
Perundingan dadakan pun diadakan. Selama perundingan berlangsung, Raja tidak dapat mengontrol emosinya. Berbagai makian dia ucapkan atas segala hal yang telah terjadi. Xavia yang turut ambil andil dalam perundingan tersebut, sibuk berpikir keras. Dia ahli strategi, Raja terus menekannya untuk mencari jalan keluar.
"Aevum hanya kerajaan kecil. Kerajaan sebesar Exalos tidak akan memperpanjang masalah ini Yang Mulia," ujar salah seorang Perdana Menteri, dengan niat untuk menenangkan Raja.
Namun Xavia tidak berpikir demikian. Karena Aevum kerajaan kecil lah, Exalos tidak akan ragu memperlebar sayapnya.
"Tidak ada cara selain melawan Yang Mulia," ujar Xavia tenang.
Raja menggebrak meja. "Itu ide gila Xavia. Sedikit lagi kita jadi bagian Exalos. Jangan buang kesempatan ini."
Xavia berdecih kesal. "Apa Yang Mulia tahu motif Salona meminang Lucerus? Tidakkah Yang Mulia bertanya-tanya alasannya? Apa karena Putra Mahkota Salona jatuh cinta pada Alura?" tanyanya menaikkan suara. "Tidak Yang Mulia. Exalos hanya ingin menguasai angkatan perang kita melalui Salona. Tridentum saat ini adalah yang terbaik di masanya, walau Lucerus tidak sebesar Exalos. Suatu saat pasti ada kemungkinan pecah perang. Exalos hanya ingin membuat kita berada di pihaknya, untuk menghindari peperangan dua kerajaan."
Raja memijit dahinya. Helaan demi helaan terdengar bersahutan dari peserta rapat. Pendapat Xavia sukses menambah beban pikiran Raja.
Raja menarik napas panjang. Dia melantangkan suaranya. "Baik. Mari anggap ini adalah hubungan mutualisme. Jika memang Exalos ingin membuat Tridentum berada di pihaknya, bukan berarti kita akan kehilangan Tridentum. Kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Aku pikir itu sepadan. Kita tidak rugi."
Xavia menatap Raja dingin. "Kita mengalami kerugian, jelas. Pertama kehilangan identitas. Lucerus tidak akan berdiri sendiri lagi. Kedua, kau membiarkan kita jadi boneka Exalos. Ketiga, kau menyerahkan Tridentum yang aku jaga bertahun-tahun. Terakhir, kau mengorbankan Putri Alura."
Raja memukul meja dengan keras. Namun tidak ada kata yang keluar. Kata-kata Xavia sudah menohok lubuk hatinya yang terdalam. Sebagai Raja dia tersinggung, namun sebagai seorang Ayah, hatinya terluka. Xavia benar, dia menumbalkan putrinya yang masih belia.
Raja menyandarkan tubuhnya dengan lelah. Dahinya yang berdenyut dia usap. Xavia sendiri bungkam, suasana perundingan sunyi senyap.
Selang beberapa detik, Raja kembali buka suara. Sarat akan lelah seolah tidak memiliki pilihan lain. "Rencana pernikahan akan tetap dilanjutkan. Jika sekiranya Exalos meminta ganti rugi perihal Aevum, Lucerus akan menyediakannya. Pernikahan harus tetap dilanjutkan. Ini keputusan final."
Xavia mengepalkan tangannya. Dia berdiri dan menghadap Raja. Kepalanya membungkuk, memberi hormat sebelum keluar dari ruangan.
***
Xavia berdiri di sayap timur. Puncak tertinggi Lucerus sebelah kanan. Jubahnya berkibar tertiup angin bebas, namun tatapannya kosong ke hamparan hijau di bawah. Di bawah sana, terdapat ribuan prajurit yang sedang berlatih. Pasukan yang bertahun-tahun ini dia awasi.
Sejak dulu, Lucerus memang sudah kuat angkatan perangnya. Namun puncak kejayaannya adalah pada masa pemerintahan Raja James, ayah Xavia, dengan Xavia sendiri sebagai panglimanya.
Para pendahulunya melakukan segala cara, hingga mengorbankan jiwa dan raga menjaga angkatan perang ini. Hingga hingga tercetuskan nama Tridentum, sebagai penghargaan terhadap para prajurit yang telah berjuang untuk Lucerus. Semenjak saat itu, mereka dipanggil Tridentum—angkatan perang Lucerus.
Para prajurit adalah temannya, medan perang adalah tempatnya, luka adalah melodi yang akan selalu mengiringi langkahnya. Tridentum sudah menjadi separuh hidup Xavia. Namun sekarang, Raja dengan tega mempertaruhkan Tridentum untuk berada di bawah kekuasaan lain.
Exalos. Itu bukan kerajaan sembarangan. Buah bibir selalu mengatakan bahwa Exalos kerajaan sempurna. Namun di mata Xavia, Exalos hanyalah monster. Di medan perang, mereka tidak punya belas kasih, baik kepada para prajurit, maupun rakyat jelata.
Penduduk Aevum yang melawan dibantai tanpa ragu, sisanya dijadikan tawanan, budak di Exalos. Padahal rakyat tidak salah apa-apa, namun dibantai layaknya hewan buruan.
Xavia tidak akan pernah rela menyerahkan Lucerus dan Tridentum pada Exalos.
"Putri..." Kepala pelayan Sima menatap sang putri dengan sendu. Namun tidak ada reaksi. Tubuh itu terus berdiri menatap ke udara bebas. Punggungnya yang tegap menunjukan kekuatan namun sebagai orang yang sedari kecil mengasuh putri Xavia, kepala pelayan Sima tahu betul, Putri Xavia tidak pernah merasakan kebebasan dan haknya sebagai seorang putri.
"Bibi..." panggil Xavia setelah hening yang panjang. "Exalos akan datang menjemputku sebagai tawanan. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya dengan suara pelan, pandangannya kosong.
Kepala pelayan Sima cemas. "Putri, sebaiknya ini dibicarakan dengan Yang Mulia," katanya.
"Salona akan datang berkunjung lusa. Alura akan dipinang. Saat ini, dalam kepala ayah hanya keuntungan yang akan dia dapat dengan menjalin kekerabatan dengan Exalos. Namun dia tidak memikirkan resikonya."
Kepala Dayang Sima menunduk.
"Sementara Exalos masih terus mencariku. Mereka pasti akan menemukan jati diri Aevum dan datang ke Lucerus. Jika sampai bentrok dengan Salona, aku tidak tahu bagaimana reaksi Yang Mulia." Xavia membalikan tubuhnya menatap kepala pelayan Sima. "Bibi, apa sebaiknya aku menyerahkan diri?"
"Putri, saya mencemaskan anda..." ujar kepala pelayan Sima cemas. Saat ini, Xavia seperti kehilangan jati diri. Kepala pelayan Sima cemas dengan sisi Putri Xavia yang satu ini. Sisi ini selalu bertindak tidak terduga dan nekat.
***
Cicitan burung-burung kecil masih terdengar pagi itu. Udara matahari pagi yang hangat menimpa tubuh-tubuh para prajurit yang bersiap untuk berlatih. Sementara di sisi lain istana, si bungsu Aurora sibuk berlarian di taman, mengejar kupu-kupu kesana-kemari.
Setiap kali dia melompat, para pelayan mengalami serangan jantung mendadak. Keselamatan putri Raja adalah yang utama. Lecet sedikit, posisi mereka bisa terancam. Tapi Putri Aurora ini sungguh aktif, sulit menghentikannya.
"HA!"
"HA!"
"HA!"
Putri Aurora berhenti seketika. Kepalanya berputar ke arah pelayan saat mendengar suara itu menggema kencang hingga ke taman istana.
"Latihannya sudah dimulai?" tatapannya menjadi berbinar. "Ayo bibi, kita ke selatan." Aurora berlari keluar dari taman. Para pelayan menjerit dan buru-buru menyusul putri kecil itu.
Aurora yang antusias sampai di selatan istana. Matanya menatap kagum pada ribuan prajurit yang sedang melakukan pemanasan dengan pedang. Dengan gerakan serentak dan suara yang menggelegar.
"Putri, kita tidak diizinkan ke tempat latihan prajurit. Di sini berbahaya," ujar seorang pelayan, membujuk putri agar segera pergi.
Aurora menatap pelayan dengan cemberut. "Aku hanya melihat. Pedang-pedang itu tidak akan sampai ke sini."
"Tapi jika Yang Mulia mengetahui ini, beliau—"
"Sst! Jangan beritahu ayah atau ibu!"
Kesal, putri Aurora melompat ke rerumputan dan kabur ke semak-semak dan mengintip. Melihat para prajurit lebih dekat. Sedang asik-asiknya mengintip, Aurora dikejutkan dengan sebuah tangan yang memegang lengannya.
"Hiya!" teriaknya kaget.
"Sst..."
Aurora menutup mulutnya saat sadar bahwa orang itu adalah Alice, sang kakak. Alice menarik tangannya. "Ayo pergi. "Ibu Ratu akan marah jika dia tahu kita berada di sini."
Aurora merengek. Dia mengintip lagi barisan prajurit yang berlatih. "Kakak Xavia sudah sembuh? Mengapa dia ada di sana?" tanya Aurora.
Alice menatap ke lapangan. Di hadapan para prajurit, Xavia duduk di atas kudanya. Dia tidak terlihat habis terluka, padahal ada sayatan pedang di punggungnya yang belum sepenuhnya kering. Kakaknya memang mengagumkan, dia tidak seperti putri Raja pada umumnya. Dia gadis yang kuat.
Aurora menatap Xavia dengan kagum. Bagi Aurora, Xavia adalah panutannya. Kakaknya itu tidak pernah terlihat tidak keren. Kapan pun, dimana pun, dia selalu berkharisma dan memiliki aura yang tajam. Apapun yang dia kenakan, Aurora jadi ingin kenakan juga.
Tapi Xavia sulit disentuh. Penampakannya sangat dingin dan mahal. Pembawaannya menunjukan bahwa dia memiliki level yang tinggi. Membuat orang-orang segan berbicara padanya. Termasuk adik-adiknya.
"Ayo kita pergi Aurora." Alice menarik tangan Aurora. Si bungsu merengut, tapi dia tetap menurut sang kakak. Namun kakinya tersangkut salur-salur semak-semak hingga dia tersungkur dan menimpa Alice. Kedua terjatuh ke depan.
Para pelayan memekik dan menghampiri ke duanya. Alice meringis. Dia menatap ke lapangan, dan terkejut saat Xavia menatap ke arahnya. Dia buru-buru membantu Aurora berdiri.
"Cepat. Kita ketahuan," bisiknya pada Aurora. Aurora menatap ke lapangan, saat matanya melihat Xavia yang menatap mereka dari kudanya, gadis kecil itu berlari—kabur terpontang-panting.
"Aurora." Alice tanpa pikir panjang mengejar adiknya—ikut melarikan diri.
Sementara Xavia menggeleng-gelengkan kepalanya.
***