The Princess Licorice

The Princess Licorice
Bab 14



Pov Christopher


Sudah seminggu sejak aku dan Licorice menikah, aku sama sekali tidak peduli padanya, bahkan aku mengacuhkannya, bukan apa-apa, tapi aku memang tidak pernah mencintainya, karena nama Isabelle masih bertahta di hati dan pikiranku. Aku membuat peraturan yang hanya aku dan Licorice yang tahu, aku tidak akan membiarkan keluarga yang lainnya tahu.


"Lapor pangeran Christopher.....kami sudah menemukan markas persembunyian para bandit yang mengacaukan perbatasan."


"Bagus tetap awasi mereka, kita akan menangkap mereka, tapi tidak sekarang, kita tunggu sampai mereka lengah." aku ingin tahu siapa sebenarnya mereka, kenapa mereka mengacaukan daerah perbatasan.


"Baik pangeran.... lalu kapan kami akan mulai menyerang pangeran?. "


"Besok setelah aku kembali ke kamp, besok pagi aku harus kembali ke istana." semuanya memahami situasinya sekarang, karena aku sudah menikah dengan putri Licorice, aku sudah sibuk setelah acara pernikahan, dan langsung berangkat ke kamp militer, dan ini banyak menimbulkan pertanyaan di benak para prajurit.


"Baiklah pangeran...."


"Tapi ingat kalian harus tetap mengawasi para bandit, jangan sampai mereka sadar akan rencana kita, jika tidak mereka akan kabur."


"Baik pangeran kalau begitu saya permisi." aku pergi ke kamp, karena memang jumlah korban bandit semakin banyak, dan mereka juga berkelompok dengan jumlah besar, jadi aku harus konsisten dalam menjalankan misi ini.


Aku kembali menikmati teh ku, sembari membaca buku banyak yang ingin ku ketahui terlebih dengan masalah politik serta militer, aku harus bisa menjadi jendral yang genius, yang tidak hanya bisa dalam bertarung, tapi juga dalam mengatur strategi serta bagaiamana rencana untuk kedepannya, tidak hanya itu aku juga harus terus mengembangkan pasukan agar bisa lebih maju.


"Maaf pangeran telah mengganggu waktu anda.... nona Isabelle ingin menemui anda... " lapor nya, hal itu membuatku memberhentikan kegiatan yang sedang ku lakukan, dan segera menemui Isabelle, sungguh aku sangat merindukannya.


"Pangeran..... ah syukurlah anda sedang tidak sibuk." ucapnya dengan lembut, itulah salah satu yang aku suka darinya, dia wanita lemah lembut serta senyum manisnya, membuatku mabuk kepayang jika menatapnya, terlebih dia sangat mencirikan wanita bangsawan yang mulia, dengan tatakrama yang sangat baik.


"Isabelle....akhirnya kamu berkunjung juga, kamu tahu akau sangat merindukanmu." aku menyempatkan diri untuk berbicara berdua dengannya sebelum kembali ke istana, ini akan mengobati rasa rinduku.


Aku membawa Isabelle masuk ke ruangan pribadiku, tidak akan kubiarkan bawahan ku mengganggu, dan aku mengamcam mereka untuk tidak buka mulut dengan apa yang mereka lihat, anggap saja tidak terjadi apa-apa di kamp.


"Apa besok anda akan pulang pangeran?." aku tersenyum mendengar pertanyaan itu.


"Tentu saja.... kamu harus kesana untuk menyambutku.... " pintaku, rasanya jika disambut oleh Isabelle pasti akan sangat membahagiakan. Aku ingin segara mengakhiri pernikahan yang tidak masuk akal ini, aku selalu bersikap dingin pada nya, karena aku tidak mau dia berharap kalau aku akan menerimanya, karena pernikahan ini tidak dilandasi atas nama cinta.


Bahkan aku tidak mau menyentuhnya, karena raga dan jiwa ini hanya milik Isabelle, wanita yang sangat aku cintai, bahkan selama seminggu ini dia selalu datang ke kamp, dan membawakan makanan kesukaanku, dan kami banyak bercerita di luar jam kesibukanku, Isabelle selalu ada jika aku membutuhkannya, aku benar-benar tidak bisa melupakan dirinya, wajahnya, sifatnya dan cinta nya terhadapku, sungguh sesuatu yang amat sulit untuk aku buang.


"Aku pasti datang pangeran, sudah lama aku belum berkunjung lagu ke istana." Isabelle tersenyum lembut padaku, entah kenapa jika aku menatap Isabelle, aku semakin enggan untuk melupakannya.


"Tentu saja.... "


"Oh ya pangeran... aku membawakan makanan kesuakaanmu... ayo kita makan bersama." Isabelle menyiapkan semuanya, dan kami mulai melahap makanan yang Isabelle bawa, sungguh rasa yang tidak berubah, sama seperti rasaku padanya.


"Emm ini enak sekali Isabelle... seperti biasanya kamu tahu apapun yang aku suka." puji ku, makanan yang dibuat Isabelle tidak pernah berubah, dan pas untuk seleraku.


"Wah benarkah pangeran... aku senang sekali anda menyukainya.... " aku selalu senang jika itu tentang kamu Isabelle, aku akan selalu menyukai apapun yang kamu buat untukku. Senyum tulus diwajah lugu nya membuatku nyaman, dan tidak membosankan.


Kami makan sambil bersenda ria menceritakan hal-hal konyol, dan menceritakan kebersamaan kami yang sudah terjalin lumayan lama, aku menikmati suasana ini, membuatku ingin terus bersamanya. Hingga tak terasa sudah menjelang malam, aku mengantarkan Isabelle sampai kediamannya, karena aku khawatir akan keselamatannya, terlebih para bandit yang masih belum dilumpuhkan.


Isabelle memelukku sebelum dia memasuki kediamannya, itu memang sering Isabelle lakukan, aku kembali membalas pelukannya.


"Aku senang bisa makan bersamamu pangeran... "


"Aku juga Isabelle, besok jangan lupa untuk datang."


"Iya pangeran aku tidak akan melupakan hal penting itu." Isabelle beranjak pergi, aku juga kembali ke kamp.


Keesokanna aku kembali ke kerajaan seperti yang di titah kan oleh ayahanda, perjalanan dari kamp ke kerajaan memakan waktu satu jam penuh, aku sudah penjabat sebagai jendral kerajaan Federick sejak aku berumur sepuluh tahun, karena kehebatan ku dalam mengatur militer, bahkan aku sudah memenangkan beberapa peperangan, hingga akhirnya ayahanda mengangkat ku menjadi jendral, agar aku bisa mengatur seluruh pasukan kerajaan Federick.


Aku berangkat bersama dengan Axel, wakil jendral ku, dia yang juga akan ikut mengatur militer Kerajaan Federick, Axel juga sahabat dekatku, dia juga tidak kalah hebat, bahkan ssemua dewan serta rakyat mengakui kehebatannya.


"Bagaimana hubunganmu dengan putri Licorice?." aku tahu Axel pasti akan bertanya perihal hubungan ku dengan Licorice, sungguh pertanyaan yang membosankan.


"Kau tidak perlu tahu kehidupan pernikahan ku dengannya." jawabku ketus, sekarang aku sedang tidak mood membicarakan hubungan ini.


"Aku tahu yang mulia raja memberimu cuti sebulan penuh, beliau juga sudah menyerahkan masalah bandit padaku...... tapi kenapa kamu malah ke kamp? pernikahan kalian masih satu minggu, tapi kamu sudah pergi dari istana." sebenarnya Axel melihat kedatangan Isabelle, dia pasti akan terus bertanya, dasar sahabat yang tidak tahu suasana saja.


"Karena rakyat masih mengeluh soal para bandit yang belum terselesaikan, jadi aku harus turun tangan." aku hanya ingin menghindarinya Axel, bisakah tidak menanyakan terlalu jauh?.


"Aku sudah mengatasi hal tersebut, aku sudah membuat para rakyat untuk tenang, dan itu sudah kulakukan dengan baik pangeran. " Axel memang sangat mahir dalam memberikan argumen dibandingkan denganku, dia sangat berfikir logis, dan bekerja dengan sempurna, itulah kenapa ayahanda selalu mengandalkan nya.


Aku tidak bisa berbicara lagi, Axel berhasil membungkam ku dengan segudang laporannya yang benar-benar sempurna tanpa ada kerusakan.


"Jawab aku pangeran, bukan sebagai bawahan anda, melainkan sahabat..... aku tahu ini tidak sopan, tapi apakah kamu tega melakukan hal tadi di belakangnya?." Axel terus memaksa agar aku berbicara, seolah-olah Licorice adalah korban, aku juga disini sebagai korban.


"Dia mengorbankan masa depannya menikah dengan mu, untuk kemajuan serta keamanan kerajaan, tapi ternyata kamu belum bisa melupakan dia." aku diam dan tidak menanggapinya.


"Aku hanya mengingatkan mu sebagai seorang sahabat, jangan kamu sia-siakan dia yang mau berkorban, jangan kamu abaikan dia, apalagi sampai berbuat buruk di belakangnya, ingatlah jangan sampai nantinya kamu menyesali apa yang telah kamu perbuat terhadapnya." pesan yang sungguh membuatku kesal, tapi entah kenapa aku tidak bisa memotong ucapannya.


"Kalau begitu saya permisi pangeran.... ini sudah sampai di gerbang istana, semoga hari liburmu menyenangkan." Axel beranjak pergi setelah memberi wejangan, dan tanpa wajah ramah seperti biasanya, mungkin dia kesal melihat ku bersama Isabelle.


Aku memasuki gerbang istana dan menuruni kudaku, aku berjalan hingga memasuki pintu istana, suasana yang tidak ramai hanya ada penjaga dan pengawal yang memang berjaga di istana, dan karena memang hari ini hari libur, jadi para dewan kerajaan sedang tidak ada di istana, mungkin hanya beberapa saja yang kesini, untuk kepentingan bersama dengan ayahanda.


"Pasti kak Albert belum kembali dari rapat antar putra mahkota." setiap bulan memang diadakan pertemuan antar calon penerus raja baru, di negara ini terdapat beberapa kerajaan. Sebelum ke aula keluarga aku melihat ruang pelatihan dan pembelajaran terbuka cukup lebar, dan aku melihat Licorice sedang bersama arcduke Wiliam, sepertinya gadis itu sedang di bimbing oleh arcduke dan dia terlihat sangat menikmatinya.


"Sepertinya dia melupakan kepulanganku... heh siapa yang peduli dengan hal itu, dia terlihat menikmatinya, lihatlah senyum indah yang dia tampakkan pada laki-laki, membuatku jijik melihat hal itu." begitu mudahnya Licorice tersenyum, apakah urat malunya sudah hilang?.


"Pangeran..... " suara yang sangat ingin aku dengar, ya itu Isabelle. Dia benar-benar datang untuk menyambutku, bahkan Isabelle lebih baik dibandingkan Licorice, dia tahu kalau aku sudah berada di pintu.


"Isabelle." dia tersenyum sangat manis, membuatku semakin mencintainya. Wajah lemah lembutnya, sisi perhatiannya, tidak akan ada wanita yang bisa menyaingi nya.


"Lihat aku sudah menyambutmu pengeran.... aku senang bisa bertemu denganmu lagi, kamu tahu aku sangat rindu." dia begitu manis, ahh aku ingin terus berada di dekatnya.


"Terima kasih karena telah menyambutku..... ya sudah ayo kita kedalam, aku ingin segera bertemu dengan yang lain." sebenarnya aku tidak begitu dekat dengan ratu Karina, apalagi dengan kedua anaknya, dia telah merebut hak ibunda, aku tidak akan mengakui mereka sampai kapanpun.


"Ayo pangeran.... " Isabelle menggandeng tanganku erat, banyak mata yang melihat kedekatan kami, toh itu sudah mereka ketahui sejak kami kecil, kisah cintaku dan Isabelle tidak akan pernah terhapuskan dalam sejarah kerajaan Federick, meski mereka tahu bahwa Licorice adalah istriku, tapi hal itu tidak akan bisa menggantikan kisah cinta kami.


"Ahh lihat mereka sangat serasi, ah kenapa bukan nona Isabelle saja yang menjadi istri pangeran."


"Iya benar padahal nona Isabelle juga sangat cantik dan berbudi luhur, tidak hanya itu nona sangat pantas menjadi putri kerajaan Federick, karena dia samgatlah cerdas."


"Iya..... aku juga berharap mereka bersatu, daripada dengan putri Licorice yang tidak tahu cara bertatakrama, dia begitu pendiam serta tidak mengetahui cara bersosialisasi dengan para bangsawan, entah apakah pantas dia menjadi menantu kerajaan Federick? ah rasanya sangat disayangkan."


Bisik-bisik para pelayan yang melihat kami berdua, apa yang dikatakan mereka aku sangat menyetujuinya, ingin rasanya aku mengembalikan Licorice ke kerajaannya, krena dia tidak bisa berbuat apa-apa, harusnya sebagai menantu kerajaan, dia bisa lebih hebat dari siapapun, dan membantu memajukan kerajaan, tapi ternyata dia begitu buruk dalam segala hal.


Aku menyesal menikah dengannya, seharusnya aku pergi saja dan tidak menuruti ayah, kenapa buka Mikhail saja yang bersama dengannya? bukankah mereka satu frekuensi? mungkin boleh dicoba mereka.