The Leader Of Mafia

The Leader Of Mafia
Shella



Hai guyysss jadi di episode ini akan ada flashback "pengusiran" lagi tapi dari Rea bukan Nenek dan KakekšŸ˜…


Happy Reading


_____________________________________


"Rea bangunlah sudah waktunya makan malam" Nenek berusaha membangunkan Rea.


"Iya Nek?" Rea membuka mengucek matanya pelan menormalkan penglihatannya. Hal yang pertama ia lihat saat membuka mata adalah cahaya lampu yang membuatnya silau.


"Bersihkan dirimu lalu makan malam" ucap Nenek membantu Rea berdiri.


"Nek kita dimana?sepertinya Rea pernah melihat tempat ini" Tanya Rea bingung


"Kita di Villa" jawab Nenek sambil tersenyum


"Di villa Nek? Besok kita boleh jalan jalan kan?" tanya Rea bersemangat. Sudah hampir 2 tahun Rea tidak menginap atau sekedar mengunjungi villa.


"Tentu saja boleh,Nenek dan Kakek membawa mu kesini untuk mengajakmu jalan jalan" Nenek mengelus kepala Rea.


"Sekarang kamu mandi lalu kita makan malam bersama" ucap Nenek.


"Siap boss" Rea sambil menaruh tangannya diujung alis. Bergaya hormat.


Dikamar madi Rea melihat wajahnya di cermin. Sangat berantakan sekali. Matanya bengkak dan rambut yang berantakan.


Seketika Rea kembali mengingat kejadian tadi. Rea langsung menghidupkan shower,membiarkan air turun melewati tubuhnya bercampur dengan air mata yang keluar dari sepasang kelopak mata yang masih bengkak.


flashback on


Hari minggu pagi adalah waktu yang sangat tepat untuk dipakai bermalas malasan setelah sepekan bersekolah.


"Andrea" Papa menggedor pintu. Dari nada suaranya terdengar marah.


"Ada apa Pa? apa ada masalah?" tanya Rea yang sudah membuka pintu.


"Apa apaan ini?" Papa melempar sebuah amplop coklat berukuran sedang tapat kawajah Rea. Rea yang mendapat serangan tiba tiba refleks mundur beberapa langkah. Ia kaget dan segera membuka isi amplop tersebut.


Amplop tersebut berisi foto foto dirinya yang ia sendiri tak bisa mengingat kejadian itu.


Foto pertama menunjukkan Rea sedang berada di club malam bersama seorang pria.


Foto kedia menunjukkan Rea yang sedang berada di sebuah mobil.


Tunggu..inikan mobil yang dikendarai Kak Chitra sebelum ia kecelakaan.


Dan difoto itu terlihat bahwa Rea sedang mengempiskan ban mobil Kak Chitra.


Dan foto ketiga memperlihatkan Rea sedang memotong kabel rem mobil yang digunakam Kak Chitra.


Lalu Rea melihat sebuah tang dilapisi plastik bening di dalam amplop tersebut. Ia ingat pernah menggunakan tang itu,tapi untuk memotong kawat besi untuk tugas sekolah bukan untuk memotong kabel apalagi kabel rem mobil.


"Ini maksudnya apa Pa?" tanya Rea bingung.


"Harusnya Papa yang tanya sama kamu. Kamu yang menyebabkan Kakak kamu kecelakaan?"


Rea mengerutkan dahinya lalu melihat kearah foto kembali. Apakah benar ia yang melakukan ini? Tapi kapan? Kenapa ia tak ingat sama sekali? Rea melihatnya lebih teliti. Benar jika yang difoto adalah dirinya. Tapi ia tak pernah melakukan itu.


"Bukan Pa,bukan Rea" jawab Rea santai. Rea memasukkan kembali foto itu ke amplop dan mengembalikannya pada Papa. Namun ditepis dengan kasar.


Rea kaget,tiba tiba tangannya ditarik dengan kasar menuju ruang keluarga disana Mama dan seorang gadis telah menunggu.


"Mama nggak nyangka sama kamu Andrea" ucap Mama dengan wajah kecewa.


"Mama sama Papa dapet foto itu dari siapa?" Tanya Rea


"Kamu nggak perku tau,sekarang kamu jawab jujur pertanyaan Papa tadi" ucap Papa berusaha menahan emosi.


Bukannya menjawab Rea malah mengalihkan pandangannya pada seorang gadis yang berdiri didekat Mama.


"Shella?" tanya Rea "Kamu kan yang udah kasih bukti palsu ke Mama sama Papa?"


"Rea jangan mengalihkan pembicaraan! jawab saja!"


"Bukan Ma!. Bukan Rea yang ngelakuin itu! Rea bahkan nggak pernah lagi ke club. Rea nggak pernah ada niat sedikitpun untuk mencelakai Kakak"


"Jelas jelas yang ada di foto itu kamu" ucap Shella memanas manasi. Rea menggeram kesal.


plak


Satu tamparan Rea dapatkan dari Mama."Dasar anak nggak tau di untung. Bener bener nggak tau diri" Mama


Rea menangis sesegukan,kepalanya merunduk menatap lantai.


"Kamu tau apa yang sudah kamu lakukan sama kakak kamu? kamu tau apa akibatnya?" Papa


"Pelayan bawa koper beserta baju baju dan barang Andrea kesini" ucap Mama memotong ucapan Rea.


"Biar aku aja Ma" Shella langsung berlari kearah kamar Rea,mengemasi seluruh barang Rea. Memastikan semua barang tak ada yang tertinggal gadis itu keluar dari kamar dan..


brakk


Shella melempar barang barang Rea. Rea keget sekali saat Shella melempar barang barangnya kelantai.


Rea menatap Shella sebentar,melihat Shella tersenyum puas lalu kembali menatap Mama.


"Ma?...Mama ngusir Rea?" Rea terdiam melihat barang barangnya dikeluarkan dan delempar begitu saja diatas lantai.


"Iya. Sekarang kamu beresin barang barang kamu dan pergi dari rumah ini. Jangan pernah kamu kembali dan jangan pernah tampakkan wajah kamu di hadapan kami lagi" ucap Mama penuh penekanan.


Rea menatap Shella dengan tatapan yang sangat tajam seolah tatapan yang diberikan Andrea bisa tembus sampai ke jantungnya.


Shella terlihat takut. Ia takut sekali melihat tatapan yang Rea berikan. Shella bersembunyi dibelakang Papa menghindari tatapan Rea.


Rea memberesi barang barangnya yang berserakan di lantai. Air matanya menetes membuat basah lantai. Saat ia berbalik menghadap pintu,ia melihatnya. Mereka semua melihat kehadiran Nenek dan Kakek dengan tatapan murka memandang Papa dan Mama.


Entah kapan Kakek dan Nenek datang.


Mereka semua terlihat kaget. Nenek dan Kakek berjalan masuk.


plak


satu tamparan mendarat mulus di pipi Papa dan Mama. "Berani beraninya kalian meng-usir cucu saya" ucap Nenek berusaha menahan emosi,namun gagal.


"Dia anak aku Ma,jadi aku punya hak untuk ngusir dia" ucap Papa.


Rea sakit sekali mendengar perkataan Papa. Air mata terus turun membasahi pipi mulusnya.


plak


Sekali lagi satu tamparan berhasil mendarat dengan sempurna di pipi Papa. Kali ini Kakek yang melakukannya.


"Dan dia cucu saya" ucap Kakek penuh penekanan sambil menunjuk Rea yang hanya bisa terdiam melihat adegan tersebut.


"Mama sama Papa nggak pernah mau dengerin Rea. Dan dia?" Rea menunjuk kearah gadis yang sedang bersembunyi di belkang papa.


"Dengan senang hati Mama dan Papa menerima semua ucapan dan bukti bukti palsu yang dia berikan" Rea menghapus air matanya kasar lalu tersenyum tipis.


"Nggak masalah kalau memang itu yang Mama dan Papa mau" ucap Rea kemudian menatap gadis itu seraya berkata


"Dan lo" tunjuk Rea "Yang sebenarnya menyedihkan disini bukan gue,tapi lo. Lo yang berusaha mengambil semua yang udah gue punya. Yang sebenernya ANAK NGGAK TAU DI UNTUNG itu lo" sengaja Rea memberi tekanan pada kata anak nggak tau di untung.


"Mama sama Papa udah baik ngajak lo. Dan gue juga udah berusaha baik sama lo walaupun gue tau liciknya otak lo disekolah,ternyata diam diam lo nikam gue dari belakang" Rea tertawa hambar


"Kenapa lo nggak susul aja mereka?" ucap Rea datar namun tajam.


Shandy menggeram kesal,Nandine memegangi pipinya yang masih terasa panas sementara Shella terlihat tambah ketakutan sejak kedatangan Nenek dan Kakek.


"Ayo Rea kita pergi" ucap Nenek


flashback off


Rea kembali menangis. Hatinya sakit. Dadanya terasa sangat sesak mengingat hal itu. Rea memukul mukul dadanya berharap rasa sakit itu akan hilang,namun usahanya sia-sia.


***


15 menit kemudian. Rea telah selesai mandi dan berpakaian. Sekarang ia sudah berada di meja makan bersama Nenek dan Kakek.


"Besok kamu mau jalan jalan kemana?" tanya Nenek di sela-sela makannya.


"hmm..ke danau aja deh Nek,udah lama Rea nggal kesana"


"Oke,besok pagi pagi kita jalan ke danau sambil jogging. Jadi malam ini kamu tidur cepat biar besok bisa bangun pagi" ucap Kakek.


"Siap boss" Rea bergaya hormat.


_____________________________________


Hai guyss gimana untuk part ini? Tau kan kenapa Rea diusir. Hihii penasaran siapa Shella? nanti kalian akan tauu.


Follow instagram @al.writter untuk info info tentang cerita Al.


_______________________________


Follow me on instagram @alaguzaen


Salam sayang authorā£