The Demon Swordsman

The Demon Swordsman
BAB 3



Eldrian yang baru saja kembali ke kamarnya kembali mendapat cibiran oleh teman-temannya.


Namun lagi-lagi Eldrian hanya diam tak membalas perkataan mereka. Sampai pada akhirnya ada salah seorang murid yang meminta mereka untuk berhenti.


"Berhentilah membicarakan Eldrian kalau kalian tak sehebat dia." ucap lelaki itu.


Eldrian tentunya tahu siapa lelaki itu, dia adalah Dean Gavrill teman terdekatnya.


"Bagaimana keadaan lukamu Eldrian ?." tanya Dean.


"Hanya luka kecil, lagipula aku juga sudah mendapat obat dari guru Seanna." jawab Eldrian sambil menunjukkan obat yang ia terima tadi.


"Baguslah, lagipula kau juga harus cepat sembuh karena sebentar lagi akan ada sebuah perjamuan besar di benua Althias." ucap Dean dengan penuh semangat.


"Ya, kita tak boleh mengecewakan guru dan akademi Philia di perjamuan itu." jawab Eldrian.


Meskipun disebut perjamuan sebenarnya mereka harus saling bertarung untuk menentukan siapa yang terhebat dan pantas menjadi nomor 1.


Perjamuan itu sendiri dilaksanakan setiap 5 tahun sekali, Eldrian sendiri baru pertama kali mengikuti perjamuan ini karena ia belum cukup umur 5 tahun lalu.


Eldrian sendiri akan berusia 18 tahun beberapa hari lagi.


"Dimana kali ini perjamuan itu dilaksanakan Dean ?." tanya Eldrian.


"Kudengar kali ini di akademi Elvern, jaraknya cukup jauh dari akademi Philia,paling cepat membutuhkan waktu 3-4 hari untuk sampai disana dengan menunggang kuda." jelas Dean.


"Kalau begitu kita akan menghabiskan banyak waktu diluar akademi." ucap Eldrian.


Dean mengangguk mengiyakan ucapan Eldrian, "Ini pertama kalinya kita menghabiskan waktu lama diluar, kita harus bersenang-senang El." ucap Dean.


Pertama kalinya ?


Ya, murid di akademi Philia memang dilarang berkeliaran diluar meskipun hari libur. Mereka hanya boleh keluar saat melaksanakan tugas ataupun telah mendapat ijin dari Seanna.


"Baiklah, cepatlah beristirahat El." ucap Dean.


Eldrian pun berbaring diatas ranjangnya seusai mengoles salep pada lukanya.


Dipejamnkan matanya itu agar ia cepat terlelap dan memasuki dunia mimpi.


......................


Kediaman keluarga Callia...


"Selamat ulang tahun Nona Estrella."


"Kau bukan anak kecil lagi sekarang Estrella"


"Terima kasih sudah datang teman-teman." ucap wanita yang dipanggil Estrella itu.


Estrella Callia adalah anak bungsu di keluarga Callia, keluarga yang sangat tersohor di benua Althias.


Keluarga Callia banyak menghasillan penyihir dan ksatria hebat di setiap generasi.


Sayangnya di generasi ini kemampuan Estrella membuat keluarga Callia sedikit malu.


Estrella tak cukup pandai dalam sihir dan juga pedang. Apalagi ia juga suka membuat masalah karena perilaku nakalnya.


Walaupun begitu Estrella tetaplah disukai banyak orang karena ia gadis yang ramah dan juga baik hati.


"Adikku cepatlah kemari, aku sudah mengambil camilan enak untuk kau makan." ucap seorang wanita pada Estrella.


"Memang kak Evina yang terbaik." puji Estrella pada kakak perempuannya itu.


"Ini adalah kado yang khusus kupesan untukmu adikku." ucap Evina sambil memberikan sebuah kotak kado yang tak begitu besar.


"Apa isinya kak ?." tanya Estrella dengan penuh rasa penasaran.


"Bukalah sendiri Ella" jawabnya.


Estrella pun membuka kado itu dihadapan para tamu, begitu membukanya Estrella mengembangkan senyum diwajahnya.


"Sebuah pistol ?." tanya Estrella.


Estrella pun memeluk kakak perempuannya itu dengan sangat erat. Orang tua mereka dan juga para tamu pun ikut tersenyum melihat tingkah kedua nona muda dari keluarga Callia.


Disaat para orang tua tenga menikmati waktu untuk minum dan juga mengobrol.


Anak-anak muda pun juga tengah mengobrol membahas soal perjamuan yang sebentar lagi diadakan.


Perjamuan kali ini memang akan diadakan di akademi Elvern yang terletak di kota yang mereka tempati ini.


"Di perjamuan kali ini aku akan menunjukkan kehebatanku dan menarik perhatian para nona-nona muda yang cantik." ucap salah seorang tuan muda.


"Yah yang tercantik disini memang Nona Estrella tapi kita tak tahu bukan secantik apa wanita di akademi lain." sahut seorang pemuda lainnya.


"Secantik apapun wanita diluar sana tak akan ada yang mengalahkan kecantikan adikku ini." ucap Evina.


"Nona Evina memang selalu mengagungkan Nona Estrella." jawab mereka.


"Apa kau juga akan ikut serta dalam perjamuan itu nanti kak Evina ?." tanya Estrella.


"Tentu saja, aku yakin dapat mengalahkan mereka." jawab Evina dengan percaya diri.


"Kalau anda sendiri apa akan ikut serta nona Estrella ?." tanya salah seorang wanita.


"Entahlah, yang kupikirkan hanya bersenang-senang saat perjamuan itu berlangsung." jawab Estrella dengan polosnya.


Estrella hanya mendengarkan para tuan dan juga nona muda yang asyik mengobrol, dalam benaknya ia sangat ingin ikut serta dalam perjamuan itu.


Hanya saja ia sadar dengan kemampuan pedang dan juga sihirnya yang buruk bagaimana mungkin ia bisa menempati peringkat pertama ?.


Yang ada ia akan membuat keluarganya semakin malu karena mempunyai anak yang sangat bodoh.


Seusai acara berakhir Evina tengah membantu adiknya itu menghapus riasan.


"Mengapa kau terlihat sangat sedih Ella ? Apa pesta tadi tak menyenangkan ?." tanya Evina.


"Tentu saja menyenangkan, hanya saja...." Estrella tak dapat melanjutkan ucapannya itu.


Hufttt....


Ia menghembuskan nafas karena sangat kesal.


"Hanya saja apa Ella ?." tanya Evina yang penasaran dengan yang dipikirkan adiknya itu.


"Soal perjamuan di akademi Elvern nanti." jawab Estrella.


"Memangnya kenapa dengan perjamuan itu ?." tanya Evina lagi.


Estrella pun menjelaskan apa yang menjadi beban pikirannya.


"Aku kan sudah bilang akan kurobek mulut mereka yang berani menghinamu nantinya." ucap Evina yang terlihat kesal.


"Kak....perjamuan itu kan sangat besar, semakin banyak orang yang melihat kemampuan burukku, semakin besar juga rasa malu keluarga Callia." jelas Estrella.


"Aku tak pernah malu Estrella, lagipula kemampuanmu buruk juga karena kau malas berlatih, kalau saja kau rajin pasti kau akan lebih hebat dari mereka yang menghinamu." jawab Evina.


"Tapi kak...." belum sempat Estrella menyelesaikan ucapannya itu, Evina sudah memotongnya.


"Kau harus percaya diri Estrella, kalau kau tak percaya diri seperti ini yang ada keluarga Callia dan juga akademi Elvern akan sangat malu. Apa kau lupa kalau kau itu juga murid kebanggaan akademi Elvern ?." tanya Evina.


Estrella pun mengangguk, yang dikatakan kakaknya itu memanglah benar. Meskipun tak ahli dalam pedang dan juga sihir, namun Estrella sangat pandai dalam bidang ilmu pengetahuan.


"Apa besok kau bisa menemaniku berlatih kak ?." tanya Estrella.


"Tentu saja, besok aku akan menemanimu berlatih, sekarang kau harus cepat istirahat." jawab Evina dengan tersenyum manis pada adiknya itu.


Evina pun mencubit pipi adiknya itu, "Selamat malam Estrella."


"Selamat malam kak." jawab Estrella.


Seperginya kakaknya itu Estrella justru mengganti pakaiannya lagi dan pergi meninggalkan kediaman Callia diam-diam.