The Princess Licorice

The Princess Licorice
Bab 07



Dua hari kemudian.......


Sampailah rombongan raja Philip di Kerajaan Federick, semua rakyat menyambut kedatangannya, terlebih raja Philip membawa calon menantu, mereka memandang dengan senang, akhirnya akan ada pengeran yang menikah, terlebih calonnya adalah putri kerajaan Zelda. Putri yang banyak di kagumi oleh rakyatnya, banyak yang mengatakan putri Licorice adalah putri yang hebat, tapi dia sangat tertutup. Mata hijaunya memancarkan keindahannya tersendiri, dia berjalan sangat anggun disamping pangeran Christopher, banyak yang memandang iri karena bisa mendapatkan pangeran dengan mudah.


Semuanya memberi hormat pada raja dan juga pangeran, penyambutan mereka sungguh membuat senyum tipis terukir di bibir indah putri Licorice, padahal mereka baru bertemu, tapi bisa sesenang itu.


"Benar-benar seperti yang dirumorkan putri Licorice memang sangat cantik..... "


"Pangeran sangat beruntung bisa mendapatkan putri bungsu kerajaan Zelda, terlebih putri sangat di kagumi oleh rakyatnya."


Bisik-bisik dari rakyat yang sedang menatap takjub sang putri, mereka akhirnya bisa melihat secara langsung seorang putri bungsu kerajaan Zelda yang cukup terkenal, karena keahliannya dalam politik, meski memang dia terlihat tenang, bahkan seperti gadis polos.


Mereka semua memasuki gerbang utama kerajaan Federick yang menjulang tinggi, para keluarga kerajaan menyambut mereka, termasuk ratu kedua kerajaan Federick yaitu Karina Margaret, serta anak perempuan dari raja Philip bernama Elizabeth Claudia Federick, putri kedua dari ratu Karina. Di kerumunan tersebut mata pangeran beralih menatap seseorang yang jaraknya sedikit jauh dari keluarga kerajaan.


Mata yang menyimpan kesedihan serta ketidakterimaan atas apa yang terjadi, mata yang tidak ingin membiarkan sesuatu menghilang dari hidupnya. Putri Licorice menatap pangeran, dan mengikuti arah mata hazel itu menatap.


Deg.....


Seorang wanita berambut pirang dengan mata biru lautnya sedang menatap pangeran, dengan jarak tidak jauh dari keluarga kerajaan, dia seorang diri menatap dengan tatapan yang sama dengan pangeran Christopher, tatapan sendu, dugaan putri Licorice benar-benar nyata, dimana laki-laki yang akan menjadi suaminya ternyata masih menyimpan wanita lain dihatinya.


Keduanya saling menatap tanpa memperdulikan putri Licorice, tatapan dari keduanya memperlihatkan luka akibat dari perpisahan karena keadaan, bukan atas dasar keinginan keduanya, memang sakit ketika harus berpisah dengan seseorang yang sudah terpatri dalam hati, apalagi berpisah karena keadaan, pasti sangat berat untuk keduanya, seperti yang sekarang putri Licorice lihat.


"Jadi benar dugaanku? jadi dia wanita yang pengeran cintai? sungguh cantik dan menawan, aku yakin pangeran tidak akan bisa melupakannya." batinnya melihat mereka yang masih saling menatap dalam waktu yang lama, dan itu di hadapan putri Licorice.


Apakah dia bisa membatalkan ini? meski dengan alasan semacam ini, Licorice yakin pernikahan ini akan tetap berlanjut, itulah kehidupan kerajaan, mereka sama sekali tidak memperdulikan keadaan hati seseorang, mata biru itu tidak berhenti menatap sang pangeran, bahkan sampai mereka memasuki istana, tatapan itu seakan tidak ada akhirnya.


"Putri Licorice.....senang bisa bertemu denganmu... semoga putri bisa betah tinggal di istana ini." ratu Karina menyambut Licorice dengan sangat baik dan ramah. Tapi lagi dan lagi Licorice mendapatkan hal tak terduga dari pangeran Christopher, dia memalingkan wajahnya ketika ratu Karina berbicara, pangeran Christopher seakan tidak belajar akan tatakrama, tapi Licorice tidak mau berbicara apapun.


"Saya juga senang yang mulia ratu.... terima kasih karena mau menyempatkan menyambutku." putri Licorice memberi hormat dengan anggunnya, semua takjub akan kesopanan yang begitu lembut, mencerminkan keluarga kerajaan.


"Ini adalah kewajiban bagi seoarang ibu untuk menyambut kedatangan dari calon menantu, kami senang akhirnya pangeran Christopher akan menikah." Christopher hanya melirik kilas, dan beranjak pergi dari sana, seakan-akan dia menghindari ibu sambungnya.


"Iya aku senang jika kak Licorice akan tinggal di kerajaan ini, aku akan menemani anda putri, jadi jangan sungkan padaku." Elizabeth sangat senang, karena akhirnya dia akan memiliki kakak ipar yang sangat baik dan cantik, pokoknya putri Licorice sangat sempurna.


Elizabeth dan Karina memang biasa diperlakukan seperti itu oleh Christopher, dia tidak pernah bicara pada mereka, mungkin karena Karina menggantikan posisi ibunda Christopher sebagai ratu, tapi itu adalah hal lumrah di setiap kerajaan, sang raja pasti akan memiliki istri lain selain permaisurinya, dan sekarang itu sedang dialami oleh ratu Karina sendiri, dia adalah istri kedua dari raja Philip.


"Pangeran Christopher memang tidak pernah manyapaku putri, jadi maafkan atas ketidaknyamanannya."


"Ahh yang mulia ratu tidak perlu meminta maaf... dan tolong panggil saja namaku." Licorice tidak mau terlalu formal, terlebih Karina adalah ratu kerajaan Federick.


"Baiklah..... kamu juga sama Licorice, jangan terlalu formal pada calon mertuamu, panggil saja ibunda." mereka tersenyum, meski dia bukan ibu kandung pangeran Christopher, dia sangat baik ramah, begitu juga dengan Elizabeth, dia juga baik, tapi terlihat jika dia sangat manja, ya seperti putri pada umumnya.


"Ini kamar anda nona..... sebentar lagi pelayan dan pengawal pribadi anda akan segera datang." putri Licorice diantar oleh kepala pelayan di kerajaan Federick, dan dia harus menunggu kedatangan pelayan dan pengawal pribadinya, yang nantinya akan membantu putri Licorice di kerjaan Federick, ini sudah menjadi aturan di kerajaan Federick.


"Kalian boleh masuk." setelah beberapa menit menunggu akhirnya mereka datang, keduanya adalah laki-laki dan perempuan yang umurnya mungkin terpaut dua sampai tiga tahun diatasnya.


"Salam sejahtera untuk putri Licorice." keduanya memberi hormat pada putri, mereka begitu sopan. Licorice tersenyum simpul, dia menatap keduanya senang, akhirnya akan ada yang menemani dia meskipun mereka baru kenal.


"Angkat kepala kalian... " terlihatlah wajah ayu dan tampan keduanya, mereka tersenyum menatap putri Licorice.


"Ini adalah pelayan dan pengawal pribadi anda putri Licorice, jika ada yang anda perlukan anda bisa meminta langsung pada keduanya, pelayan anda bernama Diana Sabrina, dan pengawal anda bernama Adam Taylor." jelasnya, kepala pelayan kerajaan menjelaskan dengan sangat detail, tentang apa saja peraturan di kerajaan, meski tidak seluruhnya, karena akan memakan waktu yang lama.


"Jika masih ada yang belum jelas putri, anda bisa menanyakannya pada Adam, kalau begitu saya pamit.... selamat datang di kerajaan Federick." kepala pelayan tersebut beranjak pergi, dia memang agak sedikit kaku dan dingin, tapi dia bekerja dengan sangat baik, Licorice yakin dia orang yang tegas dalam menjalankan tugasnya.


"Terima kasih karena mau menjadi pelayan dan pengawal pribadi ku.... namaku Licorice, senang bisa berkenalan dengan kalian berdua, mulai sekarang hingga seterusnya aku mohon bantuannya." mereka tertegun, ternyata putri Licorice sangat ramah dan baik, tidak ada gurat kesombongan meski dia seorang putri, terlebih dia adalah calon menantu kerajaan Federick.


"Ah tidak putri... ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai pelayan."


"Benar putri anda tidak perlu sungkan, beritahu kami jika anda membutuhkan sesuatu, pasti kami akan membantu anda dengan sebaik mungkin." keduanya tidak bisa mempercayai hal tersebut, meski memang terlihat dari wajahnya jika putri Licorice memang sedikit cuek namun dia peduli, bahkan dia tidak memandang kasta diantara mereka.


"Kalau begitu saya akan membantu anda mengganti pakaian anda, pasti melelahkan sehabis perjalanan jauh."


"Saya juga akan mulai pekerjaan ini." Adam keluar untuk mulai bertugas menjaga, dan bersiaga.


Putri Licorice terduduk di bangku riasnya, kamarnya indah dengan dekorasi yang membuat Licorice nyaman, terlebih sangat luas untuk dirinya, karena dilengkapi dengan berbagai ruangan, seperti ruangan mandi, pakaian dan tempat membaca, gak tersebut sangat indah, putri Licorice tidak tahu jika raja Philip akan sebaik ini padanya, tapi apakah semua keluarganya menerimanya? dia tidak tahu akan hal tersebut.


"Putri...... putri Licorice...." Diana mengagetkan dirinya, lagi dan lagi Licorice melamun, dia masih memikirkan akan bagaimana dia di kerajaan Federick.


"Ah maaf Diana..."


"Tidak apa putri.... anda sekarang diperbolehkan untuk beristirahat." Diana masih penasaran dengan sosok putri Licorice, dia terlihat misterius, dan bahkan tidak banyak bicara.


"Baiklah..." singkatnya, pikirannya sedang kalut, dia masih memikirkan banyak hal, terlebih wanita yah tadi saling menatap dengan pangeran, itu sangat mengganggu pikirannya.


Selesai membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Diana pamit pergi, hingga tinggalah dia sendiri di lamaran luas tersebut, ingin rasanya dia segera terbiasa dengan semua ini, setelah ini masih banyak yang harus Licorice lakukan, dan dia harus segera membiasakan diri dengan peraturan yang ada di kerajaan Federick.


"Aku harus bisa menerima semua ini..... aku ingin tahu siapa wanita itu.... aku tahu pasti mereka memiliki hubungan, dan pastinya hubungan spesial." Licorice akan menerima hal tersebut, dan mungkin akan menjadi cobaan terberatnya.


"Semua pasti akan tersingkap oleh perputaran waktu, bahwa ada hal yang memang tidak bisa dipaksakan, meski kita sudah berjuang sekuat tenaga..... "


#Putri Licorice