
Semilir angin sejuk menemani rombongan akademi Philia.
"Bukankah udara diluar ini tak sesegar udara si akademi Philia ?." ucap seorang murid.
"Udara dimana-mana itu sama." jawab seorang murid.
Seanna sendiri dapat mendengar obrolan murid-murid itu.
Sudah setengah hari mereka melakukan perjalanan ini, "Apa kalian tak lelah ?."
Para murid pun menjawab bersamaan.
"Tidak guru."
Seanna tersenyum mendengarnya, memanglah murid-muridnya itu sangat bersemangat saat keluar dari akademi.
"Dibukit depan ada sebuah desa, kita akan berhenti dan beristirahat disana nantinya." ucap Seanna.
"Apa kita akan makan makanan enak disana guru ?." tanya seorang muridnya.
"Benar." jawab Seanna.
Para murid pun bersorak senang mendengarnya, mereka sudah tak sabar merasakan makanan diluar akademi Philia.
"Kalau begitu bukankah kita harus cepat sampai disana ?."
"Apa kalian ingin bertaruh ? Yang terakhir sampai disana maka harus mentraktir dengan uang saku yang diberikan guru."
"Siapa takut ? Kalau begitu aku duluan."
Para murid-murid itupun saling memacu kuda yang mereka tunggangi.
Seanna dan beberapa guru lainnya hanya bisa menggelengkan kepala mereka.
"Apa kalian berdua tak ikut bertaruh ?." tanya Seanna pada Eldrian dan juga Dean yang masih berada dibelakang.
"Tidak guru, kami berdua harus melindungi guru." jawab Eldrian.
"Baiklah kalau begitu." ucap Seanna lalu melanjutkan perjalanannya lagi.
Eldrian terus memperhatikan jalan-jalan yang ia lewati.
Baginya dunia luar ini tak seindah yang dibicarakan teman-temannya yang sempat mendapat tugas untuk berlatih diluar.
"Pemandangan yang kulihat ini sama saja dengan yang kulihat di akademi Philia, kalau begini apanya yang indah ?." batin Eldrian.
"El....El...Eldrian!." panggil Dean.
Eldrian yang tadinya melamun pun akhirnya menoleh padanya.
"Ada apa Dean ?." tanya Eldrian.
"Apa kau akan menyembunyikan Halyna terus ?." tanya Dean.
Eldrian pun paham kalau temannya itu sangat tak sabaran kalau itu berhubungan dengan Halyna.
Eldrian pun merapal sebuah mantra dan tiba-tiba saja muncul seekor ular kecil yang sedang mengintip dibalik bajunya.
"Apa kau sudah puas ?." tanya Eldrian pada Dean sembari tersenyum.
"Terima kasih El." ucap Dean.
Halyna pun memperhatikan dunia luar dari balik baju Eldrian.
Ia sangat terkagum-kagum melihatnya.
"Wahhh....pohon-pohon disini sangat cantik, kudengar tadi didesa depan sana akan ada makanan enak, aku sangat menantikannya." gumam Halyna.
Tak berapa lama rombongan akademi Philia sudah sampai didesa.
Mereka sedang memburu makanan yang dijual oleh para pedagang dipasar.
"Aku akan membeli ini semua dan menyimpannya untuk Halyna nanti." ucap Dean pada Eldrian.
"Tenanglah Halyna, nanti aku akan merubah wujudmu." bisik Eldrian pada Halyna.
Eldrian sendiri sempat kebingungan karena ia diikuti oleh para wanita, namun entah kenapa wanita-wanita itu akhirnya menjauh dan memperhatikan dirinya dari kejauhan.
"Sepertinya kau sangat populer El." ucap Dean.
"Ternyata wanita diluar seperti ini, pantas saja guru Seanna melarang semua penghuni akademi Philia menjalin hubungan dengan orang luar." ucap Eldrian.
"Pasti tak semuanya seperti ini El." elak Dean.
"Bergegaslah Dean, aku tak nyaman dengan pandangan mereka." pinta Eldrian.
Dean pun segera menyelesaikan aktivitas belanjanya, setelah itu mereka berdua pergi ke tempat sepi yang tak begitu jauh dari desa itu.
Halyna pun keluar dari balik baju Eldrian, dalam sekejap ia merubah wujudnya menjadi manusia.
"Tuan." ucap Halyna.
"Terima kasih Tuan Dean." ucap Halyna dengan mata yang berbinar-binar.
Eldrian memperhatikan kedua orang terdekatnya itu yang tengah asyik menikmati makanan.
"Jarak desa ini ke akademi Elvern masih begitu jauh, aku benar-benar tak sabar tiba disana dan memenangkan perjamuan suci." batin Eldrian.
"Tuan Dean apa di akademi Elvern banyak makanan enak juga ?." tanya Halyna.
"Aku tak tahu, namun aku pasti akan mencari makanan enak untukmu nanti." jawab Dean dengan tulus.
"Terima kasih Tuan." ucap Halyna.
"Halyna...kenapa kau berhenti memanggilku kakak ? Rasanya sangat canggung saat kau memanggilku Tuan." ucap Dean.
"Kau kan teman Tuanku, sangat tak sopan kalau aku memanggil anda kakak." jawab Halyna.
"Huhhh....aku berharap kau bisa memanggilku dengan sebutan kakak lagi." ucap Dean.
Halyna terdiam mendengarnya, sebenarnya ia juga ingin memanggil Dean dengan sebutan kakak lagi.
Hanya saja Seanna memarahinya tanpa Eldrian ketahui, Seanna tak ingin ia berpaling dari tugasnya.
Padahal Halyna tak pernah berniat seperti itu, baginya Eldrian adalah segalanya. Karena kalau sampai Eldrian mati maka ia juga akan mati.
"Ayo kita kembali ke rombongan, kalau kita berlama-lama disini yang lain bisa kebingungan." ucap Eldrian.
"Sayang sekali padahal aku ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Halyna." ucap Dean.
Eldrian pun merapal sebuah mantra lagi dan Halyna pun tak berwujud manusia lagi.
Begitu kembali, rombongan Philia pun melanjutkan perjalanannya lagi menuju akademi Elvern.
Tak disangka matahari pun sudah tenggelam dan digantikan oleh bulan.
Berhiaskan bintang-bintang dilangit, rombongan akademi mendirikan tenda ditengah hutan.
Beberapa siswa juga merapal sebuah mantra dan membuat jimat agar saat mereka beristirahat tak di usik oleh iblis-iblis usil dan jahat.
Hari pun semakin larut, Eldrian tak dapat menahan rasa kantuknya lagi.
"Sepertinya semua sudah beristirahat, aku harus segera tidur juga." batin Eldrian.
Eldrian pun menutup kedua matanya agar cepat tertidur dan memasuki dunia mimpi.
"Ughhh....."
"Mama...."
"Papa...."
"Jangan meninggalkanku...."
Seanna terus memperhatikan Eldrian yang tengah meracau dalam tidurnya.
Ia pun merapal sebuah mantra agar suaranya dan juga Eldrian tak terdengar sampai keluar tenda.
"El bangunlah." ucap Seanna.
"Huhhh!!!!" Eldrian pun langsung membuka matanya, ia langsung duduk dan menyeka keringat di dahinya.
"Guru..." ucap Eldrian.
"Apa kau bermimpi buruk El ?." tanya Seanna.
Eldrian pun terdiam, ia sendiri tak tahu mimpi macam apa yang muncul dalam tidurnya.
"Aku tak tahu guru, ketika bangun aku sudah tak ingat lagi dengan mimpiku." jelas Eldrian.
Tatapan Seanna pun menjadi sendu, ia duduk disamping Eldrian.
Ia menyeka keringat didahi Eldrian dengan tangannya, "Apa kau sudah sering seperti ini El ?." tanya Seanna.
"Sudah lama aku seperti ini guru." jawab Eldrian.
"Kenapa kau tak memberitahuku El ?." tanya Seanna khawatir.
"Ini bukanlah hal yang penting jadi aku tak memberitahu anda guru." jawab Eldrian.
Seanna pun menggenggam tangan Eldrian dengan erat, "Apapun yang berhubungan denganmu itu sangatlah penting bagiku El, jadi jangan menutupi apapun dariku."
"Baik guru, aku pasti akan memberitahu apapun nantinya." jawab Eldrian seraya tersenyum.
Seanna pun mengelus lembut pipi Eldrian, "Tidurlah, aku akan merapal sebuah mantra agar kau bermimpi indah dan tak meracau lagi."
Setelah merapal mantra Seanna pun menyuruh Eldrian untuk segera beristirahat lagi.
"Guru, apa yang aku racaukan tadi ?." tanya Eldrian.
"Bukan sesuatu yang penting El, tidurlah, aku juga akan beristirahat." jawab Seanna.