
Chaper 11: Aorim
“Baiklah, sekarang katakan! Mengapa kalian mencoba untuk menangkap makhluk langka di pulau ini?”
Lumiere berucap sambil berkacak pinggang di depan sekelompok orang yang terikat.
“Bukankah sudah jelas, karena mereka makhluk langka tentu saja mereka bisa di jual dengan harga yang mahal.”
Jawab pemimpin dari kelompok itu yang tak lain adalah Tyre.
“Paman Tyre, aku ingat kau tadi mengatakan bahwa kau mencari Black Viper selama tiga bulan ini. Apakah kau mau menjualnya?”
“Tidak, daripada menjualnya lebih baik jika aku menjadikan dia familiarku.”
“Cih mana sudi aku menjadi familiar dari orang lemah sepertimu.”
Noir mengumpat sambil mengubah bentuknya menjadi ular kecil yang melilit di pergelangan tangan Lumiere.
“Huh, jika aku tahu akhirnya seperti ini mungkin lebih baik aku menyerah mencari Black Viper dan pergi dari pulau ini setelah menemukan suku Aorim yang tersisa.”
“Yang tersisa? Apakah itu artinya suku itu sudah punah?”
“Ya benar, suku Aorim punah sekitar seratus tahun yang lalu dan hanya aku yang tersisa.”
Ucap seorang kakek yang memperkenalkan dirinya sebagai kakek Rim.
“Kakek Rim bisakah anda menceritakan lebih tentang suku Aorim?”
“Hmmm aku harus memulainya dari mana yah?” Kakek Rim bergumam bertanya pada dirinya sendiri.
“Suku Aorim merupakan bagian dari ras manusia. Namun suku Aorim memiliki keunikan jika dibandingkan dengan manusia.” Sahut Tyre.
“Ahh benar, suku Aorim memiliki ciri fisik lebih pendek daripada manusia, kami juga mudah dikenali dengan warna kulit yang berwarna biru.”
“Lalu mengapa suku itu bisa punah?”
“Perbudakan.”
“Huh?”
“Suku Aorim dikenal memiliki kemampuan membuat senjata yang hebat.”
“Oho, lalu manusia memperbudak kalian untuk memanfaatkan kemampuan itu, begitukah?”
“Ya benar, banyak suku Aorim yang wafat sebelum menghasilkan keturunan karena perlakuan tidak baik dari tuan mereka.”
“Ohh Terimakasih kakek Rim, informasi yang anda berikan telah menjawab rasa penasaran saya. Dan juga maaf jika saya telah mengingatkan tentang masa lalu anda”
“Ahh tak apa itu hanya cerita masa lalu.”
“Ohh ya, bukankah itu berarti kau juga ingin memperbudak Kakek Rim?” Lumiere bertanya sambil melirik ke arah Tyre.
“Hummpph itu sudah jelas bukan. Jika aku menjadikan dia budakku mungkin saja aku bisa mendapat senjata yang mampu mengalahkan raja iblis.”
“Hegh mimpi.” -Kakek Rim.
---------------><---------------
Malam hari di sebuah rumah kayu~~~
Tiga orang mengobrol mengelilingi sebuah perapian kecil. Salah satu dari tiga orang tersebut memegang sebuah pedang di tangannya.
“Nak Lumiere, ambillah pedang ini. Anggap sebagai ucapan terimakasih dariku sekaligus untuk mengganti pedangmu yang rusak tadi.”
Seorang yang memegang pedang tadi menyodorkan sebuah pedang ke orang di sebelahnya.
Jika harus dijelaskan, pedang tersebut memiliki bilah berwarna biru pucat dan memiliki ukiran mawar pada gagangnya.
“Pedang ini terbuat dari sisik metal Dragon. Pedang ini juga merupakan karya terbaikku sejak seratus tahun yang lalu.”
“Kakek bukankah berlebihan jika memberikan pedang ini kepada saya?”
“Bukankah sudah kubilang? Anggap saja ini sebagai rasa terimakasih dariku.”
“Tetap saja menurut saya ini terlalu-”
“Ssstt pedang ini bernama Pedang Mawar Biru. Sebenarnya aku ingin memberikan pedang ini kepada orang yang telah menyelamatkan nyawaku dua kali. Tapi sepertinya pedang ini lebih cocok untukmu.”
“Hmm lalu bagaimanakah dengan orang yang anda maksud itu?”
“Baiklah, jika begitu saya tidak akan membantah.”
Lumiere menerima Pedang Mawar Biru dengan wajah kagum saat memegang bilahnya.
“Ohh iya kakek, aku penasaran dengan Metal Dragon yang kakek sebut tadi.” Taruchan yang sejak tadi terdiam tiba-tiba angkat bicara.
“Ahh iya, bukankah Metal Dragon di kenal memiliki ketahanan yang luar biasa? Bahkan naga itu tidak bisa dilukai dengan sihir. Jika anda bisa mendapatkan sisik Metal Dragon kemungkinan ada orang yang pernah mengalah naga itu kan?”
“Cerita itu sudah lama sekali, mungkin sekitar seratus lima puluh tahun yang lalu.”
...****************...
Naga, apa yang kalian pikirkan jika membacanya di cerita fantasi? Kadal raksasa? Makhluk ganas? Pembawa petaka? Ya pembawa petaka, mungkin seperti itulah gambaran yang terjadi saat ini.
Di sebuah kota yang cukup besar seekor kadal raksasa tiba-tiba muncul dari balik awan, menutupi cahaya bulan, meninggalkan siluet indah di mata sebagian orang.
Namun, keindahan itu sepertinya tidak berlaku untuk manusia kerdil berkulit Biru yang melihatnya secara langsung.
“Ahh naga, bagaimana mungkin bisa ada di sini.”
RRROOAAARRRR..........
Auman merdu dari sang naga menambah kepanikan warga yang tinggal di kota tersebut. Semua orang berlarian, berfikir untuk menyelamatkan diri. Dalam benak mereka, sudah dipastikan mereka akan mati jika tidak segera lari.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian sang naga mulai melampiaskan amukannya di kota yang berada tepat di bawahnya.
Beberapa bangunan terhempas hanya dengan satu auman dari sang naga. Bangunan yang lainnya pun hancur setelah diinjak dan di cakar makhluk bersayap tersebut.
Beberapa warga yang kurang beruntung tak sempat melarikan diri dan mati tertimpa bangunan.
Sementara itu di salah satu rumah~~~
“Fuuhhh koleksi pedang ku bertambah satu lagi.” Ucap seorang manusia berkulit biru sambil mengelap keringatnya.
Nampak dari keadaan di sekitarnya, dia baru saja selesai menempa sebuah pedang. Dengan perlahan ia menempatkan pedang barunya di sebuah tembok yang penuh dengan pedang.
Secara tiba-tiba, dia merasakan sebuah getaran yang cukup kuat. Nampak beberapa pedang jatuh dari tempatnya.
“Ehh apa itu tadi? Gempa bumi?” Dirinya bergumam seakan tak menyadari bahaya yang sedang mengintainya.
RRROOAAARRRR..........
Orang tersebut merasa bergidik setelah mendengar raungan yang memekakkan telinganya.
Satu hal dalam benaknya “Naga.”
Saat dirinya melihat keluar jendela, ia melihat seekor naga yang mengamuk menghancurkan kotanya. Dia melihat semua orang berlari menjauh dari sang naga.
Segera saja dia berlari keluar dan mengikuti gerombolan orang tersebut. Naas saat ia nenoleh ke belakang, dirinya justru tersandung dan terjatuh.
Dia ingin segera bangkit dan terus berlari, namun kakinya terasa sakit saat di gerakkan.
“Ahh sial, kenapa harus sekarang?”
Saat dirinya mulai pasrah dengan nasibnya, ia merasakan hembusan angin yang cukup kuat melintasi dirinya ke arah sang naga.
Pahlawan....
Mungkin seperti itulah gambaran yang ada di benaknya.
Seorang pemuda berambut panjang sepinggang melayang di depan naga yang perkasa. Rambut biru keperakan miliknya berkibar terkena hembusan angin sepoi-sepoi. Mata kuning keemasan miliknya menyala seakan memantulkan cahaya rembulan.
“Tak pernah terfikir kan olehku seekor naga menghancurkan sebuah kota tanpa alasan yang jelas. Namun, sepertinya ini sebuah kebetulan.” pemuda tersebut berucap dengan suara yang lembut nan merdu.
Dengan tatapan yang seolah memancarkan kebencian, sang naga memelototi pemuda di depannya.
RRROOAAARRRR..........
Sang naga meraung keras, menciptakan hembusan angin kencang, mengibarkan rambut pemuda yang masih berdiri santai seakan tidak ada masalah yang berarti untuknya.
“Ahh sepertinya para naga tidak pernah menggosok gigi mereka.”
Melihat raungan kebanggaannya tidak bekerja, sang kadal bersayap berfikir bahwa pertarungan di udara akan lebih menguntungkan untuk dirinya. Ia kemudian mengepakkan sayapnya dan mulai meninggalkan daratan.
Setelah terdiam sejenak, pemuda yang menjadi lawan sang naga tiba-tiba mengangkat tangan kanannya. Dengan cepat ia melakukan gerakan seakan membanting sesuatu dengan tangan kanannya.
«Gravity Burst»