The Leader Of Mafia

The Leader Of Mafia
Orang tua angkat?



Terus dukung Al untuk menyekesaikan cerita ini dengan cara memberikan vote, like, komen,saran dan kritiknya yaa.


Enjoy!!


____________________________________________


3 minggu telah berlalu sejak ia melihat foto keluaraga diruangan managernya yang membuat Rea sangat syok. Ia sudah mulai berkuliah dan menjalankan tugasnya sebagai mahasiswi di Hamburg University.


Hari ini adalah hari libur dan Rea sedang membereskan pakaiannya. Ia memasukkan sebagian pakaian kedalam koper dan membawa barang seperlunya.


"Udah siap?" tanya Gavin yang tiba tiba sudah berada di belakang Rea. Rea mengangguk.


"Dia udah dateng, aku tanya sekali lagi sama kamu, apa kamu serius mau tinggal sama mereka?" tanya Gavin.


"Iya, lagi pula Nenek, Kakek, kamu, dan Cassey udah setuju"


Gavin menghela napas "Baiklah, ayo turun".


"Reaaa, ihh aku ikut seneng lohh". Saat Rea turun dari tangga, tiba tiba Cassey yang baru datang memeluknya.


Seorang pria yang duduk di sofa ruang tamu segera berdiri dan mengancingkan jas yang dikenakannya.


"Ayo Rea". Rea mendekat kearah pria itu. Jhon, namanya Jhon.


"Kalian juga, ayo ikut" ajak Jhon. Rea, Gavin dan Cassey segera membuntutui Jhon.


Flashback on


"Apa ini? siapa dia?" tanya Rea saat melihat foto keluarga di ruangan Jhon, managernya.


Siapa dia? Kanapa dia sangat mirip denganku? Rea bertanya tanya dalam hati saat melihat sorang gadis dengan mata sayu dan wajah yang sedikit pucat di foto itu.


"Kamu kaget?" Jhon malah balik bertanya.


"Sama, itulah yang saya rasakan saat pertama kali melihat kamu, waktu kamu mengikuti lomba balap ilegal".


"Waktu itu saya pikir hanya salah lihat, mungkin karena rasa rindu yang terlalu dalam, tapi saat kedua kali melihat kamu, saya sangat yakin kalau waktu itu saya tidak salah melihat" sambungnya. Rea hanya diam mendengarkan.


"Dia, Haico anak saya, Haico telah meinggal setahun yang lalu karena sakit dan foto ini diambil sebelum ia meninggal" jelas Jhon.


Sedangkan Rea hanya diam, rasanya nano - nano, kaget bercampur sedih menjadi satu.


Sejak saat itu, mereka menjadi lebih dekat layaknya bapak dan anak.


1 minggu setelahnya, Jhon ingin agar Rea mau menjadi anak angkatnya. Rea tidak secepat itu memutuskan, ia bertanya pada Nenek, Kakek yang berada di Indonesia, serta Gavin dan Cassey.


Mereka semua menyerahkan semua keputusan pada Rea, kecuali Cassey, ia membujuk Rea agar mau menjadi anak angkat Jhon.


"Ayolah Re, kamutuh berhak untuk mendapat kasih sayang orang tua lagi. Kamu pasti kangen kan dimasakin sama Mama kamu, diajak jalan jalan sama Papa kamu" ucap Cassey dan Rea hanya mendengarkan.


"Kalo kamu mau, kamu akan merasakan hal itu lagi. Lagi pula keluarga mereka itu orang yang baik kok. Om Jhon itu temennya Daddy aku, dan kamu masih ingetkan sama Om Jack". Rea mengangguk.


"Om Jack sama Om Jhon itu, mereka saudaraan, dan keluarga aku kenal baik sama keluarga mereka, jadi kamu nggak perlu takut". Sambung Cassey.


"Jadi kamu mau yaa?". Rea berdehem mendengar pertanyaan Cassey. "Aku pikir pikir dulu ya" jawab Rea dan Cassey hanya mengangguk.


setelah seminggu memikirkan, akhirnya Rea memutuskan untuk mau menjadi anak angkat Jhon dan istirnya, Cassey yang paling senang mendengar kabar ini.


Dan hari ini adalah hari yang paling ditunggu tunggu semua orang terutama Cassey.


Flashback off


***


Saat mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang yang tinggi menjulang di kawasan perumahan elite di Hamburg, Rea tak henti hentinya berdecak kagum.


Rumah Jhon sangat sangat mewah dan megah. Bahkan lebih megah dibandingkan rumah orang tua kandungnya.


Saat memasuki gerbang, mereka harus melewati jalan yang ada air mancur berbentuk bulat ditengahnya membuat jalan itu menjadi melingkar. Dikiri dan kanan jalan terdapat taman bunga yang begitu asri, rumput hijau, dan pepohonan yang menjulang tinggi membuat udara diarea rumah menjadi sejuk.


Bahkan dari gerbang menuju pintu utama mereka harus menempuh jarak sekitar 1 kilometer. Wahh apa daya kita yang buka pintu langsung melihat jalan raya :').


Terdapat beberapa paviliun disepanjang jalan menuju pintu utama. Akhirnya setelah beberapa menit, mereka sampai dipintu utama.


"Mommy, coba lihat siapa yang datang" Teriak Jhon dari depan pintu.


Seorang wanita berumur sekitar 40 tahun keatas yang masih tampak awet muda menuruni tangga saat dipanggil oleh Jhon.


"Cassey, lama nggak kesini," Rose tersenyum "ini siapa?" tanyanya sambil menunjuk kearah Gavin.


"Gavin tante, temennya Cassey dan Andrea" jawab Gavin.


"Rea" Gavin menarik Rea yang sedari tadi bersembunyi dibelakang Gavin.


Entah kenapa, tapi Rea sangat gugup. Rea keluar dari persembunyiannya. Saat Rea menampakkan wujudnya,


PRANK, suara gelas terjatuh, semua menengok kearah sumber suara. Seorang pelayang berdiri dengan wajah terkejut melihat Rea.


"Non, nona Haico?" gumam pelayan tersebut terbata bata.


"Hei, jangan menatapnya seperti itu, dia jadi takut" tegur Rose.


"Maaf tuan, nyonya, saya akan bereskan" pelayan itu kembali kedapur dan membawa kain pel untuk membereskan gelas yang pecah berisi minuman.


Saat ini mereka sedang duduk disofa ruang tamu. "Jadi kamu yang namanya Andrea?" tanya Rose yang duduk disebelah Rea. Rea mengangguk.


"Kamu mirip sekali dengan Haico, anak saya" Rose berdiri dan mengajak Rea kesebuah kamar.


Saat Rea dan Rose sudah naik keatas, menuju kamar, Gavin berdiri hendak pulang.


"Saya pulang dulu" ucap Gavin, Jhon mengangguk. "Nanti supir saya yang antar".


"Cassey mau ikut keatas ya Om" ucap Cassey.


"Boleh" jawab Jhon, dan Cassey langsung berlari mengjar Rose dan Rea.


***


Rea dan Rose berdiri didepan sebuah pintu berwarna silver, yang sepertinya terbuat dari emas putih asli dengan ukiran yang sangat menawan. Sedangkan disebrangnya terdapat satu pintu berwarna gold, yang terbuat dari emas asli juga. Rumah itu memang dominan berwarna gold dan silver.


Saat pintu itu dibuka, tampaklah kamar yang sangat luas. Sebuah kasur king size, 1 tv lcd berukuran 80 inch tergantung pas didepan kasur king size-nya. Satu set sofa lengkap dengan mejanya, lemari kaca yang berisi berbagai macam miniatur, mulai dari miniatur alat transportasi, icon di berbagai negara, dan banyak lagi.


Terdapat meja belajar disudut ruangan, ada laptop, komputer, lampu belajar, sebuah speaker lucu, alat tulis, semuanya lengkap.


Dibawah meja terdapat satu kotak berisi piringan hitam yang jika diputar akan mengalunkan lagu lagu The Beatles.


Didekat meja itu terdapat kanvas untuk melukis dan rak gantung tempat menyimpan alat lukis. Alatnyapun sangat lengkap, mulai dari palet, pewarna, kuas, pisau palet dan lain lain.


Berbagai macam lukisan, foto dan poster The Beatles menghiasi dinding. Ada sebuah lukisan yang paling besar terletak tepat berada diatas kasur. Lukisan besar tersebut diberi frame yang terbuat dari mas putih asli dengan berbagai ukiran. Dibawahnya terdapat tulisan


'Haico Lavia Mooures' yang diukir.


"Dulu Haico senang sekali melukis, dan ini" sambil menunjuk kearah lukisan terbesar dikamar itu "Ini adalah lukisan Haico, dia melukis dirinya sendiri" ucap Rose.


Saat itu Cassey masuk kekamar, "Wuaaahhhh kamar Kak Hai besar banget tante" Cassey sampai terkagum kagum, karena dia memang belum pernah masuk kekamar ini. Saking besarnya, kamar ini memerlukan lebih dari 1 ac sebagai pendingin.


Rose hanya tersenyum. "Yaampun Re, kamu emang mirip banget sama Kak Hai, cuma bedanya mata Kak Hai lebih sayu" Cassey mengamati wajah Rea dan Haico.


"Nanti Cassey mau bikin lukisan kaya gini juga deh, untuk dipajang dikamar"


Mereka kembali berjalan menuju walk in closet.


Terdapat walk in closet yang dapat terhubung ke kamar mandi. Lemari lemari besar yang terbuat dari kaca transparan menghiasi setiap sisi dinding, dari bawah sampai keatas. Beda lemari beda pula peruntukannya, ada yang khusus untuk sepatu dan sandal, ada yang khusus baju, tas, dan koleksi perhiasan yang terpajang rapi didalam lemari tersebut.


Ada satu kipas atap mewah yang lagi lagi berwarna silver dan list berwarna gold yang menempel di langit langit ruangan. Disudut ruangan terdapat pintu yang menghubungkan dengan kamar mandi.


Kamar mandinyapun sangat bagus, tempat shower dan bath up menyatu, dan terpisah dengan tempat wc. Bathup berbentuk bulat terbuat dari marmer, wastafel yang senada dengan warna bathup, juga terbuat dari marmer.


Semua tampak sangat mewah dengan didominasi warna silver dan gold.


Setelah selesai melihat lihat kamar yang sangat megah itu, Rea mulai menyusun barang barang yang tadi ia bawa keapartemen.


"Andrea, kamu sudah makan?" tanya Rose


"Sudah tante"


"Mulai sekarang kamu panggil Mommy ya"


"Dan panggil Om Jhon, Daddy" sambung Cassey. Rea hanya mengangguk.


Karena merasa sedikit lelah setelah mengelilingi kamar yang sangat luas dan membantu membereskan barang barang Rea, akhirnya mereka bertiga tertidur.


Jhon yang datang menyembulkan kepalanya dibalik pintu tersenyum sekilas melihat mereka bertiga dan keluar, kembali menutup pintu.


DARI SINILAH PERJALANAN ANDREA MENJADI SEORANG MAFIA DIMULAI.


____________________________________________


Hai haiii guyss apa kabar semuanya?


Gimana menurut kalian untuk part ini?


Wooaahhh pengen nggak punya kamar kaya Kak Hai (Haico)? Siapa sihh yang nggak mau yakaann?


Bekerja keraslah sampai kalian bisa membuat kamar dengan pintu berbahan emas putih asli - hiyaaaaa. aamiin.


untuk pertanyaan bab kemarin:


Al inikan judulnya The Leader of Mafia? kok nggak ada cerita mafianya?


Jawab: Rea itu jadi mafia setelah dia ketemu sama orang tua angkatnya. coba dehh kalian baca lagi sinopsisnya sampai habis, terus pahamin. okee?


Vote, like, komen, kritik dan saran dari kalian sangat membantu Al untuk terus mengembangkan cerita ini.


Salam sayang author💜


____________________________________


Follow me on instagram @alaguzaen