The Rising Of Demon Slayer Hero

The Rising Of Demon Slayer Hero
Chapter 6: Pelatihan II



Chapter 6: Pelatihan II


“Untuk pelatihan dasar kedua ini cukup mudah, yang kamu butuhkan hanyalah konsentrasi tinggi”.


“Memangnya apa yang harus kulakukan?”.


Ren tidak langsung menjawab pertanyaan Lumiere, dia justru mengeluarkan sebuah pedang asli di tangan kanannya.


“Yang harus kamu lakukan adalah menebas lalat. Dan pastikan kamu memotong rapi di bagian lehernya”. Ucap Ren sambil mengoper pedangnya ke Lumiere.


“Hmmm kupikir lalat tidak memiliki leher”.


Tanpa menjawab pertanyaan Lumiere, Ren mengeluarkan pisau kecil di tangannya. Dengan kecepatan luar biasa Ren menebaskan pisaunya ke samping. Setelahnya, Ren menunjukkan apa yang ada di bilah pisaunya kepada Lumiere. Yang ada di sana mengejutkan Lumiere, karena di sana terdapat kepala lalat yang terpisah dari tubuhnya.


“Lumiere, kamu harus memisahkan dua ratus kepala lalat dari tubuhnya untuk menyelesaikan pelatihan ini”.


“Baiklah, akan kuselesaikan dalam lima belas hari”. Ujar Lumiere percaya diri.


Setelah Ren pergi dari tempatnya, Lumiere memperhatikan sekelilingnya untuk mencari lalat. Saat dirinya melihat seekor lalat yang melintas di dekatnya, Lumiere langsung menebas leher lalat dengan penuh konsentrasi.


Lumiere kemudian melihat ke arah bilah pedangnya. Lumiere tersenyum senang saat melihat kepala lalat yang menempel di bilah pedangnya.


“Ini tidak terlalu sulit, tapi bagaimana caranya agar para lalat mendekatiku?”.


---------------><---------------


10 hari kemudian.....


“Menggunakan bunga bangkai untuk memancing lalat, idenya tidak buruk. Tapi aroma busuk ini benar benar menggangu”. Ucap Ren mengamati Lumiere yang sibuk menebas lalat.


“Sekarang sudah yang ke seratus sembilan puluh. Yoossh tinggal sepuluh lagi”.


Sriiing.......


Sekali lagi pedang Lumiere berhasil memisahkan kepala lalat dari badannya. Sampai satu jam kemudian Lumiere berhasil memisahkan kepala lalat ke dua ratus.


“Huufff selesai”.


“Kerja bagus Lumiere, baiklah langsung saja lanjutkan ke pelatihan dasar keempat”.


“Eeh bagaimana dengan dasar ketiga?”.


“Untuk sekarang tidak perlu meningkatkan kecepatanmu. Kamu bisa melatihnya sendiri suatu hari nanti. Lagipula kecepatanmu sudah berlevel empat”.


“Ah benar juga, dasar ketiga adalah kecepatan.


Jadi apa yang harus kulakukan untuk pelatihan dasar keempat?”.


“Cukup mudah, kamu hanya perlu menebas semua gelembung air yang kutembakan padamu”.


“Yah apapun memang mudah untukmu”.


“Sekarang bersiaplah, kamu harus bisa menebas semua gelembung ini!”.


Ren kemudian menciptakan beberapa gelembung air seukuran kepalan tangan disekelilingnya. Lumiere juga bersiap siap untuk menerima serangan dari Ren.


Tanpa melakukan aba aba Ren langsung menembakkan satu gelembung air dengan kecepatan yang tidak masuk akal.


Swoossh...... Splash.... Dooor.....


Lumiere berhasil menebas gelembung air yang ditembakkan Ren. Namun dirinya agak terkejut karena ternyata gelembung air itu bisa meledak.


“Ren kukira kamu tidak akan pernah menggunakan sihir ledakan”.


“Jangan khawatir itu hanya ledakan suara. Lagipula sudah sewajarnya kalau gelembung bisa meledak”.


“Ah kalau begitu baiklah”.


“Sekarang akan kutembakan bersamaan dengan lebih cepat, bersiaplah Lumiere!”.


“Okey”.


Swoossh..... Splash.. Splash...


Door... Door.... Boom..... Boom..... Boom...


Lumiere berhasil menebas dua gelembung yang ditembakkan Ren. Gelembung lainnya lolos dan meledak setelah mengenai tubuhnya.


“Lumiere, seharusnya itu sangat mudah. Namun kamu hanya bisa menebas dua gelembung”.


“ Ya mudah, sangat mudah jika yang melepaskan sihirnya bukan kamu. Mau bagaimanapun kecepatan itu terlalu gila, mataku tidak bisa mengikutinya”.


“Yah kecepatanku memang level lima. Tapi aku tidak pernah tahu level kecepatanmu, bisa jadi kamu lebih cepat dariku kan?”.


“Baiklah bagaimana jika begini saja. Coba salurkan mana ke otakmu!”.


“Eh lalu apa yang akan terjadi?”.


“Menyalurkan mana ke otak bisa dimanfaatkan untuk beberapa hal. Salah satunya adalah percepatan pikiran. Lalu percepatan pikiran itulah yang akan membantumu melihat lebih jelas”.


“Hoo lalu apa jadinya jika menyalurkan mana ke mata?”.


“Aku tidak pernah mencobanya, tapi mungkin kamu bisa melihat tembus pandang dengan itu”.


“Baiklah aku mengerti”.


Swoossh..... Bomm.... Booom.....


Secara tiba tiba Ren menembakan gelembung air ke Lumiere. Lumiere yang belum siap pun harus menerima efek ledakan dari gelembung yang pecah setelah mengenai tubuhnya.


“Ren tidakkah kamu menungguku bersiap?”.


“Jangan naif Lumiere, di pertempuran yang asli musuh tidak akan menunggu sampai kamu siap. Ingat itu baik baik!”.


“ Baiklah akan ku ingat it-”.


Swoossh..........


Kalimat Lumiere terpotong karena sekali lagi Ren menembakan gelembung air kearahnya. Di detik terakhir, Lumiere berhasil menerapkan trik yang diajarkan Ren.


Satu gelembung tertebas, dua gelembung, tiga gelembung dan seterusnya. Meski Lumiere sudah menggunakan percepatan pikiran, namun serangan Ren masih terasa cepat.


Sampai ketika Lumiere menebas gelembung ke seratus, Ren menghentikan tembakannya. Hal itu membuat Lumiere membuang nafas lega karena lengan kanannya sudah sangat lelah walaupun hanya melakukan seratus tebasan.


“Bagaimana Lumiere, apa yang kamu rasakan ketika menyalurkan mana ke otakmu?”.


“Yang kurasakan adalah pandanganku yang melambat, kemudian aku juga merasa kalau kelima inderaku menjadi lebih sensitif”.


“Hanya itu?”.


“Ya”.


“Lumiere, sebagai ganti pelatihan dasar ketiga dan kelima, sebaiknya kamu pelajari teknik menyalurkan mana ke beberapa bagian tubuh”.


“Ehh dasar kelima juga tidak ada pelatihan?”.


“Bukan tidak ada tapi pelatihan dasar kelima akan dilakukan setelah kamu menguasai bentuk dan gaya seni pedangku”.


“Sepertinya perjalananku untuk menguasai seni pedang masih jauh yah”.


“Ya karena itulah kamu tidak akan bisa menyelesaikan semua pelatihan ku dalam waktu kurang dari satu tahun”.


“Ehh serius? Memangnya masih ada berapa pelatihan yang harus kulakukan?”.


“Egh itu tergantung dengan potensi dan kemampuanmu”.


“Bisa beritahu aku, apa saja yang wajib dipelajari?”.


“Sword magic dan merasakan aliran mana, kurasa”.


“Merasakan aliran mana itu sepertinya tidak perlu dipelajari”.


“Kenapa?”.


“Karena aku sudah bisa merasakan aliran mana. Itulah alasan mengapa aku mempercayaimu sejak awal, karena dari aliran manamu aku tahu tidak ada niat buruk darimu”.


“Ohh itu menjelaskan alasan kamu tidak pernah terkejut walaupun aku selalu muncul secara tiba-tiba”.


“Yah meski begitu, persepsiku terbatas hanya dalam radius dua puluh meter”.


“Kalau kamu meningkatkannya, kamu bisa mendapatkan persepsi sejauh puluhan kilometer”.


“Aku akan berusaha”.


“Oh ya, memangnya sejak kapan kamu bisa merasakan aliran mana?”.


“ Ntahlah aku sendiri tidak yakin, mungkin saja sejak lahir”.


“Yah itu tidak penting juga”.