
Darsa berjalan berjam - jam menuju ke istana.
Sesuai perintah Saras ia membawa Daun pisang dan kalung kerajaan yang diberikan Saras.
Tibalah Darsa sampai ke istana.
Di gerbang istana Darsa dicegat oleh Para Prajurit Kerajaan yang bertugas.
" Ada keperluan apa kau kemari ?? Berani - berani nya engkau mencoba masuk ke istana . Apakah engkau tidak takut mati karena dihukum mengganggu keluar Raja ". Ujar salah satu dari mereka.
Dialah Satria Kepala Prajurit Kerajaan Majapahit yang memimpin dan mengatur para Prajurit di istana.
" Maafkan hamba Tuan. Hamba tidak ada maksud apa - apa.
Kedatangan hamba kemari hanya menyampaikan pesan penting, perintah yang diberikan oleh Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi kepada hamba ". Jelas Darsa kepada Kepala Prajurit itu.
" Perintah dari Ratu?? " tanya Satria.
" Benar Tuan ". Ujar Darsa sambil membungkuk memberi hormat.
" Mana buktinya kalau kau benar - benar utusan dari Ratu ". ujar Satria
" Ini buktinya Tuan , Ratu sendiri yang memberikan kepada hamba ". Ujar Darsa sambil menyerahkan bungkusan yang berisi daun pisang serta kalung kerajaan yang diberikan oleh Saras.
Kepala Prajurit Kerajaan itu kemudian mengamati pemberian yang diberikan Saras.
Lalu ia segera membaca isi dari pesan yang diberikan Saras.
" Apakah engkau sudah membaca isi pesan ini ??" tanya Satria.
" Maaf Tuan. Hamba seorang yang buta huruf, sekalipun tidak hamba mana mungkin melihat isi pesan Ratu yang ditujukan kepada Raja. hamba hanya ditugaskan menyampaikan saja ". ujar Darsa .
" Bagus, Baiklah kalau begitu. Masuklah dan temui Raja. Dan sampaikan kepada Raja perihal kedatangan mu kemari ". ujar Satria sambil mempersilahkan dan mengantarkan Darsa menemui Raja.
Darsa menuruti perkataan Satria dan mengikuti Satria yang berjalan didepannya.
Satria membawa Darsa kesinggasana Raja.
Disana sudah duduk Raden Wijaya menggantikan Tribhuwana Wijayatunggadewi sementara.
Darsa sangat takjub dengan kemewahan singgasana yang diduduki Raja.
Ia tidak menyangka bahwa singgasana Raja sangat lah megah dan mewah.
Raja menanyakan kepada Kepala Prajurit mengapa ada rakyat biasa datang ke istana nya. Kepala Kerajaan mengatakan bahwa ada pesan penting yang disampaikan oleh Ratu Tribhuwana Wijayatungga dewi kepada rakyat biasa itu.
" Apa tujuan mu sehingga kau datang kemari ? ". tanya Raja.
" Maafkan hamba , Raja !". ujar Darsa sambil berlutut .
" Berdirilah ! jangan takut, aku tidak akan menghukummu, namun katakan kepadaku ada keperluan apa kau datang ke istana ku ??? ". tanya Raden Wijaya.
" Sembah Gusti Prabu, Kedatangan hamba kemari hanya menyampaikan pesan penting dari Ratu Tribhuwana Wijayatungga dewi. Ratu sendiri lah yang mengutus hamba untuk menemui Gusti Prabu " . Terang Darsa kepada Raja.
" Pesan dari putriku Tribhuwana Wijayatungga dewi ? Benarkan yang kau katakan itu ??? . " . tanya Raja.
" Benar Gusti Prabu ". Ujar Darsa sambil mengangguk.
" Apa pesannya? berikan kepadaku ". pinta Raja.
" Ini, Gusti Prabu ". ujar Darsa sambil menyerahkan bungkusan yang diberikan Saras tadi.
" Apa kah kau sudah membaca pesan ini dan memberitahukan pesan ini kepada orang lain sepanjang perjalanan ???? ". tanya Raja khawatir setelah membaca pesan yang diberikan Saras.
[ Ayahanda, maafkan putrimu yang pergi dari istana tanpa mengatakan sepatah - katapun kepada mu terlebih dahulu. Aku tidak pergi jauh, Ayahanda. Aku hanya ingin berjalan - jalan sebentar keluar istana sendirian tanpa satupun yang mengawasi. Namun ditengah perjalanan, aku tersesat di hutan dan aku tidak tahu jalan pulang ke istana. Beruntung bagiku bertemu dengan sepasang suami isteri yang baik hati. Mereka membawa aku kepondok mereka untuk menghilangkan dahaga dan lelah karena aku kelelahan berjalan mencari jalan pulang ke istana.
Pria yang ku utus itu namanya Darsa. Dia kuperintahkan untuk mengantarkan pesan ini kepada Ayahanda. Tolong utus pengawal untuk menjemputku Ayahanda. Aku ingin pulang ke istana. Aku rindu pada Ayahanda dan Ibunda serta penghuni istana yang lainnya.
Salam sayang dariku, Putri kesayangan mu ]
Begitulah bunyi pesan yang diberikan Saras kepada Raja.
Raja mengakui bahwa itu benar - benar tulisan tangan Tribhuwana Wijayatunggadewi apalagi surat ini sudah diberi cap simbol kerajaan Majapahit. Dan yang paling membuatnya percaya yaitu kalung yang diberikan Saras adalah kalung yang diberikan Raden Wijaya kepada putrinya sebagai hadiah pengangkatan putrinya menjadi Ratu.
" Maafkan hamba Gusti Prabu, hamba hanya seorang yang buta huruf dan juga hamba tidak akan berani memberikan dan menyampaikan pesan ini kepada siapapun selain Gusti Prabu. Kanjeng Ratu hanya memerintahkan hamba datang ke istana untuk menyampaikan pesan kepada Gusti Prabu " . terang Darsa sambil menunduk.
" Baguslah kalau begitu, kau mematuhi perintah dan melaksanakan tugas yang diberikan kepadamu dengan baik. Syukurlah engkau tidak memberitahukan pesan ini kepada siapapun dijalan menuju kemari. Aku takut bila kau tidak sengaja menyampaikan pesan ini dijalan pada orang lain. Maka orang lain itu akan menculik dan mencelakakan putriku. Aku tidak mau nyawa putri kesayangan ku terancam.
" Dimana kediaman mu?? ". tanya Raja.
" Di sebuah desa kecil dekat hutan tak jauh dari Istana, kira - kira hanya menghabiskan waktu sebanyak 3 jam untuk kesana " Terang Darsa menerangkan alamat tempat tinggalnya kepada Raja.
" Antarkan aku kesana, Aku sendiri yang akan menjemput putriku dengan ditemani beberapa pengawal ". Perintah Raja.
" Baik Gusti Prabu " Ujar Darsa sambil memberi hormat.
" Pengawal ! siapkan kuda untukku , untuk Kepala Prajurit Kerajaan, dan untuk Darsa. Lalu siapkan beberapa Prajurit untuk mendampingi kami selama perjalanan menjemput putriku !". perintah Raja kepada Pengawal yang berdiri didepan pintu singgasana Raja.
Pengawal Kerajaan itu segera mematuhi perintah Raja dan melaksanakannya sesuai dengan yang telah diperintahkan.
Mereka menyiapkan beberapa kuda dan beberapa Prajurit untuk membimbing Raja menjemput Saras.
Setelah mereka selesai menyiapkan semua keperluan Raja.
Mereka segera masuk kesinggasana dan melapor kepada Raja.
" Lapor , Gusti Prabu ! Semua sudah siap sesuai dengan Gusti Prabu perintahkan ". Ujar Pengawal Pintu Singgasana itu.
" Baiklah, Terimakasih " Ujar Raja.
" Sama - sama Gusti Prabu ". Ujar pengawal itu memberi hormat dan melangkahkan kakinya mundur dan kembali berjaga dipintu istana.
" Apakah kau bisa menunggangi kuda ?". tanya Raja kepada Darsa.
" Hamba tidak bisa Gusti Prabu, bahkan hamba sendiri belum pernah menunggangi kuda ". Terang Darsa
" Baiklah kalau begitu, Prajurit ku akan menunggangi kuda dan kau akan duduk dibelakangnya ". Ujar Raja.
" Terimakasih Gusti Prabu . Anugerahmu tiada batas ". Ujar Darsa.
" Sama - sama. Ayo kita berangkat ! Kau akan berangkat duluan sebagai penunjuk jalan. Segera antarkan aku menemui Putriku. Aku tidak ingin putriku menunggu terlalu lama. " Ujar Raja.
Rombongan Raja itu pun segera berangkat menjemput Saras dengan dipimpin Darsa diperjalanan sebagai penunjuk jalan.
Mereka bergerak menelusuri hutan belantara yang belum pernah dijamah oleh manusia.
Lalu rombongan itu menelusuri Hutan yang sudah dibuka masyarakat disana.
Akhirnya mereka sampai kesebuah desa ditengah hutan.
Disana lah Darsa dan isterinya tinggal , tempat Saras kini berada.
Rombongan itu kemudian berhenti didepan sebuah pondok kecil yang rapi dan penuh dengan tanaman palawija disekelilingnya.
Walaupun hanya sebuah pondok kecil, namun sekelilingnya tampak bersih dan rapi.
Saras dan Sekar yang mendengar suara derap langkah kuda dan berhenti dipondok mereka segera keluar dari pondok.
Mereka mendapati ada rombongan besar yang datang kepondok itu.
Dirombongan itu juga ada Raja dan Darsa.
Lalu rombongan itu segera turun dari kuda.
Saras yang melihat kedatangan Ayahanda nya segera menyongsong memeluk Ayahandanya.
Padahal secara logika, Pria yang dipeluknya itu bukanlah ayah kandungnya melainkan Ayah dari Tribhuwana Wijayatunggadewi.
" Aku senang Ayahanda juga datang menjemputku ". Ujar Saras sambil menatap Ayahandanya.
" Tentu saja, Aku tidak akan lega hati jika aku hanya memerintahkan utusan untuk menjemput dirimu ".ujar Raja kepada Saras sambil tersenyum.
" Bagaimana kabarmu putriku ? " . tanya Raja.
" Baik Ayahanda ! ". ujar Saras.
" Apakah kita langsung pulang saja ? ". tanya Raja kepada Saras.
Saras yang mendengar perkataan Raja itu langsung mengangguk tanda setuju.
Ketika Raja membantu Saras untuk menaiki kuda.
Mereka berdua dicegat oleh Darsa dan isterinya.
" Maaf bila kami lancang Gusti Prabu. Alangkah baiknya bila Gusti Prabu dan Kanjeng Ratu beserta rombongan berteduh sejenak melepas haus dan lapar di pondok kecil kami ". Ujar Darsa.
" Karena jauhnya perjalanan kemari dari Istana, hamba yakin bahwa Raja dan rombongan juga sudah lepar, Hamba akan menyiapkan makanan dan minuman ". Ujar Sekar menyarankan.
" Baiklah kalau begitu, Kita akan beristirahat sejenak melepaskan haus dan lapar di pondok Darsa dan Sekar , Setelah itu baru kita akan melanjutkan perjalanan ". Ujar Raja menerima tawaran suami - isteri itu.
Mereka pun segera masuk kepondok yang tidak terlalu besar namun muat bagi mereka semua.
Mereka duduk beralaskan tikar dan menyandarkan punggung mereka di dinding papan pondok itu, menunggu Darsa dan Sekar menyiapkan makanan untuk dihidangkan kepada mereka.
Tak beberapa lama kemudian , Darsa dan Sekar keluar dari dapur sambil membawa banyak makanan dipiring.
Lalu menghidangkan makanan tersebut kedepan mereka semua.
Mereka makan dengan lahap mengingat mereka sudah sangat lapar.
Seusai makan , mereka segera pamit kepada suami - isteri itu.
Tidak lupa sebelum pulang, Raja memberikan sekantung uang yang berisi berkeping - keping uang emas dan sebidang tanah dekat pondok dan tanah mereka lalu membebaskan pajak dan memberikan kebebasan bagi mereka keluar masuk Istana sebagai Keluarga Raja. Itulah hadiah bagi Suami - Isteri itu karena telah menolong dan memperlakukan Saras dengan baik.
Rombongan itu pamit untuk meninggalkan mereka.
Rombongan itu menaiki kuda dan menunggangi nya berangkat menuju keistana Majapahit.
Setelah beberapa lama perjalanan, Saras beserta rombongan Raja akhirnya sampai keistana.
Mereka disambut oleh keluarga Raja didepan Gerbang Istana.
Disana juga telah menunggu Dyah Gayatri, Ibu Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Kertawardhana, Suami Tribhuwana Wijayatunggadewi.
Baru saja rombongan itu turun dari kuda, Dyah Gayatri langsung berlari memeluk Saras.
Ia tidak menyadari bahwa gadis yang dipeluk nya kini bukanlah putrinya.
Saras yang diperlakukan seperti itu terharu , tak terasa air mengalir dari pelupuk matanya dan jatuh membasahi pipinya.
Ia membalas pelukan wanita itu.Dan memeluk wanita itu dengan erat layaknya seorang anak merindukan pelukan dari ibunya.
Lama mereka berpelukan disaksikan oleh banyak pasang mata yang melihat kearah mereka.
Lalu Saras dan Dyah Gayatri melepas pelukan mereka.
Dyah Gayatri menanyakan kabar gadis itu lalu membawanya ke istana diringi rombongan dibelakang mereka.
Dyah Gayatri membawa Saras ke kamar Tribhuwana Wijayatunggadewi. Dan mereka berdua duduk di tempat tidur Kamar itu
" Dari mana saja dirimu putriku? ". Tanya Dyah Gayatri. " apakah kau baik - baik saja ? apakah ada yang terluka ". tanya Gayatri lagi sambil mengamati Saras dari atas sampai kebawah.
Saras yang mendengar suara dari wanita itu akhirnya menangis, Ia terharu dan sedih bercampur senang karena ia mendengar ada orang menanyakan kabarnya dan sangat khawatir kepadanya. Wanita itu menunggu Saras menyelesaikan tangisannya.
" Maafkan aku, ibunda ! aku tidak akan mengulanginya lagi " ujar Saras. Hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu.
" Jangan menangis putriku, Tidak apa - apa aku selalu disini untuk mu jadi janganlah menangis " . pintah Dyah Gayatri kepada Saras sambil mengusap air mata.
Saras yang mendengar suara yang lembut dari wanita itu menjadi terhibur dan segera menghentikab tangisannya.
Ia lalu menceritakan semua yang dialami nya hari ini. Tak tinggal satu peristiwa pun.
Dyah Gayatri mendengar cerita Saras dengan penuh perhatian.
Dyah Gayatri lalu memeluk putrinya, dan membelai rambutnya.
Sambil sesekali menepuk - nepuk pelan punggung Saras untuk menghiburnya.
Saras akhirnya menjadi tenang dan terhibur.
Ia terhanyut dengan dekapan hangat wanita itu.
Dekapan hangat seorang Ibu.
Dekapan hangat yang selama ini begitu dinantikannya.
Setelah Dyah Gayatri menghibur Saras.
Ia pamit untuk kembali ke kamarnya. Saras dengan berat hati membiarkan wanita itu kembali kekamarnya.
Di depan kamar Saras, Ia berpapasan dengan Kertawardhana.
Lalu Kertawardhana memberi hormat kepadanya. Dan Wanita itu mempersilahkan Kertawardhana untuk masuk kekamar Tribhuwana Wijayatunggadewi, Isterinya.
Pemuda itu segera masuk kedalam kamar menemui isterinya.
Disana didapati olehnya Saras sedang duduk disudut tempat tidur kamar itu.
Dengan hati - hati Kertawardhana berjalan kearah Saras dan duduk disampingnya.
Saras yang menyadari kedatangan pemuda itu tersenyum. Senyuman penuh cinta yang sama dengan senyuman yang diberikannya untuk Raka. Senyuman yang kini juga diberikannya untuk pemuda yang sekarang telah jadi suami dalam mimpinya.
Kertawardhana yang melihat senyum Saras tertegun.
Ia terharu karena dia telah berpikir bahwa Saras pergi dari Istana karena tidak mau menikah dengannya.
Kertawardhana terdiam sesaat lalu membalas senyum gadis itu.
Lama mereka terdiam tanpa berkata - kata sepatah kata pun keluar dari mulut mereka .
" Apa kabar mu? Adinda . Apakah dinda baik - baik saja ? apakah dinda terluka ? " tanya Kertawardha dengan hati - hati. Akhirnya ia berani untuk memulai pembicaraan memecah keheningan di kamar itu.
" Aku baik - baik saja , Kanda... , aku tidak terluka sama sekali " . ujar Saras.
" Apakah dinda pergi dari Istana karena tidak suka menikah denganku ? ". Tanya Kertawardhana. Karena beberapa hari ini, pemuda itu merenung dan mengurung diri di kamarnya karena kesedihannya ditinggalkan oleh Saras.
" Tentu saja tidak Kanda ! , mengapa kanda berpikir demikian, Aku hanya ingin keluar istana sebentar namun aku tersesat tidak tahu jalan pulang kembali ke istana, Sehingga aku baru bisa kembali hari ini , Maafkan aku yang telah membuat kanda khawatir " . ujar Saras menerangkan perihal yang sebenarnya kepada Kertawardhana.
Kertawardhana yang mendengar semuanya itu tersenyum dan menarik napas lega.
Ternyata apa yang dipikirkan nya itu hanya kekhawatirannya saja.
Pemuda itu lalu memeluk Saras dengan erat.
Saras yang tidak menyadari itu hanya bisa terkejut.
Pemuda itu lalu membaringkan Saras ketempat tidur dan tidur dengan dia.
Mereka menghabiskan malam yang panjang itu bersama.
******
Fajar menampakkan sinarnya disambut dengan bunyi ayam berkokok bersahut - sahutan.
Menandakan bahwa Malam telah pergi.
Kertawardhana bangun dan mengenakan kembali pakaiannya lalu beranjak dari tempat tidurnya dan membuka tirai yang ada dikamarnya sehingga Sinar matahari memasuki kamar.
Tak beberapa lama kemudian, Saras terbangun dan mendapati dirinya diselimut tempat tidur tanpa sehelai kain satupun yang seharusnya menutupi tubuhnya.
Dia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya semalam.
Ia akhirnya ingat bahwa ia telah menghabiskan malam dengan pemuda itu. Namun anehnya Saras tidak merasakan apa - apa.
Mungkin dikarenakan ini hanyalah mimpinya saja.
Saras melihat Kertawardhana duduk dikursi dekat tempat tidurnya yang sedari tadi sedang memandangi Saras. Kertawardhana lalu tersenyum pada Saras. Saras membalas senyuman pemuda itu lalu tertegun, tidak menyangka bahwa kini dia sudah bersuami walau hanya dalam mimpinya.
" Selamat pagi , dinda " ujar Kertawardha menyapa Saras.
Saras hanya mengangguk dan tersenyum.
Lalu Kertawardhana mengajak Saras untuk mandi di pemandian khusus Keluarga Kerajaan tanpa pengawal atau dayang satupun . Ia ingin berdua lebih lama dan leluasa dengan Saras.
Saras tidak kuasa menolak dikarenakan dia sekarang adalah isteri Kertawardhana. Lagipula di dunia nyata dia tidak akan kekurangan apapun dalam dirinya .
Saras dan Kertawardhana berangkat kepemandian kerajaan, tempat yang sama dimana Saras mandi pertama kali dia datang kemari.
Saras mandi bersama Kertawardhana dengan gembira.
Tidak lupa sesekali mereka berdua bermain main air dan saling mencipratkan air ke wajah masing - masing.
Saras sangat senang bahwa Kertawardha selain bersikap sebagai suaminya, Ia juga seperti sahabatnya ditempat ini.
Mereka akhirnya menyudahi permainan air mereka, Lalu segera berpakaian untuk kembali istana.
Ditengah perjalanan, Kertawrdhana menjongkok dan membungkukkan badannya.
Saras yang melihat hal itu menatap heran tidak mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Kertawardhana.
" Ayo naik kepunggungku dinda ". ujar Kertawardhana.
" Tapi kandaa, bagaimana jika nanti ada orang yang melihat ". Ujar Sekar ragu - ragu.
" Biarkan saja, ayo naik, Aku tau kamu masih lelah. Aku tidak ingin dinda berjalan sedangkan istana masih jauh ". Ucap Kertawardhana.
Saras lalu menaiki punggung pemuda itu. Baru pertama kali dia mengalami hal ini.
Bahkan semua yang terjadi di Majapahit adalah sesuatu yang baru pertama kali bagi Saras.
Kertawardhana lalu menggendong Saras dan berjalan pelan ke Istana.
Karena ia ingin menghabiskan waktu lebih banyak sebelum sampai ke istana.
" Dinda ..., aku ingin mengajak dinda kesuatu tempat setelah makan siang nanti, apakah dinda bersedia ? " . tanya Kertawardhana.
" Kanda mau membawaku kemana ? " . tanya Saras.
" Ke suatu tempat yang sangat indah, dinda ikut saja , kanda yakin dinda akan senang berada disana ". Ujar Kertawardhana sambil tersenyum.
" Baik kanda ". ujar Saras sambil tersenyum membalas senyum dari Kertawardhana. Lalu ia menyenderkan kepalanya ke bahu pemuda itu.
Hal ini membuat Saras merasa sangat nyaman.
Tanpa disadari Saras, tangannya bergerak memeluk Raka.
Padahal sedari tadi Saras enggan memeluknya.
Mereka akhirnya sampai ke kamar Istana. Lalu Kertawardhana dengan dibantu para dayang membantu Saras untuk bersiap - siap makan siang.
Pasangan itupun keluar kamar dengan meninggalkan para dayang yang segera membereskan kamar sepeninggal mereka.
Pasangan itu berjalan menuju Ruang Makan istana.
Saras merangkul lengan pemuda itu dengan erat sepanjang perjalanan ke ruang makan istana.
Pemuda itu hanya bisa tersenyum melihat tingkah Saras pagi itu.
Mereka akhirnya sampai keruang makan Istana.
Disana sudah menunggu keluarga Kerajaan dan akhirnya disusul oleh Raja dan Ratu serta beberapa selirnya.
Para dayang berjalan dibelakang mereka.
Mereka semua duduk dikursi lalu menyantap semua makanan yang sudah disediakan di meja untuk mereka.
Mereka makan sambil berbincang - bincang percakapan yang hangat.
Mereka membahas banyak hal salah satunya soal kerajaan dan perihal kedatangan Saras.
Saras senang hadir ditengah keluarga itu.
Sebuah keluarga besar yang hanya bisa ia temui dimimpinya. Walaupun begitu sudah membuat nya sangat bersyukur.
Ditempat ini Saras bertemu dengan Keluarga yang sangat menyayanginya. Sedangkan di dunia nyata hanya Bi Ati yang menemaninya dirumah.
Walaupun Keluarga ini bukanlah keluarga yang sebenarnya bahkan mungkin hanya keluarga hayalan yang selama ini dirindukannya.
Suasana penuh bahagia, damai dan nyaman yang selama ini dinanti - nantikannya. Suasana yang tak kunjung datang di dunia nyata.
Walaupun semua ini hanyalah semu. Namun membuat Saras sangat bersyukur, ia juga bersyukur bahwa ia adalah reinkarnasi Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi. Dan bersyukur Ratu memberikannya tugas sehingga dia dapat merasakan semuanya.
Mereka akhirnya selesai makan.
Mereka kembali kekamar masing - masing dengan diiringi para dayang sedangkan Raja kembali kesinggasana nya yang megah karena ada banyak tugas kerajaan yang menantinya.
Begitu pula Saras dan Kertawardhana kembali ke kamar mereka berdua.
Kertawardhana menggandeng tangan Saras .
Namun baru beberapa langkah menuju ke kamar, Kertawardhana berhenti lalu menggendong Saras.
Saras yang menyadari itu sontak terkejut dan tertawa - tawa kecil melihat tingkah laku Kertawardhana.
Sungguh romantis sekali perlakuan Kertawardhana kepadanya.
Sebagai wanita, ia senang diperlakukan seperti itu dari suami nya.
BERSAMBUNG