The Reincarnation Of Love

The Reincarnation Of Love
Mimpi Saras yang kedua



Karena Nomor tak dikenal tersebut, Saras tidak menyadari bahwa ia tertidur di kamarnya. Tidur yang sangat pulas bahkan ia melewati waktu makan malam.


Bi Ati yang mendapati nya tertidur pulas, tidak tega membangunkan gadis itu.


Di raut wajah gadis itu terpancar wajah yang sangat kelelahan.


Dia pun meninggalkan kamar dan membiarkan gadis itu tidur malam itu.


*****


Malam itu Saras kembali bermimpi.


Saras terhanyut dalam mimpi nya.


Mimpi yang tidak jauh berbeda dengan mimpi sebelumnya.


Mungkin hatinya sudah tidak menolak kehadiran mimpi itu.


Dia kembali ke istana Majapahit. namun terbangun di tempat yang berbeda. Tempat dimana gadis itu kabur dari Istana kerajaan Majapahit. Tempat seharusnya portal itu berada. Aneh sekali, portal perbatasan dunia nyata dan mimpi itu tidak ada.


Saras kemudian teringat apa yang dikatakan oleh Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi bahwa portal itu akan datang , bilamana waktu mimpi nya malam itu telah habis. Gadis itu mengenakan busana kerajaan dengan mahkota dikepalanya.


Ditubuh nya penuh dengan perhiasan berlapis emas.


Sungguh menakjubkan penampilan Saras di mimpi itu.


*****


Saras kemudian berjalan ditengah hutan untuk mencari tempat dimana kerajaan Istana Majapahit berada. Namun semakin jauh perjalanan itu, Saras tak kunjung menemukan kerajaan Majapahit.


Untunglah ada sepasang Suami - Isteri sedang membuka lahan.


Suami - isteri tersebut membawa Saras untuk beristirahat sejenak di pondok mereka.


Suami - isteri tersebut tidak mengetahui bahwa yang didepan mereka saat ini adalah Tribhuwana Wijayatunggadewi, Ratu mereka.


Mengingat bahwa hanya para bangsawan dan para petinggi Kerajaan lah yang punya akses keluar masuk Istana menemui Raja.


Bahkan, untuk melihat keadaan rakyat, Raja hanya mengutus bawahannya.


Tidak pernah sama sekali, Raja turun langsung ke istana.


Walaupun begitu tidak pernah terdengar oleh Raja keluhan rakyatnya.


Bawahan yang Ia perintahkan untuk memantau rakyat hanya melaporkan yang baik - baik saja bahwa rakyat tidak kekurangan sesuatu apapun.


*****


Saras mengatakan kepada sepasang suami isteri itu bahwa ia adalah Tribhuwana Wijayatunggadewi yang baru diangkat menjadi ratu Majapahit.


Suami - isteri itu terkejut dan menjadi sangat takut mendengar apa yang dikatakan Saras.


Mereka khawatir dan takut tidak sengaja berbuat salah kepada Saras.


Sehingga Saras tidak berkenan dan menghukum mereka dengan Hukuman Kutukan yang biasa diberikan oleh Raja Majapahit sebelumnya.


************************************


Sekilas sejarah


***Raja Majapahit memanfaatkan ketakutan atas hukuman mengerikan dari dewa untuk mendapatkan kepatuhan rakyatnya.


Hukuman kutukan tersebut tertulis di Prasasti Tuhannaru pada tahun 1323. Selain Prasasti Tuhannaru, Prasasti dari kerajaan Majapahit lainnya yang berisi kutukan antara lain Prasasti Waringin Pitu, Prasasti Cangu, dan Prasasti Kudadu.


Prasasti tersebut berbunyi :


" .....Dewa, Engkau harus membunuh mereka, mereka harus engkau bunuh. Jika mereka dalam perjalanan melewati ladang terbuka, semoga mereka digigit ular berbisa. Di hutan, mereka akan kehilangan arah, diserang harimau. Di air, mereka dilahap buaya, dilaut mereka digigit ikan ganas.


Jika mereka menuruni gunung mereka akan menabrak batu bergerigi, jatuh kejurang berbatu, mereka akan meluncur kebawah, hancur berkeping - keping. Jika mereka keluar saat hujan, semoga mereka disambar petir, jika mereka tinggal dirumah, mereka akan terbakar halilintar, mereka tidak akan punya waktu melihat apa yang menyambar mereka.


Saat mereka berperang mereka diserang dari kiri, dari kanan, semoga kepala mereka terbelah, dada mereka robek, perut mereka sobek hingga ususnya terburai, otak mereka dijilat, darah mereka diminum, dagingnya dilahap, hingga kematian menjemputnya.


Mereka akan dibawa ke neraka Rorawa, dan jika mereka lahir kembali, itu dalam keadaan buruk. Itu yang akan terjadi pada mereka yang berbuat jahat ...."


Itulah bunyi hukuman kutukan yang digunakan dikerajaan Majapahit.


Uniknya, Majapahit masih mengeluarkan sanksi kutukan disaat kerajaan itu sudah memiliki kitab perundang - undangan sendiri. Dalam kitab Agama misalnya, Majapahit mengatur tindak pidana yang dikenakan berupa denda atau hukuman mati. ************************************


Sepasang suami isteri itu terkejut mendengar perkataan Saras.


Mereka pasrah dengan hukuman kutukan kerajaan yang akan diberikan pada mereka bilamana mereka berbuat salah.


Sepasang suami - isteri tersebut berlutut didepan saras bersujud memohon ampun kepadanya.


Saras juga terkejut dengan apa yang dilakukan mereka berdua. Ia tidak menyadari bahwa mereka akan berlutut didepannya.


Ia tidak sempat mencegah kedua orang itu karena keadaan itu secara tiba - tiba.


" Ampuni kami Gusti Ratu, Maafkan dosa kami yang tidak mengenal dan menyadari kedatangan Gusti Ratu serta malah membiarkan Gusti Ratu mampir di gubuk kami yang tua ini " Ujar Pria itu.


" Hamba juga mohon ampun Gusti Ratu, Sekiranya Gusti Ratu sudi mengampuni kami dan memberikan kesempatan pada kami untuk hidup " Ujar Isterinya menambahkan.


Saras yang mendengar dan diperlakukan tersebut menjadi tidak enak hati.


Ia tidak biasa diperlakukan secara sangat hormat seperti yang dilakukan sepasang suami isteri itu .


Apalagi kedua orang itu usia nya lebih tua dari nya, mungkin seusia dengan kedua orang tuanya.


Saras bingung sekali dengan situasi ini.


Bagaimana cara nya supaya mereka tidak berlutut didepannya ?


Sejenak ia lupa bahwa dirinya saat ini adalah Ratu Kerajaan Majapahit.


Dibenaknya saat ini bahwa ia hanyalah gadis biasa.


Ia tersadar bahwa ia tidak mungkin membiarkan kedua orang tersebut berlutut.


Ia akhirnya memberanikan diri untuk memerintahkan mereka untuk berdiri sebagaimana layaknya seorang Ratu memberikan perintah.


" Berdirilah, Jangan berlutut didepan ku " Perintah Saras kepada kedua orang itu.


" Baik Gusti Ratu ". Jawab mereka serentak sambil bergegas bangkit berdiri dari tempat mereka berlutut.


Namun di wajah mereka tersirat wajah yang takut dan khawatir.


Wajah dan tubuh mereka basah penuh dengan keringat.


Tangan mereka gemetar.


Bulu kuduk mereka bergetar dan membuat mereka merinding


Mereka bahkan tidak bisa berdiri dengan baik.


Mereka takut membayangkan hukuman apa yang akan diberikan Saras kepada mereka.


Saras yang menyadari itu segera menghibur mereka agar mereka tidak takut kepadanya


Mereka yang mendengar apa yang dikatakan Saras pun seketika lega.


Membayangkan nyawa mereka selamat.


" Kalian sudah menolong aku, Sekarang aku masih ingin meminta pertolongan kalian lagi. Aku harap kalian berkenan dan bersedia membantu aku. " Ujar Saras lagi.


" Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu Gusti Ratu. Apapun akan kami lakukan bahkan bila perlu nyawa kami sebagai taruhannya " Ujar Suami - isteri tersebut.


Saras yang mendengar kesediaan mereka menjadi sangat terharu.


Ia tidak menyadari bahwa mereka akan menanggapi dia sedemikian rupa bahkan mereka rela mengorbankan nyawa mereka untuknya.


Saras bersyukur karena ia terdampar di Istana Majapahit.


Dimana Rajanya terkenal bijaksana, memperhatikan rakyatnya dan melindungi rakyatnya dengan baik.


Sehingga Rakyat sangat mencintai Raja mereka.


" Aku tidak sengaja bermain dan keluar dari istana sendirian tanpa pengawal atau dayang satupun. Niatnya aku hanya keluar sebentar.


Namun aku terlalu senang bermain dan terus berjalan hingga ketengah hutan. Aku menyadari bahwa aku tersesat dan aku tidak tahu jalan pulang keistana. Beruntung bagiku bertemu dengan kalian di hutan. Dan aku sangat bersyukur kalian telah membawa ku kepondok ini " Terang Saras dengan wajah penuh syukur.


Saras langsung mengambil selembar daun pisang. Lalu merobeknya dan membentuknya menjadi seolah sebuah kertas.


Lalu dia pergi kehalaman belakang mengambil ranting kayu.


Selanjutnya ia masuk kedalam pondok menuju kedapur mengumpulkan arang bekas pembakaran masak suami - isteri itu didapur. Arang tersebut masih panas karena baru digunakan isterinya memasak.


Saras segera menggosokkan ujung ranting kayu tersebut pada arang yang menghitam.


Lalu Ia segera mengukir sebuah tulisan dengan tangannya di daun pisang yang sudah diambilnya tadi. Saras menulis beberapa kalimat dalam bentuk tulisan aksara Jawa kuno.


Mengingat dia adalah seorang Ratu dalam mimpi ini.


Terlebih bahwa dia juga sangat menyukai mata pelajaran sejarah sehingga dia pernah mempelajari aksara Jawa kuno.


Yang membuat dia tidak kesulitan untuk menulis tersebut.


Saras lalu memberi cap kerajaan pada daun pisang itu.


Cap kerajaan yang selalu terselip di pinggangnya.


Cap yang bergambar simbol kerajaan Majapahit bernama Surya Wilwatikta.


**** Surya Wilwatikta yang dibuat pada masa pemerintahan Sri Kertarajasa Jayawardhana atau lebih dikenal dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.


Berbentuk matahari yang memancarkan sinarnya dengan sempurna kesegala arah ( banyak sudut arahnya ), dan ditengahnya ada ornamen Dewa Syiwa berbusana perang sambil menunggang kuda. Cap kerajaan ini biasanya dipakai resmi oleh kerajaan Majapahit. Terekam dalam beberapa dokumen kenegaraan ( diplomatik ) yang ditujukan kepada negara lain, ataupun peninggalan arfetak arkeologis berupa Ornamen bangunan, nisan , dan lainnya.


Mengingat Saras ( Tribhuwana Wijayatungadewi baru diangkat menjadi Ratu. Maka yang digunakan saat ini adalah cap kerajaan yang dibuat Raden Wijaya bukan cap Kerajaan yang akan dibuat Tribhuwana Wijayatunggadewi setelah beberapa lama memerintah.


*****.


" Terimalah dan bawalah kalung ini ikut serta segeralah keistana menemui Ayahandaku. katakan lah ini dari Ratu , dan mintalah Ayahandaku mengirim utusan untuk menjemput aku " ujar Saras menyerahkan daun pisang serta kalung kerajaan kepada Pria itu. Lalu Pria itu bergegas bersiap - siap berangkat ke istana sesuai perintah dari Saras.


****


Sepeninggal dari Pria itu, tinggallah Saras dengan wanita paruh baya dipondoknya.


Entah mengapa Saras merasa lapar. Perutnya keroncongan.


Saras menanyakan apakah ada nasi atau lauk untuk dimakan.


" Aku sangat lapar dan belum sempat makan sedikitpun dari istana. aku juga lupa membawa uang. Adakah makanan tersedia ditempat ini? apapun itu sebab aku sangat lapar " Ujar Saras .


Tanpa menunggu lama, wanita tersebut segera mengambil nasi dari periuk, dan menyiapkan nasi serta lauk pauk kedepan Saras yang duduk beralaskan tikar.


Didepan mata Saras, sudah tersedia sebakul nasi yang terbungkus oleh daun pisang , sepiring ikan panggang yang ditangkap langsung dari sungai, Semangkuk Sayur bening yang diolah dan dipetik dari kebun. Tak lupa pula wanita tersebut menghindangkan wedang jahe untuk Saras yang menambah kenikmatan makanan itu


Walaupun sederhana namun terlihat mewah dan sangat enak bagi Saras.


****


Saras segera mencuci tangannya lalu makan, tidak lupa ia mengajak wanita paruh baya itu makan bersama nya.


Mereka makan dengan lahap sambil berbincang - bincang.


Tanpa disadari Saras, dia sudah makan 5 porsi makanan saking lapar dan lahapnya.


Wanita tua disampingnya turut makan dan hanya memandangi Saras dengan tersenyum melihat nafsu makan Saras yang sangat banyak.


*****


Seusai makan, Saras mengucapkan terimakasih lalu dia segera membantu wanita itu membereskan makanannya ke dapur.


Saras kembali duduk di ruang depan beralaskan tikar sedangkan wanita itu masih berkutak - kutak didapur.


Beberapa menit kemudian, wanita itu membawa singkong, pisang rebus, lepet ( jajanan tradisional Jawa ) serta air minum hangat lalu menyuguhkannya pada Saras.


Saras menyambut makanan yang disuguhkan dengan wajah gembira.


Ia tidak menyangka sama sekali bahwa makanan di desa sungguhlah enak.


Mungkin kini dia bisa betah tinggal di Kerajaan Majapahit.


" Kalau boleh tahu Siapa nama Bapak dan Ibu ? " . tanya Saras.


" Nama suami hamba adalah Darsa, dan Nama hamba sendiri adalah Sekar , Gusti Ratu ". Jelas Sekar.


" Apakah Masyarakat di desa hidup nya sudah makmur dan berkecukupan, apakah ada keluhan selama masa pemerintahan Ayahandaku ". Ujar Saras


" Bagaimana mungkin hamba berani mengatakannya Gusti Ratu " Ujar Sekar ketakutan.


" Katakan saja jangan takut, Karena aku adalah seorang Ratu. Aku ingin mendengar langsung keluhan dari rakyatku. Tujuan ku menjadi Ratu adalah memperhatikan kesejahteraan serta kemamukran Rakyatku " Terang Saras.


" Mohon ampun terlebih dahulu Gusti Ratu, selama ini masyarakat kesulitan untuk menjual hasil pokok pertanian mereka. Mereka harus memberikan setengah hasil panen kepada Penguasa bawahan Raja. Dan bawahan itu yang akan memberikan kepada Raja. Setengah nya lagi kami jual kepasar namun dijual dengan harga yang sangat murah sehingga kami kesulitan untuk mencukupi kebutuhan sehari hari.


Masyarakat yang tidak mempunyai tanah dan tidak bisa bercocok tanam bahkan terpaksa menjual diri mereka menjadi budak kepada para bangsawan. Pajak yang harus dibayar yang telah ditetapkan oleh Raja juga sangat tinggi. " Ujar Sekar.


Saras yang mendengar perkataan wanita itu terkejut.


Ia tidak percaya dengan apa yang terjadi di Masyarakat ekonomi kebawah kini bahwa ditengah kilau kemilau kekayaan Majapahit, masih ada masyarakat yang kesusahan mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan sehari - hari. Saras bertekad kuat untuk berada di sini dan terus menjadi Ratu.


Tujuannya kini bertambah, selain mengemban tugas yang diberikan langsung oleh Ratu Tribhuwana Wjiayatunggadewi, ia juga akan menjadi Ratu yang bijaksana yang akan turun langsung melihat dan memperhatikan rakyatnya agar rakyatnya terbebas dari kemiskinan.


Ditempat ini, seketika membuat Saras lupa dengan apa yang terjadi di dunia nyata.


Ia lupa dengan kesedihannya dirumah.


Ia juga lupa dengan nomor tak dikenal yang beberapa kali menerornya.


Tampaknya mulai menikmati suasana Kerajaan Majapahit


BERSAMBUNG