
Kepala tengkorak itu memancarkan sinar ke hitaman dan membuat Lio Fang, Soma, Koga, Rayuho, Erena, dan Eden terhipnotis seketika.
Denggan pelan-pelan, kepala Lio Fang dan teman-temanya berdenyut seketika, membuat Lio Fang pingsan dan terlelep di atas lantai kuil iblis itu. Lio Fang terpejam, begitupun denggan yang lainya. Termenung, badan lemas, bahkan berdiri saja tidak mampu untuk menahan epek dari cahaya tengkorak itu.
Di alam bawah sadar, Lio Fang berada di sebuah kerajaan, kerjaan itu seperti tidak asing di mata Lio Fang. Lio Fang pun masuk ke dalam, tapi, belum sempat Lio Fang masuk, satu buah anak panah muncul di hadapan Lio Fang, untung saja, anak panah itu ngisil di bagian telingga Lio Fang, kalau tidak, tentu saja Lio Fang merasa kesakitan. Di atas atap istana, terlihat seorang wanita cantik, berbaju hijau, bertubuh ramping, berambut pirang, berbola mata ke kuninggan, sedang membawa sebuah busur panahan, senjata panah itu berkilauwan kebiruan, konon katanya, senjata itu adalah senjata kerajaan, senjata yang amat langka dan senjata yang sanggat mengerikan.
Kerjaan itu bernama kerajaan beladiri, kerajaan beladiri merupakan, kerajaan peninggalan roh nenek moyang milik Lio Fang, dahulu Lio Fang di besarkan di kota Loyi dan ketika menginjak umur 14 tahun, Lio Fang terpilih menjadi kaisar agung di kerajaan beladiri itu. Tapi.., salahnya ada seorang pemuda yang iri denggan jabatan Lio Fang, sehingga Lio Fang di pitnah dan di buang dari kerajaan beladiri itu.
Lio Fang di buang di sebuah hutan terlarang, di mana, tidak ada satu pun manusia yang ada di hutan terlarang itu, Lio Fang hanya sendirian, tidak makan, tidak minum, bahakan dia cuman bisa pasrah menunggu ajalnya tiba.
Tapi..., tuhan berkehendak lain, saat Lio Fang menyandarkan dirinya di satu batang pohon, iya pun di lihat oleh seorang tabib yang lagi mencari bahan herbal untuk obat-obattan.
Tabib itu pun menghampiri Lio Fang, sambil menanyakan di mana asal Lio Fang, dan mengapa Lio Fang bisa berada di hutan terlarang itu. Jawaban Lio Fang, hanya mengakatan kalau dia di usir dari kerajaan beladiri, dan di hukum di dalam hutan terlarang ini. Tabib itu pun kasihan melihat Lio Fang, tabib itu mengelus-elus punggung Lio Fang, sambil mengatakan" Ayo ikut aku" Reaksi Lio Fang tidak ada, Lio Fang cuman berdiam diri saja, sambil menundukkan mukanya.
"Ayo ikut aku?"
"Kemana?" Jawab Lio Fang denggan rasa Lesu, dari tata bicara Lio Fang, sudah terlihat kalau dia tersiksa, dan tidak makan berhari-hari, tabib yang di sebelah Lio Fang, merasa iba denggan keadaan Lio Fang, iya mengeluarkan satu bungkus roti, untuk di berikan kepada Lio Fang.
"Makan ini?" Tabib itu mengulurkan roti yang iya ambil di dalam sakunya.
Lio Fang pun terdiam, sambil menggulurkan tanggannya, denggan rasa malu-malu.
"Iya, ini buat kamu! makanlah, aku yakin kalau kamu, sedang kelaparan", Tabib itu mengulurkan kembali rotinya, denggan rasa bahagia, sambil membalas Lio Fang denggan senyuman manis. Lio Fang, tidak enak menolaknya, meski Lio Fang takut kalau itu racun, tapi.., dengan mata, dan tata kelakuan orang itu, adalah baik, dan bisa di percaya.
Lio Fang, mengulurkan tanggan kanannya, dan di ambilnya roti yang berada di tabib itu. Lio Fang mengambil roti itu denggan rasa bahagia, sambil merasa lega, kalau cacing di perutnya tidak mengamuk lagi, Lio Fang sudah berhari-hari kelaparan, berhari-hari menahan sakit, dan sekarang iya menemukan sebungkus roti, yang akan iya santap hari itu.
Lio Fang, memakan roti itu denggan lahap, bahkan iya tidak menyadari kalau ada orang yang memperhatikan Lio Fang makan, Lio Fang makan, sanggat comot, seperti anak-anak, Lio Fang sanggat kelaparan, iya pun lega ketika mendapatkan makanan dari tabib itu.
Setalah Lio Fang siap makan, iya pun mengeloleh ke depan, sambil mengatakan" Maaf, saya kelapan" Lio Fang pun malu, ketika iya menyadari kalau ada orang yang memperhatikan dia makan.
Reaksi dari Tabib itu, hanya santai saja, sambil tersenyum manis ke arah Lio Fang, dia pun mengatakan kepada Lio Fang" Iya tidak apa-apa," Tabib itu pun mendekat ke arah Lio Fang sambil mengelus-elus pungung Lio Fang.
"Sudah siap makannya?" tanya Tabib itu.
"Sudah"
"Kalau begitu! Ayo ikut aku ke suatu tempat.
"Kemana? Lio Fang penasaran denggan Tabib itu, Lio Fang takut, kalau Tabib itu macam-macam denggannya dan ingggin membunuh dirinya. Lio Fang pun mengambil langkah, setelah Tabib itu lenggah, Lio Fang pun pergi meninggalkan Tabib itu, Lio Fang berlari denggan kencang, ke arah hutan terdalam.