
Chapter 5: Dasar Pertama
Di lapangan pelatihan, Ren sedang menjelaskan beberapa hal tentang seni pedang yang harus diketahui Lumiere.
“Seni pedang Kamihakkai yang akan kamu pelajari memiliki lima dasar utama. Dasar pertama adalah kekuatan, dasar kedua keakuratan, dasar ketiga kecepatan, dasar keempat pertahanan, kemudian dasar kelima adalah kombinasi”.
“Jadi aku harus mempelajari dasar dasarnya satu persatu?”.
“Normalnya begitu, namun sepertinya kamu tidak perlu mempelajari dasar ketiga. Tentu saja kalau mau kamu bisa mengasah kemampuanmu”.
“Sekarang langsung saja mulai mempelajari dasar pertama”. Lanjut Ren sambil memunculkan batu berukuran besar.
“Karena dasar pertama adalah kekuatan, jadi yang harus kulakukan adalah membelah batu besar ini kan? Kalau begini aku optimis bisa menyelesaikan latihan dalam tiga hari”.
“Kalau menurutmu memang mudah maka akan kutingkatkan level kesulitannya”. Jawab Ren sambil memunculkan sebuah pedang kayu di tangan kanannya.
“Apa ini?”. Tanya Lumiere polos setelah menerima pedang kayu dari Ren.
“Pedang kayu”.
“Maksudku untuk apa kamu memberiku benda ini?”.
“Hah kamu tidak berfikir untuk membelah batu besar itu menggunakan tangan kosong kan?”.
“Menurutku akan lebih mudah membelah batu itu dengan tangan kosong daripada menggunakan tongkat kayu rapuh ini”.
“Tongkat rapuh? Ohhh jangan bercanda! Aku membuatnya menggunakan kayu yang paling berkualitas”. Setelahnya, Ren memunculkan ratusan pedang kayu di samping batu latihan.
“Heheh Ren hutan mana yang kamu gunduli untuk membuat semua ini?”.
“Kamu pikir aku termasuk orang yang akan melakukan penggundulan hutan? Aku membuatnya dengan bantuan elemen alam”.
“Baiklah aku akan memulainya sekarang”.
“Semangat latihannya! Aku akan jalan jalan dulu, Kalau pedangnya habis kamu tinggal minta padaku”. Ujar Ren sambil melambaikan tangannya kemudian menghilang entah kemana.
Tanpa menghiraukan ucapan Ren, Lumiere mengayunkan pedang di tangannya ke batu besar di depannya. Adegan berikutnya, pedang kayu Lumiere patah setelah dihantamkan sekuat tenaga.
“Huuufff tentu saja tongkat kayu ini akan patah jika aku mengayunkannya sekuat tenaga. Namun jika kuayunkan dengan kekuatan yang kurang kuat mana mungkin tai raksasa ini bisa terbelah”.
Lumiere mengambil satu pedang kayu di samping batu kemudian mencoba sekali lagi mengayunkannya dengan kekuatan yang lebih lemah. Saat pedang kayu menyentuh permukaan batu, tidak ada yang terjadi kecuali suara benturan antara batu dan kayu.
»Kurasa kamu harus mengayunkan tongkat itu dengan cepat bukan dengan kuat«.
»Tapi dasar pertama adalah kekuatan dan bukan kecepatan. Lagipula jika aku mengayunkannya dengan cepat tanpa menggenggamnya dengan kuat bisa menyebabkan tongkat ini terlempar ke atas«.
»Bagaimana jika begini saja, pertama coba ayunkan tongkat itu dengan cepat, lalu saat tongkatnya sudah dekat dengan permukaan batu kamu bisa menguatkan genggaman tanganmu«.
»Memang itu terdengar bagus untuk meningkatkan daya serang, tapi jika yang kugunakan adalah tongkat kayu seperti ini maka tidak akan berguna. Lagipula melakukannya tidak semudah berbicara«.
»Meski begitu tidak ada salahnya mencoba kan?«.
“Tentu saja”.
---------------><---------------
Dua puluh delapan hari kemudian, setelah selesai membersihkan mansion, Lumiere meletakkan alat alat kebersihan pada tempatnya.
“Sekarang aku tinggal mencari keberadaan Ren”.
Lumiere kemudian berjalan menelusuri lorong dan pada akhirnya dia menemukan Ren yang berada di lapangan pelatihan. Ren berjongkok menghadap tongkat kayu yang sudah patah, bahkan ada yang hancur.
“Ren, kamu disini toh. Aku mencarimu untuk dibuatkan tongkat kayu lagi”.
“Hmm padahal waktu itu aku hanya bercanda, tapi kamu benar benar menghabiskan semua pedang kayunya”.
“Menurutmu apakah tai raksasa yang sekeras baja ini bisa dibelah hanya dengan tongkat kayu?”.
“Jika yang melakukannya adalah seorang amatir tentu saja tidak”.
“Kalau begitu bisa beritahu aku gerakan bagian mana yang salah”.
Ren mengeluarkan sepuluh pedang kayu lagi kemudian mengambil salah satunya.
“Coba lakukan gerakan seperti biasa, akan kukoreksi bagian yang kurang benar”. Ujar Ren sambil melempar pedang kayu ke arah Lumiere.
Lumiere langsung menerima tongkat kayu dari Ren. Dia kemudian berdiri menghadap batu yang biasa digunakan latihan. Lumiere mengangkat kedua tangannya ke atas untuk melakukan ancang ancang. Diawali dengan tarikan nafas panjang, Lumiere mengayunkan tongkat di tangannya dengan kecepatan luar biasa. Saat tongkat kayu berjarak sekitar dua senti dari permukaan batu, Lumiere menguatkan genggaman tangannya.
“Bagaimana? Ren!”.
“Lumiere pedang mu patah karena kamu tidak melapisinya dengan mana”.
“Hah kamu tidak pernah bilang kalau aku boleh menggunakannya”.
“Itu memang benar, tapi aku juga tidak pernah melarangmu menggunakannya”.
“Emmm benar juga sih”.
“Satu lagi, kenapa kamu menggunakan kuda kuda asal asalan seperti itu?”.
“......”.
Kali ini kalimat Ren mampu membuat Lumiere terdiam beberapa saat.
“Selama ini aku terlalu fokus pada kekuatan tangan sampai sampai aku melupakan salah satu komponen utama dalam seni pedang. Hihihihi”.
“Oiiii kamu bercanda kan? Kali ini lakukan dengan benar!”. Balas Ren kesal sambil memberikan pedang kayu pada Lumiere.
Setelah menerima pedang kayu dari Ren, Lumiere mencoba untuk melapisi pedangnya menggunakan mana. Setelah berhasil melakukannya, Lumiere melakukan kuda kuda dengan benar. Sekali lagi dia menerapkan gerakan seperti sebelumnya. Kali ini tercipta gelombang angin yang cukup kuat saat pedang kayu berbenturan dengan batu.
Batu besarnya memang tidak terbelah ataupun mengalami kerusakan, namun kali ini pedang kayu yang dipegang Lumiere tidak patah seperti sebelumnya.
Baik Ren maupun Lumiere keduanya sama sama terdiam untuk beberapa saat. Sampai pada akhirnya Lumiere melihat ke arah pedang di tangannya. Pedang kayunya sedikit mengalami keretakan pada bagian yang dibenturkan ke batu.
“Coba sekali lagi! Kali ini lapisi dengan mana yang lebih padat lalu ayunkan dengan lebih kuat dan cepat!”.
Lumiere mengangguki perintah Ren kemudian mengambil pedang kayu yang baru.
Sekali lagi Lumiere mengulangi gerakan yang sebelumnya. Dengan konsentrasi penuh Lumiere mengayunkan pedang ditangannya. Saat pedang kayu menyentuh permukaan batu, Lumiere merasakan sesuatu seperti sedang memotong tahu. Detik berikutnya Lumiere menyadari bahwa batu besar di depannya terbelah menjadi dua, diikuti dengan tepukan tangan dari Ren.
“Dengan ini pelatihan dasar pertama selesai, selanjutnya adalah pelatihan dasar kedua. Tentu saja tidak hari ini. Dan sesuai janjiku sebelumnya, besok adalah hari liburmu”.
“Huuuff akhirnya bisa beristirahat. Selanjutnya aku mungkin membutuhkan minuman yang bisa menambah tenagaku, atau setidaknya bisa memulihkan tenagaku saat lelah”.
“Kalau seperti itu kamu harus membeli stok air suci. Tapi jika yang kamu butuhkan adalah penghilang haus yang lebih baik dari air biasa, maka kamu bisa mengambilnya di lemari pendingin”.
“Entah kenapa baru kali ini aku mendengar ada benda yang bernama ‘Lemari pendingin’ itu”.
“Hnmm ikuti aku”.
Lumiere hanya bisa menaikkan pundaknya kemudian berjalan mengikuti Ren. Sampai di dapur, Ren berhenti di depan lemari kayu yang terlihat biasa saja.
“Hmmm sejak kapan ada lemari kayu disini, seingatku sebelumnya tidak ada”.
“Aku meletakkannya disini kemarin lusa, kalau kamu tidak melihatnya mungkin matamu bermasalah, padahal setiap hari kamu memasak di dapur”.
“Bukan begitu, hanya saja aku tidak memperhatikan ke arah sini. Lalu, boleh kubuka lemarinya?”.
“Terserah”.
Setelah mendapat persetujuan dari Ren, Lumiere membuka lemari yang ada di depannya. Saat membuka pintu lemari, Lumiere merasakan udara dingin yang menghembus keluar.
“Ohhh pantas saja kamu menyebutnya lemari pendingin”.
Saat melihat isi dalam lemari, Lumiere tiba tiba mengerenyitkan dahinya.
“Ren bukankah ini sari tebu?”.
“Ya, memangnya kenapa?”.
“Tidak, hanya saja kupikir minuman apa yang kamu maksud”.
Saat Lumiere mengambil salah satu gelas berisi sari tebu, dia melihat sebuah lambang menempel pada dinding lemari.
“Hmmm, bukankah ini Crest Ice Elements? Ternyata cara ini bisa digunakan ya”.
“Ya, satu komponen lagi untuk membuat ini adalah Stone of Elements”.
“Ahh jadi itu alasan kamu mengoleksinya”.
“Yah begitulah, lagipula ada banyak peralatan di mansion ini yang bekerja menggunakan Stone of Elements dan Crest Of Elements”.
“Sepertinya aku besok akan menelusuri seisi mansion ini untuk mengisi hari liburku”.