
Keesokan harinya Eldrian dan juga seluruh penghuni akademi Philia sudah bersiap untuk berangkat bersama munuju akademi Elvern.
"Kali ini kita tak akan menggunakan sihir secara terus-menerus untuk sampai ke akademi Elvern, aku tahu kalian semua bosan terus terkurung di akademi, karena itulah aku berharap di perjalanan ini kalian bisa sedikit bersenang-senang!." teriak Seanna.
Semua murid pun bersorak senang, akhirnya mereka bisa bersenang-senang diluar.
"Dimana Halyna ?." bisik Dean yang berada disebelah Eldrian.
"Dia bersembunyi, tenang saja Dean, nanti saat kita beristirahat aku pasti memanggilnya." jawab Eldrian.
Dean pun tersenyum, ia tahu kalau Halyna tak boleh ketahuan oleh yang lainnya hanya saja ia benar-benar tak sabar melihat senyum Halyna.
Bukannya Halyna tak boleh ketahuan penghuni akademi Philia lainnya ?.
Lalu bagaimana bisa Dean tahu soal Halyna ?.
■ Flashback On ■
Dean Gavrill kecil tengah menangis dibukit belakang akademi Philia.
Ia baru saja kehilangan kedua orang tuanya dan menjadi seorang yatim piatu.
Akademi Philia adalah rumah barunya, ia sudah berada disini selama 10 hari.
Tempat baru, suasana baru dan orang-orang baru membuatnya takut.
"Kenapa kau menangis kak ?." tanya seorang perempuan kecil yang tak lain adalah Halyna.
Halyna kecil mengusap air mata Dean dengan tangannya.
"Adik kecil kau siapa ?." tanya Dean.
"Namaku Halyna." jawabnya.
"Kenapa kau ada disini ? Apa kau tak tahu kalau di tempat ini tak boleh ada seorang wanita ?." ucap Dean.
Halyna pun menggeleng, ia masih tak mengerti arti ucapan Dean.
Srekk...srekk
"Ada orang datang." ucap Dean.
Dean pun menarik Halyna dan menyembunyikannya dibalik semak-semak, "Kau bersembunyilah disini, jangan membuat suara apapun, dan jangan pergi sebelum kakak kembali."
Halyna kecil hanya mengangguk. Tak lama seorang anak kecil yang sepertinya seumuran dengannya muncul.
Lelaki berambut hitam dan bermata emas yang tak lain adalah Eldrian.
"Apa kau melihat seseorang ?." tanya Eldrian.
Dean pun menggeleng, ia tak ingin Halyna kecil dalam bahaya.
"Apa kau anak baru ? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya." ucap Eldrian kecil.
Dean pun mengangguk, "Namaku Dean Gavrill, panggil saja Dean."
"Namaku Eldrian." ucap Eldrian.
Eldrian pun memperhatikan sekitar, ia sama sekali tak melihat Halyna, padahal ia sangat yakin kalau tadi Halyna berlari ke arah sini.
"Apa kau benar-benar tak melihat orang lain ?." tanya Eldrian.
Dean pun menggeleng lagi, "H-hhanya ada aku disini."
Srekk....srekkk
Eldrian pun menoleh ke sumber suara tersebut, dilihatnya semak-semak itu bergoyang. Ia pun berjalan mendekat ke arah semak-semak tersebut.
"Tidakkk....tak ada apapun disini." ucap Dean sambil berlari lalu merentangkan kedua tangannya didepan Eldrian.
"T-tuannn!!." teriak Halyna dengan maksud membuat kaget Eldrian.
Eldrian pun tersenyum melihat tingkah laku Halyna.
Dean sendiri masih bingung dengan apa yang dia lihat.
"Tuan ??." tanya Dean.
"Dia ini pelayanku, kenapa kau menyembunyikannya ?." tanya Eldrian.
Tiba-tiba saja Seanna dan juga Theo datang.
"Ada apa disini ?." tanya Seanna.
"Guru." ucap Eldrian dan Halyna bersamaan.
Sedangkan Dean menunduk ketakutan, ia tahu kalau orang didepannya ini adalah pemilik akademi Philia.
"Bukankah dia ini anak baru Theo ?." tanya Seanna.
"Benar Nyonya." jawab Theo.
"Dia tahu soal Halyna, lakukan tugasmu Theo." ucap Seanna.
"Guru dia itu temanku." ucap Eldrian.
"Teman ?." tanya Seanna.
"Tapi dia tahu soal Halyna, apa kau tahu akibatnya kalau orang lain tahu soal Halyna, El ?." tanya Seanna sekali lagi.
"Dia melindungi Halyna." ucap Eldrian.
Seanna pun bertanya-tanya, "Kenapa kau melindungi Halyna anak kecil ?."
Dean kecil pun terdiam, ia sangat takut dengan Seanna dan juga Theo.
"Jangan takut Dean." ucap Eldrian dengan mengelus pelan pundak Dean.
Dean pun tersenyum, ia juga melihat Halyna yang tersenyum padanya.
Meskipun gemetaran ia berusaha menjawab pertanyaan dari Seanna, "Aku menyembunyikannya karena takut dia ketahuan orang lain."
"Takut ketahuan ? Apa kau bisa menjelaskannya kenapa anak kecil ?." tanya Seanna lagi.
"Aku tahu kalau tak boleh ada wanita disini, aku tak ingin dia terluka jadi aku menyembunyikannya disitu." ucap Dean sambil menunjuk semak-semak tempat ia menyembunyilan Halyna tadi.
Seanna pun tersenyum mendengarnya, "Kalau begitu apa kau bisa berteman baik dengan Eldrian dan berjanji menjaga rahasia soal keberadaan Halyna ?."
Dean kecil pun mengangguk, ia sangat senang karena akhirnya ia mendapat teman dan juga bisa melindungi Halyna.
■ Flashback Off ■
Ditempat lain Estrella tengah berlutut didepan kedua orang tuanya.
"Katakan Estrella, darimana kau belajar sihir ini ? Ayah tahu sihir ini tak diajarkan di akademi." tanya Dryas pada putri bungsunya itu.
"Jawab pertanyaan ayahmu Estrella, kalau kau diam saja ayahmu akan semakin marah." ucap ibunya itu.
Estrella hanya terdiam, ia sama sekali tak ingin menjawab pertanyaan ayahnya itu.
"Ayah...jangan memarahi Estrella terus." ucap Evina yang tengah khawatir kalau adiknya itu akan dihukum lagi.
"Apa kau tak tahu kalau sihir itu terlarang Estrella ? Kau ini kenapa terus saja membuat keluarga Callia malu ? Bukannya berlatih sihir dan pedang dengan benar, malah melatih sihir terlarang! Memalukan!!." ucap ayahnya itu.
"Ayah!! Kenapa berkata begitu pada Estrella, dia pasti terluka karena ucapan ayah." ucap Evina.
"Kau diam Evina! Kau ini selalu saja membela dan memanjakan adikmu!!" bentak Dryas pada putri sulungnya itu.
"Jangan memarahi kakak, dia tak tahu apapun." jawab Estrella.
"Kalau begitu katakan pada ayah mengapa kau menggunakan sihir terlarang ?." tanyanya.
"Ini bukan sihir terlarang lagi ayah, aku bisa menanganinya." jawab Estrella dengan percaya diri.
"Bukan sihir terlarang katamu ?! Ahh..kenapa anakmu ini sangat pembangkang Gea ?!." teriak Dryas pada istrinya.
"Kenapa ayah marah pada ibu juga ? Marahi saja aku!!!." teriak Estrella.
Plakkk!!!
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi kanan Estrella, tamparan itu membuat pipinya memerah.
"Kau ini ya benar-benar tak punya sopan-santun. Katakan pada ayah Estrella darimana kau mempelajari sihir ini ?." tanya Dryas sekali lagi.
"Aku tak akan memberitahu ayah!." jawab Estrella.
"Estrella...beritahu saja ayahmu nak." rayu Gea pada putrinya itu.
"Aku tak akan memberitahu siapapun darimana dan dari siapa aku mempelajarinya!." teriak Estrella lagi.
Dryas benar-benar tak bisa manahan emosinya lagi, "Kau benar-benar keras kepala Estrella!! Baiklah kalau begitu ayah akan menghukummu lagi."
"Aku menerima hukumanmu ayah." jawab Estrella lalu pergi keruang hukuman milik keluarga Callia.
Dryas hanya bisa menghela nafas keras-keras, putri bungsunya itu benar-benar mengecewakan.
Bagaimana bisa ia berlatih sihir terlarang dengan percaya diri.
"Suamiku kau terlalu keras padanya." ucap Gea pada suaminya itu.
"Apa kau tak dengar yang orang lain katakan istriku ? Mau sampai kapan dia betah dihina terus-menerus ? Aku saja lelah mendengarnya." jawab Dryas.