
5000 tahun telah berlalu, kini dunia menjadi damai tanpa gangguan iblis.
Meskipun iblis tak bisa dimusnahkan sepenuhnya entah karena alasan apa, namun hanya iblis-iblis kecil dan lemah saja yang selama ini terlihat oleh para manusia.
Akademi Philia
Terlihat beberapa orang murid yang tengah melawan seorang monster bertanduk, monster itu berukuran amat besar, ia juga bergigi tajam.
C*ri***nggg.....
Salah satu dari mereka menggunakan sebuah sihir untuk menyerang monster itu. Sayangnya usahanya itu gagal.
Serangan yang ia berikan tak berefek apapun pada monster itu. Monster itupun menyerang murid itu.
Dengan sekali serangan murid itu terlempar dari area pertarungan. Murid-murid yang lain pun juga sama saja, bahkan ada dari mereka yang lari terbirit-birit karena ketakutan.
Masuklah seorang laki-laki berambut hitam dan bermata emas, tampangnya sangatlah rupawan.
Boommm....
Ia mengeluarkan sihir ledakan untuk melukai monster itu, sayangnya serangan itu juga tak memberi efek apapun.
"Grrroahhhhh...." raung monster itu.
Lelaki bermata emas itupun merapal sebuah mantra dan muncullah sebuah pedang ditangannya.
Ketika monster itu berlari kearahnya ia berusaha untuk menahan serangan itu.
"Ahhhhhhhhh....." teriak lelaki itu.
Monster itu pun terlempar ke belakang, meskipun berhasil melempar monster itu ia juga mendapat luka ditangannya.
Seorang wanita yang duduk di luar area tersenyum senang, ia terlihat sangat bangga pada lelaki tersebut.
"Memanglah muridku itu sangat hebat." ucapnya.
Lelaki itupun merapal sebuah mantra lagi, ia mengarahkan pedang ditangannya ke atas.
Szzttt...szztttt
Muncul sebuah kilat di pedangnya, ia mengayunkan pedang itu ke arah monster, lalu ia merapal sebuah mantra lagi dan membuat monster itu terkapar.
Wanita tadi pun berdiri, ia bertepuk tangan dengan sangat keras.
Saat monster itu sudah disingkirkan, ia meminta murid-murid tadi berkumpul didepannya.
"Akademi Philia tak membutuhkan seorang murid yang lemah dan penakut." ucapnya.
Para murid dan guru-guru yang berada disitu pun terdiam.
"Bagaimana mungkin hanya Eldrian saja yang lolos dalam pelatihan ini. Aku masih menghargai kalian yang masih berusaha memberi perlawanan pada monster tadi, tapi untuk kalian yang kabur karena ketakutan.....kalian bukanlah murid dari Akademi Philia lagi." ucap wanita itu.
Murid-murid yang kabur dari pertandingan tadipun diseret keluar oleh seorang pengawas, mereka berteriak tak ingin dikeluarkan dan dimusnahkan kemampuannya.
"Guru Seanna ampuni aku."
"Ijinkan aku untuk mencobanya lagi guru."
"Jangan keluarkan aku guru Seanna."
Wanita yang dipanggil guru Seanna itu sama sekali tak menggubris teriakan murid-murid itu.
"Aku tahu kalau Eldrian mendapat keistimewaan karena aku melatihnya sendirian tapi bukankah aku juga melatih kalian semua meskipun bersama-sama ?." tanya Seanna.
Murid-murid itupun mengangguk mengiyakan pertanyaan Seanna.
Mereka memang dilatih bersama-sama oleh Seanna setiap dua kali seminggu.
"Seharusnya kemampuan kalian sudah sangat meningkat, Akademi Philia akan sangat malu mempunyai murid yang lemah." ucap Seanna sekali lagi.
"Senior Seanna meskipun begitu kemampuan murid-murid ini sudah cukup meningkat daripada sebelumnya." ucap salah seorang guru.
"Aku tak peduli, yang lolos kali ini hanyalah Eldrian, memanglah dia sangat cocok mewarisi akademi ini nantinya." ucap Seanna dengan penuh semangat.
Setelah itu Seanna pun pergi meninggalkan area pertarungan, para murid pun berbisik-bisik soal Eldrian yang selalu saja dipuji berlebihan oleh Seanna.
"Bukankah guru Seanna terlalu mendewakan Eldrian ? Dia selalu saja seperti itu kalau menyangkut Eldrian."
"Usaha sekeras apapun aku tetap saja yang dipuji Eldrian."
Eldrian yang mendengar itu hanya terdiam lalu pergi meninggalkan area pertandingan juga.
Ia melangkahkan kakinya menuju sebuah bukit yang tak jauh dari area pertandingan.
Ia merebahkan tubuhnya diatas rumput, ia memejamkan matanya itu.
Dihirupnya aroma rumput dan juga bunga yang tersapu angin.
"Sangat menyegarkan..." gumam Eldrian.
Eldrian pun membuka matanya, dipandanginya langit yang begitu indah.
"Akademi Philia...." gumamnya lagi.
Akademi Philia adalah salah satu akademi terkenal di benua Althias.
Akademi Philia sudah berdiri sejak 3000 tahun lalu, meskipun terkenal dan banyak diminati karena selalu menghasilkan ksatria-ksatria yang unggul akademi Philia tak mempunyai murid yang banyak.
Setiap tahunnya ia hanya menerima puluhan atau belasan murid saja. Sangat jarang sekali menerima murid dengan jumlah ratusan.
Tak ada yang tahu apa alasannya, apalagi mereka juga hanya menerima siswa laki-laki meskipun pemiliknya adalah seorang wanita.
Itulah mengapa ada desas-desus tak enak bahwa pemiliknya yakni Seanna ingin membuat harem untuk dirinya.
Eldrian pun segera bangkit dari lamunannya, ia harus segera menemui Seanna di kantornya.
"Guru." ucap Eldrian begitu menghadap Seanna.
"Akhirnya kau datang juga El." ucap Seanna.
Dilihatnya murid kesayangannya itu, ia memperhatikan tangan Eldrian yang terluka karena bertarung dengan monster tadi.
"Pakailah obat ini, meskipun tak lebar dan tak dalam, luka dari monster itu akan meninggalkan bekas yang sangat susah untuk dihilangkan." ucap Seanna.
Eldrian pun berterima kasih atas perhatian dari gurunya itu.
"Terima kasih guru." ucapnya.
"Berlatihlah dan teruslah bertambah kuat El, dengan begitu aku akan sangat senang dan tenang." ucap Seanna.
Eldrian pun mengangguk mengiyakan ucapan Seanna, memanglah ia tak boleh membuat gurunya itu malu.
"Ingatlah untuk selalu berhati-hati El, jangan sembarangan menjalin hubungan dengan orang diluar sana." perintah Seanna.
Setelah itu ia meminta Eldrian untuk segera beristirahat.
Seperginya Eldrian, Seanna memperhatikan sebuah foto yang ia keluarkan dari laci mejanya.
"Anda akan melubangi foto itu Nyonya." ucap seorang pria yang tiba-tiba saja muncul di ruangan Seanna.
Lelaki itu mendekat dan mengecup lembut punggung tangan Seanna.
"Theo." ucap Seanna dengan tersenyum senang.
Lelaki yang ia panggil itupun kembali mengecup punggung tangannya.
"Kau bersembunyi dengan baik rupanya." ucap Seanna.
"Tentu saja Nyonya, aku tak boleh ketahuan oleh Eldrian ataupun penghuni akademi Philia lainnya bukan ?." tanya Theo.
Seanna pun mengangguk, ia melepaskan tangan Theo yang masih menggenggam tangannya itu.
"Selama kau bersembunyi dengan baik maka kau akan selalu bisa untuk melindungiku ataupun dia Theo." ucap Seanna.
Theo pun mengangguk, ia memandang Nyonyanya itu dengan tatapan sedih.
"Jangan menatapku seperti itu Theo, aku tak keberatan sama sekali, karena memang itulah tugas yang diberikan leluhurku, dengan begitu aku juga bisa melindungimu." ucap Seanna sambil memandang wajah sendu Theo.
"Pergilah Theo, awasi dan carilah informasi di akademi lainnya, sebentar lagi ada pertandingan antar akademi, aku ingin tahu sekuat apa mereka dibanding dengan Eldrian." perintah Seanna.
"Baik Nyonya aku akan melaksanakan perintah anda." ucap Theo.
Setelah itu Theo pun menghilang dari hadapannya dengan sangat cepat.
"Kau harus menang El."