The Rising Of Demon Slayer Hero

The Rising Of Demon Slayer Hero
Chapter 1: Penyelamat



Chapter 1: Penyelamat


“Ibu..... Ibu, dimana kamu ibu”.


Terlihat, seorang anak laki laki berusia sekitar sepuluh tahun sedang menerobos ke arah yang berlawanan dengan para manusia yang berlari menjauhi dua makhluk bertanduk dengan tampang menyeramkan.


Bruuukk........


Karena tubuhnya yang kecil, anak tersebut tertabrak orang lain hingga keluar jalur. Tubuhnya bahkan terlempar ke tembok sebuah bangunan dan entah bagaimana tembok tersebut justru pecah sehingga sang bocah berada di dalam bangunan. Iris mata miliknya yang berwarna sebiru langit mulai berkaca kaca. Bangunan yang ditabraknya juga runtuh secara tidak masuk akal. Mungkin karena bangunan itu sudah terlalu tua.


Saat dia berusaha untuk bangun, tubuhnya terasa sanget sakit. Saat itu juga dia menyadari kalau tubuhnya tertimpa reruntuhan bangunan yang ditabraknya. Walaupun ia mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa keluar, namun apa daya, dia masihlah seorang bocah berusia sepuluh tahun.


‘Aku harap kamu selamat Bu’. Batin anak itu sebelum kehilangan kesadarannya.


----------><----------


Dalam ruangan yang besar nan mewah, terlihat seorang bocah yang terbaring tak berdaya di atas kasur besar. Dengan perlahan anak itu membuka matanya, memperlihatkan iris mata berwarna sebiru langit.


Tepat setelah kelopak matanya terbuka sempurna, dia melihat seorang anak laki laki seumurannya memasuki ruangan (kamar). Anak itu memakai pakaian serba hitam, serasi dengan warna rambut dan iris matanya. Si anak berambut hitam berjalan mendekati meja kemudian menaruh nampan yang dibawanya di sana.


“Ohhh kamu sudah sadar”.


“Kamu..... Siapa? Dan ini dimana?”. Tanya si bocah berambut kuning sambil berusaha untuk duduk.


“Namaku Ren Ashbell, seorang utusan tuhan. Dan kita sedang berada di rumahku”. Jawab anak berambut hitam sambil menyerahkan secangkir teh hangat ke lawan bicaranya.


“Terima kasih”. Ucap anak yang menerima teh dari Ren.


“Eeeemmm agar kita bisa berkomunikasi dengan baik mungkin kamu memperkenalkan dirimu”.


“Namaku Lumiere Chevalier, mungkin kamu sudah tahu kalau aku berasal dari kota Blue Sky. Saat aku melihat dua makhluk bertampang menyeramkan itu, kupikir hidupku akan berakhir”.


“Ahhh jadi Lumiere yah, sebenarnya saat aku datang ke kota itu, yang kulihat hanyalah kota yang rata dengan tanah. Lalu aku menemukanmu tertimpa reruntuhan bangunan”. Sahut Ren sambil memakan roti kering yang niatnya untuk diberikan kepada Lumiere.


“Dan kamu fikir aku akan percaya pada kalimat mu?”.


“Ohh ayolah, aku tadi bahkan mengatakan hal yang lebih sulit dipercaya dan kamu baru mencurigai sesuatu sekarang?”.


“Kalau yang kamu katakan itu benar, apakah hanya aku yang selamat? Ibuku? Ahhh sejak awal ibu memang hampir tidak mungkin memiliki persentase selamat. Saat itu ibu berada di hutan tepat dimana dua makhluk itu muncul”. Ucap Lumiere sambil mengheningkan cipta.


“Lagipula, sebenarnya makhluk apa mereka itu?”. Lanjutnya lalu menyeruput teh yang dipegangnya.


Ren sedikit menjilat ibu jarinya setelah camilannya habis. Ia berfikir sejenak sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Lumiere.


“Untuk pertanyaanmu yang pertama memang benar hanya kamulah satu satunya yang selamat.


Lalu untuk makhluk apa mereka, tergantung bagaimana kamu menganggapnya. Menurutmu makhluk apa mereka itu?”.


“Makhluk yang memiliki tanduk kecil di dahinya, tidak salah lagi iblis”.


“Ahhh iya, sebenarnya sedang berada di kota mana kita saat ini?”. Lanjutnya sambil sekali lagi menyeruput teh nya.


“Kita sedang berada di ibukota kekaisaran Union Empire. Tepatnya kota ini bernama Haeven Ring”.


“Ohh begitu ya. Kalau begitu, Ren walaupun aku tidak tahu mengapa aku bisa selamat tapi aku ingin mengucap kan terima kasih padamu. Aku merasa hidupku harus kugunakan sebaik mungkin. Mungkin aku dilahirkan untuk membasmi para iblis”. Ucap Lumiere sambil menyerahkan cangkir tehnya kepada Ren.


Setelah menerima cangkir dari Lumiere, Ren membalik badannya untuk meletakkan cangkir ke meja. Saat itu juga tiba tiba dia tersenyum dan menggumamkan sesuatu.


“Akhirnya pahlawan generasi sekarang telah lahir. Yah walaupun dia baru muncul setelah melar selama dua ratus tahun”.


----------><----------


Tiga hari kemudian, saat Lumiere berpamitan kepada Ren. Dia justru dicegah oleh Ren dengan alasan agar ada yang menemaninya di mansion yang terlampau besar ini.


Dan saat ini mereka berdua sedang menuju ke perpustakaan kota untuk mencari buku yang dibutuhkan Lumiere. Buku yang dimaksud adalah buku yang berisi informasi tentang iblis.


“Hey Lumiere, apakah menurutmu buku seperti itu ada di perpustakaan? Kalaupun ada mungkin hanya berisi pengetahuan umum tentang iblis. Bukankah itu sama saja tidak berguna?”. Tanya Ren sambil memakan camilan kacang. Dan omong omong dia makan sambil berjalan.


Tak lama setelah itu, mereka berdua sampai di depan bangunan megah bertuliskan 'PERPUSTAKAAN HAEVEN RING'. Segera, Lumiere menuju ke pintu perpustakaan. Sedangkan Ren mencari tempat sampah untuk membuang bungkus camilannya.


Saat memasuki perpustakaan, Lumiere dibuat terkejut dengan luas dari perpustakaan tersebut. ‘Benar benar berbeda dengan perpustakaan di kotaku’ batinnya.


“Tidak usah terkejut begitu, ingat kita memang berada di ibukota kekaisaran. Lebih baik kamu segera mencari buku yang kamu butuhkan”. Ucap Ren yang tiba tiba muncul di belakang Lumiere. Lumiere hanya mengangguk pelan, lalu segera memulai pencariannya.


Dengan teliti Lumiere memilih buku yang akan dibacanya. Sudah ada sekitar lima buku yang tertumpuk di lengan kiri Lumiere. Dirasa bukunya sudah cukup, Lumiere segera menuju ke bangku untuk membaca. Dengan perlahan Lumiere menaruh bukunya ke meja. Setelah sedikit meregangkan otot ototnya, Lumiere mengambil buku ditumpukkan paling atas dengan judul 'Human Magic Of Elements'.


“Hoooo..... Kukira kamu akan mencari buku yang seperti ini”. Ucap Ren yang tiba tiba muncul dibelakang Lumiere sambil menunjukkan sebuah buku berjudul 'Legend Of Demon Lord'.


Lumiere yang melihat buku yang ditunjukkan Ren, hanya bisa tersenyum pahit karena dari tadi dia tidak menemukan buku semacam itu.


Ren yang melihat senyum pahit Lumiere, menaruh buku yang dipegangnya ke tumpukan buku Lumiere. “Lanjutkan saja membacanya, aku akan mencari buku yang lain”.


“Eum terima kasih”..........


Beberapa jam kemudian, Lumiere merasa kalau matanya hampir kering karena terlalu banyak membaca buku. “Pahlawan pembasmi iblis selalu memiliki nama yang memiliki arti 'Ksatria Cahaya'”. Gumam Lumiere sambil menutup buku berjudul 'Pahlawan Pembasmi Iblis'. Dilanjutkan dengan helaan nafas panjang lalu berdiri untuk mengembalikan bukunya.


“Ohh iya Ren tadi kemana ya?”. Gumam Lumiere saat menata bukunya di rak.


“Sebaiknya aku mencarinya, sudah cukup lama kami berada di sini”.


Setelah beberapa menit Lumiere mencari Ren, dia menemukan Ren yang sedang membakar sesuatu menggunakan 'sihir api?'.


“Ren apa yang sedang kamu lakukan?”.


“Hanya membakar seekor kecoa”.


“???”.....


“Haaiss sudahlah, Ren ayo pulang”.


----------><----------


Saat diperjalanan pulang, Lumiere dan Ren mampir sebentar ke kios penjual camilan. Tentu saja mereka mampir untuk membeli cemilan bukan celapan ataupun cepuluh. Lumiere membeli sekantong biskuit sedangkan Ren membeli tiga bungkus camilan kacang.


“Kamu benar benar suka dengan camilan kacang ya”. Komentar Lumiere saat Ren menyerahkan lima keping koin perunggu pada si penjual camilan.


“Yaaa camilan kacang mengingatkan aku pada masa lalu”. Jawab Ren yang seharusnya suram tapi malah datar.


“Oh iya Ren, yang kamu gunakan tadi sihir api bukan? Bisakah kamu mengajariku?”.


“Tentu saja, suatu kehormatan bagiku bisa mengajari calon pembunuh raja iblis”. Canda Ren yang membuat Lumiere terkekeh pelan.


“Satu lagi, kamu ingin makan apa malam ini Ren?”.


“Hmmm mungkin daging sapi panggang”.


“Dimengerti”.....


“Ohhh kamu bisa memasak?”.


“Kamu meragukan bakatku?”.....


----------><----------


Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di atas bukit dekat kota yang sudah rata dengan tanah. Seorang pria tua berjubah putih sedang memperhatikan kota yang sudah hancur.


“Kota Blue Sky telah rata dengan tanah. Kemungkinan ulah iblis atau bisa juga kegare. Bagaimana menurutmu Amelia?”. Tanya si pria tua pada gadis kecil dibelakangnya.


“Tentang kota yang hancur ini aku tidak peduli. Lalu iblis ataupun kegare keduanya tidak masalah, karena keduanya harus dibasmi”. Jawab si gadis kecil dengan muka datar. Tanpa sadar, mata berwarna merahnya tiba tiba menyala.


Ada sebuah kesamaan yang sangat nampak diantara si pria tua dan si gadis kecil. Yaitu, mereka sama sama mengenakan jubah putih dengan sebuah lambang di bagian dada kanan. Lambang dengan gambar sebuah pedang emas yang memiliki dua sayap malaikat.