
Xavia menghela napas. Dia kembali ke lokasi pekerjaannya dengan kecewa. "Lihat gadis, aku sudah tahu apa yang terjadi dari raut wajahmu." Paman Ron berkata sembari tertawa suram.
"Maafkan aku. Aku lupa bahwa aku juga seorang budak," kata Xavia seadanya.
Xavia tidak mempunyai kata lagi untuk diucapkan, begitu pun para budak. Jadi segera menanyakan hal yang sedari tadi ingin dia tanyakan. "Paman Ron, kira-kira, kapan pendopo selesai dan bisa digunakan?"
Paman Ron menatap pondasi pendopo yang masih basah. "Dengan anggota yang sedikit, mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama, Gadis. Kira-kira sepuluh hari."
Xavia mengusap dahinya. Jika tidak siap selama lima hari, tamat sudah riwayatnya. Dia bisa selamanya menjadi budak di Exalos. "Jika kau memaksakan kami bekerja siang malam, mungkin pendoponya bisa selesai sebelum lima hari. Tapi kami bisa mati, haha..." Paman Ron tertawa setelah berkata setengah sarkas.
Xavia tersenyum seadanya. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan lagi. Tapi setelah mendengar waktu sepuluh hari, dia ingin segera menemui jenderal Aiden untuk suatu kepentingan. Jadi dia segera pamit untuk mencari jenderal itu. Dia cemas memikirkan bahwa dia tidak akan bisa menghadiri pernikahan Alura.
"Jenderal," panggil Xavia saat melihatnya keluar dari sebuah ruangan besar. Jenderal Aiden menghampirinya karena tahu bahwa Xavia tidak bisa masuk lebih dalam lagi.
"Ada apa jenderal?" tanyanya.
"Aku ingin menanyakan suatu hal."
Jenderal Aiden bersedekap dada, menunggu hal apa yang akan Xavia tanyakan. "Aku tahu bahwa aku tidak akan mendapatkan pekerja tambahan. Dan dengan jumlah pekerja yang diberikan Kaisar, tidak akan sanggup menyelesaikan pendopo dalam waktu lima hari."
Jenderal Aiden tersenyum tipis. "Bisa jenderal."
"Bisa tentu saja," jawab Xavia ringan. "Tapi aku lebih suka membunuh dengan tanganku sendiri, bukan melalui hal lain."
Jenderal Aiden tersenyum seadanya, dia tidak menjawab apa-apa. "Apakah akan menimbulkan masalah jika aku mencari tambahan pekerja lain dengan caraku sendiri?"
Jenderal Aiden mengernyit. "Maksudmu, kau akan mencari budak lain tanpa persetujuan Kaisar?"
Xavia mengibaskan tangannya. "Tidak seperti itu. Aku ingin mempekerjakan budak tambahan namun dengan dana pribadi. Jadi intinya, istana tidak akan mengeluarkan dana sedikitpun atas jasa budak yang aku pakai. Apakah itu legal?"
Jenderal Aiden mangut-mangut. "Bisa saja."
Senyum Xavia melebar. Penuh pengharapan. "Benarkah boleh seperti itu?"
Jenderal Aiden terkekeh geli. "Tetap harus meminta persetujuan Kaisar."
Senyum Xavia perlahan lenyap. "Yah memang harus seperti itu," katanya pasrah.
"Tenang jenderal. Aku akan mencoba meminta persetujuan Kaisar," kata Jenderal Aiden membuat Xavia mengangguk.
"Terimakasih. Aku sangat mengharapkan kabar baik darimu."
"Tentu."
Setelah bertukar salam, kedua jenderal itu memisahkan diri. Nampaknya Xavia harus bersabar lagi dan menunggu keputusan Kaisar. Di sisi lain, tidurnya tidak nyenyak dan ada perasaan tidak nyaman yang terus menghantui. Dia takut, bahwa dia akan selamanya terjebak di sini.
***
Pagi harinya, pagi-pagi sekali Xavia dan kelima budak yang bertugas, sudah keluar dari camp. Mereka bergegas pergi ke sayap barat istana. Namun, saat sampai di sana, Xavia dibuat tercengang hingga bola matanya melebar.
"Apa?" gumamnya. Pendopo yang sudah setengah pengerjaan itu tertimbun pasir yang tinggi menggunung. Gunungan pasir sangat tinggi dan melebar hingga tidak satu pun bagian pendopo yang terlihat.
"K-kenapa bisa seperti ini?" Paman Bill terduduk di rerumputan dengan lesu.
Xavia mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa ada pasir yang begitu banyak menimbun pendoponya hanya dengan satu malam. Xavia masih ingat semalam dia berada di sekitar pondasi ini sebelum pergi ke camp untuk tidur. Kenapa bisa ini terjadi begitu cepat?
"Gadis, apa yang harus kita lakukan? Bagaimana selanjutnya?"
Xavia melepas gulungan sketsa di tangannya lalu duduk berjongkok sembari mengusap kepalanya bolak-balik dengan kalut. Apa yang harus dia lakukan?
"Wah, wah. Apa ini? Kenapa taman kesukaanku menjadi tempat menjijikan seperti ini?"
Xavia mengangkat kepalanya saat tiba-tiba ada suara perempuan yang datang dari arah belakang. Di sana ada putri Silvana yang datang bersama para pengawalnya dan bersama seorang pria tinggi beraut sombong.
Xavia segera mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Pfftt haha...sepertinya seseorang memang cocok menjadi budak selamanya di Exalos, bukan begitu kakak?" Silvana menoleh riang pada pria yang berada di sebelahnya.
"Hmm, iya adik."
Xavia mengepalkan tangannya. Tidak perlu bertanya lagi siapa pelakunya. Pelakunya sudah mengakui dirinya sendiri. Tanpa sadar gigi-gigi Xavia saling menggertak. Dia menarik napas dan menenangkan dirinya. Sebuah senyum culas Xavia paksakan.
"Tidak sangka putri. Saya kira anda putri yang bijaksana. Ternyata hanya seorang putri yang belum dewasa," katanya tersenyum, dalam hati dia marah. Xavia berbalik menatap para budak yang bekerja untuknya. "Paman-paman, lebih baik kembali dulu ke camp. Aku akan pergi menemui Yang Mulia Kaisar," lanjutnya.
"Hahaha..." putri Silvana tertawa sebentar sebelum mengubah rautnya dalam sekejap. "Kau pikir sekalipun ini perintah Kaisar, kau dapat menghentikanku? Tidak budak, akulah yang berkuasa di sini."
Xavia hanya membalas dengan tatapan dingin. Membalas Silvana dengan kemarahan hanya akan menunjukan kekalahannya. Sama sekali bukan gaya Xavia untuk menunjukan kelemahan di hadapan orang lain. Xavia melewati putri itu tanpa mengatakan apapun. Sementara putri Silvana hanya mendengus karena Xavia sama sekali mengabaikannya.
"Percaya diri huh? Lihat saja nanti," katanya sinis.
***
Xavia mendesak jenderal Aiden agar membawanya menghadap Kaisar. Dia menggunakan segala alasan agar jenderal Aiden bersedia mengabulkan permintaannya.
"Aku rasa putri Silvana sudah sangat keterlaluan. Aku harus melaporkannya pada Kaisar dan meminta dispensasi."
Jenderal Aiden menghela napas. "Ya aku tahu jenderal. Tapi Kaisar sedang mengadakan rapat penting dengan petinggi. Mohon bersabar."
Bersabar lagi? Sampai kapan Xavia harus bersabar?
"For Godshake, jenderal. Kau menyuruhku bersabar dengan semua kekacauan ini sedangkan aku diberikan waktu 3 hari lagi. Kau bercanda denganku?" Xavia menatap tak percaya. Jenderal itu tidak bereaksi berlebihan, dia biasa saja.
Xavia membuang pandangannya dengan dengusan tak percaya. Dia berbalik badan, melihat apa saja asalkan tidak melihat jenderal Exalos yang satu ini. "Tidak dapat dipercaya," gumamnya. Jenderal Aiden tidak mengatakan apa-apa.
"Apa perlu aku beri pelajaran putri yang satu itu?" tanya Xavia seorang diri, tanpa memelankan suaranya hingga jenderal Aiden mendelik.
"Bunuh diri," kata jenderal Aiden. Xavia menatapnya membuat Jenderal Aiden menghela napas. "Putri Silvana memang keterlaluan. Tapi yang berhak menghukum putri dan pangeran hanyalah Kaisar seorang. Lagipula, aku pikir bukan putri Silvana yang melakukannya. Putri Silvana hanyalah putri manja yang selalu bergantung pada orang lain, dia tidak mungkin punya ide untuk mendatangkan segunung pasir di pendopomu."
Xavia berdecih. Tapi dia berpikir atas jawaban jenderal Aiden. "Jadi menurutmu, pria itu?"
"Pria yang mana? Ada banyak pria di belakang putri Silvana. Putri Silvana adalah anak bungsu, jadi kakak-kakaknya sangat memanjakannya." Jenderal Aiden bersedekap dada.
Xavia memutar ulang memorinya. "Aku tidak tahu. Pria itu berambut panjang dan diikat ke belakang."
"Hmm, bisa saja itu dia. Hanya ada satu pangeran yang mempunyai rambut panjang melebihi bahunya. Dia adalah pangeran ke tiga dari selir pertama. Sudah dapat dipastikan, dialah yang memberikan ide tentang pasir-pasir itu, namun putri Silvanalah yang memintanya untuk melakukan sesuatu sebagai balas dendam."
Xavia menggertakkan giginya. Dia masih sangat kesal karena perbuatan jahil kakak adik itu.
"Berhati-hatilah di lingkungan Exalos jenderal. Pangeran itu bernama Andres. Dia bukan pangeran yang lembut dan hanya mencintai kehormatan dari orang lain. Dia juga mahir dalam bersenjata dan berbakat. Dia sangat mencintai dirinya sendiri."
"Begitukah?" Nada Xavia terdengar mencibir. Jenderal Aiden maklum saja, karena semua orang yang berhadapan dengan putri dan pengeran Exalos pasti akan merasakan hal yang sama. Apalagi Xavia, pangkatnya cukup tinggi di KeKaisaran lain, tentu dia merasa tersinggung.
"Jenderal Aiden, jika terus seperti ini aku akan kehabisan waktu. Tolong bawa aku menghadap Kaisar," ujar Xavia merasa jenuh karena merasa waktu terus terbuang sia-sia.
"Tunggu sebentar lagi jenderal," jawab Jenderal Aiden bersabar. "Kau akan tamat jika memaksa masuk karena dianggap tidak menghormati Kaisar."
Xavia terperangah. "Sial," gumamnya geram.
"Ekhem."
Xavia dan jenderal Aiden menoleh ke asal datangnya suara. Jenderal Aiden segera membungkukkan tubuhnya membuat Xavia terdiam. Tapi dia tidak membungkukkan seperti yang dilakukan oleh jenderal Aiden.
Xavia ingat, dia adalah pangeran yang diutus untuk merebut Aevum kala itu. Pangeran yang bertemu dengannya di medan perang dan yang menciptakan luka sayat di punggungnya. Putra mahkota Exalos, calon penerus kekaisaran, Pangeran Alexander Christian, yang dibesarkan dengan nama Alex Hunter.
"Yang Mulia," sapa jenderal Aiden.
"Aku mendengar nama adik-adikku disebut dengan cara yang tidak baik. Ada masalah apa dengan mereka jenderal Aiden?"
***