The Demon Swordsman

The Demon Swordsman
BAB 6



Paginya Eldrian sudah berada di lapangan untuk berlatih dengan teman-temannya.


"Dean apa kau sudah menyiapkan semua keperluan untuk keberangkatan kita besok ?." tanya Eldrian ditengah-tengah latihan mereka.


"Aku sudah menyiapkan semuanya, oh iya El apa Halyna juga akan ikut nantinya ?." tanya Dean dengan suara pelan.


Eldrian pun mengangguk mengiyakan.


"Baguslah, aku akan mengajaknya bermain nanti." ucap Dean.


"Eldrian! Dean! Jangan mengobrol ketika berlatih!." teriak guru mereka.


Tak berapa lama latihan para murid akademi Philia telah berakhir. Mereka semua diperintahkan untuk berbaris dengan rapi.


Begitu Seanna tiba, mereka yang tadinya berisik menjadi diam agar.


"Latihan hari ini benar-benar bagus, inilah yang aku inginkan selama ini. Setelah ini kalian semua persiapkan barang-barang yang akan kalian bawa untuk perjamuan suci. Kita semua akan berangkat besok pagi." teriak Seanna.


Para murid langsung bersorak senang, tandanya kelas sihir dan juga latihan sore akan ditiadakan setelah ini.


Seanna pun juga tersenyum senang melihat murid-muridnya itu begity bersemangat.


"Ingatlah kalian semua jangan membuat akademia Philia malu nantinya." ucapnya sekali lagi.


Para murid akademi Philia pun mengangguk, setelah itu mereka dibubarkan, sedangkan Eldrian dan Dean masih berdiri ditempatnya.


"Apa ada yang ingin kalian sampaikan padaku ?." tanya Seanna pada kedua lelaki itu.


"Terima kasih guru." jawab Eldrian dan Dean bersamaan.


Dean sedang menunggui Eldrian yang tengah menyiapkan barang bawaannya.


"Apa kau hanya membawa itu saja El ?" tanya Dean yang heran dengan barang bawaan Eldrian yang sedikit.


"Memangnya apalagi yang perlu kubawa ? Kalaupun aku butuh sesuatu, aku bisa membelinya disana bukan ?." tanya Eldrian balik.


"Halyna bagaimana ?." tanya Dean lagi.


Eldrian pun mengatakan kalau guru Seanna telah menyiapkannya, sekarangpun Halyna masih bersama dengannya.


"Baguslah kalau guru Seanna sendiri yang menyiapkannya." jawab Dean dengan tersenyum tenang.


Eldrian yang sudah selesai menyiapkan barang bawaannya pun mengajak Dean keluar menuju bukit belakang akademi Philia.


Disisi lain Estrella tengah berlatih dengan pistolnya di lapangan akademi Elvern.


Rambut coklatnya yang tak dikuncir berkibar dengan indahnya karena tersapu angin.


Para siswa akademi Elvern yang melihatnya sangat takjub, Estrella amatlah cantik.


Sayang kemampuan sihir dan pedangnya yang buruk itulah membuat banyak pria mengurungkan niatnya untuk menjalin hubungan lebih dengan Estrella.


Dorr...dorr...dorr!!


Estrella terus-menerus menembak disaat siswa lain sudah selesai berlatih.


Mereka sejak tadi bertanya-tanya mengapa Estrella menggunakan sihir terlarang.


Darimana juga ia mempelajari sihir terlarang itu.


"Bukankah itu sihir terlarang ? Daritadi ia menggunakan darahnya sendiri sebagai senjata kan ?."


"Benar, ia merubah darahnya sendiri menjadi peluru."


"Darimana ia belajar sihir itu ? Bukankah baru semalam ia mendapat pistol itu ?."


"Sihir terlarang itu...apa dia mempelajarinya dari iblis ?."


"Maksudmu Estrella berguru pada seorang iblis."


Para murid-murid itu terus menggosipkan Estrella yang masih fokus berlatih.


"Lancang sekali kau berkata seperti itu! Apa kau menuduh keluarga Callia berhubungan dengan iblis ?!." ucap Evina dengan penuh amarah.


Sejak tadi Evina memang menguping pembicaraan mereka.


"Kenapa kalian diam saja ? Aku akan melaporkan ini pada ayahku agar kalian semua mendapat pelajaran!." ucap Evina lalu pergi ke arah Estrella.


Ia menghentikan Estrella dari latihannya dan mengajak adiknya itu pergi meninggalkan area latihan.


"Kak Evina...aku sedang berlatih." gerutu Estrella pada kakaknya itu.


"Apa kau tak ingin menjelaskan darimana kau belajar sihir ini Estrella ?." tanya Evina.


Estrella hanya terdiam mendengarnya, Evina pun menghembuskan nafasnya keras.


"Estrella kau harus menjelaskannya pada ayah dan ibu nanti, kau tahu kan sihir ini terlarang tapi kau malah menunjukannya dihadapan banyak orang...." omel Evina.


"Kak Evina kau tenang saja, aku berlatih ini juga agar bisa menang di perjamuan suci nanti." jelas Estrella.


"T-tapi kan..." ucap Evina.


"Kau tenang saja kak, sekarang aku akan berlatih lagi." ucap Estrella menenangkan kakaknya itu.


......................


Eldrian tengah merapal sebuah mantra dengan sangat fokus.


"Iblis ? Kau memanggil iblis El ?." tanya Dean yang terkejut dengan apa yang ia lihat.


Grhhh....grrrr


Iblis itu terus menggeram melihat Eldrian dan juga Dean.


"Aku tak memanggilnya Dean, semalam saat akan kembali ke kamar aku menemukannya disini, dia terluka jadi aku menyembunyikannya." jelas Eldrian pada sahabatnya itu.


"Terluka ? Ahhh....tidak...apa kau gila El ? Kalau sampai yang lainnya tahu ada iblis yang kau sembunyikan pasti kau akan dihukum." ucap Dean.


"Aku tahu tapi aku tak tega membiarkannya terluka dan mati begitu saja Dean, karena itu aku ingin meminta bantuanmu." ucap Eldrian.


Dean pun bingung, bantuan apa yang bisa ia berikan pada Eldrian ?.


Ia saja juga dalam bahaya karena perbuatan Eldrian ini.


"Aku minta bantuanmu untuk mengobati iblis itu Dean, aku tak sepandai dirimu dalam hal pengobatan." jelas Eldrian.


"Huhhh..." hela Dean.


Dean pun akhirnya mengangguk, mereka berdua pun berjalan mendekati iblis serigala itu.


Ggrrrrrr.....auuuu....


Iblis itu mencoba menyerang Eldrian dan Dean yang tengah mendekat.


"Tenanglah, temanku ini akan mengobatimu sehingga kau tak akan terluka lagi." ucap Eldrian.


Iblis serigala itu terus menggeram pada mereka berdua.


"Iblis ini bukan iblis lemah El." ucap Dean.


"Benar yang kau katakan Dean, karena itu pasti dia mengerti ucapan kita bukan ?." tanya Eldrian.


"Ukhhh!!!" pekik Dean.


Iblis serigala itu tiba-tiba saja menyerangnya, ia mencakar tubuh Dean dengan kuku-kukunya yang tajam.


"Dean!." teriak Eldrian.


Dengan cepat Eldrian pun menyerang iblis itu untuk menjauhkannya dari Dean.


"Kau tak apa Dean ?." tanya Eldrian dengan raut muka khawatir.


"Aku tak apa, hati-hati El cakar iblis serigala itu beracun." jawab Dean dengan suara lemah.


"Beracun ? Kalau begitu aku harus menyelamatkanmu dulu Dean." ucap Eldrian.


"Aku tak apa El, aku membawa potion yang bisa mencegah racun-racun itu menyebar." jawab Dean dengan menunjukkan potion itu pada Eldrian lalu meminumnya.


Namun setelah meminumnya Dean justru muntah darah dan teriak kesakitan.


Eldrian tentunya menjadi semakin khawatir, iblis itu sendiri justru semakin menggeram karena Eldrian mengeluarkan pedang dan menghunuskan pedang itu padanya.


Grrrrrr.....grrrrrrr


"Padahal aku meminta Dean untuk mengobatimu namun kau malah menyakitinya." teriak Eldrian.


"Aku tahu kau bisa berubah menjadi manusia, cepat beritahu aku cara menyelamatkan Dean!!."


Iblis itu justru semakin menggeram mendengar ucapan Eldrian.


Gruahhhhhhhh!!!!


Iblis itu berlari berusaha menyerang Dean lagi dengan cakarnya namun Eldrian berhasil mencegahnya.


Brukkkk!!!


Eldrian menghempaskan iblis itu dengan sihirnya.


Mata Eldrian pun bercahaya, ia juga mengeluarkan aura yang membuat iblis itu meciut ketakutan.


"Memohonlah kalau kau tak ingin mati!." ucap Eldrian.