The Demon Swordsman

The Demon Swordsman
BAB 4



Estrella dengan penyamarannya pun tiba disebuah bangunan tua di tepi hutan terlarang.


"Edgar, aku datang." ucapnya.


Terlihat seorang lelaki yang tengah membaca buku, lelaki itu terlihat sangat gagah dan juga tampan.


"Bukankah sudah kubilang jangan panggil aku Edgar saja, aku ini lebih tua darimu Estrella." jawab lelaki itu.


"Walaupun kau lebih tua dariku tapi wajahmu itu masih terlihat seperti anak-anak." jawab Estrella.


Lelaki yang bernama Edgar itu pun langsung meletakkan bukunya dan memandang tajam ke arah Estrella.


"Mengapa kau menatapku seperti itu ? Ahhh....aku tahu kalau aku ini cantik....hustt jangan mengomel, kau itu lelaki jadi jangan cerewet." potong Estrella saat Edgar akan mengomel padanya.


Edgar hanya menghembuskan nafasnya kesal, "Hufttt...ada urusan apa kau datang kemari ?." tanya Edgar pada Estrella yang sudah merebut buku bacaannya itu.


Gadis itu bahkan juga memakan camilannya.


"Apa kau lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku ? Aku kesini untuk mengambil hadiahku." ucap Estrella dengan penuh percaya diri.


Edgar hanya bisa menggelengkan kepalanya itu, setiap Estrella datang kepalanya terasa sangat sakit.


"Aku memang lupa jadi hadiahmu tak ada, lagipula kalaupun ingat aku juga tak akan menyiapkan hadiah untukmu." jawab Edgar.


Estrella pun mendengus kesal, lelaki ini memanglah bermulut tajam padahal sebenarnya sangat perhatian pada dirinya.


"Padahal aku sudah bersusah payah supaya bisa sampai disini tapi kau malah berkata begitu." ucap Estrella dengan nada bicara sedih.


Edgar tahu kalau wanita didepannya ini sedang berakting sedih, "Hentikan akting burukmu itu." ucapnya.


"Cihhh....kau memang sangat menjengkelkan Edgar!." jawab Estrella.


Edgar pun fokus membaca buku lagi, terpaksa ia mengambil buku baru karena Estrella masih memegang buku itu.


Beberapa waktu berlalu kini Estrella tengah memeriksa hadiah pistol dari kakaknya.


"Cara memakai pistol ini bagaimana ya ?." guman Estrella sambil memainkan pistol itu.


Saat gadis itu sudah bersiap untuk menarik pelatuk pistolnya, Edgar langsung merapalkan mantra.


Dengan cepat ia langsung menarik Estrella.


Bang!!


"Kenapa kau itu sangat bodoh dan ceroboh Estrella ? Kalau saja aku tak merapal mantra, bisa-bisa peluru itu melubangi kepalamu!." ucap Edgar.


Estrella sendiri masih terkejut, ia pikir pistol itu tak ada pelurunya.


"Siapa yang memberikan pistol ini ?." tanya Edgar.


Estrella pun mengatakan kalau ia mendapat pistol itu dari kakaknya, ia juga bercerita alasan mengapa kakaknya itu memberi hadiah sebuah pistol.


"Baiklah, aku sudah tahu hadiah apa yang akan kuberikan padamu." ucap Edgar.


"Kalau begitu mana ?." tagih Estrella.


"Ikutlah denganku." ucap Edgar.


Mereka berdua pun masuk kedalam hutan yang gelap.


"Mengapa kita pergi kesini Edgar ? Bukankah disini banyak monster dan juga iblis ?." tanya Estrella yang sedikit ketakutan.


"Aku akan mengajarimu sebuah sihir." jawah Edgar.


Kini mereka berdua sudah sampai disebuah lapangan kecil didekat hutan.


Edgar pun membuat sebuah penerangan dengan sihirnya.


"Wahhh....apa kau akan mengajariku membuat penerangan seperti itu Edgar ?." tanya Estrella yang sedang kagum.


Edgar hanya menggelengkan kepalanya, padahal ini adalah sihir tingkat rendah dan mudah untuk dipelajari.


"Aku tahu kemampuanmu itu sangat buruk Estrella, kalau kau bertemu iblis dan monster jahat kau pasti akan langsung mati." ucap Edgar.


"Cihhhh.....mentang-mentang kau hebat jadi seenaknya menghinaku." jawab Estrella.


Estrella pun memberikan pistolnya itu pada Edgar.


Lelaki itu mengeluarkan semua peluru didalam pistol.


"Lihatlah apa yang akan kulakukan Estrella." ucap Edgar.


Edgar pun merapal sebuah mantra ke pistol itu, lalu ia menggigit jarinya hingga berdarah.


"Dasar bodoh kenapa kau melukai jarimu sendiri Edgar ?." tanya Estrella.


Edgar tersenyum mendengar ejekan gadis itu, luka itu bukanlah apa-apa bagi dirinya.


Edgar meneteskan darahnya kedalam pistol itu, lalu ia merapal sebuah mantra yang tak pernah Estrella dengar.


Tak lama Edgar mengarahkan pistol itu ke arah sebuah pohon, ia menarik pelatuk pistol ditangannya itu.


*Boomm...boomm....boom


Boom....boomm...boom*...


Estrella sangat terpukau dengan apa yang dilihatnya.


"Ini sihir apa ? Aku baru pertama kali melihatnya." tanya Estrella.


"Ini adalah sihir kuno, sangat jarang orang yang bisa menggunakan darahnya sebagai senjata." jawab Edgar.


Estrella pun ingat kalau ia pernah membaca soal sihir itu di perpustakaan.


"Bukankah ini sihir terlarang ?." tanya Estrella.


"Sihir ini terlarang karena memang bisa membuat penggunanya kehilangan banyak darah. Namun aku yang pandai ini tentu saja bisa merubahnya." jawab Edgar dengan percaya diri.


"Aku tak tahu kalau kau memang sehebat itu Edgar." ucap Estrella yang semakin kagum pada Edgar.


"Aku akan mengajarimu Estrella, karena kau kesulitan dengan pedang, mungkin senjata ini yang sangat cocok denganmu." ucap Edgar.


Estrella yang mendengarnya pun sangat bersemangat, yang dikatakan Edgar juga ada benarnya, kalau ia tak melatih sihir ini maka dia harus membawa peluru kemana-mana, itu sangatlah merepotkan.


"Biarpun begitu kau tetap harus berlatih pedang Estrella." ucap Edgar.


"Ya...ya aku tahu, kau jangan cerewet, aku akan melatih sihir ini dengan serius." ucap Estrella.


Edgar pun akhirnya mengajari Estrella bagaimana cara menggunakan sihir itu.


Tak seperti yang ia bayangkan, sihir yang diajarkan Edgar tak terlalu sulit, apalagi Edgar menjelaskannya dengan sangat detail dan mudah dimengerti.


"Kenapa guru di akademi tak ada yang sehebat dirimu, kalau saja mereka sepertimu pasti aku sudah hebat sejak lama." gerutu Estrella.


Merasa sudah cukup berlatih Edgar pun mengajak Estrella untuk kembali ke rumahnya.


"Kau segeralah pulang ke rumahmu Estrella dan berlatihlah dengan serius untuk perjamuan suci nanti." ucap Edgar.


"Aku tahu, kenapa kau sangat cerewet ? Besok aku akan kemari dan menunjukkannya padamu kalau aku sudah menguasai sihir yang kau ajarkan." ucap Estrella dengan percaya diri.


"Maaf, besok pagi aku akan pergi untuk menyelesaikan urusan." jawab Edgar.


Mendengar itu tentunya Estrella sangat sedih, "Kau akan pergi kemana ? Apa kau pergi untuk waktu yang lama Ed ?."


"Sepertinya begitu." jawab Edgar.


"Apa kau tak akan melihatku berpartisipasi di perjamuan suci juga ?." tanya Estrella.


"Entahlah, namun sebisa mungkin aku akan datang untuk melihatmu." jawab Edgar.


Setelah itu Estrella pun berpamitan untuk pergi kembali kerumahnya.


"Tentunya aku akan melihatmu berdiri di area perjamuan suci Estrella, aku akan melihatmu dari jarak yang amat dekat." ucap Edgar.


Disisi lain di akademi Philia, Eldrian terbangun di tengah-tengah tidurnya.


Lagi-lagi ia terbangun dengan penuh keringat, ia bermimpi buruk lagi tapi begitu bangun ia akan lupa dengan apa yang ia lihat dan ia alami dimimpi tadi.


"Sebenarnya apa yang kuimpikan itu ? Selama bertahun-tahun aku selalu seperti ini, namun tak pernah tahu karena apa." batin Eldrian.