
Eldrian terbangun dari tidurnya dengan bercucuran keringat.
Ia bermimpi buruk lagi malam ini.
"Sudah bertahun-tahun aku terbangun seperti ini tapi aku tak pernah ingat apa yang ku impikan." gumam Eldrian.
Eldrian pun menoleh pada jam dinding yang terpajang di tembok, "Masih jam 2 dini hari."
Eldrian pun bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah almarinya.
Diambilnya mantel berwarna hitam miliknya, ia juga membawa sebuah syal berwarna senada dengan mantelnya.
Setelah memakai mantel dan juga syalnya Eldrian langsung pergi meninggalkan kamarnya.
Ia menuju lapangan tempat murid akademi Philia biasa berlatih.
Ia merentangkan tangannya dan keluarlah sebuah pedang, Eldrian juga merapal sebuah mantra dan tiba-tiba muncul seorang wanita cantik didepannya.
"Halyna." ucap Eldrian pada wanita itu.
"Tuan memanggilku." jawab wanita yang dipanggil Halyna itu.
"Aku tak bisa istirahat tenang, temanilah aku berlatih." ucap Eldrian.
Wanita bernama Halyna itu pun tersenyum, sudah lama sekali Tuannya itu tak memanggil dirinya.
"Kita berlatih disini Tuan ?." tanya Halyna.
Eldrian pun menggeleng, ia mengajak Halyna menuju bukit belakang akademi Philia.
Sebelum memulai latihan Eldrian memasang sebuah jimat yang ia buat agar suara pertarungan mereka nantinya tak terdengar sampai akademi Philia.
"Jangan terlalu keras padaku Tuan." ucap Halyna sambil mengacungkan pedangnya ke arah Eldrian.
Cring...cringg...cringg
Eldrian dan Halyna saling beradu pedang, dapat dilihat kalau perbedaan kemampuan mereka cukup jauh.
Gerakan Eldrian sangat cepat dan kuat, sedangkan Halyna kebalikannya.
"Pertajam indra pendengaranmu Halyna." ucap Eldrian.
Halyna pun tersenyum, Tuannya itu memang selalu mengingatkan apa yang menjadi kelemahannya.
Halyna pun benar-benar memfokuskan indra pendengarannya, yang awalnya ia tak bisa menghindari serangan Eldrian sama sekali, kini ia bisa menghindari meskipun tak seluruhnya.
Brukkk....
Arghhh!!
Eldrian pun langsung meletakkan pedangnya dan berlari ke arah Halyna.
"Kau tak apa ?." tanya Eldrian sembari membantu Halyna bangkit.
"Aku tak apa Tuan, terima kasih." ucap Halyna.
Eldrian pun memberikan obat yang ia bawa kepada Halyna.
"Kemampuanmu memang sudah sedikit meningkat Halyna, hanya saja kelemahanmu tetap sama, ketika bertarung kau harus benar-benar fokus Halyna." jelas Eldrian.
"Kalau Tuanku saja sehebat ini mendengar namamu saja pasti musuh akan lari terbirit-birit." ucap Halyna.
Eldrian hanya bisa menggelengkan kepalanya, pelayannya ini terkadang sangat kekanakan.
"Pakailah ini, kita sudah berhenti berlatih, kau akan kedinginan nantinya." ucap Eldrian sambil melepas mantel yang ia pakai dan memasangkannya ke tubuh mungil Halyna.
"Aku tak perlu memakai ini Tuan." tolak Halyna.
Eldrian pun menegaskan kalau ia tak masalah tidak memakai mantel bulunya.
Tiba-tiba saja Seanna muncul dan mengagetkan mereka berdua, "Bagus, kemampuan kalian memang meningkat."
Eldrian pun membungkuk memberi salam pada gurunya itu.
Seanna pun tersenyum, sudah lama juga ia tak melihat Halyna meskipun ialah yang mengutusnya untuk menjadi pelayan Eldrian.
"Kenapa guru ada disini ? Apa mungkin jimat yang kubuat tak bekerja ?." tanya Eldrian.
"Jimatmu bekerja El, hanya saja sejak tadi memang aku berada dibukit ini dan memperhatikan kalian berdua." jelas Seanna.
Mereka bertiga pun beristirahat dengan duduk diatas padang rumput.
Seanna memperhatikan Eldrian dan Halyna dalam-dalam. Sesekali ia juga tersenyum yang membuat kedua anak itu bingung.
"Halyna." panggil Seanna.
"Ya, guru ?." jawabnya.
"Kemampuanmu memang sudah meningkat, hanya saja untuk melindungi Tuanmu kau masih perlu banyak berlatih, aku mengutusmu untuk menjadi pelayan Eldrian agar kau bisa melindunginya saat dia dalam bahaya bukan sebaliknya." jelasnya.
Halyna pun mengangguk, ia paham dengan apa yang dikatakan oleh Seanna.
"Guru....lagipula Halyna masih sangat muda, ia pasti akan bertambah kuat nantinya." sela Eldrian.
"Aku tahu El, aku hanya mengingatkannya untuk berlatih lebih keras. Apalagi sebentar lagi kita akan pergi untuk perjamuan suci." jawab Seanna.
Halyna yang mendengar itu langsung membelalakan matanya, "Perjamuan suci ? Kapan ? Apa aku boleh ikut ? Selama ini aku hanya mendengarnya dari mulut orang-orang saja."
"Kau memang harus ikut Halyna, kau harus menjaga Eldrian." ucap Seanna.
Eldrian pun menolak, ia tak ingin Halyna ikut datang ke acara perjamuan suci, menurutnya sangat berbahaya jika Halyna muncul disana.
Lagipula di perjamuan suci akan ada banyak ksatria dan juga penyihir, jadi mana mungkin ada orang atau iblis jahat.
"Kita tak akan pernah tau El niat apa yang dimiliki orang lain. Aku sudah banyak melihat bahkan merasakannya sendiri pengkhianatan oleh orang terdekat. Itulah mengapa aku melarangmu dan juga murid akademi Philia untuk berhubungan dengan sembarang orang." jelas Seanna.
Eldrian pun nampak berpikir, ia memanglah tak pernah bergaul dengan orang diluar sana, ia hanya berhubungan dengan orang-orang di akademi Philia saja selama ini.
Itupun ia hanya dekat dengan orang-orang tertentu, mereka juga tak pernah mengkhianati dirinya.
"Baiklah kalau itu perintah guru, aku akan menyembunyikan Halyna nanti." jawab Eldrian.
Halyna yang mendengarnya pun sangat senang, "Terima kasih Tuan....terima kasih guru Seanna."
Eldrian yang penasaran pun berusaha menggali informasi pada gurunya itu.
"Guru....pengkhianatan apa yang kau alami sampai-sampai akademi Philia mempunyai aturan dan larangan sebanyak itu ?." tanya Eldrian.
Seanna yang tadinya tersenyum pun merubah ekspresinya, tatapannya kini menjadi sendu.
"Pengkhianatan yang sangat menyakitkan, membuatku dan juga keluargaku hancur."
"Dan sekarang aku tak akan membiarkan siapapun menghancurkan ataupun mengambil apa yang kujaga selama ini." jawab Seanna sembari memandang Eldrian.
"El....ada rasa sakit yang harus dilupakan dan juga ada rasa sakit yang memang harus diingat. Untuk saat ini....ahh kuharap selamanya kau tak akan mengingat ataupun mengalami hal-hal buruk itu lagi." ucap Eldrian.
"Maksudnya guru ?." tanya Eldrian yang tak mengerti dengan apa yang diucapkan gurunya barusan.
"Kembalilah, kau harus segera beristirahat lagi, kau tetap harus latihan pagi bukan ?." tanya Seanna.
"Ya, kalau begitu aku permisi dulu guru Seanna, anda juga cepatlah beristirahat." ucap Eldrian lalu pergi meninggalkan Seanna.
Sedangkan Halyna masih bersama dengan Seanna.
"Halyna, persiapkan dirimu untuk pergi ke perjamuan suci nantinya dan jangan sampai kau membuat masalah yang akan merepotkan Eldrian." ucap Seanna.
"Baik guru, aku pasti tak akan membuat Tuan mendapat masalah." jawab Halyna.
"Guru....apa benar Tuan Eldrian melupakan semuanya ?." tanya Halyna yang masih tak percaya.
"Ya, dia melupakan segalanya bahkan hal-hal yang membuatnya bahagia di masa lalu." jawab Seanna dengan suara gemetar.
"Apa itu pilihan terbaik untuk Tuan, guru ? Sebenarnya aku ingin Tuan mengingat hal-hal bahagia itu." ucap Seanna.
Seanna pun menggeleng, "Kau tau Halyna kita tak boleh seserakah itu ? Baik, buruk, kebahagiaan dan kesedihan itu akan selalu berdampingan."