The Leader Of Mafia

The Leader Of Mafia
Jerman



Happy Reading


____________________________________________


Andrea bersama Nenek dan Kakek memasuki pintu masuk bandara. Mereka barusaja sampai.


Andrea celingak celinguk menceri keberadaan Gavin beserta orang tuanya dikursi tunggu dan menemukan mereka duduk pinggir dekat jendela.


Rea, Nenek dan Kakek langsung menghampiri.


"Hai tante, om" Rea menyalami orangtua Gavin. Begitupula Gavin, menyalami Nenek dan Kakek.


Hari ini Rea dan Gavin akan berangkat ke Jerman. Rea sangat antusias.


"Kalian beneran nggak mau dianterin sampe ke Jerman?" tanya Lestari, mama Gavin.


"Nggak usah Ma" jawab Gavin.


"Mama nanya sama Rea, bukan sama kamu" Lestari sewot. Gavin hanya memutar bola matanya malas. Sudah kesekian kalinya Lestari menanyakan hal yang sama.


"Enggak usah tante, biar Rea sama Gavin aja"


"Yakin?"


"Iya"


"Yaudah, nanti kalau ada apa apa, jangan langsung lapor ke Nenek ya. Lapor ke tante aja" Lestari melirik Nenek.


"Kenapa tan?" tanya Rea.


"Kasihan udah tua, nanti kepikiran"


"Enak aja kamu. Tua-tua begini aku masih gagah tau" balas Nenek sewot diiringi tawa oleh semua. Ya mereka hanya bercanda.


Ditengah tawa itu seorang perempuan berambut lurus sebahu berlari kearah mereka dengan terengah-engah. Berhenti sebentar mengatur nafas, tangannya bertumpu pada lutut.


"Andrea!" panggil perempuan itu. Semua menoleh.


"Dita!" yang dipanggil Dita tersenyum lalu melanjutkan larinya menghampiri Rea.


Haaah-haaah. Nafas Dita ngos-ngosan. Dita langsung memeluk Rea. "Yaampun, kita bakal jarang banget ketemu nanti" Dita memeluk Rea sangat erat.


"Kita kan bisa Video Call nanti" Rea membalas pelukan Dita. "Haduh Re, aku pasti bakalan kangen banget sama kamu. Aku nggak akan ngelupain kamu" Dita semakin mengeratkan pelukannya, membuat Rea hampir kehabisan oksigen karena sulit mengambil nafas.


"Aku juga nggak akan lupa sama kamu"


"Pokoknya kamu harus telepon aku pas sampe di Jerman" Dita semakin mengeratkan pelukannya. "Iya iya, aku bakalan telepon kamu, tapi lepasin dulu, aku hampir kehabisan nafas" wajah Rea sedikit memerah.


Dita melepaskan pelukannya. Rea langsung menghirup udara dalam dalam, mengisi paru parunya dengan udara. Dita tersenyum.


"Maaf ya Rea, aku sedih kita akan berpisah lama" wajah Dita merasa bersalah. Rea hanya mengangguk.


Dita Septria Sari.


Dita adalah teman Rea di SMA sekaligus orang kepercayaan Chitra. Chitra menitipkan adik semata wayangnya pada Dita. Dita selalu berada didekat Rea agar ia dapat dengan mudah melapor pada Chitra jika Rea berbuat onar.


Rea tidak pernah keberatan Dita berada didekatnya, karena menurut Rea, Dita orang yang asik diajak bercerita. Lagi pula selama ini hanya Gavin yang menjadi sahabat Rea di SMA, jadi Rea dengan senang hati menerima Dita.


"Udah selesai acara peluk-pelukannya?" tanya Lestari.


Semua berdiri dari kursi saat mendengar interupsi dari seorang wanita melalui speaker, yang mengatakan jika penerbangan menuju Jerman tinggal sebentar lagi.


Rea dan Gavin membawa tas mereka. Para orang tua dan Dita mengantar sampai depan pintu pesawat.


"Kamu baik baik ya Re disana" Dita.


"Pokoknya kalian harus saling menjaga" Nenek.


"Apalagi kamu Gavin, jagain Rea. Jangan sampe lecet nanti waktu pulang ke Indonesia" Lestari.


"Belajar yang bener" Kakek.


"Dengerin pasan para orang tua. Jagain Rea" Niko, papa Gavin menepuk pelak bahu Gavin.


"Pasti Pa" jawab Gavin.


"Iya, Rea juga akan jagain Gavin".


***


Rea dan Gavin sudah duduk rapi di kursi mereka. Rea duduk dipinggir dekat jendela dan Gavin disebelahnya.


Rea sangat menikmati pemandangan langit biru dan awan yang sangat indah. Membuat suasana hatinya begitu tenang.


Senang karena ia bisa bersekolah di universitas yang ia dambakan. Antusias untuk memulai kehidupan baru yang ia harapkan akan jauh lebih baik dan kembali memulai semuanya dari awal. Sedih karena harus meninggalkan teman, Nenek dan Kakek yang telah merawatnya.


"Aduhhh ini siapa sih yang nutup botolnya? kenceng banget" Rea kesusahan membuka tutup botol tumblr yang ia bawa dari rumah. Walaupun tahu akan diberi air minum, tetap saja ia membawa air minum sendiri dari rumah.


"Sini, biar aku yang buka" Gavin merebut botol tumblr dari tangan Rea. "Nih, lemah kamutuh" ucap Gavin mengembalikan botol itu. "Makasih ya Gavin".


"Vin, kira kira kalo aku tumpahin kebawah, bakalan smpe nggak ya, airnya ke tanah atau ke laut gitu? tanya Rea.


Pertanyaan yang bodoh. Ucap Gavin dalam hati.


"Nggak" jawabnya. Rea menoleh "Tempat duduk kamu yang bakal basah" lanjut Gavin.


"Kenapa?"


"Kacanya nggak bisa dibuka Andrea". Jawaban Gavin membuat Rea merasa sangat bodoh.


Yaampun kenapa aku mendadak ****. Padahal aku jauh jauh terbang ke Jerman karena lulus di universitas bergengsi!. Huh otak, kau membuatku malu. Rea merutuki dirinya sendiri karena pertanyaan bodoh yang barusaja ia lontarkan.


***


"Rea bangun" Gavin membangunkan Rea saat awak pasawat memberitahun sebentar lagi pesawat akan landing.


"Hmm..iya iya lima menit lagi"


"Kita udah sampe Re"


"Iya Gavin"


Iya aja terus, bangunnya minggu depan. Gerutu Gavin.


Gavin menjepit hidung Rea membuatnya kesulitan bernapas.


"Gavin kamu apaan sih?"


"Kita udah sampe, ayo turun".


Mereka segera turun. Bandar Udara Internasional Hamburg, tempat mereka berdiri saat ini. Udara yang bertiup terasa sejuk. Sepertinya cuaca sedang bagus hari ini.


"Gavin ayo" Rea mendekat kearah Gavin. Ia barusaja keluar dari toilet.


"Sebentar" Gavin masih menunggu kopernya.


"Itu dia" tunjuk Rea kearah koper mereka berdua, Gavin buru-buru mengambil koper miliknya dan Rea.


Mereka berjalan kearah salah satu taxi yang tersedia didepan bandara, meminta dianter kesalah satu toko roti sebelum mencari 2 unit apartemen.


***


Ting. Suara bel kecil didekat pintu berbunyi menandakan seseorang baru saja memasuki toko.


"Guten morgen" (selamat pagi) sapa penjaga toko pada pelanggannya.


Kurang lebih sudah satu tahun ia menjadi pelanggan setia toko tersebut. Toko ini menjual berbagai jenis roti.


ting. Lagi-lagi bel berbunyi.


Setelah 2 pretzel yang di beli terbungkus rapi, pelanggan tersebut bersiap untuk pulang.


Saat berbalik ia melihat dua orang yang tak asing baginya.


"Hah? apa aku salah lihat?" mencoba menajamkan penglihatan. Sedikit terkejut.


"Benar, sepertinya aku tidak salah lihat" ia berjalan mendekati meja yang diduduki oleh dua orang yang sedang mengobrol santai didekat jendela, ada beberapa pretzel dan berliner diatas meja.


"Andrea?"


____________________________________________


Haii semua apa kabar?


Siapa hayoo? yuk main tebak tebakan lagii ^-^


Gimana untuk parti ini? Penasaran?


Like, share dan kasih rate yaa


____________________________________________


Follow me on instagram @alaguzaen


salam sayang author❣