The Princess Licorice

The Princess Licorice
Bab 10



Pov Licorice


Aku berjalan menelusuri lorong gelap istana, cahaya rembulan menelusup melewati jendela, membuat nuansa indah di kegelapan, aku belum kembali ke kamar pengantin kami, setelah gaun pernikahan ku terlepas, aku tidak langsung ke kamar, malam ini adalah malam pernikahanku dengan pengeran Christopher, aku masih ragu kembali ke kamar.


Aku sempat melihatnya sedang terduduk di bangku santai, bahkan sedikitpun dia tidak melirik ke arahku yang sudah sah menjadi istrinya. Aku berusaha meyakinkankan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, tapi hal itu kalah dengan sifat pangeran padaku, apakah ada yang tidak dis sukai? ah benar saja ada wanita yang sudah menjadi penguasa di hatinya. Aku masih menikmati hembusan angin malam, rasanya sangat damai, lebih baik dengan kesendirian, daripada berpasangan tapi tidak di pedulikan.


Cukup lama aku terdiam menikmati malam ini diluar, hingga aku memutuskan untuk kembali ke kamar, mungkin pangeran sudah tertidur. Aku membuka perlahan pintu besar kamar kami, aku melihat ke sekeliling ruangan besar ini, ternyata aku salah, dia masih terduduk dengan santai di tempat yang sama.


"Darimana saja kamu? bukankah tidak boleh meninggalkan kamar jika sudah larut?." ujarnya dengan nada datar, tapi ini kali pertama pangeran berbicara agak banyak padaku.


"Maaf pengeran, aku baru selesai mengganti gaun ku." jawabku dengan sedikit gugup. Aku melihat pangeran Christopher berdiri dari duduknya, dan berjalan dengan gagah, siapa yang tidak mengenalnya, dia jendral perang kerajaan Federick, tampan dan berwibawa, banyak kaum wanita yang mengagumi sosok pangeran.


Langkahnya menuju padaku, tubuh tinggi tegapnya membuat aku tidak bisa bergerak, aku terpaku pada tubuh itu, hembusan angin membuat lilin yang berada di dalam bergerak mengikuti alur angin. Pangeran semakin dekat ke arahku, perlahan tapi pasti, apakah sekarang akan terjadi malam pertama antara aku dan pangeran? pertanyaan yang kerap memenuhi kepalaku.


"Malam ini aku akan tidur di kamarku, jangan berharap lebih padaku...... aku tidak akan menyentuhmu, jadi kamu tenang saja." ucapnya dengan enteng, aku terdiam seketika mendengar ucapan itu keluar dari bibirnya.


Apa maksudnya? dia tidak mau menyentuh? inikah malah pernikahan yang katanya indah? hah harusnya aku tahu jika pangeran akan berkata demikian. Lagi-lagi aku tersenyum kecut mendengar kata menyakitkan lagi, tapi aku harus berusaha menutupi hal ini, aku bisa dan aku kuat.


"Kenapa kamu mengatakan hal tersebut pangeran? apa ada alasan tertentu?." aku penasaran dengan hal tersebut, aku tahu alasan pertama pasti karena kami belum saling mengenal satu sama lain, tapi hal seperti itu pasti bisa diatasi, aku yakin pasti ada alasan lain.


Dia terdiam sejenak, lalu menghela nafsu berat, seakan ada beban yang sedang di tahan di dsdanya. Pangeran menatapku dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan, aku balik menatapnya, menatap wajah tampan pujaan kaum hawa, bahkan aku ingin bisa menyentuhmu pangeran, yang sekarang raganya sudah menjadi milikku.


"Karena ada nama lain yang bersemayam kuat di hatiku, dia tidak akan bisa tergantikan oleh apapun itu, termasuk dirimu putri, meski sekarang statusmu adalah istri sah ku, tapi itu tetap saja tidak akan bisa mengubah hatiku."


Akhirnya dia mengatakan isi hatinya, aku yakin sekarang pangeran lega mengatakan hal tersebut, ada gurat kelegaan di wajahnya, aku menatap kosong laki-laki yang ada di hadapanku, rasanya sakit ketika mendengar dia mengagungkan isi hatinya yang sebenarnya, ya meski jujur saja aku belum memiliki rasa padanya, tapi tetap saja sekarang dia sudah sah menjadi suamiku, sangat tidak baik mengatakan hal tersebut.


"Dan ini berlaku antara aku dan kamu, jangan sampai orang lain tahu, apalagi ayahanda bersikaplah seperti biasa, seakan pernikahan ini baik-baik saja." aku masih terdiam seribu bahasa, jadi seperti ini rasanya menikahi orang yang sama sekali tidak mencintai kita. Mungkin aku hanya dianggap putri penyelamat kerajaan dan rakyat melalui pernikahan aliansi ini.


"Aku harap kamu bisa mengerti putri, aku dengan sibukku dan kamu dengan sibukmu, jadi tidak usah saling memahami, apalagi berharap akan ada cinta anatar aku dan kamu." aku ingin menutup bibirnya, agar pangeran Christopher berhenti berbicara, tapi aku sudah tidak bisa, aku sudah terlanjur mendengar lontaran demi lontaran kata tidak mengenakan yang keluar dari bibir pangeran.


"Dan satu lagi, jangan halangi aku dekat dengan kekasihku, karena aku tidak pernah sekalipun memutuskan hubungan dengannya."


Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa menunggu jawabanku, pangeran pergi meninggalkanku dan keluar dari kamar pengantin kami, yang bertempat di kamarku. Aku masih diam termangu, hatiku seakan mati rasa, tapi tak apa dengan begini aku tidak akan berharap lebih, apalagi mengharapkan pangeran Christopher akan mencintaiku.


Kamar yang sudah berhias indah oleh ribuan bunga, kini hanya sia-sia, malam pertama pernikahan ku sangat menyedihkan, tidak ada senda dan gurau, tidak ada kehangatan dan kenyamanan, semuanya sirna perjodohan aliansi ini menyiksa batinku, aku telah mengorbankan hatiku dengan laki-laki yang kukira dia juga akan menerima perjodohan ini, tapi aku salah besar, pangeran Christopher tidak bisa melepaskan kekasihnya, dan aku harus menguatkan hatiku untuk tetap bertahan.


"Aku harap bisa menjadi wanita bermanfaat untuk orang lain, aku akan membantu memakmurkan kerajaan Zelda dan Federick, akan aku perlihatkan kemajuan dua kerajaan ini."


Tekadku sudah kuat, aku tidak akan tumbang hanya dengan tidak diterimanya diriku oleh pangeran Christopher, aku harus bisa bermanfaan bagi orang lain, biarlah aku menyibukkan diri untuk melupakan malam pertama pernikahan ini, dan juga melupakan cinta diantara hubungan kita.


Angin menelusup masuk melalui celah pintu balkon dan jendela, membuat lilin disekitar kamarku padam, hingga tersisa satu lilin yang masih menyala di pintu keluar balkon, yang jaraknya sedikit jauh dari ranjang milikku,


"Aku rindu padamu ibunda..... aku sangat rindu, jika aku boleh memilih lebih baik aku ikut bersamamu ibunda..... " lirih ku, aku ingin ikut bersama ibunda, aku ingin bersama dengan ibunda. Tanpa terasa akhirnya mataku terlelap menuju mimpi, membuang sementara perasaan tadi, dan melupakan sejenak perkataan pangeran Christopher.


Pagi harinya....


Diana membangunkan ku, dan membantuku mempersiapkan diri seperti biasa, kegiatan bangsawan di pagi hari adalah menikmati teh bersama dan aku mendapatkan undangan minum teh bersama bangsawan lain, dan termasuk pangeran Christopher, karena besok dia sudah mulai kembali ke kamp militer.


"Hari ini anda terlihat sangat tampan pangeran." aku mendengar pujian dari mulut seorang wanita yang belum pernah kutemui sebelumnya.


"Iya kami senang bisa diundang minum teh oleh anda pangeran Christopher, hal yang sangat langka."


"Tidak apa ini sudah menjadi kebiasaan bangsawan untuk menjalin hubungan baik dengan bangsawan lain." pangeran terlihat sangat akrab dengan mereka, bahkan sepertinya dia benar-benar melupakan kalau kita kemarin menikah.


Aku masih diam memperhatikan keakraban mereka, aku berdiri tidak jauh dari mereka, mungkin ada sekitar enam orang termasuk pangeran, dan yang lebih mengejutkan adalah adanya Isabelle, ya wanita yang sangat dicintai oleh pangeran.


"Licorice... " panggil seseorang membuyarkan lamunanku, aku menengok untuk melihat siapa yang memanggilku.


"Ah pangeran Mikhail... kukira siapa." ternyata dia. Dia menatapku dalam aku hanya diam, dan kami saling menatap.


"Panggil saja aku kakak, kamu adalah adik ku sekarang putri."


"Pangeran juga sama, panggil saja aku Licorice." dia sangat baik, meski wajahnya dingin, pangeran Mikhail sangat menyayangi ibunda dan adik perempuan nya, dia juga ramah mungkin saja kami bisa mengakrabkan diri.


"Baiklah, kenapa kamu tidak ikut berkumpul dengan mereka?." dia menatap ke tempat dimana mereka sedang berbincang.


"Aku lebih suka sendiri, menatapnya saja sudah cukup bagiku." Mikhail hanya diam setelah aku mengatakan hal tersebut.


"Seharusnya Christopher mengajakmu, dan memperkenalkan mu pada mereka, dia tidak bisa membiarkan dirimu sendiri Licorice."


"Sudahlah kak... aku tidak apa, setelah ini aku juga akan pergi, masih banyak yang harus aku lakukan." aku tersenyum tipis, memang masih banyak yang harus aku lakukan, daripada memperhatikan seseorang yang tidak memperhatikanku.


"Jangan terlalu memaksakan diri Licorice, kamu bisa melakukannya dengan perlahan."


"Iya kak Mikhail tenang saja, aku pasti tidak akan memaksakan diri." setelah berbincang ringan dengan kak Mikhail, aku memutuskan untuk pergi, karena melihat mereka hanya akan membuat pagi indah ini hancur.


"Daun itu mulai kehilangan nutrisi airnya, berharap akan ada yang menolongnya dengan sedikit air, agar tidak berlanjut hingga layu......


#Licorice