The Demon Swordsman

The Demon Swordsman
BAB 10



Seanna yang sudah berada ditendanya pun merapal sebuah mantra.


Dan dalam sekejap ia sudah menghilang dari dalam tendanya itu.


Di tepi danau berdirilah seorang lelaki yang tak lain adalah Theo, pelayan pribadi Seanna.


"Nyonya.." ucap Theo setelah merasakan kehadiran Seanna.


"Apa saja yang kau dapatkan selama diluar Theo ?." tanya Seanna.


"Aku tak menemukan banyak hal Nyonya." jawab Theo.


Ekspresi Seanna pun berubah, raut mukanya menunjukan kalau ia sedang marah.


"Tak menemukan banyak hal ? Lalu apa saja yang kau lakukan selama ini Theo ?!." tanya Seanna.


Theo pun mendekati wanita itu, diraihnya tangan mungil milik Seanna, ia menggenggamnya dengan erat.


"Nyonya...aku sudah memastikan kalau perjamuan ini akan dimenangkan Eldrian, tak ada murid dari akademi lain yang sehebat Eldrian." ucap Theo.


"Apa kau yakin Theo ?." tanya Seanna dengan suara lembut.


Theo pun mengangguk, ditempelkannya tangan Seanna ke wajahnya.


"Kalau begitu aku tak perlu mengkhawatirkan apapun." ucap Seanna.


"Benar....Nyonya bisa bersantai nantinya, akademi Philia juga akan menjadi akademi nomer 1 sesuai impian anda." jawab Theo.


"Bersantai ? Kurasa aku tak akan bisa bersantai lagi Theo, kau kan tahu tanggung jawabku sangatlah besar." ucap Seanna sembari menarik tangannya.


Lagi-lagi Theo memandang Seanna dengan tatapan sedih.


"Seanna apa kau benar-benar tak bisa melupakan kejadian itu ? Kita sudah baik-baik saja sekarang Seanna." ucap Theo.


"Baik-baik saja ? Apa kau tak ingat Theo kalau dulu kita juga baik-baik saja, kita sangat bahagia tapi...tapi apa yang terjadi Theo ?." tanya Seanna.


Theo pun terdiam melihat Seanna histeris seperti itu.


"Mengapa kau diam Theo ? Kau tak bisa menjawab bukan ? Kejadian yang kau minta untuk kulupakan itu adalah saat aku bahkankau kehilangan orang-orang yang kita cintai!." teriak Seanna.


"Aku tahu itu Seanna, tapi sampai kapan kau akan terjebak dengan masa lalu ? Apa kau tahu aku tak suka saat kau menderita ?." tanya Eldrian.


"Memangnya kalau aku menderita kenapa ? Lebih baik aku menderita tapi aku bisa melindunginya Theo! Kalau sampai terjadi sesuatu padanya apa yang harus kukatakan pada kakakku Theo ?." tanya Seanna dengan berlinang air mata.


Theo pun merengkuh tubuh mungil Seanna kedalam pelukannya, ditepuknya dengan pelan punggung Seanna.


"Kau ingin dia melupakannya agar dia bahagia, kalau begitu mengapa kau harus ingat Seanna ?." tanya Theo dengan lembut.


"Karena ada kakakku di masa lalu itu Theo." jawab Seanna.


Sesudah Seanna tenang, Theo pun merapal sebuah mantra.


"Minumlah ini, malam ini sangat dingin." ucap Theo sembari memberikan segelas teh pada Seanna.


"Terima kasih Theo." ucap Seanna.


"Ahhh....hampir saja aku lupa menyampaikannya, saat aku pergi ke hutan Cinda aku tak menemukan iblis satupun." ucap Theo.


"Seolah ada yang mengusir mereka Nyonya." lanjut Theo.


Seanna pun menggeleng, "Sepertinya tak seperti itu Theo, pasti iblis-iblis itu dimusnahkan oleh seseorang."


"Apa mungkin para penyihir dan ksatria akademi Elvern yang memusnahkannya Nyonya ?." tanya Theo.


"Entahlah, setelah ini carilah informasi lagi Theo." perintah Seanna.


Theo pun mengangguk mengiyakan titah dari Seanna.


......................


Boomm...Boommm


Ledakan itu membuat banyak iblis terluka.


Seorang pria dengan jubah putih terus menerus menyerang iblis-iblis yang ada didepannya.


Ia memenggal kepala iblis-iblis itu dengan sangat cepat.


"Kau siapa ? K-kami tak pernah mengusik manusia jadi kenapa kau membunuh teman-temanku ?." tanya seorang iblis dengan suara gemetar.


"Tak pernah mengusik ? Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan iblis ? Kalian adalah makhluk paling jahat dan hina, sangat bodoh jika aku percaya pada kalian!." ucap lelaki berjubah putih itu lalu dengan cepat membunuh iblis-iblis yang tersisa.


Brukkk...


Lelaki berjubah itu langsung mengarahkan pandangannya pada sumber suara itu.


Dihadapannya kini ada iblis wanita yang tengah menggendong anak kecil.


Iblis itu membekap mulutnya sendiri, ia juga melihat iblis itu menangis.


"Apa iblis yang kubunuh tadi itu adalah salah satu iblis berharga bagimu ?." tanya lelaki itu.


Iblis wanita itu hanya diam, ia sangat ketakutan, ia sadar kalau manusia didepannya ini sangatlah kuat.


"Jawablah iblis!!." bentak lelaki itu.


"Y-yya." jawabnya.


"Hahahaha...iblis seperti kalian mengapa suka sekali berlagak seperti manusia yang penuh kasih dan cinta ?." ucap lelaki itu.


Iblis wanita itu semakin ketakutan, apalagi anak dalam pelukannya itu kini menangis dengan sangat kencang.


"L-lepaskanlah aku, kalau aku m-mati anakku tak akan bisa hidup." ucap iblis itu memohon.


"Hahahaha...lepaskan ? Mudah sekali kau berkata seperti itu!!." ucap lelaki itu sembari mengarahkan tangannya pada iblis wanita itu.


"Ukhhh."


Lelaki berjubah putih itu seolah menikmati aktivitasnya, meskipun iblis itu terus merintih dan memohon ia sama sekali tak peduli.


"Kalau kau sangat takut anakmu sendirian dan tak bisa hidup, maka aku akan membuatnya menemanimu mati detik ini juga." ucapnya.


"K-kumohon Tuan m-manusia." rintih iblis wanita itu.


"Aku tak akan pernah memberi seorang iblis kesempatan, karena kalian terus-menerus mengkhianatiku selama ini!." teriak lelaki itu.


Dalam sekejap iblis wanita itu pun musnah, ia bahkan juga benar-benar memusnahkan anak dari iblis itu.


Lelaki berjubah putih itupun pergi setelah memusnahkan iblis-iblis kecil itu.


Disisi lain Estrella masih didalam ruang hukuman milik keluarga Callia.


Ia tengah menulis surat pengakuan, entah sudah berapa ribu kertas yang sudah ia isi dengan coretan tangannya.


"Adik, apa kau benar-benar tak akan memberitahu ayah ?." tanya Evina yang khawatir dengan adiknya itu.


"Maaf kak, aku tak akan memberitahu ayah, karena bagiku ini juga bukan sihir terlarang, aku benar-benar bisa mengatasi sihir ini kak." jawab Estrella.


"Kalau begitu beritahu aku, setidaknya aku bisa menjelaskannya pada ayah." pinta Evina.


"Aku juga tak akan memberitahumu kak, maafkan aku." jawab Estrella.


Evina pun sangat sedih saat mendengarnya, ia selalu berpikir kalau adiknya itu tak akan merahasiakan apapun darinya.


"Estrella...." ucap Evina.


"Kak kalau kau terus merengek dan menggangguku seperti itu, aku tak akan selesai-selesai menulis ini semua." ucap Estrella.


"Baiklah, maafkan aku adikku." ucap Evina dengan menahan isak tangis.


Evina pun bangkit untuk meninggalkan Estrell sendirian.


"Kak, aku pasti akan memberitahumu nanti kalau aku sudah mendapat ijin, jadi kau jangan bersedih terus ya." ucap Estrella yang tahu kalau kakaknya itu menjadi sedih.


"Baiklah, janji ?." tanya Evina.


Estrella pun tersenyum saat mendengarnya, "Aku janji kak, setelah aku selesai menulis ini semua, ayo kita berlatih kak, aku ingin membuat akademi Elvern dan keluarga Callia bangga dengan memenangkan perjamuan suci." ucap Estrella.


Evina pun mengangguk senang saat mendengarnya.