The Leader Of Mafia

The Leader Of Mafia
Kecelakaan Kak Chitra



Haii guyss jangan lupa like dan vote nya yaa.


Jangan sider hehe


Happy reading


_____________________________________


Rea,Kakek dan Nenek sudah berada di danau pagi pagi sekali. Wajah Rea sudah terlihat membaik begitupun perasaannya.


"Hmm..Segar sekali udara disini" ucap Rea sambil menghirup udara dalam-dalam.


"Kamu suka?" tanya Nenek


"Suka banget Nek"


"Kalau gitu kita akan sering kesini" Nenek duduk di atas rumput yang tumbuh sangat rapih di sekeliling danau disusul Rea.


"Berapa hari kita disini?" Tanya Rea


"Terserah kamu aja. Kalau udah merasa baikan kita akan kembali ke kota" jawab Nenek


"Lusa aja Nek. 2 bulan lagi Rea akan ujian"


"Oh iyaa,cucu Nenek udah mau kelas 12" ucap Nenek sambil merengkuh Rea.


Rea melihat Kakek sedang berolahraga dipinggir danau.


"Biasa Kakek kamu. Tiap pagi selalu olahraga" ucap Nenek


"Nenek enggak?" tanya Rea


"Kan Nenek ngerjain pekerjaan rumah,sama aja olahraga". Rea mengangguk paham.


Matahari mulai muncul. Orang orang mulai banyak yang beraktivitas. Rea,Nenek dan Kakek memutuskan mencari sarapan sekalian berjalan pulang.


"Hai Pak Ady" sapa salah seorang warga ramah.


"Hai Wira apa kabar" tanya Kakek tak kalah ramah.


Mereka asik mengobrol.


"Bu Sharla?" tanya seorang ibu ibu. Terlihat sedikit lebih muda dari Nandine.


"Mega? Sudah lama sekali kita tidak bertemu"


"Iya. Ibu juga jarang sekali berkunjung kesini" mereka berpelukan singkat melepas rindu.


"Ini cucu saya namanya Andrea" Nenek memperkenalkan Rea pada Bu Mega.


"Andrea Tante" Rea menyalami Mega


"Cantik sekali. Sepertinya seumuran sama Raline ya?" ucap Mega.


"Iya,seumuran sama Raline. Ehh Raline mana? kok nggak kelihatan"


Baru saja Nenek selesai bertanya,seorang gadis cantik berambut panjang muncul.


"Mama,ini udah Raline siapin bekalnya--Ehh Nenek?" Raline langsung menyalami Nenek.


Lalu menatap Rea.


"Raline,ini Andrea cucunya Nenek Sharla" Mega memperkenalkan Raline pada Andrea


"Andrea" Rea mengulurkan tangannya disambut baik oleh Raline.


"Raline" balas Raline. Raline tersenyum manis sekali.


"Rea,Raline ini gadis yang sangat pintar. Dia dapat beasiswa untuk bersekolah di kota" Nenek memuji Raline. Tidak berlebihan karena itu memang benar. Raline tampak tersenyum malu.


"Kamu nggak sekolah?" tanya Rea bingung karena ini bukan weekand atau hari libur. Tapi kenapa Raline ada disini?


"Nggak,aku ijin beberapa hari. Kangen sama Mama sama Papa" ucap Raline sambil memeluk Mega. Terlihat sangat manja sekali.


"Raline kamu bisa temenin Andrea selama dia disini?" tanya Nenek.


"Tentu saja. Raline akan temenin Andrea jalan jalan" ucap Raline.


***


Rea mengemasi barang barangnya,hari ini sudah waktunya ia pulang ke kota.


Kamarin Rea seharian jalan jalan bersama Raline. Mereka banyak bercerita. Raline menceritakan tantang sekolahnya dikota begitupun dengan Rea.


"Sudah semua?" tanya Nenek


"Sudah Nek" jawab Rea.


Mobil mulai berjalan meninggalkan halaman villa.


5 jam kemudian


Mereka sudah sampai dirumah Kakek dan Nenek.


Rea langsung menuju kamar yang sudah disiapkan Nenek khusus untuknya,menyiapkan barang untuk ia bersekolah besok dan istirahat.


***


"Dari mana aja kamu 3 hari gak sekolah?" tanya Gavin saat jam istirahat. Mereka sedang berjalan di koridor kelas menuju kantin. Rea memeluk lengan kiri Gavin.


Gavin adalah sahabat Rea dari SD hingga sekarang. Jika ada yang bilang bahwa 'Cowok dan Cewek tuh nggak bisa murni bersahabat' mungkin tidak berlaku untuk mereka. Dulu mereka sama sama mengikuti perguruan beladiri,berlatih sajam dan senjata api. 8 tahun bersama tak ada rasa yang muncul selain rasa sayang sebagai sahabat.


"Kangen sama aku?" Rea menaik turunkan alisnya.


"Vin nanti pulang sekolah aku mau bicara sama kamu" ucap Rea dengan nada serius.


"Oke" balas Gavin.


***


Gavin dan Rea sudah berada di sebuah cafe yang tak jauh dari sekolah. Rea dan Gavin duduk bersebrangan.


"Aku di usir" ucap Rea pelan sambil menunduk menatap minuman di atas meja.


Gavin menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu serius?"


"Iya"


"Kenapa?"


"Itu semua karena Shella. Dia udah kasih bukti palsu ke Papa".


Shella,tentu saja Gavin mengenalnya. Mereka pernah menjadi teman sekelas waktu kelas 7. Gavin tau bagaimana liciknya otak Shella.


"Bukti palsu? Bukti apa?"


"Jadi 1 minggu yang lalu Kak Chitra kecelakaan


flashback on


Suara tangis terdengar dari rumah duka. Malam itu semua orang orang penting berkumpul dirumah Pak Rudi.


Shandy adalah salah satu kolega bisnis Rudi sekaligus sahabat Rudi sewaktu SMA.


Shella tak henti hentinya menangis di hadapan Rudi dan Tantri mamanya.


Rudi dan Tantri di kabarkan meninggal karena kecelakaan. Saat ingin melintasi rel kereta api tiba tiba mobil yang mereka tumpangi tidak bisa bergerak dan kereta semakin mendekat. Akhirnya terjadilah kecelakaan yang merenggut nyawa ke dua orang tua Shella.


"Pa,Kak Chitra katanya nggak enak badan. Mau pulang duluan dia" ucap Rea sedikit berbisik pada papanya.


Papa hanya mengangguk.


Kebetulan Mama dan Papa berbeda mobil dengan Rea dan Chitra.


21.00


orang orang sudah mulai pulang kerumah masing-masing. Shandy mengajak Shella untuk tinggal bersama karena hanya ada pembantu dan supir yang ada dirumah itu.


kedua orang tua Shella tak memiliki saudara begitupun Shella. Nenek dan Kakeknya sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Shella hidup tanpa keluarga sekarang. Maka dari itu Shandy mengajak Shella untuk tinggal di rumahnya. Shella hanya mengangguk.


Ia mengemasi barang barangnya dan ikut pulang ke rumah keluarga Shandy.


Saat perjalanan pulang mereka melihat sebuah mobil putih menabrak sebuah pohon besar dipinggir jalan. dan ternyata itu adalah mobil Chitra.


Chitra sudah dibawa kerumah sakit terdekat sekitar 1 jam yang lalu oleh warga sekitar.


Chitra mengalami koma dan belum sadar hingga sekarang.


flashback off


Terus aku diusir karena bukti palsu yang dia buat" ucap Rea mengakhiri ceritanya.


Sebisa mungkin Rea menahan tangisnya. Gavin pindah duduk kesebalh Rea dan memeluknya dari samping berusaha memberi ketenangan untuk Rea.


Rea tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia menangis dalam dekapan Gavin membuat seragam Gavin basah oleh air matanya.


Rahang Gavin mengeras mendengar cerita Rea.


Mengapa Shella setega itu? padahal keluarga Rea baik sekali ingin menolongnya. Dasar nggak tau diri. Gue akan buat Shella membayar perbuatannya. Cepat atau lambat.


Ucap Gavin dalam hati.


Gavin mengelus pundak dan rambut Rea. Rea masih menangis membuat Gavin kewalahan. Pasalnya Rea tidak pernah menangis sesendu ini. Membuat siapapun yang mendengar ikut tersayat hatinya.


"Udah ya,dia bakalan tanggung akibatnya. Aku jamin" ucap Gavin sungguh sungguh.


"Kamu janji?" Rea mendongak menatap Gavin.


"Iya aku janji"


_____________________________________


Halohaa semuanyaaa apa kabar? baik?


Gimana puasa kalian? lancar?


Alhamdulillah kalo iya😊


udah hari keberapa quarantine sekarang?


stay safe ya semuaa.


jangan lupa like,comment and vote ya guyyss


Kritik dan saran jugaa. Karena itu semua sangat membantu Al untuk menulis cerita ini.


Terimakasih.


_______________________________


Follow me on instagram @alyaaguzaen


Salam sayang author❣