjadi roh terkontrakmu sejak kamu lahir«.


“Serius?”.


»Tentu saja aku serius, lagipula aku sudah menunggumu selama dua ratus tahun«.


“Hah apa maksudmu?”.


»Maksudku seharusnya kamu lahir dua ratus tahun yang lalu, tapi kamu malah baru terlahir sepuluh tahun yang lalu«.


“Mengapa begitu?”.


»Karena aku adalah roh terkontrak pahlawan pembasmi iblis«.


“Maksudmu aku ini seorang pahlawan begitu?”.


»Itu benar, tapi aku merasa kamu mungkin berbeda dengan para seniormu«.


“Contohnya?”.


»Misalnya level kekuatanmu sekarang sudah mencapai Lv.4. Padahal pahlawan sebelumnya memiliki kekuatan fisik Lv.1 saat seumuanmu sekarang«.


“Ohh begitu ya”.


»Waaah reaksimu datar banget«.


“Memangnya aku harus bereaksi seperti apa?”


»Tidak, lupakan!«.


“Lumiere.... Lumiere... Oii Lumiere”. Panggil Ren mengejutkan Lumiere.


“Eeeh, ahh ya?”.


“Kamu barusan berbicara sendiri?”.


“Eeer itu sebenarnya aku-”.


“Berbicara dengan roh terkontrakmu?”. Potong Ren.


»Waaah dia menyadari keberadaanku«.


“Ren kamu-”.


“Bukan aku tapi kakakmu”.


»Sekarang dia membaca pikiranku«.


“Urusanku selesai, pulang yuk!”. Ujar Ren diikuti anggukan Lumiere.


“Dryad terima kasih atas pemberianmu”.


“Anda tidak perlu sungkan tuan Ren”.


“Lumiere pegang pundakku!”. Perintah Ren yang dituruti Lumiere.


Sesaat setelah Lumiere memegang pundak Ren, sekali lagi ia merasakan perasaan aneh. Setelahnya pohon di sekeliling mereka berganti. Lebih tepatnya mereka tiba tiba muncul di hutan sebelumnya.


Tiba tiba Lumiere merasakan ada sesuatu yang mendekat, diikuti dengan instruksi Ren.


“Ohh sepertinya ada anjing kecil yang mendekat, kuserahkan dia padamu Lumiere”. Setelah mengucap hal itu , Ren melompat di antara dua pohon dan akhirnya duduk di tempat yang cukup tinggi.


“Oiii Ren!!!”.


“Jangan khawatir, itu hanya seekor silver wolf. Kalau kamu bisa mengalahkannya tanpa merusak alam sekitar aku akan memberimu hadiah”.


Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Ren, seekor serigala berbulu perak muncul lalu melompat ke arah Lumiere. Saat posisi keduanya sudah dekat, sang serigala mengayunkan cakarnya ke dada Lumiere.


Lumiere tidak membiarkan dirinya dicakar, dia menendang silver wolf vertikal ke atas.


“Aauuuuu”.


“Padahal aku tidak menendang sekuat tenaga tapi bisa setinggi itu. Kekuatan level empat memang tidak bisa diremehkan”. Gumam Lumiere setelah melihat setinggi apa tendangannya sendiri. Tubuh silver wolf bahkan hampir mencapai posisi Ren.


Buugghh...... Grrrrrr...... Auuuuuuu......


Lolongan silver wolf setelah jatuh dibarengi dengan tubuhnya yang tiba tiba membesar sampai tiga kali lipat.


“Monster jenis serigala normalnya melolong untuk memanggil kawanannya tapi dia-”.


»Hati hati! Kekuatan, ketahanan, dan kecepatannya mungkin meningkat setelah tubuhnya membesar«. Potong Hestia dalam kepala Lumiere.


Ketika fokus Lumiere teralihkan, silver wolf tiba tiba muncul di depannya dan hendak menggigit Lumiere.


Setelah sadar, Lumiere melakukan tiga kali backflip kemudian mengendalikan elemen alam untuk mengikat silver wolf dengan sulur tanaman.


»Kalau kamu tidak ingin ada kerusakan incar bagian kepalanya, keluarkan sihir elemen berukuran kecil, perkuat sihirmu, lalu tembakkan dengan cepat«.


Auuuuuuu......


Setelah berhasil meloloskan diri dari lilitan sulur tanaman, silver wolf sekali lagi berlari ke arah Lumiere kemudian menyerang dengan membabi buta.


Lumiere sendiri selalu bisa menghindari serangan berkat tubuhnya yang masih anak anak.


Saat gerakan sang serigala mulai melambat, Lumiere memanfaatkannya dengan menendang samping leher silver wolf.


Sang serigala marah, kemudian hendak mencabik Lumiere yang masih mengudara. Dengan bantuan elemen angin Lumiere bermanuver di udara mengindari serangan.


Tepat berada di atas punggung silver wolf, Lumiere melapisi kaki kanannya dengan elemen api emas, menendang kepala silver wolf kebawah.


Sekali lagi Lumiere berhasil membuat amarah sang serigala memuncak. Silver wolf mundur sedikit kemudian mencakar Lumiere yang belum mendarat.


Dengan kaki kanan yang masih dilapisi api, Lumiere menendang cakar silver wolf. Setelah mendarat, Lumiere meluncur ke bawah silver wolf.


Tepat di bawah kepala silver wolf, Lumiere memposisikan jari jarinya membentuk pistol. Di ujung jarinya Lumiere mengeluarkan setetes elemen air, diperkuat dengan elemen petir berwarna emas. Setelah semua persiapannya selesai, Lumiere menembakkannya dengan bantuan elemen angin.


Dooorrr.........


Tembakan sihir elemen berhasil menembus kepala silver wolf. Suara tembakan membuat burung burung berterbangan.


Bersamaan dengan ambruknya tubuh silver wolf, Ren turun dari atas pohon.


“Kerja bagus, baiklah hadiahmu adalah liburan satu bulan sekali”.


“Waaah kejam sekali”.


“Egh kalau kamu bisa mengalahkan naga tanpa menimbulkan kerusakan, aku akan memberimu liburan satu bulan penuh”.


“Mustahil”.


“Sudahlah, pulang yuk”.