The Princess Licorice

The Princess Licorice
Bab 12



"Bagaimana politik bisa maju duke Damian?.... aku ingin merubah sistem politik dan militer yang ada di kerajaan Zelda menjadi lebih maju, dan salah satunya adalah dengan melatih para penerus untuk bisa meningkatkan kekuatan politik dan militer, karena kita tidak tahu akan seperti apa alur kehidupan ini." Noah harus bisa meningkatkan daya tempur kerajaan Zelda, mereka belum tahu akan ada bahaya apa yang menunggu mereka.


"Anda benar pangeran mahkota, pertama-tama kita harus mengumpulkan anak muda yang sudah cukup umur, dari dua belas tahun hingga dua puluh tahun." langkah awal menuju sistem baru, tapi tanpa disadari mereka kerajaan Zelda sudah dalam pintu masuk kerusakan, mereka belum menyadarinya.


"Baiklah besok kita akan mulai penelusuran ke setiap wilayah, kalau begitu kita sudahi pertemuan ini." pangeran Noah beranjak pergi, karena sudah menjelang sore hari. Saat ini dia sedang fokus dalam peningkatan politik, militer kerajaan Zelda, yang belum meningkat pesat, meski sandang, pangan, obat-obatan dan juga rempah-rempah sangatlah maju, tapi ibukota Emerald juga harus maju dalam hal politik dan militernya, Noah akan memajukan hal tersebut.


Kerajaan Zelda tidak boleh kalah dalam setiap perkembangannya dari kerajaan lain, dan ibukota Emerald harus trus maju, hingga menuju masa keemasannya. duke Damian sudah bisa melihat potensi dari pangeran mahkota Noah, yang terus meningkat dari hari ke hari.


"Pikiranku belum tenang, sudah seminggu semenjak kepergian Licorice, aku harap dia baik-baik saja." meski dia tengah sibuk dengan kegiatan kerajaan, tapi pikirannya tetap pada adiknya.


"Kak...... " panggil Arthur dengan sedikit berteriak. Dia berjalan menuju Noah, kegiatan sebagai calon komandan membuat Arthur sedikit lelah.


"Pelatihan kamp sudah aku siapakan, semuanya sudah beres tinggal menunggu informasi berikutnya." Noah meminta bantuan pada Arthur untuk persiapan sekolah dasar politik dan militer, dan pendaftaran sudah mulai di buka.


"Bagus semua akan terlaksana, bulan depan kita akan memulai pelatihannya." Semua sudah Noah siapkan, dan berjalan lancar, kamp juga sudah siap.


"Lalu kegiatan apa yang akan kakak lakukan besok?."


"Besok aku masih harus menelusuri setiap wilayah bersama duke Damian, dan melihat perkembangan usaha yang sedang kerajaan Zelda rintis." pasokan bahan-bahan harus tetap ada, karena bisnis kerajaan tidak boleh sampai berhenti, dan harus tetap berjalan, Noah tahu jika masalah bisnis Archduke Ferdinand lah yang memegang kekuasaan tersebut, Noah harus tetap waspada.


"Oh begitu, baguslah..... ajaklah kak Rafael, sepertinya dia masih bersedih atas kepergian Licorice." Arthur melihat Rafael yang masih saja murung, padahal pembangunan kerajaan sedang butuh tenaga, kerajaan Zelda tidak boleh sampai tertinggal.


"Tentu saja, dia tidak boleh terlalu berlarut dalam kesedihan, Rafael juga harus terus bersamaku, karena dia calon penasehatku." Noah tahu akan apa yang Rafael rasakan, dia tidak membiarkan adiknya menikahi pangeran Christopher.


"Ya sudah aku masih banyak pekerjaan kak, pelatihan menjadi komandan ksatria sangatlah berat... huft aku harus ekstra kuat." semenjak raja Benedict membagikan calon gelar besar pada ketiga putranya, mereka terlihat bisa mengatasinya masing-masing, mereka jadi berfikir lebih dewasa dan tidak pantang menyerah, karena semenjak ratu Vanessa meninggal, raja jadi sering menyendiri dan tidak mau diganggu.


Sehingga para dewan kerajaan khawatir dengan kemajuan kerajaan Zelda, dan memutuskan untuk segera menunjuk ketiga pangeran sebagai calon yang baru, agar nantinya kemajuan kerajaan tidak terhenti, dan dugaan para dewan tidaklah salah, akhirnya raja Benedict menyetujuinya, dia juga sadar karena membuat para dewan kerajaan khawatir. Tapi dengan syarat dari raja, jika ketiga putranya harus dalam pengawasan yang ketat, dan mereka masih dalam proses menuju gelar mereka masing-masing.


"Kamu ini sudah pergilah, jangan mempermalukan nama ayahanda, kamu harus bisa menjadi ksatria yang hebat dari yang sebelumnya, di era ini, kita harus lebih berpotensi dari pendahulu kita, aku yakin kerajaan Zelda akan maju, dan ibukota Emerald akan makmur dan jaya selamanya." tekad Noah sudah kuat, dia akan membuktikan jika putra dari raja Benedict bisa membawa kerajaan Zelda ke era keemasan.


"Tentu saja kak.... aku akan membantu dengan seluruh kemampuan ku sebagai komandan ksatria selanjutnya, aku akan mengamankan dan menjaga ibukota Emerald dan kerajaan Zelda dari para pengkhianat." Arthur tidak akan kalah, dia juga akan melakukan yang terbaik.


"Ya sudah aku akan menemui Rafael sekarang."


☾ ⋆*・゚:⋆*・゚:⠀ *⋆.*:・゚ .: ⋆*・゚: .⋆


Licorice berjalan melewati lorong panjang, sebelum dia ke kamarnya, sepertinya pangeran sudah kembali, dan dia terlambat menyambut kedatangan suaminya, karena Licorice terlalu menikmati pembahasan tadi bersama archduke Wiliam hingga lupa akan waktu.


"Salam putri..... ratu Karina memanggil anda untuk ke ruangannya." Licorice tidak bisa menolaknya, dia sudah dipanggil oleh mertuanya.


"Baiklah aku akan segera kesana." Licorice mempercepat langkahnya, langsung menuju ruangan ratu Karina. Pelayan membuka pintu ruangan ratu, dan membiarkan putri Licorice memasuki ruangan.


"Salam ibunda ratu...... " Licorice memberi salam hormat pada ratu Karina, dia tersenyum lembut, sungguh menantu yang baik, biasanya seorang putri raja akan bersikap angkuh dan sombong, tapi Licorice sangatlah ramah dan baik hati.


"Salam sejahtera untukmu nak.... " Karina lihat selama seminggu ini putri Licorice nampak sedikit kurus, dan terlihat lebih murung, Karina khawatir, dia ingin menanyakan langsung perihal kesehatan menantu barunya.


"Duduklah Licorice..... " Licorice duduk berhadapan dengan ratu, dia menatap ibundanya yang masih sibuk dengan rajutan yang sedang dia selesaikan.


Ratu Karina meletakkan rajutan nya di meja, dia menatap Licorice yang diam tanpa berbicara apapun, mungkin tidak tahu apa yang akan dibahas. Ratu Karina menuangkan teh hangat dan menyajikannya untuk Licorice, dia tersadar karena ratu malah melakukan hal tersebut.


"Ah tidak apa Licorice, sekarang minumlah dulu, kamu terlihat gugup." wajahnya Licorice terlihat gugup, tidak seperti biasanya. Licorice menyeruput teh hangat nya, dan berusaha bersikap tenang seperti biasa.


"Maaf karena ibunda mengganggu kesibukanmu, ibunda dengar pangeran Christopher sudah kembali dari kamp, tapi ada hal penting yang ingin ibunda tanyakan padamu."


"Ibunda ratu tidak perlu meminta maaf..... memangnya apa yang ingin ibunda katakan padaku?." Licorice tidak keberatan dengan hal tersebut, Licorice bersyukur karena memiliki mertua yang baik, karena seminggu ini ratu Karina selalu menemaninya dan memberitahu apa saja yang ada di kerajaan Federick.


"Ibunda perhatikan kamu terlihat murung? ada apa sebenarnya Licorice? ibunda khawatir melihat keadaanmu sekarang." kekhawatiran yang belum pernah Licorice rasakan, ini adalah kali pertama dia diperhatikan oleh wanita yang sekarang menjadi mertuanya.


Licorice hanya diam, matanya berkaca-kaca, entah apa yang harus dia jawab, dia begitu bahagia dengan hal ini, tapi disisi lain Licorice juga sedang tidak baik-baik saja, dan ini pasti menyangkut hubungannya dengan pangeran Christopher.


"Licorice...... " panggil Karina lembut, melihat Licorice terdiam membuat Karina semakin khawatir. Dan tanpa disadari Licorice air matanya mengalir di pipi mulusnya.


"Licorice ada apa nak? kenapa kamu menangis." Licorice dengan cepat mengusap air matanya, dan menatap Karina sendu.


"Ah maaf ibunda ratu.... aku bahagia karena ada yang mengkhawatirkan aku." Karina tertegun mendengar penuturan Licorice, Karina tahu akan apa yang dirasakan Licorice.


"Baru kali ini aku mendapatkan hal indah ibunda ratu, dan kamulah yang melakukannya." meski hanya berstatus mertua, tapi ini hal bahagia yang Licorice dapat, daripada menikahi pangeran.


"Jangan berbicara seperti itu Licorice, aku sungguh menyayangimu, aku sudah menganggapmu putriku, jika ada yang mengganjal di hatimu, ceritakan saja padaku, aku akan menjadi tempat bercerita untukmu." kesedihan yang Licorice rasakan sudah pernah Karina rasakan, rasa sakit, sesak, tertekan dan takut sudah pernah Karina rasakan.


Kurang lebihnya Licorice sama seperti dia, dijadikan pengorbanan oleh keluarganya, dan dibenci oleh anak tirinya, dan hal itu sungguh berat, terlebih dia harus menggantikan ratu Sharon menjadi permaisuri raja Philip, karena dia tadinya hanyalah selir raja Benedict, ya itu semua atas kemauan keluarganya.


"Terima kasih ibunda ratu..... aku merasa lega sekarang." dia memang jauh dari keluarganya, tapi hanya Karina yang selalu ada disamping nya.


"Syukurlah kalau kamu sudah lega Licorice, apakah kamu ada masalah dengan pangeran? seminggu ini dia sedang sibuk di kamp, karena para bandit semakin merajalela, mungkin Christopher ingin menyelesaikan ini dengan cepat." Licorice tahu masalah bandit yang semakin hari semakin meresahkan, tapi Karina tidak tahu jika pangeran juga sangat ingin menghindarinya.


"Kami tidak sedang dalam masalah ibunda, pangeran sangat baik padaku." bohongnya, semuanya hanya demi kebaikan hubungan ini.


"Iya ibunda aku paham akan situasi sekarang, aku hanya berharap pangeran Christopher pulang dengan selamat." tugasnya sangat berat, Licorice tahu jika Christopher adalah jendral kuat di kerajaan Federick.


"Aku senang mendengarnya.... teruslah bersama Christopher nak....dia sangat membutuhkan dukungan dari istrinya." Licorice hanya tersebut getir, semua ini hanyalah kepalsuan semata, tidak ada cinta yang terselip diantara pernikahan mereka, hanya ada senggang rasa yang tidak akan bisa bersatu.


"Aku akan menemani nya ibunda ratu." tapi senyuman tulus seorang ibu tidak bisa membuat Licorice tega, meski entah sampai kapan pernikahan ini akan diakui oleh pangeran, entah sampai kapan nama Licorice terpatri dalam hati sang pangeran, dia tidak akan tahu kapan hal itu terjadi.


"Terima kasih Licorice...... "


Setelah berbincang panjang lebar, dan Karina akhirnya dia lega mendengar jika hubungan keduanya baik-baik saja, terlebih hubungan ini adalah hubungan pernikahan aliansi, dan pasti akan sulit untuk keduanya pendekatan. Licorice pamit kembali ke kamarnya, karena sudah menjelang malam, perbincangan dengan ratu Karina memakan waktu lama, tapi tidak apa, karena Licorice tidak bisa mengabaikan hal tersebut.


Jangan lupa tinggalkan jejak ya para reader.....


mohon dukungannya dengan like, comment dan vote.


Dan jangan lupa untuk terus dukung karyaku.....


Maaf jika ada kesalahan kata atau akur cerita, ini asli karya saya, dan tidak mengcopy karya orang lain, jadi saya mohon bantuannya kak.... 😇😇