The Princess Licorice

The Princess Licorice
Bab 06



Malam setelah acara berakhir, pangeran Christopher tidak sedikitpun ingin berbicara dengan putri Licorice, dia hanya sibuk dengan dirinya, ketiga kakak Licorice tidak bisa melihat hal tersebut. Putri Licorice hanya berdiam di dalam kamarnya, dia juga tidak tahu harus berbuat apa, karena pepatah mengatakan 'jika kamu sudah diabaikan maka menjauhlah' itu sangat terlihat jelas, jika pangeran Christopher tidak menginginkan kehadiran putri Licorice.


"Putri apa anda tidak mau menemui calon suami anda?." tanya Mary, yang membantu mengganti gaun milik putri Licorice.


"Ini sudah malam Mary, biarkan pangeran beristirahat." singkatnya, tatapan mata pangeran Christopher tadi, membuatnya tidak ingin mengganggu. Mary senang jika putri Licorice bisa memahami suasana, tapi tetap saja mereka harus berbicara meski sejenak.


"Ya sudah putri, saya sudah siapkan air hangat untuk anda berendam, saya tidak mau putri sakit karena kelelahan."


"Itu sangat aku butuhkan saat ini Mary.... terima kasih." Mary menuntun Licorice menuju tempat berendam, dia selalu melakukan hal tersebut untuk menghilangkan stress, dan juga memulihkan pikirannya.


"Aku ingin sendiri Mary, jadi kamu boleh pergi." saat ini dia ingin menenangkan pikiran dan hatinya yang sedang lelah tidak karuan.


"Baiklah putri, jika ada yang anda butuhkan panggil saja saya." Mary pamit pergi, dan menutup ruangan tersebut. Licorice menceburkan tubuhnya perlahan, dan menenggelamkan tubuh telanjangnya.


Sungguh menenangkan pikiran, meski saat ini pikirannya sedang berkecamuk didalam otaknya, hatinya juga masih gundah saat melihat betapa tidak maunya pangeran Christopher menyentuh dirinya, akankah nanti setelah menikah pangeran Christopher mau menyentuhnya? ah entahlah. Putri Licorice menatap cincin yang bertengger indah di jemari manisnya, permata yang sangat berkilau, dia menyukainya, tapi apakah dia akan mendapatkan cintanya di hati pangeran? Licorice selalu memikirkan hal tersebut.


"Apakah aku pantas dengan dia? aku yakin sekali dia sudah memiliki pujaan hatinya, dan pastinya aku akan tergantikan oleh wanita yang pengeran cintai. Yang tersimpan dalam hati akan kalah dengan yang sering ditatap oleh mata, yang mencintai akan kalah dengan yang dicintai..... ungkapan yang sesuai dengan posisiku sekarang.... " batinnya, mungkin ada hati yang sedang pangeran jaga.


Hingga tanpa terasa tubuh putri Licorice masuk kedalam air, dia tenggelam dengan sangat tenang, seakan tidak kehabisan oksigen. Dia melihat sesuatu yang indah dan menenangkan, apa itu? kenapa dia begitu indah? bolehkah aku berada disini?.


"Licorice....... Licorice......


Samar-samar dia mendengar namanya di panggil, dan sangat kecil, tiba-tiba tubuhnya terangkat keatas, dengan cepat dia mengambil nafas dalam, dan matanya langsung terbuka lebar.


"Licorice.... ada apa? kenapa kamu menenggelamkan diri?. " terlihatlah Rafael yang sedang membalut tubuh polos Licorice dengan kain tebal, Rafael panik melihat adiknya yang secara sengaja menenggelamkan dirinya dalam kolah air hangat tersebut. Licorice terbatuk dan memuntahkan air.


"Putri apa anda baik-baik saja....? saya sangat bersalah karena tidak mengawasi putri." Mary juga terkejut dengan kejadian tadi, dia tidak tahu menahu, jika putri Licorice sengaja melakukan hal tersebut.


"Kamu tidak apa-apa kan?." Licorice menatap Rafel sejenak, dan langsung tersadar.


"Kakak..... " Mary membantu putri Licorice berdiri, Rafael akan bertanya besok, dan membiarkan adiknya beristirahat, mungkin efek dari kelelahan.


"Basuhkan tubuhnya Mary, dan pakaikan bajunya, temani dia hingga tertidur, aku khawatir dia akan berbuat seperti itu lagi."


"Baik pangeran saya akan lakukan." Rafael pergi dari kamar Licorice, sebenarnya tadi dia ingin menemui Licorice, dan dia melihat Mary yang sedang didapur, dan entah kenapa perasaannya tidak enak pada adik perempuan nya, dan benar saja setelah dicek ke kamarnya, Licorice sedang menenggelamkan dirinya.


Mary membasuh tubuh putri Licorice dan membantu memakaikan baju tidurnya, sorot matanya menampakkan kepedihan, ini memang berat. Setelah satu jam Mary menemani putri Licorice, akhirnya dia tertidur dengan pulasnya.


Keesokan paginya.......


"Tuan putri berbahagialah, nanti kita akan bertemu dalam acara pernikahan anda." Mary dan pelayanan yang lain juga mengantar kepergian Licorice, yang entah kapan akan kembali ke kerajaan Zelda.


"Jaga dirimu baik-baik disana Licorice, kakakmu akan menjaga amanahmu." Noah memeluk erat adiknya, Licorice juga berbicara dengan pangeran Noah dan Arthur.


"Adikku kakak yakin kamu akan bahagia.... " Arthur juga ikut memeluk nya, diantara ketiganya, yang hatinya seperti perempuan adalah pangeran Arthur, dia sangat lemah lembut sebagai laki-laki, tapi sangat tegas jika menjalankan tugasnya.


Rafael hanya menatap adiknya dari kejauhan, melihatnya dari dekat membuat dia tidak bisa membiarkan putri Licorice pergi. Putri Licorice menaiki kereta kudanya, Mary tidak diperbolehkan ikut, karena nantinya putri Licorice akan mendapatkan pelayan baru di istana Federick.


Semua mengantar kepergian putri kebanggaan kerajaan Zelda, mereka sedih dengan kepergian putri Licorice, putri yang sangat ramah, ceria, baik hati dan dermawan, dia sangat banyak di kagumi oleh rakyat, sama seperti ibundanya. Pangeran Christopher tidak ikut bersama kereta kuda, dan memilih manaiki kuda miliknya bersama Leon, orang kepercayaannya.


"Aku harus bisa melewati ini semua." batinnya menguatkan hatinya, dia tahu setelah ini hanya akan ada kesusahan yang menunggunya. Putri Licorice harus bisa menghadapinya, dan jangan menyerah begitu saja. Ini adalah awal yang tidak tahu kapan akhirnya, apakah dia bahagia, atau tidak, putri Licorice sudah siap dengan semuanya.


Semua manatap kepergian rombongan kerajaan Federick, dan berlangsung beberapa saat, hingga selesai. Raja Benedict masuk ke dalam istana, putrinya telah meninggalkan istana, dan akan menjadi menantu kerajaan Federick, dia berharap hal yang sama seperti Vanessa, tapi terkadang jika mengingat masa lalu, membuat raja Benedict membenci putrinya.


"Lanjutkan kegiatan kalian, ayah akan istirahat sebentar." singkatnya, memang semenjak kematian mediang ratu Vanessa, raja Benedict lebih sering menyendiri dan tidak banyak bicara, dia akan mengajarkan setelahnya dia pasti akan pergi ke kamarnya.


"Baik ayah... " ucap mereka bersamaan, luka di hati ayah mereka belum pulih menyeluruh, seperti halnya warna putih yang terkena noda, meski hanya sedikit tapi itu akan sulit kembali bersih kembali, hal itu sama seperti hati milik raja Benedict yang sedang terluka, walaupun sudah sangat lama, dia tetap tidak bisa melupakan.


Putra mahkota Noah kembali ke ruangannya, dia masih harus memeriksa keadaan kerajaan dan bagaimana perkembangan perekonomiannya, Noah memang selalu sibuk, karena dia ingin lakukan yang terbaik bagi kerajaannya, serta memajukan kerajaan kearah yang lebih maju, sekarang dia sedang berusaha, agar kelak dia menjadi raja yang benar-benar bijaksana dan adil dalam memerintah kerajaan Zelda.


"Tidak usah khawatir pangeran mahkota, saya yakin putri Licorice akan baik-baik saja." sejak tadi Damian melihat pangeran mahkota yang sedari tadi tidak fokus dalam kegiatannya.


"Ah tuan Damian, aku hanya kesepian jika dia pergi." putra mahkota memang masih dalam pelatihan khusus, dia juga masih dalam pengawasan duke Damian, karena menjadi putra mahkota tidaklah mudah, dan hal ini harus tetap dipantau, apakah pangeran mahkota ada kemajuan atau tidak?


"Benar sekali pangeran.... saya harap putri bahagia, dan semoga saja pangeran Christopher bisa menjadi penyembuh lukanya." Noah hanya diam, entahlah saat ini itulah yang mereka harapkan untuk putri Licorice.


"Terima kasih tuan Damian...... berkat anda, aku bisa membuktikan kalau aku pantas menjadi calon raja berikutnya." Damian memang selalu bersama dengan putra mahkota, dan hal ini berlaku hingga pangeran benar-benar diangkat menjadi raja.


Dan Damian melihat potensi yang amat besar pada diri pangeran mahkota, raja Benedict tidak salah dalam memilih.


☾ ⋆*・゚:⋆*・゚:⠀ *⋆.*:・゚ .: ⋆*・゚: .⋆


Sementara itu putri Licorice hanya diam tanpa berbicara apapun. Matanya menatap kosong seakan banyak benab pikiran yang sedang dia pikirkan, banyak hal yang mungkin membuat dia tidak bisa mengatakan apapun saat ini. Putri Licorice hanya termenung, dengan buku kecil yang sedang dia baca, tapi nyatanya dia hanya diam.


Perjalanan menuju kerajaan Federick memakan waktu satu sampai dua hari, mungkin besok mereka baru akan sampai disana, di kerajaan Federick, rumah baru milik putri Licorice.


"Mulai sekarang ibunda.... putri kecilmu ini akan memulai hidup baru, aku harap ibunda selalu memperhatikanku meski dari kejauhan." batinnya, kini dia akan menjalani kehidupan yang dia sendiri juga tidak akan tahu seperti apa jalan yang akan putri Licorice tempuh.