The Reincarnation Of Love

The Reincarnation Of Love
Ayahanda Wafat



Saras terbangun di kamarnya di istana.


Namun dia tidak melihat adanya Kertawardhana disampingnya.


Dia lalu bergegas memanggil para dayangnya untuk mengantarkannya pergi mandi kepemandian keluarga Istana.


Sesampainya mereka disana, Entah mengapa suasana sangat asing bagi Saras.


Jalanan terasa sunyi mencekam tanpa ada orang berlalu lalang seolah olah tiada kehidupan ditempat itu.


Situasi ini membuat Saras sangat khawatir , khawatir bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya terjadi di istana Kerajaan Majapahit.


Ia lalu bergegas mandi tanpa bermain main air seperti yang biasa dilakukannya ketika ditempat pemandian.


Ia lalu bergegas kembali kekamarnya, dan bersiap siap mengenakan pakaian dan bersolek dibantu para Dayang.


Dengan bantuan para dayang nya pula lah, ia diantar ke ruang makan di Istana.


Kekhawatiran Saras semakin menjadi - jadi. Sepanjang perjalanan keruang makan istana, koridor istana terlihat sangat sepi dan sunyi.


Sesampainya di ruang makan istana nya, Saras tidak melihat adanya Ayahanda di meja makan tersebut.


Disana juga ada Kertawardhana, ternyata ia sudah duluan berada di ruang makan.


Ia lalu bertanya kepada mereka yang ada disana, dimana Ayahandanya.


Mengapa Ayahandanya tidak turut makan bersamanya.


Namun mereka semua tidak menjawab pertanyaan Saras, mereka hanya terdiam dengan raut wajah yang sedih.


Ini malah semakin membuat Saras sangat kebingungan.


Dipikirannya sudah terbayang - bayang dengan banyak pikiran pikiran buruk yang menghantuinya.


Namun, ia berusaha menjauhkan pikiran buruk tersebut dan berusaha menenangkan dirinya.


Melihat mereka semua tidak merespon dirinya, membuat Saras sangat marah.


Dia sangat tidak suka jika tidak dipedulikan oleh mereka seperti yang dialaminya di dunia nyata.


"Dimana Ayahandaaaa???" tanya Saras dengan suara yang cukup keras dan wajah yang penuh amarah.


"Tenanglah terlebih dahulu putriku" ujar Gayatri menenangkan Saras.


" Ibunda, bagaimana aku bisa tenang??? Mereka semua tidak memperdulikan perkataanku". sangkal Saras.


" Apa kah kalian tidak takut mati??? dan tidak memperdulikan perkataan ku sama sekali??? Apakah kalian sungguh sungguh lelah hidup??? dan tidak keberatan pada hukuman apa yang akan kuberikan pada kalian semua yang ada ditempat ini??


Apakah kalian sudah berani menentangku?? Kalian tahu bukan bahwa hukuman mati lah bagi orang yang menentang perintah Raja". ujar Saras dengan sangat marah.


" Maafkan kami Gusti Ratu, Ayahanda gusti Ratu saat ini sedang terbaring sakit dikamarnya" ujar salah satu dari para dayang Gayatri.


" Ayahanda sakit??" tanya Saras dengan wajah yang berusaha menahan tangis, namun gagal bagi Saras, ia tidak dapat menahan tangisnya, Sehingga dia pun mulai menangis tersedu - sedu.


Mungkin ini adalah reaksi dari pemilik tubuh dari dunia masa lalu, reaksi dari Tribhuwana Wijayatunggadewi. Karena Saras adalah perwujudan dari Ratu, maka ia bisa merasakan semua yang dirasakan sang Ratu, begitu pula dengan kesedihannya saat ini.


"Benar Gusti Ratu, Ayahanda Gusti Ratu sudah lama sakit keras dan kini tidak dapat beranjak dari kamarnya, sehingga tidak bisa ikut makan bersama Gusti Ratu". ujar dayang tersebut dengan wajah menunduk takut.


" Ayahanda ku sedang terbaring sakit, namun tiada dari kalian satupun yang memberitahukan kepadaku. Apa maksud kalian sebenarnya ???" tanya Saras dengan marah, ia tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Ia sangat kecewa kepada mereka semua.


" Kanda Kertawardhana, alangkah tega nya kanda merahasiakan semua ini dariku". ujar Saras kepada Kertawardhana.


" Maafkan aku dinda. Aku tidak kuasa menentang perintah Ibu Suri. Ibu Suri tidak ingin dinda khawatir dan bersedih ". Jawab Kertawardhana.


"Ibu Suri??" tanya Saras lagi. Dia tidak menyadari bahwa di Kerajaan Majapahit juga ada Ibu Suri.


Selama ini dia hanya mendengar sebutan Ibu Suri di drama kolosal Korea Selatan favoritnya.


Ia ingat kalau Ibu Suri berarti Ibu dari Raja saat ini. Karena ia adalah seorang Raja, berarti yang menjadi Ibu Suri adalah Dyah Gayatri, Ibu Tribhuwana Wijayatunggadewi saat ini.


" Benar dinda. Ibu Suri yang memerintahkan kepada kami untuk tidak memberitahukan dinda perihal Ayahanda yang sakit". Terang Kertawardhana kepada Saras dengan wajah sangat menyesal.


" Benar Ibunda?? Ibunda sendiri yang melarang mereka untuk memberitahukan kepadaku bahwa Ayahanda terbaring sakit." tanya Saras sambil menatap Dyah Gayatri.


" Benar putriku, namun itu ku lakukan semua dikarenakan aku khawatir kepada mu. Kondisi tubuh mu masih sangat lemah dikarenakan dirimu tersesat dihutan. Aku tidak ingin dirimu khawatir dan bersedih mendengar kondisi Ayahanda mu". Jelas Dyah Gayatri kepada Saras.


"Tapi Ibunda, Itu tidak bisa menjadi alasan Ibunda untuk merahasiakan hal ini dariku. Bagaimana pun juga aku berhak tahu kondisi Ayahandaku " Jawab Saras dengan sangat kecewa.


" Dayang Wati dan Dayang Sari, antarkan aku kekamar Ayahanda. Aku ingin melihat Ayahandaku" Perintah Saras kepada kedua dayang setianya.


" Tapi putriku, Apakah kamu tidak apa apa??, Bunda khawatir padamu". Cegah Dyah Gayatri.


"Tenang saja Ibunda, Ibunda tidak perlu khawatir, aku akan baik baik saja" Ujar Saras menenangkan Gayatri.


" Dan untukmu Kanda, Aku benar - benar sangat kecewa, Kanda merahasiakan hal seperti ini dariku". Ujar Saras sambil menatap Kertawardhana.


"Kalian tunggu apa lagi?? Cepat antarkan aku kekamar Ayahanda " Perintah Saras.


" Baik Gusti Ratu" Ujar Dayang Wati dan dan Dayang Sari sambil berjalan didepan Saras.


Saras segera mengikuti langkah kaki mereka berdua.


Dia merasa benar - benar sangat khawatir.


Dia merasa bahwa ia akan kehilangan orang yang berharga baginya.


Walaupun sebenarnya Raden Wijaya bukan lah Ayah kandungnya yang sebenarnya, namun Saras telah menganggap Raden Wijaya seperti Ayah kandungnya sendiri.


Saras masuk kedalam kamar Raden Wijaya, Disana dilihatnya Pria itu sedang terbaring sakit tidak berdaya ditempat tidurnya.


Saras terkejut melihat keadaan pria itu, tanpa disadarinya dia segera menghambur memeluk pria itu dengan erat sambil menangis tersedu sedu.


Ia sadar bahwa hari ini mungkin saja adalah hari terakhir nya bertemu Ayahandanya.


"Ayahanda, Ayahanda kenapa??" Tanya Saras sambil terisak.


"Maafkan aku putriku, Ayahanda sudah lama sakit keras. Ayahanda sengaja merahasiakan ini darimu. Ayahanda tidak ingin kau bersedih. Ayahanda rasa bahwa hari ini mungkin adalah hari terakhir Ayahanda hidup di dunia. Tugas Ayah sudah selesai, Ayah bangga dan bersyukur diberi kesempatan lebih lama sehingga bisa melihat dirimu diangkat menjadi Ratu" Ujar Raden Wijaya dengan suara sangat lemah.


Mungkin dia berusaha menahan sakitnya didepan Saras.


"Ayahanda jangan mengatakan seperti itu. Ayahanda harus bertahan. Ayah pasti bisa hidup lebih lama. Ayahanda tidak boleh pergi selamanya" ujar Saras.


"Maafkan aku putriku, Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Ayahanda sangat sayang padamu" ujar Raden Wijaya sambil mengelus pipi Saras.


" Aku juga sangat sayang Ayahanda". ujar Saras.


Saras yang menyadari itu sangat terkejut. Ia tidak menyangka pertemuan dengan Ayahanda nya akan berakhir secepat itu.


Ia segera memanggil tabib istana yang sedari tadi menunggu dipintu Kamar Raden Wijaya untuk memberi ruang bagi mereka berdua.


"Tabiiiiib....Tabiibbb!!! " teriak Saras memanggil tabib istana.


"Iya Gusti Ratu" Jawab tabib istana itu sambil berlari tergopoh - gopoh kearah Saras.


" Tolong periksa dan selamatkan Ayahandaku" Pinta Saras sambil tidak kuasa menahan tangis.


Tanpa menunggu aba aba lagi dari Saras, Tabib Istana itu segera berlari kearah tempat tidur Raja yang disitu juga ada Saras duduk disana.


Tabib istana memeriksa keadaan Raden Wijaya lalu menyentuh pergelengan tangan Raden Wijaya berharap masih terdengar suara denyut nadi. Namun terlihat dari wajahnya sangat sedih, Saras khawatir dan tidak sabar menunggu jawaban dari tabib istana perihal Ayahandanya.


"Bagaimana tabib??" tanya Saras dengan tidak sabaran.


" Maafkan hamba Gusti Ratu, Mohon jangan hukum hamba" ujar Tabib istana itu sambil bergegas berlutut didepan Saras.


"Katakan saja dan jangan berbelit belit. Bagaimana dengan Ayahandaku???" tanya Saras lagi.


"Ayahanda Gusti Ratu sudah tiada" ujar Tabib istana itu sambil menundukkan kepalanya.


" Ini tidak mungkin. Ini tidak mungkin... Kau pasti mengada ngada. Ayahanda tidak mungkin pergi secepat ini" Ujar Saras dengan menangis kuat. Lalu Saras memeluk Raden wijaya dan mengguncangkan tubuh Ayahandanya.


" Ayahanda bangunlah ! Ini perintahku ! Ayahanda tidak boleh pergi secepat ini.... Ayahanda bangunlah !" Teriak Saras. Teriakan nya mengagetkan orang orang yang berada di kamar itu.


Namun Saras sudah tidak perduli lagi, hatinya sudah sangat pedih.


Teriakan Saras pula yang mengantarkan banyak orang seisi istana datang berbondong bondong kekamar Raden Wijaya, Mereka bertanya tanya menanyakan apa yang sedang terjadi. Namun Saras hanya terdiam tidak bisa berkata - kata. Bahkan pikirannya sudah sangat kalut. Dia tidak bisa berpikir jernih lagi.


Hanya Tabib Istana dan Dayang dayang milik Saras yang menceritakan kepada orang orang itu tentang apa yang sedang terjadi.


Setelah itu Raden Wijaya dikremasi dan dikebumikan dengan Tradisi adat dan Keagamaan Hindu Buddha yang dianut Kerajaan Majapahit.


Tubuh atau Jasad Raden Wijaya dibaringkan ditumpukan kayu, dibakar dengan menggunakan Api seukuran tubuhnya.


Mengingat Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah anak sulung setelah Jayanegara, dan Jayanegara sudah duluan wafat. Maka, Saras lah yang memberikan api pertama untuk Ayahandanya.


Ia mengantarkan Ayahanda nya keperistirahatan terakhirnya.


Setelah tubuh Raden Wijaya habis terbakar dan sudah menjadi Abu.


Saras memerintahkan mereka yang hadir disana mengumpulkan abu tubuh Ayahanda nya lalu menanam abu tersebut di Candi Simping ( Sumberjati ) dekat Bilitar.


Sesuai dengan apa yang telah terjadi dalam sejarah.


***Tradisi membakar Jenajah disebut dengan Ngaben di Bali. Ngaben merupakan ritual kremasi jenazah yang dilaksanakan oleh umat hindu.


Ngaben sendiri berarti api yang menyucikan dan dipahami sejak dulu sebagai proses penyucian.


Upacara ini sekaligus dimaknai sebagai upaya melepaskan Sang Atma ( Roh ) dari belenggu duniawi sehingga dapat bersatu dengan Tuhan ( Mokshatam Atmanam ) di dalam nirwana ( Surga ).


Masyarakat hindu Buddha mempercayai bahwa mereka yang sudah mati akan hidup lagi di suatu zaman nanti yang disebut dengan Reinkarnasi ***


Saras kembali kekamarnya dengan ditemani para Dayang.


Dia masih bersedih hati dan belum ikhlas merelakan kepergian Ayahandanya.


Sudah banyak para penari, para pemusik dan para penyair dari berbagai daerah terbaik di Kerajaan Majapahit dikirimkan Dyah Gayatri untuk menghibur Saras.


Namun hasilnya nihil.


Saras tetap tidak bergeming dari kamarnya.


Berhari hari dia mengurung dirinya didalam kamar.


Bahkan ia tidak pernah beranjak sekalipun dari tempat tidurnya kecuali bila dia sangat lapar dan urusan mendesak di kamar mandi, barulah ia turun dari tempat tidurnya. Dia memutar kembali memori dipikirannya, kenangan dia bersama Ayahandanya. Dia tidak memperdulikan dengan orang orang yang datang menghiburnya.


Begitu pula dengan Kertawardhana, dia meminta Kertawardhana pergi memberi nya waktu berdiam diri dikamar dan tidak ingin diganggu siapapun.


Kepergian Raden Wijaya untuk selamanya membuat Saras sangat terpukul bahwa ia sudah kehilangan sosok yang amat dicintainya.


Melihat tiada perkembangan dari putrinya, membuat Dyah Gayatri turun tangan. Dia segera datang kekamar Saras dengan maksud menghibur putri sulungnya itu. Agar putrinya tidak berlarut - larut dalam kesedihan.


Dia masuk kedalam kamar Saras, dan memerintahkan para dayang yang melayani Saras untuk keluar sebentar agar memberikan waktu dan ruang bagi mereka berdua.


Saras yang melihat kedatangan ibundanya hanya tersenyum tipis dan tetap tidak bergeming dari tempat tidurnya.


Dyah Gayatri melihat tubuh Saras menjadi kurus kering, dan matanya yang sudah bengkak, wajahnya yang sudah pucat dikarenakan Saras yang tidak bisa tidur semalaman dan tidak selera makan karena kesedihannya ditinggal Ayahanda yang amat dicintainya.


Melihat kondisi Saras saat ini, membuat Dyah Gayatri sangat terkejut dan hatinya sangat terpukul. Ia tidak menyangka bahwa kondisi Saras akan menjadi seperti ini.


Sebagai seorang ibu, tentu saja Dyah Gayatri tidak sanggup melihat kesedihan putri sulungnya itu.


Dyah Gayatri lalu memeluk Saras dengan cukup erat, mengelap air mata yang jatuh membasahi pipi Saras yang tidak henti - hentinya menangis.


Dia menunggu Saras menghentikan tangisannya dan membiarkan Saras tenang berada dalam pelukannya.


Saras yang dipeluk Dyah Gayatri menjadi tenang dan damai. Dia menghentikan tangisannya walaupun masih sesenggukkan. Dia memeluk Dyah Gayatri dengan sangat erat, seolah olah tidak ingin melepaskan wanita itu dan tidak membiarkan wanita itu pergi dari sisinya.


Pelukan seperti ini lah yang sudah lama sangat dirindukan Saras. Kini, dia bisa mendapat pelukan tersebut dari seorang wanita yang bukan ibu kandungnya, melainkan ibu dari sang Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi.


Beberapa menit kemudian, Saras benar benar terhibur dan menghentikan tangisannya. Ia benar benar merasa nyaman dan tenang berada dalam pelukan Sang Ibu Suri.


Menyadari bahwa Saras sudah tidak menangis lagi. Dyah Gayatri mengusap rambut puterinya itu, lalu dengan hati hati ia melepaskan pelukannya dan mencoba berbicara pada Saras.


"Puteriku, Ibunda tahu bahwa sepeninggal dari Ayahandamu selamanya membuat mu sangat terpukul dan bersedih hati. Namun puteriku, tidak baik baik seorang Ratu terlalu lama berlarut larut dalam kesedihan. Rakyat diluar sana sudah menunggumu. Mereka sangat khawatir dan merindukan Ratu mereka memerintah. Mereka semua sangat merindukan mu putriku ". Ujar Dyah Gayatri sambil mengusap pipi Saras.


"Tapi Ibunda, aku benar benar tidak sanggup disituasi seperti ini untuk memerintah " jawab Saras.


"Aku tahu puteriku, namun jika dirimu benar benar menyayangi Ayahandamu, maka jadilah Ratu yang bijaksana dan mencintai Rakyat serta memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Jika kau terus seperti ini. Maka Ayahandamu yang kini bersama para Dewa menjadi bersedih. Apakah dirimu ingin melihat Ayahandamu bersedih dikarenakan puterinya tidak merelakannya" Ujar Dyah Gayatri disambut dengan gelengan kepala Saras.


"Apakah Ayahanda akan bersedih jika aku bersedih hati seperti ini, Ibunda? " tanya Saras.


"Tentu saja puteriku. Oleh sebab itu bangun dan mandilah, setelah itu makan dan bersiap siaplah duduk disinggasana mu. Rakyat sudah menunggu ". Terang Dyah Gayatri, lalu dia beranjak dari kamar Saras dan kembali kekamarnya sendiri.


Saras mematuhi apa yang dikatakan oleh Ibundanya. Ia lalu memerintahkan para dayangnya untuk menemaninya berangkat mandi dipemandian istana dan bersiap siap untuk makan. Setelah makan, ia pergi kesinggasananya dan duduk sebagai Ratu, pewaris sah takhta kerajaan Majapahit.


Saras berpikir bahwa benar apa yang dikatakan Dyah Gayatri. Ia tidak boleh terlalu lama larut dalam kesedihan.


Ia tidak boleh melupakan tugas pentingnya untuk rakyat dan kerajaan dikarenakan dia adalah seorang Ratu. Saras kemudian mulai mengatur ulangkembali pemerintahan. Ia bertekad bahwa mulai saat itu ia akan menjadi Ratu yang dikenal bijaksana dalam sejarah. Sama seperti dengan Ratu yang sebenarnya Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi.


Bersambung....