The Princess Licorice

The Princess Licorice
Bab 09



Satu bulan kemudian......


Akhirnya pada hari ini pernikahan putri Licorice dan pangeran Christopher akan dilaksanakan, banyak tamu berdatangan dari berbagai penjuru, hanya demi bisa menyaksikan mereka berdua menikah. Dalam kurun waktu satu bulan putri Licorice sudah banyak belajar tentang semua peraturan di kerajaan Federick, tidak hanya itu dia belajar dengan sangat mudah.


Raja Benedict dan ketiga kakaknya sudah sampai beberapa hari lalu, mereka sudah menunggu hari ini tiba, dimana putri Licorice akan menikah, meski hal tersebut amatlah berat bagi ketiga kakaknya, tapi ini adalah perintah dari raja, dan tidak bisa untuk di ganggu gugat.


"Ibunda hari ini putrimu akan menikah, aku sebenarnya tidak ingin hal ini terjadi." batinnya perih, rasa keterpaksaan yang tidak bisa dia hindari, dan harus benar-benar dia terima dengan setulus mungkin.


Kini putri Licorice sudah mengenakan gaun putihnya, begitu bersih dan menjuntai panjang, wajahnya sangat cantik nan menawan, semua pelayanan takjub melihat betapa cantiknya putri Licorice. Tidak lupa dengan mahkota kebanggaannya, dimana putri Licorice berjanji akan terus memakainya sebagai simbol kerajaan Zelda, meskipun dia sebentar lagi akan menjadi menantu kerajaan Federick.


"Tuan putri Licorice sangat cantik, ditambah gaun yang menjuntai membuatnya semakin berkharisma dan anggun." puji salah satu pelayanan disaat putri Licorice sudah menggunakan semuanya. Rambutnya disanggul dengan rapih dan sedikit diberi bunga magnolia putih di bagian belakang, itu sebagai simbol ketulusan dalam pernikahannya, meski dengan keterpaksaan hati, karena arti dari bunga itu sendiri adalah kesucuan serta ketulusan dalam memberikan cinta.


Putri Licorice masih tidak yakin apakah dengan ketulusan hatinya, pangeran Christopher akan membuka hatinya untuk putri? mungkin saja butuh waktu yang sangat panjang, oleh karenanya putri Licorice berharap aliansi pernikahan ini bisa menjadi cinta yang sesungguhnya, meski awalnya dengan keterpaksaan.


"Pangeran Christopher pasti tidak akan memalingkan wajahnya, dia pasti akan terus menatap putri Licorice." lagi dan lagi mereka mengatakannya, mana mungkin pangeran akan tergerak hanya dengan melihat beberapa perubahan dalam diri Licorice, bahkan dalam satu bulan menuju pernikahan, pangeran Christopher beralasan sibuk dengan latihan dari pasukannya, dan tidak memberi ruang waktu hanya untuk sekedar berbicara satu sama lain.


Putri Licorice hanya tersenyum kecut, mungkin baru saja dirinya tiba dia altar, pangeran pasti akan langsung memalingkan wajahnya, itu sudah menjadi hal biasa bagi Licorice.


"Aku tidak akan berangan terlalu tinggi, apalagi berharap sampai sedalam samudra, karena semua itu sangat aku sadari bahwa cintaku akan kalah dengan wanita yang di cintainya."


Sampai batas antara nyata dan khayal, ada jeda yang memang tidak akan bisa dirubah, lalu antara pangeran Christopher dan putri Licorice jeda itu tidak bisa dihilangkan, hanya akhir yang akan menentukan apakah mereka bisa bersatu dalam nyata, atau malah terjebak dalam khayal, itu adalah hal besar yang sangat menakutkan dalam sebuah rasa dan asa.


"Ayah biarkan aku saja yang menjemput Licorice." Rafael ingin bisa menuntun adiknya sampai ke altar, dimana dia akan dipertemukan oleh calon suaminya.


"Tidak biar ayah saja, kalian bertiga tetaplah duduk dengan tenang." ketiganya tidak bisa mengubah keputusan sang ayah, raja Benedict pergi untuk menjemput putrinya, dia berjalan menuju kamar putrinya, yang sudah siap dengan sangat cantik.


Diana membantu putri Licorice berdiri, karena acara akan segera dimulai, senyum tipisnya nampak jelas di bibir indahnya, meski Licorice tahu hal ini tidak seperti yang diinginkannya, tapi seberay apapun itu dia harus bisa menerimanya.


"Tuan putri, raja Benedict telah menjemput anda.... " di ambang pintu terlihatlah kegagahan dari sang ayah, dia menatap dengan tatapan yang sama seperti biasanya, tapi ada lengkungan tipis terlihat di bibirnya.


Diana memberikan tangan sang putri kepada raja Benedict, mereka akan ke altar saat ini juga, tidak lupa Diana merapihkan juntaian gaun milik Licorice, kini dia juga sudah mengenakan kerudung pengantinnya, sungguh membuat mata yang melihatnya terpana. Keduanya berjalan seiringan dan perlahan, Licorice menggenggam erat buket miliknya, dia tidak tahu hal apa yang akan terjadi di pernikahannya.


Pengawal membuka pintu menuju aula utama, terlihatlah para tamu yang sudah berkumpul untuk menyaksikan hari ini yang sakral, semua mata tertuju pada Licorice yang sedang di gandeng oleh ayahnya, mereka terkesima melihat betapa anggunnya putri kerajaan Zelda, sementara pangeran Christopher sudah menunggu di altar, dia hanya sekilas memandang calon istrinya, itu yang sudah Licorice duga.


Tanpa sengaja putri Licorice melihat wanita yang saat itu pernah ditatap pangeran, ya Isabelle menghadiri acara pernikahan tersebut, ada gurat kesedihan diwajahnya yang cantik, sangat terlihat jelas, dan begitu menyayat, dengan segera Licorice berhenti untuk menatap Isabelle. Sampailah Licorice di altar, raja Benedict melepas tangannya, dan membiarkan putrinya berjalan menuju calon suaminya, pangeran sama sekali tidak mengulurkan tangannya, atau hanya sekedar menatap pun dia tidak melakukannya.


"Hari ini pernikahan akan segera terlaksana, antara pangeran Christopher dan putri Licorice, menyatukan dua kerajaan yang sudah lama menjadi sekutu, hingga memutuskan untuk bersatu."


Suasana sakral yang menyelimuti aula, putri Licorice menatap wajah tampan sang pangeran, sementara pangeran hanya memandang biasa kepadanya. Mereka mengucap sumpah satu sama lain, dan akhirnya mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri, seperti sebulan yang lalu disaat mereka lamaran, pangeran Christopher tetap tidak menyentuh nya, dan ini adalah awal dari setiap luka yang dia dapatkan, di bahtera pernikahannya.


"Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian selalu berbahagia." ucap pangeran Mikhail, putri Licorice tersenyum, dia sengaja menikmati acara pernikahan ini.


"Terima kasih pangeran Mikhail." Putri Licorice melirik pangeran Christopher yang hanya diam tanpa senyuman diwajahnya.


"Selamat pangeran.... aku harap kamu bahagia menjadikan dia sebagai istri anda." mereka begitu lama saling menatap dari jarak yang tidak terlalu dekat, pangeran Christopher tidak melepaskan tangan Isabelle, dia seakan enggan untuk membuatnya pergi.


Tapi karena masih banyak yang harus pangeran dan putri lakukan, Isabelle melepas dengan kasar tangan yang sedang di genggam erat oleh Christopher. Tampak diwajah pangeran kesedihan yang amat dalam, mungkin kisah cinta diantara keduanya sangat indah, bahkan untuk sekedar saling melepaskan mereka tidak sanggup. Sungguh indah melihat kisah cinta sedalam itu, ingin rasanya Licorice ada di posisinya.


"Jadilah menantu yang hebat di keluarga kerajaan Federick, aku sudah tahu akan potensimu putri Licorice."


"Ibu bahagia melihat pernikahan kalian, kini berbahagialah, dan jalani pernikahan ini dengan baik, aku tahu kamu pasti kalian berdua akan saling mengerti satu sama lain." ratu Karina sangat bahagia, meski dia juga tahu diantara mereka belum tumbuh benih cinta, tapi seiring berjalannya waktu, dimana keduanya akan saling mencintai.


"Selamat atas pernikahan kalian, kak jangan buat kak Licorice bersedih ya." Christopher hanya diam tanpa menjawab satu pun perkataan mereka, Licorice tersenyum agar membuat suasananya tidak semakin tegang.


"Terima kasih yang mulia raja dan ratu, dan juga putri, kami akan belajar saling memahami satu sama lain." ketiga kakaknya menatap dengan penuh kesedihan, melihat batapa kuatnya Licorice, dimana dia harus bisa menerima keadaan berat ini.


"Selamat putriku, ayahmu ini akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. " Kini tinggal keluarga Licorice memberikan ucapan selamat, serta doa untuk kebaikan keduanya.


"Terima kasih ayahanda, aku sangat bahagaia." lagi dan lagi Licorice membohongi hatinya.


"Selamat adikku ..... tetaplah bahagia, jangan lupa untuk tetap tersenyum." Noah tidak kuat dengan keadaan Licorice saat ini, dimana dia harus menutup lukanya rapat-rapat dengan senyum palsu, memang benar senyum palsu bisa membuat seseorang percaya jika mereka baik-baik saja.


Arthur langsung memeluk erat putri Licorice, dia memang sangat menyayangi adiknya, meski terkadang Arthur selalu meledek nya. Dia cukup lama memerlukan sang adik, mungkin Arthur sangat merindukan adiknya, terlebih sekarang Licorice sudah menikah. Sahabat dekatnya tidak bisa pergi karena dia sedang sibuk dengan sekolah akademinya.


"Tetaplah kuat Licorice, kami akan selalu berdoa untuk kebahagiaanmu." bisiknya, dan melepas pelukan tersebut, ada rasa lega yang Arthur rasakan.


"Kami sudah dewasa adikku, jagalah dia untukku pangeran Christopher, aku tidak akan rela jika kamu membuat air matanya keluar dari mata zamrud nya, terlebih sampai menyakiti hatinya jadi kumohon jagalah dia." Christopher menatap Rafael lama, dia mencerna ucapan yang baru saja terlontar dari bibir laki-laki yang sudah menjadi iparnya.


"Aku tidak bisa memastikan itu pangeran, karena aku belum sepenuhnya mencintai adikmu." hal tersebut membuat semua orang terkejut, dia dengan entengnya mengatakan hal tersebut tanpa rasa bersalah, terlebih di hadapan keluarga keduanya.


"Huft baiklah... kami menitipkan adik kami sebagai menantu, mohon bantuannya ratu Karina."


"Tentu saja pangeran.... aku akan menjaga dan membimbing nya." ratu Karina kecewa dengan ucapan pangeran Christopher, itu pasti amat menyakiti.


Acara demi acara sudah terselesaikan dengan baik, tidak ada kendala. Semua tamu sudah pulang, dan pesta pun ditutup. Kini pangeran dan putri sedang berada di dalam kamarnya, Licorice hanya diam terduduk di ranjangnya, sementara pangeran sedang sibuk di meja kerjanya, yang tidak jauh dari tempat tidur mereka, raja Philip menyuruh pada Christopher untuk tidur satu ranjang dengan putri Licorice.


Karena sudah lelah, putri Licorice akhirnya memutuskan untuk pergi melepaskan gaunnya, dan meminta bantuan pada Diana dan pelayanan lainnya.


"Diana bantu aku melepaskan gaun ini." Diana dengan telaten membantu putrinya untuk melepaskan gaun dan juga aksesoris lainnya, wajah Licorice nampak murung, tidak seperti biasanya, tapi Diana tidak berani bertanya, karena mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.


"Maaf aku hanya bisa menjadi lentera bagimu, yang kapan saja cahaya itu bisa sirna hanya dengan satu tiupan angin....


#Licorice