
Hai guys, sebelumnya aku mau ngucapin Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia ke 75 tahun. Waahh nggak kerasa ya udah 75 tahun bangsa Indonesia meredeka, tentunya berkat kerjakeras para tokoh tokoh nasional dan doa dari semua rakyat Nusantara.
Dulu, para pahlawan sudah berjuang susah payah untuk memerdekakan Indonesia, dan sekarang adalah saatnya kita untuk menjaga kemerdekaan yang sudah diraih oleh para pahlawan. Jangan sampai perjuangan mereka hancur dalam sekejap karena tidak ada lagi rasa nasionalisme yang tumbuh didalam diri kita. MERDEKA!
Sekian dari aku, saatnya kita masuk kecerita.
Enjoy!
____________________________________________
PMI. Apa itu PMI? Jika kalian berfikir bahwa PMI adalah suatu organisasi kesehatan, Tentu saja bukan. Lalu apa? Nanti kalian akan tahu.
Saat ini Rea, Jhon dan Rose sedang duduk dimeja makan menikmati makanannya. Sarapan di hari minggu, membuat mereka tak perlu terburu buru menghabiskan makanan mereka. kurang lebih sudah 1 minggu Rea berada dirumah yang sangat mewah ini.
"Daddy" panggil Rea, Jhon menoleh
"Apa itu PMI?" Rea yang sudah sangat penasaran saat melihat lambang Mooure's Motorcycle X PMI yang tergantung di dinding berhadapan langsung dengan pintu, membuatnya mau tak mau melihat lambang itu saat masuk rumah. Akhirnya ia menanyakan hal itu.
Mendengar pertanyaan Rea, Rose menghentikan kegiatan makannya.
"Setelah makan, kamu ikut Daddy"
"Kemana?"
"Kamu akan tahu nanti"
***
Mobil yang ditumpangi oleh Rea dan Jhon berhenti didepan sebuah bangunan yang tampak seperti gudang bekas yang sudah lama terbengkalai.
"Tempat apa ini?". Bukannya menjawab pertanyaan Rea, Jhon langsung menarik Rea masuk kedalam.
Didalam Rea melihat banyak sekali rak rak ringgi dengan kardus yang disusun rapih, lantai yang bersih, semuanya terlihat jauh berbeda dengan yang ia lihat dari luar.
Banyak orang orang berbadan besar dan berwajah oriental didalam ruangan ini.
Cetaarrr
"Aaakkhhhh tolong ampuni aku" suara rintihan seorang wanita terdengar dari dalam ruangan.
"Daddy?" Rea memandang Jhon, wajahnya sedikit takut.
Jhon merangkul Rea agar rasa takutnya sedikit berkurang. "Perhatian semuanya, kemari" semua orang menghentikan pekerjaannya dan mulai berkumpul. Seorang pria bertubuh besar dan tegap, berwajah sangar keluar dari sebuah ruangan sambil membawa cambuk ditangannya, terlihat bercak darah di tangan dan bajunya.
Semua orang disana terlihat sangat terkejut.
"Perkenalkan dia adalah anak saya"
"Nona Haico?" seorang perempuan yang rambutnya dikuncir, memakai jaket kulit hitam dengan tulisan PMI di belakang dan lambang PMI di bagian dada sebelah kiri.
"Namanya Andrea, tidak usah banyak bertanya. Saya harap kalian bisa memperlakukannya sama seperti kalian memperlakukan Haico" ucap Jhon. Semua mengangguk mengerti, tak ada satupun yang berani bertanya.
"Diandra, ceritakan semua tentang tempat ini pada Andrea". Perempuan yang tadi, maju dan mengajak Rea berkeliling ruangan.
"Dulu tempat ini adalah gudang yang sudah lama tak dipakai, tapi aku tidak begitu tau, digunakan untuk apa gudang ini dulu" Diandra memulai ceritanya.
"Sampai akhirnya Mr. Jhon membeli bangunan ini dan memindahkan markas besar PMI di Jerman, tapatnya 2 tahun yang lalu". Rea menoleh saat mendengar kata PMI.
"Apa itu PMI?"
"Kamu tidak tahu?" melihat Rea yang diam saja membuat Diandra menjelaskan tentang PMI.
"PMI adalah singkatan dari Persatuan Mafia Indonesia" Rea menganga, "Mr. Jhon adalah ketua PMI saat ini" ucapan Diandra tentu saja membuat Rea sangat terkejut, apalagi saat mengetahui bahwa orang yang baru seminggu ini menjadi Daddynya adalah seorang ketua mafia.
"A..apa kamu bercanda?"
"Tentu saja tidak" Diandra mengajak Rea masuk kesuatu ruangan dan duduk dikursi sofa.
"10 tahun yang lalu ada seorang lelaki dari Indonesia bernama Mr. Jasson. Saat Mr. Jasson mendirikan PMI, ia ingin hanya orang Indonesia yang bisa masuk kedalam kelompok mafia ini". Seorang pelayan perempuan masuk kedalam ruangan mengantarkan 2 gelas minuman, membuat ucapan Diandra terhenti.
"Awalnya Mr. Jasson memberi nama King Blood untuk kelompok mafia yang ia dirikan, tapi setelah 1 tahun berlalu, Mr. Jasson membuat kesepkatan pada semua ketua mafia Indonesia yang ada diseluruh dunia untuk bersatu. Sejak saat itulah didirikannya PMI atau Persatuan Mafia Indonesia".
Diandra berdehem sebentar, "Mr. Jasson adalah orang pertama yang memimpin PMI di Jerman, dan digantikan oleh Mr. Jhon 5 tahun yang lalu"
Diandra mengambil gelas diatas meja dan meminum isinya. Berbicara panjang lebar membuatnya haus. "Sekarang PMI sudah ada dimana mana, hampir disetiap negara di dunia ada PMI.
Di jerman, ada 5 kelompok mafia yang tergabung dalam PMI. Setiap kelompok mafia yang didirikan oleh orang Indo akan langsung bergabung ke PMI".
"Bagaimana jika ada kelompok mafia Indonesia yang tidak bergabung ke PMI?" tanya Rea, ia berusaha mengulik sedikit demi sedikit tentang PMI.
"Hanya ada dua pilihan, bergabung atau dimusnahkan secara perlahan" Diandra kembali meneguk minumannya.
"Sepertinya kau tahu banyak tentang PMI" ucap Rea.
"Yeah, tidak juga, aku baru bergabung sejak 3 tahun yang lalu. Tapi, Mr. Jasson sudah mempercayakan ayahku sejak pertamakali ia membangun kelompok mafia ini".
"Lalu dimana ayahmu?"
"Sayang sekali, ia sudah meninggal 2 tahun yang lalu saat menyelamatkan seorang wanita"
"Siapa wanita itu?" lagi, Rea berusaha untuk terus mencari informasi dari Diandra.
"Aku tidak tahu banyak tentang wanita itu, yang ku tahu, dia adalah perempuan Indonesia yang mungkin seumuran dengan mu Nona, dan kabarnya dia cukup dekat dengan cucu dari ketua PMI di Prancis, maka dari itu para musuh mencoba menggertak PMI melalui dia, tapi rencana itu digagalkan oleh ayahku. Malah ayahku yang terbunuh"
"Tapi Nona, kau tidak boleh membocorkan tentang PMI kesiapapun"
"Kenapa?"
"Karena PMI bersifat sangat rahasia, hanya segelintir orang para kelompok mafia dunia yang mengetahui tentang PMI"
"Mengapa masih segelintir orang yang mengetahui tentang PMI?"
"Mereka adalah anggota mafia yang dikeluarkan sebelum membuat kesepakatan bersama Mr. Jasson, karena mereka bukan orang Indonesia"
"Lalu?"
"Mereka di ancam untuk diam atau mereka akan binasa"
"Bagaimana dengan para penghianat?"
"Tertarik untuk melihat contohnya?" Rea mengangguk. Diandra membawa Rea kesebuah ruangan, diatasnya terdapat tulisan 'Ruang Penyiksaan' didalam ruangan itu terdapat beberapa pintu yang saling berhapadan, membuat ruangan itu terlihat seperti lorong.
"Didalam kamar ini, ada seorang wanita penghianat. Ayo masuk" Saat Diandra membuka pintu, terlihat seorang wanita yang tubuhnya dipenuhi dengan darah yang sudah mengering, wanita itu terus menangis. Sebelah kakinya diikat dengan rantai yang terdapat pemberat diujung rantai satunya.
Perempuan itu duduk diatas ranjang besi tua yang penuh dengan darah. Sekujur tubuhnya lebam karena luka cambuk dan bekas pukulan, juga terdapat banyak luka goresan. Sangat miris melihat kondisinya.
"Tolong, tolong ampuni aku, atau sekalian kalian bunuh saja aku" ucap wanita itu. Diandra mengangkat sebelah sudut bibirnya.
"Kanapa kau tidak memakan makananmu?" tanya Diandra saat melihat piring makanan yang belum tersentuh.
"Apa makanan ini terlalu layak untuk mu?"
Layak? apa ini yang disebut terlalu layak? bahkan makanan ini sangat jauh dari kata sehat,hem baunya pun sangat tidak enak. Batin Rea saat melihat makanan itu dikerumuni lalat. Terdapat beberapa buah busuk diatas meja dekat piring makannya.
"Ayo cepat makan" suruh Diandra. Perempuan itu menggelenag, "Tidak aku tidak mau".
"Ronny" Diandra berteriak memanggil seseorang. Yang dipanggil Ronny pundatang.
"Ada apa? apa ada masalah?"
"Suruh dia makan, cepat!" Diandra mundur, membiarkan Ronny menyuruh wanita tadi untuk makan.
"Habiskan ini" Ronny mengambil piring itu dan memasukkan makanannya secara paksa ke dalam mulut wanita itu.
Ternyata menyuruh dan memaksa itu beda tipis.
"Tolong jangan paksa aku untuk memakan makanan busuk ini"
"Kenapa kau selalu meminta tolong? apa mau pikir kami akan menolong mu? cepat habiskan dan jangan banyak bicara" bentak Diandra.
"Diandra, ayo kita keluar" ajak Rea.
Mereka keluar dan melihat kamar lainnya yang berseberangan dengan kamar tempat wanita tadi disiksa. Diandra kembali membuka pintu, dikamar itu hanya ada ruangan kosong berwarna putih.
"Ada 2 cara penyiksaan disini, secara fisik atau mental" Diandra mengajak Rea untuk masuk keruangan itu.
"Kami selalu menyuruh orang yang akan dihukum untuk memilih sendiri hukuman yang ia inginkan, tapi hanya ada 2 pilihan, fisik atau mental.
Dulu, ada seorang penghianat yang dihukum diruangan ini, dia berfikir bahwa dia bisa bertahan diruangan putih ini. Tapi tak lama, ia sudah menjadi seperti orang gila"
"Ya, aku pernah mendengar tentang hukuman ruangan putih, itu memang sangat mengerikan" ucap Rea bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi pada orang itu.
"Baiklah, sepertinya sekarang Nona sudah banyak tau tentang hukuman ini, jadi ayo kita keluar" ajak Diandra.
"Nona, kau harus terbiasa melihat orang orang yang dihukum seperti tadi, karena kau akan menjadi penerus Mr. Jhon"
"Apa? tidak, aku tidak mau. Satu lagi, berhenti memanggilku dengan sebutan 'Nona', panggil yang biasa saja"
"Tapi, Mr. Jhon menyuruh memperlakukanmu seperti kami memperlakukan Nona Haico, jadi kami harus memanggil..."
"Sudah, anggap saja itu sebagai permintaanku, berhenti memanggilku 'Nona' mengerti?"
"Baiklah" Diandra mengangguk.
"Oh ya, apa isi kardus yang ada di rak itu?"
"Itu isinya.."
"Rea, ayo pulang" Rea menoleh kearah Jhon dan mengangguk.
"Sampai jumpa lagi Diandra" Rea melembaikan tangannya dibalas Diandra.
***
Didalam mobil Rea masih memikirkan apa isi dari kardus itu.
"Daddy, apa isi dari kardus yang ada di rak rak tinggi itu?" tanya Rea pada Jhon.
"Kau akan tau nanti, setelah menjadi ketua PMI di Jerman" jawab Jhon.
Rea hanya mendengus, ia tak akan mau menjadi ketua dari kelompok yang sangat berbahaya.
Sampai dirumah, Rea melihat Rose sedang duduk diruang tamu bersama seseorang.
"Iya dia dari Indonesia" itu yang Rea dengar sebelum Rose menyadari keberadaannya dengan Jhon.
"Nah, itu dia" tunjuk Rose, tamu itu berbalik.
Siapa dia? kok mirip sama Daddy? apa dia yang disebut Mr. Jasson oleh Diandra? wahh udah tua yaa hihi. ucap Rea dalam hati.
"Kau memang sangat mirip dengan Haico, dan kau juga sangat pantas menjadi ketua PMI, menggantikan Jhon kelak" ucap Mr. Jasson.
Apa? tidak, aku tidak mau menjadi seorang ketua mafia. mengapa semua orang menginginkan ku menjadi ketua PMI?.
"Aku kekamar mandi sebentar" Rea berlari keatas menuju kamarnya.
"Hah, apa apaan ini? apa mereka hanya ingin menjadikan ku sebagai pengganti tuan Jhon? tentu saja aku tidak mau!"
Rea menarik nafasnya dalam, mencoba menenagkan pikirannya.
"Huh, tenanglah Rea, pekerjaanmu tak akan seburuk itu kelak" Rea berusaga menenangkan dirinya sendiri.
____________________________________________
Hai haii guyyss apa kabar?
Gimana untuk part ini?
Terus dukung Al dengan cara vote, like, komen saran dan kritik untuk mengembangkan cerita ini.
Terimakasih semuanyaa
Salam sayang author💜
____________________________________
Follow me on instagram @alaguzaen