
"Aku tidak akan berharap terlalu tinggi, padamu yang tidak tahu kapan akan membuka hati."
#Licorice
Seperti pagi hari biasanya, pangeran Christopher sudah berada di kamar milik Licorice, karena memang raja Philip memerintahkan mereka untuk tidur satu kamar, dan saat ini Licorice masih dikamar mandi, dan dia tidak tahu jika pangeran Christopher sudah berada dikamarnya.
Christopher melakukan hal tersebut untuk menghindari kecurigaan penghuni istana, terlebih terhadap ayahnya dan juga keluarga yang lain, Christopher sedang terduduk di kursi santai sambil membaca bukunya, dia memang suka dengan buku, persis seperti Licorice, namun tidak terlalu akut.
"Lama sekali dia mandi? Apakah dia melupakan sesuatu? Bagaimana jika ayahanda datang melihat kemari?." kesal Christopher karena sejak kedatangan dia ke kamar milik Lico, dia sudah tidak melihat Licorice, yang berarti dia sedang mandi dan bersiap, agar tidak terlihat mencurigakan.
Tok.... Tok.... Tok....
Suara ketukan pintu mengejutkan Christopher, itu bisa saja ayahanda, sebenarnya raja Philip setiap pagi akan mengecek kamar pengantin baru ini, karena untuk memastikan mereka tidak berpisah kamar, karena raja Philip tahu mereka dijodohkan, dulu juga raja Philip dijodohkan dengan istri pertamanya, yaitu Sharon sungguh tidak ada keinginan ingin tidur bersama pada saat itu.
"Ah iya sebentar...... " Christopher berusaha biasa saja, dan tetap tenang. Dia membukakan pintu kamar tersebut dengan perasaan yang tidak karuan, dia takut dicurigai krena hubungan pernikahan mereka.
"Ayahanda..... Selamat pagi. " sambutnya dengan senyum tipisnya, raja nampak mencari seseorang.
"Dimana istrimu?." tanyanya langsung, tanpa basa-basi.
"Ah Licorice masih belum selesai, dia masih bersiap ayahanda." ucapnya dengan sedikit gugup, hal tersebut membuat raja Philip terkekeh, dasar pengantin baru.
"Oh baiklah.... Ayah akan tunggu kalian di tempat makan, tapi sepertinya kalian akan lama, ayah akan duluan saja bersama yang lainnya." raja Philip mengerti, namanya juga pengantin baru, tak apa jika tidak ikut sarapan bersama keluarga yang lain.
Christopher kelimpungan, dia segera menuju kamar mandi untuk memberitahukan Licorice agar mempercepat kegiatan mandi paginya. Dia berjalan menuju kamar mandi, dan menghadapkan dirinya di depan pintunya, ada keraguan antara mengetuk atau tidak, rasanya bingung dan entah kenapa ada kegugupan yang dia rasakan.
Baru saja pangeran Christopher akan mengetuk pintunya, tiba-tiba saja dari dalam pintu terbuka menampilkan Licorice yang hanya memakai kain berwarna putih pengering saja, memperlihatkan kulit putih mulusnya, dan juga rambut basahnya, Christopher dibuat kaget, begitu juga dengan Licorice, dia amat terkejut melihat ada pangeran di depan kamar mandinya.
Christopher tidak berkedip melihat penampakan Licorice yang belum pernah dia lihat sebelumnya, jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang, ini pertama kali baginya melihat wanita yang hanya berbalut dengan kain saja, membuat hasratnya terbangun.
"P-pangeran...... " Licorice tergugup, rasanya malu sekali berpenampilan seperti sekarang ini, rasanya ingin sekali putri Licorice menjerit, tapi bagaimanapun juga yang ada di hadapannya sekarang adalah suaminya, tubuh nya juga sudah sepenuhnya menjadi milik Christopher, hanya saja Licorice tidak melihat adanya cinta di mata pangeran.
Christopher segera memalingkan tubuhnya, dan membelakangi Licorice, dia tidak bisa menahan diri jika melihat tubuh wanita secara jelas, meski memang ini pertama baginya, karena sebelumnya pangeran Christopher tidak pernah melihat Isabelle seperti itu, Christopher akan menjaga wanitanya sampai dia benar-benar menikahinya, tapi sayangnya pangeran malah menikah dengan wanita yang tidak dia cintai.
"K-kamu cepatlah bersiap, ayahanda sudah menunggu kita di meja makan bersama yang lainnya untuk sarapan." suaranya kini lebih lembut, dan Licorice senang mendengar hal tersebut, selama dia menyandang istri sahnya baru kali ini Christopher berkata dengan nada lembut.
"Ah baiklah pangeran." Licorice berjalan ke ruang ganti, dia juga sadar kalau posisi tadi sangat canggung, terlihat dari bagaiamana Christopher bersikap.
Pangeran kembali duduk untuk menunggu Licorice bersiap, tidak lupa dia memanggil Diana untuk membantu Licorice bersiap. Dan sekarang pikiran Christopher masih dengan jelas merekam tubuh indah milik Licorice, dan masih terbayang.
"Akkhh sial kenapa aku malah terbayang terus..... " gumamnya gusar, bahkan bayangan nakalnya mulai menggerogoti otaknya.
Sekitar beberapa menit Licorice sudah siap, dia mengenakan gaun berwarna maroon, Licorice menyukai gaun panjang karena statusnya sebagai putri kerajaan, jadi dia jarang menggunakan gaun selutut, tapi memang dia sangat cocok sekali. Tidak lupa gaya rambut khasnya, Licorice menyukai rambut yang ditata dengan pita berukuran berukuran kecil di belakang nya, itu membuatnya semakin anggun, tak lupa mahkota kebanggaan nya.
"Ayo.... " tanpa basa-basi Christopher langsung menggandeng tangan Licorice lembut, itu membuat Licorice kaget dengan perlakuan Christopher yang tiba-tiba.
"B-baiklah...... " mereka berjalan keluar kamar menuju meja makan, mereka berjalan beriringan, ingin rasanya Licorice selalu seperti itu, namun dia harus sadar dengan penuh, bahwa entah kapan pangeran akan benar-benar bisa menerimanya, dan juga melupakan Isabelle.
Sesampainya di meja makan, lagi-lagi Licorice melihat Isabelle yang sudah duduk dengan manis di kursi milik Licorice, dengan cepat genggaman tangan Christopher terlepas begitu saja, sungguh mudahnya dia melepas nya.
"Ahh aku hampir berharap terlalu tinggi padamu pangeran, ku harap suatu saat nanti tidak ada kepura-puraan dalam pernikahan kita ini, bisa saja aku akan lelah sebelum itu terjadi." batinnya lagi dan lagi Licorice tidak mau berharap terlalu tinggi, karena melihat pangeran tidak bergeming saat melihat Isabelle.
"Heh aku tidak akan membuat hubungan kalian berdua baik..... aku akan membuat hubungan kalian hancur."
Licorice mengalah lagi, karena dia tidak mau berdebat di hadapan raja dan ratu, terlebih ada pangeran Mikhail yang sudah pulang dari akademi kekaisaran, ya Mikhail adalah kepala sekolah nya, dia telah mengembangkan akademi di kerajaan Federick, sehingga sekarang dia di tunjuk menjadi kepala sekolah.
Mikhail tahu pasti apa yang Licorice rasakan, seharusnya dia bisa lebih tegas dan tidak naif, apalagi membiarkan wanita lain menduduki kursi miliknya, sebenarnya Mikhail muak melihat kelakukan Isabelle yang tidak tahu malu, meski memang masih saudara, tapi tetap saja tatakrama sebagai wanita harus diperbaiki.
Licorice menyusuri rak-rak yang sudah berjajar rapih dengan jumlah yang sangat banyak, dia masih mencari buku yang diinginkannya, hingga tanpa sadar dia sudah sampai di dekat Isabelle sedang duduk. Isabelle melirik kilas Licorice, tanpa Licorice tahu. Isabelle bediri dari duduknya dan berjalan mendekati Licorice, hingga jarak mereka dekat.
"Apa kabar putri Licorice?." tanya Isabelle tiba-tiba dengan wajah sinisnya, namun Licorice berusaha untuk tidak menegur.
"Ah nona Isabelle... saya baik... bagaimana dengan mu?."
Namun samar-samar Isabelle mendengar suara pangeran, ini bisa jadi kesempatan bagus.
"Aku juga baik... " Setelah mengatan hal tersebut, terlihatlah Licorice sedang sedikit kesulitan mengambil bukunya, hingga ini jadi kesempatan untuk Isabelle, dia sedikit mendekatkan tubuhnya pada rak.
Brukkkk......
Akhhhh....
Dengan sengaja Isabelle menjatuhkan beberapa buku yang lumayan tebal dan mengenai tubuhnya, hingga Isabelle terduduk di dekat kaki Licorice, bersamaan dengan hal tersebut pangeran Christopher sudah berada di ambang pintu perpustakaan, bersama dengan Liam mereka terkejut mendengar suara benda jatuh dan teriakan seorang wanita. Licorice berjongkok dan hendak membantu Isabelle, tapi dia menolaknya.
"Nona Isabelle anda tidak apa-apa?." dengan kasar dia menepis tangan milik Licorice yang hendak membantunya, dengan cepat Isabelle mulai beraksi.
"Aww sakit sekali.... " pekiknya, Christopher yang mendengar jelas kalau itu suara milik Isabelle dia bergegas ke sumber suara.
"Isabelle..." Christopher berlari dengan wajah khawatirnya, diikuti dengan Liam di belakangnya, Licorice melihat dengan jelas wajah pangeran dengan sejuta kekhawatiran nya, membuat Licorice bungkam seketika.
"Pangeran." Christopher membantu Isabelle berdiri, akibat dari buku itu, Isabelle mendapat ruam di kaki nya. Licorice juga ikut berdiri, dia menatap keduanya.
"Kenapa kamu tidak berhati-hati Isabelle, untung saja tidak mengenai kepalamu."
"Tidak pangeran, putri Licorice lah yang sengaja menjatuhkan buku tersebut, aku tidak kenapa dia melakukannya padaku." Licorice kaget dengan apa yang Isabelle ucapkan, jelas-jelas dia tidak tahu menahu tentang buku tersebut, tapi dengan sangat tidak tahu malu Isabelle memfitnah Licorice.
"Apa?! jadi ini ulahmu Licorice? jawab aku?." Christopher mulai tersulut, tidak manyangka sentakannya begitu keras, Liam juga tidak menyangka dengan penuturan dari Isabelle.
"Aku tidak melakukannya pangeran.... sungguh aku sedang mengambil buku yang ada di atasku, dan buku yang terjatuh itu bukan ulahku.... " Licorice kebelakang dirinya, tapi Christopher malah tidak mempercainya.
"Heh..... kami berbohong rupanya, lihat yang telah kami lakukan itu sudah keluar dari moral, apa kamu mau membunuh Isabelle?."
"Aku tidak berbohong pangeran.... " Licorice tetap tidak di dengarkan.
"Oh atau jangan-jangan kamu iri pada Isabelle, karena dia wanita yang aku cintai? karena Isabelle yang selalu mendapat perhatian ku? baru saja kamu menjadi putri kerajaan Federick, kamu sudah berbuat seenaknya." Licorice diam membisu, dia memang iri dengan wanita yang di cintai oleh laki-laki yang kini berstatus suaminya, tapi Licorice tidak sejahat itu, terlebih membahayakan orang lain.
"Pangeran sudahlah putri Licorice hanya sedang kesal saja padaku, jadi tidak usah di perpanjang ya."
"Aku tidak bisa melakukannya Isabelle, biarkan aku memarahinya, lihatlah karena nya kamu jadi di terluka, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa." Christopher masih saja membela Isabelle, bahkan di hadapan Liam.
"Apa-apaan ini pangeran....? kenapa kamu begitu membela wanita lain di hadapan istrimu, akun tidak yakin jika putri Licorice yang melakukannya."
Liam tidak bisa menghentikan apa yang pangeran ucapkan, karena dia juga tidak tahu sebenarnya siapa yang salah, jadi dia tidak mau ikut campur. Tapi tetap saja pangeran harus di hentikan, jangan sampai berkata lebih jauh lagi.
"Jangan sekali-kali kamu melukai Isabelle, terlebih dihadapanku, jika ingin posisimu tidak ingin terganti, jangan berbuat seenaknya putri, ini kerajaan Federick dengan hukum adil, bukan kerajaan Zelda, apa kami mengerti." mata Licorice mulai memanas, dia tidak suka pangeran Christopher merendahkan kerajaan Zelda.
"Pangeran lebih baik kita segera bawa nona Isabelle, mukanya harus segera di obati, ayo pangeran." Liam tidak mau pangeran berkata terlalu jauh, akhirnya dia mengalihkan pembicaraan.
"Oh iya ayo Isabelle, kamu harus segera mendapatkan perawatan...... " Christopher membopong tubuh Isabelle, karena kakinya masih sakit, dan tidak bisa berjalan.
Liam memberikan hormat pada Licorice sebelum menyusul pangeran, Licorice masih terdiam, dia tidak bisa berkata apapun, hingga disadar dengan sebuah tapikan tangan di pundaknya.