The Princess Licorice

The Princess Licorice
Bab 08



Malam harinya.....


Setelah selesai makan malam semua keluarga sudah tidak ada yang berkeliaran, ini juga termasuk peraturan dari keluarga kerajaan Federick, pesta nya akan dilaksanakan langsung nanti ketika pernikahannya dengan pangeran Christopher, dan sekarang raja sedang membicarakan hal ini dengan dewan kerajaan yang lain, termasuk perwakilan dari kerajaan Zelda yaitu Viscount Gian Alva Bougenville, dia diutus untuk merundingkan bagaimana pernikahan ini akan dilakukan.


"Semua akan mempersiapkannya dari sekarang, tanggalnya akan segera di tentukan, jadi akan saya kirim undangan tersebut untuk kerajaan Zelda, jadi anda tidak perlu khawatir Viscount Gian." jelas Archduke Wiliam, dia yang akan mengirimkan surat mengenai tanggal pernikahan putri Licorice dan pangeran Christopher.


"Baiklah Archduke Wiliam saya mengerti, saya akan sampaikan hal ini pada raja." rapat dilanjutkan dengan baik hingga selesai, karena sudah larut malam Viscount dipersilahkan untuk menginap, karena akhir-akhir ini banyak bandit yang berkeliaran di perbatasan kota dimalam hari, hal ini masih dalam penyelidikan, dan untuk keamanan tidak ada yang boleh pergi dimalam hari.


"Anda tidak diperbolehkan untuk pergi malam ini Viscount Gian, sebenarnya kota di perbatasan sedang dalam masalah, banyak bandit yang berkeliaran disana, ini saran dari ku, lebih baik anda bermalam disini." Archduke Wiliam tidak mau ada korban.


"Bandit? apakah sudah lama kasus tersebut melanda kerajaan Federick?." tanya Gian penasaran, padahal militer kerajaan Federick sangatlah kuat dan tidak terkalahkan.


"Itulah yang membuatku aneh.... ada yang diam-diam bermain dengan kerajaan Federick, mereka meremehkan pasukan kami, karena setiap kami akan mengejar mereka, selalu saja tidak ada jejak yang bisa dipastikan." jelasnya, dia menyesap rokoknya lagi, mereka berbicara berdua di loteng setelah rapat selesai.


"Sepertinya memang seperti itu Archduke Wiliam, semoga saja bandit itu tertangkap sebelum acara pernikahan putri dengan pangeran." harapan Gian untuk putri kerajaannya. Wiliam tersenyum melihat perhatian dari Gian, meski dia hanya bergelar Viscount, dia begitu mencintai kerajaannya.


Bagaimana tidak Viscount Gian sudah banyak dibantu oleh raja Benedict, dia berhutang banyak pada beliau, dan bagi Gian raja sangatlah berjasa dalam hidupnya, jadi dia ingin acara dari putri kerajaan nya berjalan lancar.


"Kenapa anda yang menjadi perwakilan untuk perundingan ini Viscount? kemana Archduke Ferdinand? bukanya ini adalah hal penting?." tanya Wiliam, sebenarnya ini adalah perundingan yang amat penting.


"Oh Archduke Ferdinand sedang sibuk saat ini, dia sedang menjalankan bisnis kerajaan yang baru diluncurkan, mungkin dia juga akan kemari untuk menawarkannya."


"Bisnis seperti apa itu Viscount Gian? apakah sepenting itu?." Wiliam penasaran dengan bisnis yang sedang diluncurkan oleh kerajaan Zelda.


"Arak baru yang kami buat dari bunga fermentasi bunga mawar yang mungkin akan menjadi arak paling berkualitas disana." kerajaan Zelda memang terkenal dengan arak yang berkualitas tinggi untuk keluarga kerajaan dan keluarga bangsawan, karena tanah kerajaan Zelda yang subur, di kerajaan tersebut tidak pernah kekurangan bahan pembuatan arak, dari buah hingga bunga, kerajaan Zelda sangat mahir dalam membuatnya.


"Wah hebat sekali yang mulia raja Benedict, itu bisa menjadi peluang bisnis yang sangat menggiurkan, mungkin kerajaan kami bisa bekerja sama dalam hal ini." meski tidak bekerjasama pun kerajaan Federick akan tetap berhubungan dengan kerajaan Zelda, karena pernikahan aliansi yang akan segera terlaksana.


Sebenarnya kedua kerajaan menjalin sebuah hubungan itu demi keuntungan bersama, kerajaan Zelda terkenal dengan pertaniannya yang sangat maju, karena tanah subur dari kerajaan Zelda, petani kerajaan Zelda bisa menanam apa saja seperti buah-buahan, sayur, rempah dan juga obat-obatan, oleh karenanya kerajaan Zelda dikenal dengan lumbung zamrud, dimana kerajaan tersebut tidak akan kekurangan pasokan pangan, sementara kerajaan Federick adalah kerajaan dengan pasukan militernya yang besar begitu juga dengan politiknya, dan sangat hebat, tidak heran raja Benedict dan raja Philip ingin menjalin hubungan erat, karena ini untuk keuntungan bersama.


Dimana kerajaan Zelda yang membutuhkan pasukan untuk bisa menjaga keamanan di kerajaannya, sementara kerajaan Federick membutuhkan pasokan pangan dan juga obat-obatan yang banyak, jadi keduanya saling menguntungkan satu sama lain.


"Anda memang benar Archduke Wiliam, tapi saya masih ragu dengan Archduke Ferdinand, saya takut dia akan rakus dengan hal tersebut, itu ketakutan yang saya rasakan saat ini, saya takut jika kerajaan Zelda rusak." Viscount Gian sangat sadar, perasaan dia masih ragu untuk bisa mempercayai Ferdinand, apakah dia tidak akan menyalahgunakan kekuasaannya?.


"Ah maaf Archduke Wiliam, sepertinya saya sudah banyak bicara."


"Tidak apa Viscount Gian, saya tahu bagaimana perasaan tersebut, memang hal semacam itu tidak boleh kita percayai begitu saja terlebih pangkat yang dia miliki sangat tinggi, dia juga termasuk orang kepercayaan raja bukan?."


"Itu hanya pendapat saya saja kurang lebihnya saya mempercayai apa yang raja lakukan."


"Benar sekali, kita memang manusia yang dimana setiap orang akan berbeda pendapat." Wiliam. tahu apa nyangka dirasakan Gian, dia paham menjadi bawahan yang tidak bisa bertindak terlalu jauh.


☾ ⋆*・゚:⋆*・゚:⠀ *⋆.*:・゚ .: ⋆*・゚: .⋆


Putri Licorice masih terjaga, dia mendengar pembicaraan tadi, dia tidak bisa tidur, dan memutuskan untuk berjalan-jalan diluar kamarnya, tapi tanpa sengaja mendengar Viscount Gian bergerombol dengan Archduke Wiliam. Dia berjalan dengan perlahan dengan tatapan kosong nya, memikirkan tentang Archduke Ferdinand, dia tahu dia adalah laki-laki yang menurut pandangannya tidak pantas menjadi Archduke, karena terkadang dia hanya mementingkan ego nya.


"Ah semoga tidak terjadi hal buruk disana... " gumamnya, karena semakin larut, Licorice memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Putri Licorice berjalan ke kamarnya, suasana memang sepi hanya ada beberapa penjaga yang sedang patroli malam, pangeran Christopher sama sekali tidak mengajaknya bicara, bahkan tidak menemuinya, mungkin dia sedang beristirahat, atau memang sibuk, karena putri Licorice tahu jika pangeran Christopher adalah jendral kerajaan Federick.


Sesampainya di lorong kamarnya, terlihat hanya cahaya lilin yang menerangi, dia ingin sekali berbicara dengan pangeran Christopher, ya untuk mengakrabkan diri, meski Licorice tahu jika pangeran pasti menolaknya, tapi setidaknya dia bisa berbincang sebentar. Putri Licorice melewati kamar pangeran Christopher, karena memang ini adalah ruangan khusus untuk putri dan pangeran, jadi penjagaan juga dilakukan diluar lorong.


Angin malam tidak berhenti berhembus seakan membawanya pada kesunyian, meski gelap dan sepi Licorice sangat menyukainya, dia berjalan memasuki kamarnya, dia membuka pintu besar kamarnya, hingga terlihatlah bagian dalam kamar tersebut, dia melihat bayangan seseorang yang sedang duduk di ranjangnya, ada rasa takut yang tiba-tiba menghampiri.


Lalu perlahan dia bangkit dari duduknya, dan berjalan kearahnya, Licorice hanya diam terpaku, karena dia tahu jika seseorang itu adalah pangeran, langkahnya semakin dekat dengannya, lalu sekarang terlihatlah wajahnya dengan jelas. Christopher berdiri tidak jauh darinya, Licorice hanya tersenyum kecut, bahkan setelah lamaran, pangeran Christopher masih menghindar darinya.


"P-Pangeran..... " bisik Licorice yang masih terdengar jelas ditelinga Christopher, mereka berdiri berhadapan, bayangan mereka terlihat jelas di tembok kamar milik Licorice.


"Jangan besar kepala putri.... aku kemari karena ada hal yang ingin aku bicarakan." putri Licorice hanya diam terpaku ditempatnya, rasanya cukup berat untuk sekedar mendekat padanya.


"Ingatlah ini hanyalah pernikahan politik, satu bulan lagi pernikahan akan dilaksanakan..... jadi jangan terbawa perasaan." rasanya sakit mendengar hal tersebut, meski itu hanya peringatan baginya, tapi kenapa harus keluar dari mulut tunangannya, meski memang Licorice tidak memiliki perasaan pada pangeran, tapi tetap saja sakit.


"Aku harap kamu bisa menjaga batasanmu putri." gemuruh angin malam memasuki kamar Licorice, karena pintu balkon belum di tutup, terlebih pintu kamarnya masih terbuka, dan putri Licorice masih berdiri di ambang pintu.


"Batasan yang seperti apa pangeran?." Licorice penasaran dengan maksud ucapan Christopher, batasan apa yang harus dia jaga? apakah dia melakukan kesalahan fatal, sehingga harus menjaga batasannya?.


"Kamu akan tahu sendiri nanti, itu hanyalah peringatan untukmu, agar kamu bisa sadar akan posisimu." Licorice tertegun mendengar hal tersebut, apakah maksud dari kata posisi tertuju pada hubungan mereka? dimana Licorice harus benar-benar sadar bahwa dia bukanlah wanita yang pengeran inginkan?.


Licorice hanya tertunduk, dia tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan sang pengeran masih mempermasalahkan tentang posisi putri Licorice saat ini.


"Jangan lupakan hal itu.... " singkatnya dan pergi begitu saja, tanpa tahu apa yang sedang Licorice rasakan, tanpa sadar air matanya sudah membasahi pipi mulusnya.


Setelah kepergian pangeran tubuh Licorice terduduk dilantai, dia seakan telah dikalahkan dalam medan perang, dimana disaat dia baru saja mengangkat senjatanya, tubuhnya sudah terkena ribuan panah, dan kalah tanpa adanya perlawanan.


"Benar pangeran... harusnya aku bisa sadar akan posisiku, bahwa ternyata tidak akan ada ruang untukku di hatimu."


Mungkin setelah ini Licorice akan lebih berusaha lagi, dia akan tetap melanjutkan aliansi pernikahan ini, demi ayahnya dan kerajaannya, dia akan bertahan meski dengan hati rapuh, dia yakin akan ada secercah harapan di titik lelahnya.


"Bahkan aku telah gugur sebelum berperang........ "


#Putri Licorice