
Happy Reading
_____________________________________
"Rea, kapan kamu berangkat?" tanya Nenek yang terus memperhatikan Rea. Saat ini Rea, Nenek dan Kakek sedang berada di meja makan.
"2 minggu lagi" jawab Rea. Ia menuangkan air minum kedalam gelas.
"Gavin tau?". Rea menggelang sambil meneguk air minumnya.
"Besok malem Rea mau keluar sama Gavin sekalian kasih tau sama dia". Nenek hanya mengangguk mendengar jawaban Rea.
Makan malam telah selesai, tapi mereka masih mengobrol di mejamakan.
"Apa nggak kecepetan kalau 2 minggu lagi?"
"Enggak Nek" Rea membereskan piring bekas makannya lalu pergi kekamar.
***
Malam berikutnya.
19:00
Suara klakson mobil yang terdengar tak sabar membuat Rea setengah berlari menghampiri mobil tersebut. Pasalnya sudah hampir setengah jam pemilik mobil tak dibiarkan masuk dan disuruh menunggu di luar.
Nenek menganter Rea sampai depan pagar, pemilik mobil tersenyum kepada Nenek dan dibalas dengan ramah.
"Nek Rea pergi dulu ya" Rea menyalami tangan Nenek.
"Iya hati hati di jalan"
Rea masuk kedalam mobil dan mobil itu melaju membelah jalanan kota yang tampak ramai.
"Kamu tuh lama banget sih. Udah hampir setengah jam aku nungguin kamu tau nggak?" gerutu Gavin yang masih fokus menyetir.
"Iya tau, maaf ya Gavin" ucap Rea lembut sambil memasang wajah sok bersalah.
Gavin hanya menghela nafas pelan.
Sesampainya di cafe mereka memesan makanan. Mereka memang belum makan malam. Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka sambil tersenyum.
"Cobain deh Vin, enak banget" Rea menyodorkan sendok berisi makanannya kearah Gavin. "Ini tuh menu terbaru mereka" sambung Rea saat Gavin menerima suapan darinya.
Gavin memutar bola matanya, menatap Rea yang tanpa rasa berdosa memakan makanannya.
"Kamu kan tadi udah cicipin makanan aku, sekarang gantian aku yang cicipin makanan kamu" alibi Rea.
"Ngomong aja sih kalau mau minta". Gavin tau itu hanya alasan Rea. Apa lagi porsi 'mencicip' Rea itu sama dengan porsi meminta.
Selesai makan mereka masih setia duduk di kursi cafe. Sibuk dengan urusan di ponsel mereka masing masing.
Flashback on
"Gaviin akhirnya kita jadi lulusan terbaik" Rea memeluk lengan Gavin girang. Rea mempercepat jalannya menuju ke arah dimana mobil mereka terparkir dan duduk di kap mobil.
"Iya dong, kita nggak level lulus dengan nilai pas-pasan" ucap Gavin angkuh.
plak.
"Sombong kamutuh" Rea memukul lengan Gavin sambil tertawa pelan diikuti Gavin.
Tak terasa satu tahun telah berlalu. Satu tahun yang dilewati dengan sangat baik oleh Andrea bersama support orang orang terdekatnya dan Andrea sangat bersyukur untuk hal itu.
Flashback off
Suara notifikasi hp yang bunyi bersamaan membuat Rea tersadar dari lamunannya. Ia menatap kearah Gavin yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Vin". Gavin berdehem membalas panggilan Rea.
"2 minggu lagu aku mau ke Jerman" Rea to the point. Gavin menaikkan sebelah alisnya.
"Aku rencana mau kuliah disana" Rea mengambil gelas minumnya yang tinggal setengah, merasakan minuman dingin itu mengalir di tenggorokan. Sejujurnya Rea sedikit gugup mengatakan hal itu, sebab selama setahun ini Gavin lah yang selalu menemaninnya. Rea takut Gavin akan kecewa jika ia meninggalkan Gavin sendiri di Indonesia.
"Udah daftar?" tanya Gavin. Rea mengangguk.
"Universitas mana?"
"Universitas Hamburg". Gavin terdiam sejenak, raut wajahnya tampak terkejut.
"Malam ini adalah pengumuman lulus dan aku mau lihat bareng kamu" Rea langsung mendekat kearah Gavin. Melihat kelayar hp membuatnya deg-degan.
1...
2...
jeng
"Gavin kamu..." Rea terkejut melihat daftar nama calon mahasiswa/i yang lulus dilayar hpnya.
"Iya" jawab Gavin tau apa yang akan Rea ucapkan.
Andra Gavin Vederico Fernando.
Andrea Alexander Aguileera.
Nama Gavin pas berada diatas Rea.
Berarti Gavin daftar di univ yang sama?. Rea.
Dari ribuan orang yang mendaftar, nama Rea dan Gavin masuk dalam urutan 10 besar.
"Kamu daftar di universitas yang sama?"
"Iya". lagi, Gavin hanya menjawab iya.
***
Gavin dan Rea sedang berada di sebuah mall untuk membeli perlengkapan yang akan mereka bawa ke Jerman. Mereka sudah sepakat 2 minggu lagi akan berangkat.
Gavin hanya mengekor pada Rea, membawa semua barang belanjaan yang dibeli.
"Kenapa banyak banget sih?" Gavin menaruh belanjaan di samping tempat duduk yang tersedia di mall tersebut. "Aduh Gavin, inituh bukan cuma belanjaan aku, tapi punya kamu juga". Rea masih fokus memilih baju dingin yang cocok untuknya dan juga Gavin. Sementara Gavin menatap tanpa minat.
"Rea kan tadi kita udah beli"
"Nggak cukup Gavin"
"Cukup". Rea berbalik menatap Gavin. "Gavin, kita itu ke Jerman mau kuliah bukan liburan. Yang namanya kuliah pasti bakalan lama. Emangnya kamu mau selama musim dingin nggak akan ganti outernya?" Rea mencoba menjelaskan pada Gavin.
Gavin hanya menurut. Rea berjalan menuju kasir untuk membayar barang belanjaannya.
Saat kasir menyebutkan total pembayaran, Rea sedikit panik karena uang yang ia bawa kurang. Rea menghadap kearah Gavin, Gavin yang sadar maksud Rea menghela napas dan mengeluarkan kartunya membayar semua tagihan belanjaan.
***
Shella sedang duduk di atas kap mobil, bersama seorang lelaki di perkiran mall yang tidak terlalu sepi. Mereka sedang mengobrol.
"Gimana Andrea?"
"Udah satu tahun dia nggak pulang kerumah. Di usir" Shella tertawa kecil mengingat hal itu.
"Terus Chitra gimana?" bertanya lagi.
"Belum ingat apa apa". Lelaki itu menoleh, mengangkat sebelah alisnya.
"Dia nggak pake sefety belt, jadi airbag nya nggak berfungsi. Karena benturannya cukup keras Kak Chitra mengalami gegar otak". Lelaki itu mengangguk paham.
"Keluarganya enggak cari tahu kebenarannya?". Shella menggeleng.
"Bukti itu udah cukup kuat untuk meyakinkan keluarganya" jawab Shella.
"Terus sekarang kamu mau apa?"
"Yang jelas sekarang aku mau bicara langsung sama Dita. Aku masih nggak yakin kalau..." ucapan Shella terhenti begitu mendengar seseorang memanggil namanya. Mereka menoleh bersamaan.
"Hai Shella".
***
Setelah selesai Rea dan Gavin berniat untuk pulang kerumah. "Makasih ya Gavin baik banget deh" Rea memeluk lengan Gavin. "Iya,sama sama Andrea".
perjalanan mereka terhenti di parkiran, padahal mobil masih terletak agak jauh.
"Gavin liat deh" Gavin menoleh kearah tangan Rea menunjuk. Disana terlihat Shella bersama seorang lelaki yang membelakangi mereka.
"Yuk kita samperin" Rea menarik tangan Gavin. Gavin sangat antusias, ia mengharapkan percekcokan yang akan terjadi antara Rea dan Shella.
Aku suka keributan. Gavin.
"Hai Shella".Sapa Rea dengan senyum sinis. Shella dan lelaki itu menoleh terkejut.
"Oh? Jadi ini sekutu kamu?" Rea menunjuk kearah lelaki tersebut.
"Sekutu?" lelaki itu sok bingung.
"Halaah, nggak usah sok bingun deh. Kalian kerjasamakan biar gue diusir dari rumah?" Rea emosi.
"2 tahun lo pergi cuma buat ini? menyusun rencana serapih mungkin biar kalian bisa buat gue ditendang dari rumah gue sendiri?" Rea menunjuk kearah Ando.
"Nggak gitu Re" Ando panik. Ia mencoba meraih tangan Rea yang langsung ditepis dengan kasar oleh Gavin.
"Jangan sentuh" ucap Gavin dingin.
Rea memalingkan wajahnya "Haah, ternyata bener yang selama ini gue pikir" Rea kembali menatap tepat dimanik mata Ando. "Nggak sia-sia selama ini gue benci sama lo" Ucap Rea dingin dan penuh tekanan disetiap katanya.
Tatapan mata yang sangat tajam yang Rea lemparkan serta cara bicara yang sangat dingin membuat Ando merinding.
Shella hanya diam tak berani menjawab. Terlebih saat mereka menjadi pusat perhatian orang orang diarea parkir membuatnya malu.
Gavin langsung menarik Rea kemobil. Padahal tadi ia sangat antusias menginginkan pertengkaran antara Rea dan Shella. Tapi saat melihat Ando ia merasa sangat gerah.
Gavin sangat membenci Ando. Kenapa? Karena Rea membencinya.
_____________________________________
Hai semuanyaa apa kabar?
Gimana untuk part ini?
Siapa Ando? Sekutunya Shella?
Yuk main tebak tebakan Hahaha :v
_____________________________________
Follow me on instagram @alaguzaen
Salam sayang author❣