
Dengan cepat Licorice menuju kamarnya, dan memang sudah hampir malam. Dia membuka pintu kamarnya, dan terlihat Christopher sedang terduduk di ranjang tempat tidurnya, Licorice terkejut melihat hal tersebut, Christopher melirik kilas Licorice yang baru saja datang.
"Maaf pangeran..... aku terlambat menyambut kedatangan anda." Licorice menunduk memberi hormat, dia tahu akan kesalahan yang telah di perbuat nya. Christopher bangkit dari ranjang, dia bosan menunggu lama dikamar gadis yang tidak dia cintai.
"Kau harusnya lebih tahu waktu putri...... jangan sampai kesabaran ku habis, ini sudah hampir memasuki makan malam, kenapa kau selalu berbuat seenaknya di kerajaan ku?." Marah Christopher, jika dia melihat wajah Licorice entah kenapa membuatnya hilang kendali, dan dirinya tidak bisa berkata lebih lembut.
"Aku tidak bermaksud begitu pangeran..... maaf jika aku telah menyita waktu mu..... " Licorice tidak bisa berkata apa-apa lagi, meskipun terlambat bukan kemauannya.
"Sangat menyita sekali putri.... apakah bersama archduke Wiliam lebih menyenangkan dibanding menunggu diam dikamar? dasar wanita tidak tahu diri." jika bukan karena raja Philip yang menyuruhnya, mungkin Licorice akan menghabiskan waktunya dikamar dengan membaca berbagai macam buku.
"Perkataanmu sudah terlalu kasar pangeran.... aku tidak serendah itu." suaranya mulai sedikit meninggi, Licorice tidak terima dengan perkataan Christopher.
"Kasar? heh padahal kau sangat menikmatinya, sampai-sampai kau lupa waktu, jika ini terulang lagi ayah akan tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya tidak ada artinya sama sekali." Licorice diam membisu, lagi dan lagi perkataan pangeran Christopher melukai hatinya.
"Aku masih bertahan dengan hubungan ini semata-mata hanya karena ayahanda, dan aku juga tidak mengharapkan apapun di hubungan ini, apalagi sampai memiliki anak... cihhh aku tidak akan sudi memiliki anak dengan wanita tidak tahu diri sepertimu." hujaman perkataan nya sungguh menyiksa batinnya, ini baru seminggu dia menjadi istri seorang pangeran yang kini menjadi jendral.
"Aku pun berharap yang sama pangeran.... sekarang lebih baik anda bersiap untuk makan malam." ucap Licorice dengan wajah tenang dan terkesan datar, meski hatinya merasakan sakit yang dalam, mungkin karena pangeran tidak akan pernah bisa melupakan Isabelle. Christopher keliat dari kamar Licorice, dia memasuki kamarnya yang tidak jauh dari kamar istrinya.
Benar-benar hubungan yang penuh dengan kepalsuan semata, semuanya hanya angan yang tidak akan menjadi nyata, kehadiran yang tidak diharapkan adalah salah satu yang sangat menyakiti hati, Licorice mencoba menahan amarahnya, jika bukan suaminya mungkin Licorice akan terbawa amarah. Dia juga bersiap untuk makan malam bersama seperti biasanya, hanya saja saat ini dia melihat Isabelle sudah terduduk manis di samping Elizabeth yang dimana itu adalah kursi miliknya.
"Selamat malam yang mulia raja dan ratu.....dan juga keluarga besar kerajaan Federick, serta nona Isabelle." ucap Licorice memberi hormat, dia berjalan berdampingan dengan pangeran, membuat hati Isabelle mendidih, tidak terima dengan kedekatan mereka, meski Isabelle tahu jika itu hanyalah kepura-puraan.
"Salam putriku.... dan juga putraku.... " Licorice dan Christopher duduk bersebelahan, namun berhadapan dengan Isabelle.
"Maaf putri.... saya telah lancang menduduki tempat anda, jika anda keberatan saya akan pindah tempat." ucapnya dengan sangat lembut, dia bahkan memasang wajah bersalahnya.
"Tidak perlu nona Isabelle, duduklah dengan tenang, dan nikmatilah hidangan makan malam saat ini." Raja Philip tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh menantunya, sungguh tata krama yang baik.
"Ah terima kasih atas kemurahan hati anda putri..... " senangnya, tapi tidak dengan hatinya, padahal dia berniat menjebak Licorice, karena bisanya menantu kerajaan akan cemburu dengan yang orang lain lakukan terhadapnya, tapi ini justru sebaliknya.
Mereka menyantap makanan mereka, sesekali Licorice menatap pangeran, yang sedaritadi menatap Isabelle tanpa berkedip, ada rasa yang tidak bisa Licorice jelaskan, rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, seperti rasa iri ingin ikut diperhatikan oleh pangeran, karena yang lebih berhak atas semua itu adalah dia yang sudah sah menjadi istrinya.
"Bagaimana bimbingan archduke Wiliam siang tadi Licorice?." tanya raja Philip di tengah-tengah makan malam. Licorice meletakkan pisau dan garpunya, dia menjawab dengan sangat anggun, memang layak di panggil dengan sebutan putri.
"Terima kasih atas kemurahan hati anda yang mulia raja.... beliau sangat berpengalaman dalam membimbing, saya sangat senang bisa belajar bersama dengan archduke Wiliam." ungkap Licorice senang, senyum indah itu terukir jelas di wajah cantiknya, menambah semakin menawan.
Pangeran Christopher terpaku melihat senyuman indah milik istrinya, ini baru pertama kali dia melihat senyum tulus itu, senyum yang tidak pernah di tampakkan oleh Licorice saat bersamanya. Sekian detik Christopher tidak bisa berpaling dari Licorice, sungguh kecantikan yang sangat alami, hal tersebut membuat Isabelle tidak terima Isabelle tidak mau Christopher memalingkan matanya untuk gadis lain. Dia dengan sengaja menumpahkan minuman ke gaun miliknya.
"Ahh..... ya ampunn..... "pandangan Christopher langsung tertuju pada Isabelle, dia terlihat sangat khawatir.
"Isabelle.... kamu tidak apa-apa?." Christopher segera membantu Isabelle, dan dengan cepat memanggil pelayanan untuk membantu membereskannya.
"Pelayan tolong bantu Isabelle untuk mengganti gaunnya." pelayan tersebut langsung cepat tanggap, karena tahu jika Isabelle juga termasuk orang penting kerajaan.
Meski mereka tahu jika Isabelle hanyalah putri seorang marquez, tapi dia memiliki hubungan cukup dekat dengan permaisuri pertama yaitu ratu Sharon, karena ayah Isabelle masih punya hubungan darah dengan ratu Sharon, ya bisa dibilang masih kerabat jauh, sementara Isabelle dan Christopher sudah sering bersama sejak kecil, dan seluruh penghuni kerajaan tahu betul akan hal tersebut, dan mereka juga tahu kisah cinta keduanya.
Christopher begitu perhatian dengan Isabelle, bahkan cepat tanggap jika itu mengenai Isabelle, sungguh beruntung bisa dicintai hebat oleh seseorang yang kita cintai, mereka sama-sama memiliki perasaan yang sama, perhatian kecil tadi tidak luput dari pandangan Licorice yang sudah jelas adalah istrinya.
"Apa aku cemburu pada nona Isabelle? apakah cinta bisa tumbuh dari rasa sakit? kenapa aku malah iri melihat betapa perhatiannya pangeran... ah sudahlah Licorice, jangan berharap lebih dengan yang belum pasti." mungkin suatu saat ini akan tumbuh cinta di hati Licorice terhadap suaminya, meski saat ini hanya ada rasa yang sulit untuk Licorice jelaskan, tapi ini mutlak dari dalam hati kecilnya.
Ratu Karina juga melihat betapa dekatnya pangeran dengan Isabelle, dan dengan entengnya pangeran memperlakuka hal tersebut dihadapan Licorice, tapi dia hanya bisa diam, karena bagaimanapun juga Christopher tidak akan pernah mau mendengarkan apapun yang Karina katakan, meskipun itu untuk kebaikannya.
Sementara Elizabeth juga hanya bisa diam, karena dia tahu kedekatan antara kakaknya dan Isabelle, mereka sulit untuk dipisahkan, tapi meski begitu harusnya pangeran Christopher bisa memahami situasinya. Sementara pangeran Albert dan Mikhail, mereka sedang sibuk dengan kegiatan mereka, jadi saat ini mereka sedang tidak ada disini.
"Sudah biarkan para pelayan yang membantu Isabelle, kita lanjutkan makan malam ini." Raja Philip membuka suara, Christopher pun kembali ke tempat duduknya, mereka melanjutkan makan malam mereka.
"Aku selesai ayah...." Christopher bangkit dari duduknya, dia meninggalkan tempat makan begitu saja, tanpa memperdulikan Licorice. Licorice tahu kemana pangeran akan pergi, ya dia pasti mau menemui pujaan hatinya.
"Selsaikan dulu makan malam mu Licorice, tidak baik meninggalkan makanan di piring." Karina langsung mengajak bicara menantunya, Elizabeth pun ikut menghabiskan makan malam nya bersama.
Selesai makan malam Licorice juga kembali ke kamarnya, namun sebelum itu dia seperti biasanya, melihat langit malam, malam ini terlihat sangat indah, bulan sabit yang masih baru, di tambah gemerlapan bintang mengisi langit malam. Mungkin dia akan sedikit lebih lama di taman istana, karena dia tidak mau mengganggu keduanya. Licorice berjalan menyusuri taman yang banyak di tanami berbagai macam bunga, wanginya begitu semerbak.
"Wah harum bunga sedap malam.... aku menyukainya." Licorice mendudukkan dirinya di kursi taman, merasakan keheningan yang mulai menghampiri nya. Perasaan yang mulai larut dalam indahnya malam, Licorice masih terus menatap bintang.
Dari jendela atas tanpa disadari Licorice, ada yang sedang menatapnya, tapi dengan cepat dia menutup gorden kamarnya, seakan-akan dia enggan melihatnya.
"Jangan berbuat ceroboh lagi Isabelle, aku sangat khawatir dengan keselamatanmu... " ucap Christopher dengan nada cemasnya.
"Iya pangeran aku akan berhati-hati.... " sekarang mereka berdua sedang berbincang didalam kamar Christopher, hanya berdua.
"Kamu jangan terlalu mencemaskan hubungan ku dengan Licorice, itu hanya sekedar status tidak lebih, dan hanya untuk formalitas saja, dan hati ini hanya untukmu seorang Isabelle." Christopher tahu jika Isabelle pasti cemas dengan hubungan pangeran dengan Licorice, terlebih sekarang mereka sudah menikah, dan status mereka sangatlah jelas dimata hukum.
"Iya aku paham pangeran..... aku hanya khawatir hatimu akan berpaling pada putri Licorice, dia sangat berwibawa, apalagi dia putri seorang raja, aku pasti akan kalah banyak dari putri Licorice." Christopher menangkup kedua pipi Isabelle lembut, menatap manik matanya yang mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak akan berpaling darimu Isabelle...... aku akan tetap mencintaimu, aku tidak peduli dengan Licorice, karena hanya kamu yang selalu ada Isabelle, aku tidak peduli dengan gelar, yang terpenting aku bisa terus bersamamu." Christopher memeluk erat Isabelle, untuk menenangkan hatinya.
"Kamu berjanji kan pangeran?...."
"Iya aku berjanji Isabelle."
Jangan lupa dukung karyaku ya kak..... dengan memberikan Like, comment dan Vote semoga terhibur dengan karya baruku๐๐๐