The Princess Licorice

The Princess Licorice
Bab 16



Keesokan Harinya.....


Licorice menyiapkan pakaian dan jubah milik pangeran Christopher, dia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri, meski sebenarnya ada pelayan yang biasa membantu pangeran, setelah itu Licorice meminta Diana untuk membuatkan teh. Hari ini kakaknya akan datang berkunjung ke kerajaan Federick.


"Kak Noah akan berkunjung sekarang, aku senang sekali bisa bertemu dengannya." Licorice merindukan keluarganya, tapi sayangnya raja Benedict tidak ikut berkunjung, karena sebenarnya ada hal penting yang akan mereka bahas.


"Bisakah kamu keluar dulu? aku akan segera bersiap."


"Tapi aku mau membantumu pangeran..." Licorice hanya ingin membantu suaminya bersiap.


"Sudah aku katakan keluar...... " suaranya sedikit di naikkan, membuat Licorice terdiam.


"Baiklah pangeran...... " Christopher masih kesal dengan Licorice, perihal kejadian dua hari lalu, Christopher mendiamkan Licorice, dia tidak berbicara ataupun bertanya pada Licorice.


Licorice tidak tahu kenapa Christopher begitu membencinya, ingin rasanya Licorice bertanya pada Christopher, tapi dia yakin jika pangeran akan mengatakan hal yang lebih sakit lagi, setiap hari hanya perkataan keras yang selalu Christopher lontarkan, bahkan sifat lemah lembutnya hilang.


Dia berjalan ke lorong istana, Licorice berjalan dengan beban pikiran yang selalu dia pikirkan setiap saat, rasa takut, cemas bahkan rasa khawatir bercampur menjadi satu, Licorice tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkannya. Licorice terlalu naif, dia terlalu baik dalam menanggapi segela hal, karena dia memang selalu tidak enak hati pada orang lain.


"Putri..... " panggil seseorang yang membuyarkan pikirannya, dia tahu siapa yang memanggilnya, suara yang tidak asing baginya. Licorice menoleh, dan benar saja yang memanggilnya adalah Isabelle, ingin rasanya Licorice tidak melihatnya hari ini, tapi gadis ini selalu berkeliaran di istana dengan bebas.


"Selamat pagi putri Licorice..... " dia datang dengan satu pelayan dan satu lagi putri seorang viscount yaitu Genevieve Lafayette, putri kedua viscount Ricard.


"Selamat pagi nona Licorice, dan nona Genevieve." sambut Licorice dengan senyum lembutnya. Isabelle dan Genevieve memandang malas Licorice.


"Oh ternyata putri sudah tahu nama ku." Genevieve tidak menyangka jika Licorice mengetahui namanya.


"Tentu saja karena viscount Ricard banyak bercerita tentangmu nona Genevieve, sungguh ayah yang sangat menyayangi putrinya." dua hari sebelum kedatangan pangeran, Licorice sempat ngobrol bersama viscount Ricard dan juga istrinya, dia sangat menyayangi Genevieve.


Genevieve tidak bisa berkata lagi, memang benar ayahnya sangat menyayangi nya, dia selalu di manja dan apapun keinginannya pasti akan selalu di turuti oleh viscount Ricard. Suasana tiba-tiba menjadi canggung, mereka saling diam, pemikiran Genevieve terhadap Licorice sudah negatif akibat dari cerita yang Isabelle sampaikan padanya, sejak awal Isabelle mengakui kalau dia korban, karena putri kerajaan Zelda telah merebut pangeran Christopher darinya, dan kejadian dua hari lalu juga membuat Genevieve mengakui kalau putri Licorice sudah keterlaluan.


"Benarkah putri...? aku tidak tahu jika ayah dan ibuku sudah berkunjung kemari, karena aku baru saja menyelesaikan studi kebangsawanan ku."


"Wah hebat sekali nona Genevieve, kamu sudah menyelesaikan akademi mu." puji Licorice, dia senang di zaman ini masih ada wanita yang mau belajar, tapi rata-rata para wanita keturunan bangsawan pasti akan belajar di akademi, yang ingin Licorice lakukan adalah tidak hanya keluarga kerajaan dan keturunan bangsawan saja yang bisa belajar, dia juga ingin rakyat biasa bisa ikut belajar.


Genevieve tersipu, baru sekarang ada orang lain yang memujinya, rasanya sudah lama dia tidak mendapatkan pujian dari orang lain selain keluarga nya. Sedang asyik mengobrol lewat lah pangeran Christopher bersama dengan Liam, Genevieve terlihat gugup, melihat dari tingkahnya saat melihat kedatangan Liam.


"Saya akan duluan ke aula keluarga, semoga hari kalian bahagia." Licorice berjalan melewati pangeran Christopher dan juga Liam, mungkin Licorice sedang tidak ingin melihat perhatian yang di berikan Christopher pada Isabelle, entah kenapa dia mulai gelisah.


Pangeran Christopher hanya menatap punggung putri Licorice tanpa memberinya salam, Liam juga bisa melihat gelagat aneh dari putri ramah itu, biasanya dia akan menyapa dan tersenyum lembut, tapi sekarang putri Licorice hanya diam tanpa sapaan, dan ini terjadi setelah kejadian di perpustakaan.


Licorice berjalan keluar lorong dan bertemu beberapa pelayan yang sedang bekerja, banyak yang berbisik-bisik masalah yang terjadi dua hari lalu, ya masalah Isabelle yang memfitnah Licorice, dalam waktu dua hari, masalah itu banyak di bicarakan oleh penghuni istana, bahkan sampai ke telinga raja Philip dan ratu Karina, itu bisa merubah pandangan raja dan ratu Federick tentang bagaimana sebenarnya menantu mereka yang baru beberapa hari tinggal di kerajaan Federick.


"Lihatlah...... dia masih berlagak sombong padahal kemarin sudah membuat nona Isabelle terluka."


"Baru saja tinggal di kerajaan ini beberapa hari, dia sudah berulah. "


Bisik-bisik yang membuat Licorice muak, dia diam karena dia tidak ingin membuat masalah di kerajaan, terlebih hanya karena masalah sepele. Jadi Licorice memilih diam, tapi tetap saja manusia punya batas kesabaran, entah sampai kapan masalah ini mereda. Licorice terus berjalan tanpa mendengar celoteh para pelayan yang tidak tahu diri.


"Putri..... " Panggil Diana, dia segera menghampiri Licorice.


"Ada apa Diana?."


"Putra mahkota kerajaan Zelda telah tiba, bersama calon penasehatnya, sekarang anda di tunggu di aula keluarga."


"Telingaku sudah panas disini terlalu lama."gumamnya berbisik, rasanya panas mendengar dua hari lamanya umpatan dari kasta rendah, yang tidak tahu menahu kenyataannya.


"Anda berbicara sesuatu putri?." tanya Diana, karena dia mendengar bisikan dari Licorice.


"Ah tidak ada apa-apa." keduanya terus berjalan, hingga sampailah di aula keluarga kerajaan, mereka semua sudah menunggu, kedua kakak Licorice juga sudah berada disana.


"Salam sejahtera untuk anda yang mulia raja.... dan yang mulia ratu." Licorice memberi salam pada kedua mertuanya, dan juga memberi salam pada semua yang hadir di ruangan tersebut, oh jangan lupakan Isabelle dan Genevieve yang sudah berada disana, dasar tidak punya tatakrama, bukankah ini pertemuan orang penting?.


"Selamat datang di kerajaan Zelda pangeran Noah dan pangeran Rafael." Licorice duduk bersebelahan dengan Christopher, ini pertama kali setelah beberapa hari tinggal di kerajaan Federick, dia bersanding dengan Christopher, padahal biasanya Isabelle sudah merusuh.


Terlihat wajah cemberut dari Isabelle yang menahan amarah, Licorice tahu dia cemburu, tapi Licorice tidak mau memikirkan nya, biarkan saja dia merasakan rasa tidak enak ini, Licorice ingin tahu seberapa kuat Isabelle akan terduduk di aula keluarga.


Para pelayan menghidangkan makanan dan jamuan untuk kedua pangeran Zelda tersebut, mereka datang untuk membahas perihal militer yang akan pangeran Noah bangun di kerajaan Zelda, dan hal ini harus diketahui oleh kerajaan Federick.


"Kedatangan kami ke kerajaan Federick hanya ingin menyampaikan tentang kemiliteran yang sedang saya bangun, mohon maaf jika mengganggu waktu yang mulia." Noah mulai membuka pembicaraan, ini masalah yang serius.


"Tidak apa pangeran Noah, kami menghargai kedatangan kalian berdua sebagai perwakilan kerajaan Zelda."


"Lalu sudah sampai mana perkembangannya? apakah kerajaan Zelda membutuhkan bantuan?." tanya raja Philip, dia tahu mengenai pembangunan dan perkembangan militer bukanlah hal yang mudah, terlebih sejak dulu kerajaan Zelda belum maju dalam hal militer, seperti persenjataan, ilmu pengajaran, serta strategi dalam berperang, hal itu adalah yang utama agar kerajaan bisa maju dalam kemiliteran.


"Terima kasih atas apa yang anda tawarkan yang mulia.... kami sudah membangun kamp besar di setiap penjuru kota Diamond, dan masalah pengajar itu sudah saya diskusikan bersama raja Benedict." jelasnya, Christopher hanya mendengar tanpa mau berpendapat, biarlah mereka melakukan sesuka hati mereka.


"Yang kami butuhkan hanya seorang pengrajin senjata, karena kami kekurangan senjata kerajaan, bahkan kami hanya memiliki sebagian kecil nya saja." satu yang kurang untuk memajukan kemiliteran kerajaan Zelda, yaitu kurangnya persenjataan dan pengrajin besinya, bahkan kerajaan Zelda hanya memiliki sebagian kecil senjata, yang kemungkinan hal tersebut bisa menghambat kemajuan.


Raja Philip mengangguk, dia memahami situasinya, berbeda dengan Federick yang rata-rata penghasilannya dari hasil penjualan bijih besi, dan juga persenjataan perang, yang sudah terkenal di seluruh penjuru kota, oleh karenanya kerajaan Federick tidak pernah kekurangan senjata.


"Baiklah saya akan mengirimkan tiga orang pengrajin besi, untuk membuat senjata di kerajaan Zelda, tapi apa akan ada kompensasinya?." Pangeran Noah tahu, semua harus ada timbal baliknya, meski mereka sekutu, tapi tetap saja kedua kerajaan saling membutuhkan satu sama lain.


"Saya mengirimkan arak kualitas terbaik, arak yang sangat laris dalam penjualannya, bahkan tidak ada yang bisa menandingi kualitasnya, kami buatkan khusus untuk kerajaan Federick, dan kami akan mengirimkannya setiap dua bulan sekali, arak ini terbuat dari buah delima yang harganya sedang melonjak tinggi, bahkan hanya keluarga kerajaan serta bangsawan saja yang dapat membelinya."


Kerajaan Zelda baru saja memasarkan arak baru mereka setelah arak mawar beredar di penjuru dua kerajaan, dan kini kerajaan Zelda sudah memasarkan arak baru lagi. Raja Philip tampak berfikir, arak delima cukup menarik perhatiannya, dia bisa membayangkan rasanya, karena di zaman itu buah delima adalah buah berkualitas tinggi, dengan harga jual yang tinggi juga.


"Kenzia bawakan arak nya sekarang." Kenzia segera mengambilnya, satu botol arak delima, di kerajaan Zelda terkenal dengan sebutan arak Melograno.


Kenzia adalah putra dari duke Damian, dia di tunjukol oleh Noah untuk menjadi wakil arcduke Ferdinand di bisnis dan perdagangan. Licorice senang akhirnya Kenzia bisa di andalkan di Kerajaan Zelda, tidak perlu di ragukan lagi kecerdasan dalam bisnis dan perdagangannya, oleh karenanya Noah mempercayai Kenzia, karena dia tidak yakin dengan arcduke Ferdinand.


Pelayan menyiapkan gelas untuk raja dan semua yang ada di aula keluarga, semua harus mencicipi arak Melograno ini. Kepala pelayan kerajaan Zelda menuangkan arak nya, warnanya merah delima yang sangat cantik, bahkan bau khas buahnya tidak hilang.


Raja Philip meneguk arak tersebut, dia tidak menyangka rasanya di luar bayangannya, ini sungguh arak terbaik yang pernah dicoba. Semua yang ada di aula juga merasakan rasa yang belum pernah mereka rasakan.


"Ini sungguh arak terbaik.... rasanya berbeda dari arak yang pernah aku coba." puji raja Philip dengan wajah senang.


"Benar.... ini bisa menjadi hidangan jamuan utama." ratu Karina juga merasakan hal yang sama.


Setelah selesai sesi mencoba arak, akhirnya raja Philip menyetujui kompensasinya, dia pun setuju mengirimkan tiga pengrajin besi profesional, dan sebagai gantinya kerajaan Zelda harus mengirimkan arak Melograno dalam. waktu dua bukan sekali, dalam jumlah lima puluh botol untuk disimpan di kerajaan Federick, karena penjualannya masih sangat tinggi.


Akhirnya kerajaan Zelda sudah bisa melengkapi kamp militer dengan sempurna, tinggal persenjataan dan pelatihan yang akan dilakukan, dengan begini kerajaan Zelda sudah maju selangkah demi selangkah.


"Karena apapun perjuangan pasti harus ada pengorbanan, karena hal itu bisa menjadi kemajuan dalam sebuah hasil...... "


Jangan lupa untuk dukung karyaku dengan memberi like, comment dan vote, ikuti terus novel ceritaku, semoga terhibur, apabila ada kesalahan mohon di maafkan kakak sekalianπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™πŸ™