The Reincarnation Of Love

The Reincarnation Of Love
Mimpi Saras



Cuit Cuit Cuit


Kukuruyuk


Kukuruyuk


Petok Petok Petok Petok


Pok Pok Pok Pok Pok


 


Suara Ayam jantan dan betina serta Burung di Pagi Hari menyambut Fajar datang.


Sinar mentari menyinari Pagi Hari.


 


Dengan embun membasahi tanah, pepohonan dan rerumputan.


Sunyi damai dan tenteram


Seperti suasana desa jauh dari kebisingan kota.


Udara yang bersih karena tidak ada polusi udara.


" Uh. Nyenyak aku tidur tadi malam ". Sambil beranjak dari tempat tidurnya.


" Eh, ini dimana??? ini bukan kamar ku !". Teriaknya kaget memandangi sekelilingnya


yang penuh dengan perabotan rumah tangga Zaman dulu.


" Selamat Pagi, Tuan Putri " . Hormat wanita yang sedari tadi dikamar tersebut sambil berlutut.


" air panas di air terjun pemandian Kerajaan sudah kami siapkan, Silahkan Tuan Putri" Hormat wanita satunya lagi mempersilahkan.


" Laaaaaaaah. Ini apaan sih?? Ini dimana?? Kenapa aku bisa disini??" . Tanya Saras kebingungan.


" Maaf ya Bu. Nama saya Saras bukan Putri. Kek nya ada yang salah deh " Ujar Saras.


" Maaf Tuan Putri , Karena Tuan Putri jatuh dari tangga padepokan sehingga pingsan dan baru terbangun setelah berbulan bulan. Tabib bilang bahwa ingatan Tuan Putri mengalami gangguan. Mohon ampun Tuan Putri " Ujar wanita yang pertama tadi sambil menundukkan kepalanya.


" Baiklah kalau gitu, Siapa nama ku? " Tanya Saras.


"Sembah Tuan Putri . Tuan Putri Tribhuwana Wijayatunggadewi atau Dyah Gitarja putri dari Raja Kertajasa Jayawardhana dan Selir Dyah Gayatri yang lebih dikenal dengan nama Raja Wijaya, Raja pertama yang berkuasa di kerajaan Majapahit " .


Jawab wanita tersebut sambil menundukkan kepalanya.


** Karena menurut aturan kerajaan bahwa hanya kaum bangsawan yang boleh mengangkat kepala melihat wajah keluarga Raja **


.


 


" Hm, aneh sekali??.....


 


apa ini mimpi ya?...Ouch sakittt ! " . Jerit Saras setelah mencubit sendiri tangannya.


" Kenapa bisa begini ya, Kenapa aku berada di tempat ini?" .


Tanya Saras dalam hati.


" Tuan Putri , Silahkan mandi dan bersiap karena hari ini Raja sudah mengadakan Sayembara untuk para Pangeran yang ingin mempersunting Putri untuk dijadikan permaisuri " Ujar Wanita tua satunya lagi. sama seperti wanita yang pertama tadi, wanita ini pun menundukkan kepalanya.


 


" Ha? Permaisuri ? Berarti Isteri dong !? aduh aku saja masih 16 tahun , mana mungkin aku menikah di Usia semuda ini ".


 


Sangkal Saras kaget.


" Maaf Tuan Putri, Di Kerajaan ini anak dibawah 18 tahun sudah banyak yang menikah, Karena kebiasaan adat di Kerajaan ini jika belum menikah dibawah usia tersebut maka dianggap sudah tua dan akan sulit mencari jodoh ". Terang Wanita itu.


" Baiklah, aku akan mandi. Sebelum itu, aku mau tau nama Ibu berdua siapa? " Tanya Saras kepada kedua wanita tersebut.


" Nama hamba Ambar Sari". ujar wanita yang pertama.


**Ambar Sari artinya adalah harum sari wangi.**


" Nama hamba Ambarwati , Tuan Putri ". Ujar wanita yang satunya lagi.


**Ambarwati artinya adalah wanita berbau wangi, otaknya cemerlang. Sesuai dengan namanya wanita ini sangat cerdas dan menjadi Kepala Dayang Istana yang mengatur semua keperluan istana.**


" Nah. Ibu Sari, Ibu Wati, Tolong antarkan saya ketempat pemandiannya ". Pinta Saras


" Maafkan kami Tuan Putri , Mohon jangan panggil kami dengan sebutan ibu, kami bisa mendapat hukuman dari Raja " . Ujar Wati dengan raut wajah ketakutan.


" Aduh. Bagaimana mungkin aku menyebut nama tuk orang yg seusia ibu ku? " . Keluh saras dalam hati.


" Yaudah. Tolong antarkan aku ketempat pemandiannya " . Perintah Saras.


" Baik Tuan Putri ". ujar Wati dan Sari sembari beranjak dari tempat berlutut mereka dan mengantarkan Saras ketempat pemandian.


" Mungkin setelah mandi aku bisa kembali ke Rumah " . Harap Saras dalam hati selalu memikirkan apa yang terjadi padanya hari ini, apakah ini mimpi ? atau bukan mimpi ? . Tapi kenapa setelah dia mencubit tangannya sendiri terasa sakit ? . Kalau bukan mimpi bagaimana cara kembali kerumah ? . Dan kenapa dia ada ditempat ini. Pertanyaaan pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.


Jalanan setapak yang lapang penuh dengan bebatuan dan kerikil kecil


Disamping kanan kiri jalan tersebut penuh dengan pepohonan yang rindang


Dibawahnya penuh rumput liar yang ditata rapi


Sunyi damai suasana yang dirasakan


Menyejukkan hati


Mendamaikan pikiran


Itu lah yang akan dikatakan siapapun yang berada di tempat ini


Burung Burung berkicauan merdu


menambah indah dan damai.


Sungguh Suasana Desa yang sangat indah


Terdapat beberapa Bebatuan besar dibawah air terjun yang tidak terlalu deras.


Dan di bawah nya terdapat lantai luas yang sudah di semen.


Di sekitar Pemandian ini terdapat banyak Pohon besar yang rindang yang menambah kesejukan


Sungguh Pemandian yang luar biasa indahnya


Siapapun yang berada di sini


Niscaya betah berlama lama


Begitu pula dengan Saras sebelum mandi, Dia bermain air lalu mandi dan lanjut bermain lagi.


Dia telah lupa tentang alasan kedatangannya ketempat ini.


Setelah kelelahan bermain main air, Saras kembali ke Istana diiringi Dayang Wati dan Dayang Saras.


Di Istana Saras tidak diizinkan memakaikan sendiri pakaiannya.


Dia mengenakan pakaian kerajaan dengan dibantu para dayang. Dia mengenakan kemben dan kain halus bewarna keemasan yang menutupi seluruh tubuhnya dari dada sampai ujung kaki


Selendang emas murni yang mereka sampirkan pada Bahu dan pinggang Saras tampak berkilauan seperti sayap untuk terbang.


Ditelinga Saras dipasang anting anting emas berkilauan


Serta dikepala nya dipasangkan Mahkota emas.


Dan dileher nya terpasang kalung emas yang indah.


Kaki dan tangan nya dipasangkan gelang emas yang berkilauan


Rambut yang dibiarkan bergelombang.


Dan dikaki nya, Saras memakai Sendal yang terbuat dari kulit.


Sungguh menambah kecantikan Saras hari itu.


Di Kamar istana itu terdapat Cermin besar yang disekelilingnya dilapisi emas.


Perabotan yang dilapisi emas


Serta tempat tidur besar yang mewah karena dilapisi emas


Sungguh seluruh kamar dilapisi dari emas.


Tentu saja mengingat kejayaan Kerajaan Majapahit dimasa itu.


Saras tertegun melihat isi kamar Istana ini yang dilapisi emas.


Sungguh indah sekali.


Saras melangkahkan kakinya kearah cermin besar yang diatas meja rias.


Dia berkaca pada cermin besar tersebut.


Terlihat olehnya gadis yang sangat cantik dilengkapi Mahkota dan perhiasan yang indah.


Siapapun yang melihat gadis dicermin ini pasti akan takjub melihat kecantikannya.


Begitu hal nya dengan Saras takjub melihat kecantikan gadis tersebut


Seakan gadis yang di cermin itu bukan dirinya.


" Tuan Putri , Ayahanda dan Ibunda sudah menunggu untuk makan bersama di dapur Istana ". Kata Dayang Sari dengan halus.


" Mari, hamba antarkan " . Kata dayang Wati sambil bergerak keluar dari kamar Istana.


Saras mengikuti Dayang Wati menuju dapur istana.


Ditengah perjalanan ke dapur Istana Saras melihat sebuah lukisan pemuda tampan yang terlihat tersenyum. Dia bertanya tanya siapa pemuda tersebut.


" Dayang Wati, Ini lukisan siapa ? ". Tanya Saras penasaran


" Itu adalah saudara tiri Tuan putri. Raja Jayanagara, Raja kedua Majapahit. Sayangnya dia sudah wafat " . Ujar Dyah wati sedih


**Jayanagara adalah saudara tiri Tribhuwana Wijayatungga Dewi, Putra Pertama Raden Wijaya, dari Dara Petak, Seorang penerus kerajaan Sriwijaya.


Pada masa itu Raden Wijaya berhasil menaklukan kerajaan Srwijaya dan menjadikan Kerajaan itu wilayah kekuasaannya.


Tapi sayang nya Jayanagara meninggal akibat dibunuh oleh tabib istananya tanpa meninggalkan keturunan .


Sehingga adik tirinya, Tribhuwana Wijayatunggadewi naik takhta.**


Disana telah duduk keluarga Kerajaan


Mungkin itu adalah Raja, Ratu, Selir dan beberapa isterinya serta yang lainnya adalah sanak keluarga Raja. Didepannya terdapat meja makan yang besar dengan beberapa kursi yang diukir dengan indah.


Diatas Meja makan tersebut sudah disediakan Makanan yang berlimpah, dan Buah Buahan pilihan, Serta susu yang diolah dari sapi pilihan.


Tak jauh dari Meja makan tersebut beberapa wanita yang pakaian nya seperti dayang berdiri tak jauh dan melayani mereka.


" Kemarilah putriku, Mari makan bersama Ayahanda dan Ibunda mu ". Ajak Pria itu dengan wajah kebapakan. Dialah Prabu Kertarajasa Jayawardhana atau lebih dikenal dengan sebutan Raden Wijaya, Raja pertama sekaligus pendiri Majapahit.


" Kemari putriku, makanan ini sudah disiapkan untukmu ".Ujar Wanita dengan wajah keibuan itu. Sungguh halus sekali suaranya. dengan paras yang cantik sungguh elok dipandang. Dialah Dyah Gyatri selir Prabu Raden Wijaya sekaligus adik kandung permaisuri kerajaan , Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari .


**Dyah Gayatri adalah ibu kandung Tribhuwana Wijayatungga dewi cikal bakal Ratu Majapahit yang ditangannya Majapahit mendapat kejayaan yang besar dan melahirkan penerus nya Raja Hayam wuruk. Raja Hayam Wuruk menjadi Raja yang sangat terkenal kejayaannya dan mempersatukan seluruh nusantara di bawah kekuasaannya dengan bantuan Patih Gajahmada.**


Saras melangkahkan kaki nya ke meja makan. dia duduk di kursi kosong yang sudah disediakan.


Mereka makan dengan tenang.


Setelah makan mereka pergi ke kamar masing masing .


Saras diantar ke kamarnya oleh dua dayangnya, dayang Sari dan dayang Wati.


" Sebentar lagi, Ketika matahari sudah terasa diatas kepala, Raja akan memulai sayembara nya.


Mari hamba bantu Tuan Putri untuk bersolek ". Ujar dayang Wati sambil mengiringi Saras ke meja rias.


**Matahari sudah diatas kepala artinya sudah jam 12 siang.


Masyarakat Zaman dulu menggunakan Matahari sebagai penunjuk waktu.


Dan Mata angin sebagai penunjuk tujuan. **


" Di Sayembara itu ada Pangeran Cakradhara dan Kudhamerta. Mereka ingin mempersunting Ratu dan saudara Ratu, Dyah Wiyat ". Terang Dayang Sari.


**Dyah Wiyat adalah saudara kandung Tribhuwana Wijayatunggadewi.**


Mereka selesai membantu Saras bersiap siap.


Lalu mengiringi Saras ke sebuah Lapangan Istana yang disana sudah berkumpul banyak orang.


Raja duduk disinggasana ditemani Keluarganya menyaksikan pertarungan tersebut.


Ternyata sayembara Raja berbunyi " Barangsiapa yang bisa mengalahkan Panglima kerajaan dalam memanah maka ia berhak memilih salah satu putri nya sebagai isterinya ". Itulah bunyi sayembara tersebut.


Sayembara berlangsung dengan sangat riuh. Para penonton bersorak sorak menjagokan jagoan mereka masing masing.


Akhirnya sayembara ini dimenangkan pertama oleh


Cakradhara atau lebih dikenal dengan Kertawardhana Bhre Tumapel. Dia memilih Tribhuwana Wijayatunggadewi sebagai isterinya.


" Raka , kamu disini juga ? " ujar Saras pada Kertawardhana.


" Maaf, Tuan Putri, hamba tidak mengerti maksud Tuan Putri. Nama Hamba Cakradhara atau lebih dikenal dengan Kertawardhana ". Ujar pria tersebut kebingungan.


" Aneh, jelas jelas mirip Raka " . pikir Saras dalam hati.


" Baiklah para hadirin semua nya. Karena sayembara ini sudah selesai. Maka saya akan mengumumkan bahwa saya akan menikahkan putri saya Tribhuwana Wijayatunggadewi dengan Ksatria Kertawardhana. Sekaligus mengangkat Tribhuwana menjadi Ratu. Dan acara pernikahan serta pengangkatan akan diadakan Lusa " . Teriak Raja kepada semua yang hadir hari itu.


" Tuan. boleh menginap disini menunggu hari pernikahan " . ujar Raja kepada Kertawardhana.


" Terimakasih Yang Mulia, anugerah Yang Mulia tiada batas ". hormat Kertawardhana.


Sayembara telah selesai


Semua kembali ketempat nya masing masing.


Begitu pula dengan Saras dia kembali ke kamarnya di Istana diiringi dua dayangnya yang setia.


Sesampai dikamar istana, Saras tambah kebingungan. Dia tidak percaya bertemu seseorang yang mirip Raka ditempat ini. Dia ingin memastikan sesuatu.


" Dayang Sari , apakah ada lukisan wajahku diistana ini. bolehkah aku melihatnya ".tanya Saras.


" Tentu saja ada Tuan Putri, mari hamba antarkan " . ujar dayang Sari sambil mengantarkan Saras kesebuah ruangan besar.


Ruangan ini penuh dengan Buku Buku dengan tulisan aksara Jawa kuno.


Dan beberapa meja dan kursi didalamnya


Didindingnya tergantung beberapa lukisan.


Persis penataannya seperti Perpustakaan Zaman Modern.


Tiba tiba Dayang Sari berhenti di bawah sebuah lukisan sambil menatap lukisan itu . " Ini adalah lukisan wajah Tuan Putri " . Katanya.


" Ini aku? " . tanya Saras


" Benar Tuan Putri " Jawab Dayang Sari.


Saras menatap wanita yang ada di lukisan tersebut. Wanita itu sangat cantik. Dan wajahnya sungguh mirip sekali dengan Saras.


" Benar. Ini mirip sekali denganku ! ". Teriak Saras dalam hati. " aku sering mengedit fotoku jadi hitam putih, Ini memang persis mirip sekali dengan wajahku, Tapi mengapa aku ada disini ?? Dimana Putri yang sebenarnya ? " . Tanya Saras dalam hati. Saras semakin kebingungan yang membuat kepalanya menjadi sakit. Dia lunglai.


" dayang Sari. Tolong bawakan aku kembali ke kamar ". Perintah Saras, dia takut akan pingsan ditempat itu.


" Baik Tuan Putri ".


Mereka kembali kekamar Istana. Karena kondisi Saras yang melemah.


Tabib istana datang mengobatinya


Sehingga malam harinya Saras sembuh dan kembali sehat bugar.


Hari pun berganti


Dan hari yang ditunggu pun sudah tiba. Yaitu hari pernikahan dan pengangkatan Tribhuwana Wijayatunggadewi menjadi Ratu Majapahit.


Semua menyiapkan acara tersebut dengan baik.


Dan semua menyambut acara tersebut dengan gembira.


Lain hal nya dengan Saras


Dia tidak habis pikir tentang yang terjadi padanya saat ini.


Dia sama sekali tidak menikmati acara tersebut bahkan hingga acara itu selesai.


Tibalah berakhirnya acara Hari itu.


Maka datang malam bagi Para pengantin.


Orang zaman modern menyebut nya dengan Malam Pertama.


Saras dan Kertawardhana berada dalam kamar. Saras takut sekali dengan malam bagi para pengantin itu.


Ketika Kertawardhana hendak menyentuhnya.


Saras panik dan meminta izin sebentar untuk mencari udara segar.


Saras bergegas keluar dari kamar pengantin tersebut dan pergi ke halaman belakang Istana yang berbatasan dengan hutan yang lebat. Dia berpikir untuk kabur dari tempat itu.


" Ada yang salah. Pokok nya aku harus kabur dari tempat ini ". Pikir Saras dalam hati.


Saras terus berlari dan berlari


Dia sudah jauh sekali dari istana.


Tiba tiba di belakang nya terdengar derap langkah kuda.


Dari Jauh ada seberkas sinar bewarna merah.


Ternyata itu adalah Para Prajurit Kerajaan yang mengejar Saras sambil membawa obor.


Saras ketakutan


Dia berdoa agar menemukan jalan keluar dari tempat ini


Doa Saras dikabulkan oleh Tuhan.


Tiba tiba tak jauh beberapa meter di depannya terdapat Pintu bercahaya bentuknya seperti Portal.


Saras tanpa pikir panjang melompat keportal tersebut dan hilang dari pandangan prajurit.


Langit tiba tiba menjadi gelap


Waktu di tempat itu berhenti


Dan semua ditempat itu tidak bergerak sama sekali


Seolah olah waktu di zaman ini berhenti dan berdetak di Zaman lain.