
Chapter 7: Taruchan
4 Tahun kemudian~~
“Sejauh ini selamat sudah menguasai hal hal yang ku ajarkan”. Ucap seorang remaja pria sambil berdiri di depan papan tulis.
Pemuda itu memiliki rambut yang berwarna hitam.
Warna iris mata yang senada dengan rambutnya seakan menambah pesona dirinya.
“Yah lagipula kau sudah melatihku selama lebih dari empat tahun, namun aku masih belum menyelesaikan semua pelatihan yang kau berikan”. Jawab seorang pemuda yang sedang duduk di bangku.
Pemuda itu memiliki rambut indah berwarna kuning keemasan.
Iris mata sebiru langit seakan menandakan kalau dia akan mengukir prestasi yang tidak akan pernah dilupakan semua orang.
Dan dua orang pemuda tersebut tidak lain tidak bukan adalah Ren dan Lumiere.
“Tidak perlu bersedih begitu, yang akan ku ajarkan pada dirimu hanya tinggal satu, kemudian hanya perlu menunggu ujian kelulusan”.
“Jadi, apa yang harus ku pelajari kali ini?”.
“Belajar bahasa”.
“Hah......?”.
“Sebelum itu, Lumiere berapa banyak bahasa yang kau kuasai?”.
“Dua bahasa yang paling banyak digunakan di dunia ini. Tidak tidak, sebenarnya mengapa aku harus belajar bahasa?”.
“Tidak ada alasan khusus, tapi aku yakin semua yang kau pelajari sekarang akan berguna untuk dirimu di masa depan”.
“Jadi berapa banyak bahasa yang harus ku pelajari?”.
“Tidak banyak, mungkin lima saja sudah cukup”.
Kemudian Ren memunculkan lima tumpuk buku di meja Lumiere. Satu tumpukan buku berisi tiga sampai empat buah buku.
“Sebanyak itu? Darimana aku harus memulai ini?”.
“Kau bisa memulainya darimana pun, tapi aku merekomendasikan bahasa yang digunakan Sakura Oukoku”.
“Hmm baiklah”.
Saat membaca salah satu buku yang ada di mejanya, Lumiere merasa tidak nyaman karena ditatap oleh Ren.
“Ada apa Ren?”.
“Sebenarnya kali ini aku berencana membimbingmu, tapi sepertinya tidak perlu”.
“Seharusnya kau katakan dari tadi”.
“Baiklah sekarang perhatikan papan tulis, buku buku itu kau bisa membacanya nanti!”.
Menanggapi perintah Ren, Lumiere meletakkan buku ditangannya kemudian memperhatikan penjelasan Ren.
---------------><---------------
Di tempat lain~~
Di suatu hutan yang dihuni oleh hewan hewan aneh. Seorang laki laki yang berusia sekitar empat belas tahun bermain dengan makhluk kecil mirip tupai namun memiliki ekor merak.
Laki laki tersebut memiliki rambut coklat pudar dengan iris mata berwarna merah terang. Taruchan, begitulah cara dia memanggil namanya sendiri.
Taruchan POV
Emmm baiklah semuanya, kali ini aku akan memperkenalkan diriku. Namaku adalah Taruchan, sejak kecil aku sudah tidak di hutan-
Tidak, lebih tepatnya di pulau terpencil ini. Sejak kecil aku dirawat dan dijaga oleh kakekku. Bukan kakek kandung, tapi makhluk tua berwarna biru yang bisa berbicara menggunakan bahasa manusia.
Kakek Rim, begitulah caraku memanggilnya. Meski dia hanya kakek angkatku, namun aku sangat menyayanginya karena dialah satu satunya orang yang ku anggap keluarga.
Kemudian, makhluk kecil yang bermain bersamaku ini, aku dan kakek menyebutnya Ekorre. Makhluk gabungan antara tupai dan merak.
Kembali ke topik, ketika aku sedang bermain dengan para Ekorre, tiba tiba aku melihat seekor Ekorre yang berlari kencang ke arahku.
Setelah tupai kecil itu semakin dekat aku menyadari kalau dia adalah Ekorre yang paling kusayangi.
“Regel”.
Sapaku sambil melambai kan tangan ke arah tupai kecil tersebut. Sebuah senyuman terukir lebar di wajahku tat kala Regel semakin dekat denganku.
Saat aku melebarkan tanganku untuk menerima pelukan, Regel justru melompat dan hinggap di pundakku.
“Kooak..... Koaak.... Aaak.....”.
Ucap Regel panik dengan bahasa merak.
Aku bisa faham apa yang dikatakan Regel, dah hal itu justru membuatku panik.
“Apa apa katamu? Kakek Rim ditangkap? Kenapa?”.
Dengan panik aku berlari ke arah datangnya Regel tadi. Di perjalanan Regel memberitahuku kalau yang menangkap kakek adalah manusia, sontak hal itu membuatku menggeratkan gigi karena geram.
Singkat cerita kami berdua sampai di tempat tinggal kakek. Aku semakin panik karena tidak melihat seorang pun disana.
“Koooaak.....”.
Regel berteriak sambil menunjuk ke kanan.
“Kesana kah?”.
Dengan cepat aku mengambil salah satu kapak yang ada di depan rumah kemudian berlari ke arah yang di tunjuk Regel.
Di perjalanan aku melihat seorang manusia yang berpakaian serba hitam juga menutupi wajahnya. Kulihat manusia itu sedang berusaha menangkap salah satu Ekorre.
“Minggir!!!”.
Ucapku dengan lantang sambil mengayunkan kapakku kearah kepala orang itu.
Karena orang ini terlalu terkejut dengan kemunculanku jadinya orang ini tidak sempat menghindari seranganku.
Ayunan kapakku sukses mendarat di kepalanya, menyebabkan kepala orang itu pecah dan mati seketika. Darah yang mengalir dari kepala orang itu tidak membuatku mual ataupun takut, aku justru berdiri dengan acuh kemudian melanjutkan berlari.
Ku paksakan kakiku yang sudah lelah ini untuk menambah kecepatan. Langkah kakiku terhenti saat melihat gua besar yang tertutupi oleh sulur tanaman.
Normal POV
“Apa? Siapa kau ini? Suku pedalaman kah?”.
Ujar pria yang keluar dari goa dengan malas.
Wajar saja pria itu mengira kalau Taruchan adalah orang dari suku pedalaman, karena Taruchan menggunakan tanaman dan kulit monster untuk dijadikan pakaian.
“Kau.... Kau apakan kakekku?”.
Taruchan bertanya dengan nada tinggi sambil menguatkan genggaman pada gagang kapak.
“Kakek? Maksudmu suku Aorim itu? Dia kakekmu?”.
“Kau, katakan!!! KAU APAKAN KAKEKKU?”.
“Pak tua itu berasal dari suku Aorim yang sudah punah. Lalu, apa jadinya jika aku menjualnya? Tentu saja aku akan langsung kaya kan. Hahaha”.
Mendengar celotehan sekaligus tawa menyebalkan dari lawan bicaranya sontak membuat Taruchan naik pitam.
Dengan tanpa ragu Taruchan melompat kearah lawannya sambil mengayunkan kapak di tangannya. Tentu saja lawan Taruchan tidak tinggal diam. Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Taruchan lalu menembakan satu bola api.
Taruchan yang masih mengudara hanya bisa pasrah menerima serangan api. Namun yang terjadi berikutnya mengejutkan dirinya karena Regel melebarkan ekornya untuk menghalau serangan api.
Dan anehnya ekor Regel tidak terbakar, justru serangan api padam setelah mengenai ekornya.
“Ohh apakah itu Ekorre? Beruntung sekali aku datang ke pulau ini. Hahahaha”.
“Regel bersembunyi lah !!!”.
Dengan cepat Taruchan mundur agar tidak membahayakan Regel. Setelah menyuruh Regel bersembunyi di semak semak, Taruchan langsung bersiaga dengan kapaknya.
“Nak, bagaimana jika aku membebaskan kakekmu”.
“Apa maksudmu?”.
“Aku akan membebaskan kakekmu. Dengan syarat kau harus menyerahkan semua Ekorre yang ada di pulau ini!!!”.
“Kau pikir aku akan menurutimu?”.
“Hahahahaha, itu jika kau lebih menyayangi makhluk kecil itu dari pada kakekmu nak”.
Mendengar kalimat lawannya membuat Taruchan terdiam seribu bahasa.
“Tidak usah terburu-buru mengambil keputusan nak, aku memberimu waktu tiga setengah bulan. Sampai saat itu ambil keputusanmu dan temui aku disini”.
“..........”.
Karena mendapati Taruchan yang tetap diam, si pria lantas berjalan memasuki goa.
---------------><---------------
Kembali ke tempat Lumiere, di dalam kamar Lumiere asik membaca buku yang diberikan oleh Ren sampai sampai dia lupa waktu. Saat Lumiere melihat ke luar jendela, dirinya menjadi panik.
“Gawat sudah hampir waktu makan malam, aku belum memasak”.
Dengan tergesa-gesa Lumiere menutup bukunya kemudian langsung berlari ke arah dapur. Singkat cerita setelah sampai di dapur dirinya malah bingung mau memasak apa.
“Haaeeh kenapa aku malah bingung perihal memasak?”.
Ketika hendak mengambil bahan makanan dari lemari pendingin, Lumiere melihat sepotong kertas yang tertancap di pintu lemari.
'Seperti biasa, sayur dengan bumbu kacang'.
“Haish aku heran kenapa perutnya masih baik baik saja padahal setiap hari kacang”.
Lumiere kemudian menyiapkan alat dan bahan untuk membuat apa yang diminta Ren. Setelah semua persiapan selesai, Lumiere mulai mengolah makanan dengan teliti.
Sepuluh menit kemudian, Lumiere selesai mengolah makanannya. Dengan hati hati Lumiere menyajikan makanan yang diolahnya ke atas meja.
“Yosh sudah hampir jam makan malam, seharusnya sebentar lagi Ren akan tiba”.
Hal ini memang sudah biasa terjadi. Saat siang hari Ren akan pergi kemudian pulang saat jam makan malam.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian pintu ruang makan terbuka, disanalah keberadaan ekstensi yang ditunggu Lumiere.
“Waahh tumben sekali datang menggunakan pintu”.
“Ohh mungkin aku harus membuat mansion ini seperti labirin roh”.
“Aku hanya bercanda Ren”.
Ren kemudian duduk di kursi sambil memperhatikan makanan di depannya. Olahan dari beragam jenis sayur yang dicampur dengan sambal kacang. Jika di dunia nyata kita mengenalnya sebagai rujak.
Ketika Ren menyentuh sendoknya, dia menggumamkan sesuatu yang tidak dimengerti Lumiere. Lumiere tidak mempermasalahkannya karena hal itu sudah menjadi kebiasaan Ren ketika hendak ataupun sesudah melakukan sesuatu, seperti yang sedang dilakukannya saat ini.
“Seperti biasa kemampuan memasakmu memang luar biasa”.
Ren memuji masakan Lumiere setelah dia menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.
“Jika ada kaitannya dengan kacang kau memang selalu menilai enak Ren, sekalipun kacangnya gosong”.
Lumiere kemudian mengikuti Ren memakan makanan.
“Hah terserah, selain itu ada yang ingin ku katakan”.
“Apa itu?”.
“Setelah kau selesai mempelajari lima bahasa, aku akan memberimu ujian kelulusan”.
“Hanya itu?”.
“Sebagai ucapan selamat karena telah menyelesaikan pelatihan maka kau boleh meminta satu hal”.
“Kau benar benar berbeda dari pelatih lain Ren”.
“Maksudmu?”.
“Kau tahu, kalau orang lain melatih muridnya menggunakan cambuk, sedangkan kau menggunakan permen”.
“Tidak semuanya, lagipula aku melatihmu dengan cara ini karena kita saling membutuhkan”.
“Saling membutuhkan yah, sampai saat ini aku tidak mengerti apa keuntungan yang kau dapat setelah melatihku”.
“Tentu saja ada, karena kau adalah pionku yang berharga.