The Crown

The Crown
Bab 4



Alura mengucek matanya. Buku tebal itu dia tutup sembari menguap. Bibirnya mengulas senyum tipis saat memperhatikan tulisan judul dari sampul buku yang dia baca.


Sekelabat bayangan hitam mengejutkan sang putri. Seketika dia menoleh dan menemukan sosok sang kakak yang sudah berada dalam kamarnya. Dia menghela napas, habis terkejut.


"Selamat malam, kak," katanya.


Xavia tidak menjawab salamnya. Matanya menatap ke buku di pangkuan Alura.


'Manner of A Queen'


Xavia mendenguskan tawa karena buku itu. Dia menatap adiknya lamat-lamat. Alura sendiri tersenyum tipis. Dia tahu apa yang berada dalam pikiran Xavia.


"Apa kau benar-benar menerima pernikahan itu?" tanya Xavia kemudian.


Soal kesiapan, Alura tidak memiliki keyakinan untuk menjawab. Jadi dia terdiam selama beberapa detik. Buku di pangkuannya dia garuk sampulnya. "Ya."


Xavia menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Tidak ada ketegasan dalam jawaban Alura, sudah cukup membuktikan bahwa Alura masih dilingkupi keraguan. Xavia tidak menertawakan Alura, dia menertawakan ayahnya. Andai saja Yang Mulia melihat langsung reaksi Alura, mungkinkah sang Raja akan luluh dan membatalkan niatnya.


"Kakak tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasi ini," ujar Alura menatap bukunya.


"Apa kau pernah bertemu dengannya?"


Alura menggeleng.


"Apa kau tahu siapa namanya?"


Alura terpaku. Sadar bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang pangeran Salona, pria yang akan dinikahkan dengannya. Dengan lesu Alura menggeleng.


Xavia mengulum senyum.


"Namanya Pangeran Luca. Putra ke dua Salona Kingdom," ujar Xavia.


Alura menatapnya. "Bagaimana kau tahu? Kau sudah pernah bertemu dengannya?"


Xavia duduk di pinggir ranjang besar Alura. "Sekali," jawabnya. Dia menghela napas. Xavia menatap Alura yang hanya diam. Yang tertua mengulas senyum tipis. Dia menatap seluruh ruangan kamar Alura yang tertata rapi. Ada begitu banyak buku dan hiasan dinding yang membuat kamar itu tidak terlihat membosankan.


"Kak," panggil Alura setelah berpikir lama. Xavia menoleh. Dia menunggu saat Alura menggigit bibirnya dan menatap Xavia tepat di matanya.


"Aku akan menerimanya," ujar Alura sungguh-sungguh. Xavia terpaku.


"Jika memang ini demi kerajaan, aku akan menerima apa pun yang diinginkan Raja. Aku akan melakukan apa pun untuk Lucerus."


Ini adalah kesempatan Alura. Jika memang dengan cara ini dia dapat diakui di Lucerus, Alura akan mengubur mimpinya dalam-dalam.


***


Istana Lucerus sangat sibuk. Dalam sekejap penampakan setiap ruangan terlihat meriah. Berbagai hiasan dan pernak-pernik meramaikan suasana Istana. Para pelayan sibuk, para putri juga sibuk melihat tukang masak di dapur istana. Sesekali mengambil kesempatan mencicipi hidangan yang di buat.


Putri Alura sibuk mempersiapkan diri di kamar, sementara putri tertua—Xavia sibuk menghabiskan waktu di hutan, berburu. Berburu adalah solusi terbaik untuk melapangkan pikirannya. Percakapan kakak beradik semalam membuat beban pikiran pada Xavia. Xavia belum dapat menerima semua ini. Dia memikirkan Alura.


Dan Exalos. Xavia yakin bahwa Exalos akan datang menjemputnya sebagai tawanan. Xavia bingung apa yang harus dia lakukan jika saat itu tiba.


Xavia frustasi. Dia ambil anak panah dan membidik seekor rusa yang sedang memakan tumbuhan luar di balik batu besar. Dengan percaya diri melepaskan anak panah dan mengenai kaki kiri si rusa. Rusa tumbang namun dia belum mati. Xavia melompat turun dari kudanya dan menghampiri hewan sekarat itu. Bulu-bulunya dia usap, dan lehernya Xavia sembelih dengan pisau kecil yang selalu dia bawa di balik jubahnya.


Suara derapan kaki kuda membuat Xavia menoleh. Dia berdiri saat melihat beberapa teman prajurit yang menghampirinya.


"Jeez, rusa ini besar sekali." Pria itu melompat turun untuk melihat si rusa yang telah mati. "Bagaimana kita membawanya? Kuda tidak akan sanggup menambah beban sebesar ini."


Xavia menatap hutan belantara. "Potong langsung," ujarnya tanpa menoleh. "Kita santap di sini."


Para prajurit bersorak senang. Mereka tidak perlu membawa hasil buruan kembali ke istana. Tentu saja senang, di istana mereka harus berbagi. Pasti banyak juga prajurit istana yang ingin bagian rusa. Di Lucerus, daging rusa segar adalah yang terbaik. Selalu menjadi favorit apalagi di kalangan para prajurit. Lapar akan daging sebagai sumber energi.


"Kami akan cari kayu bakar." Dua orang prajurit memisahkan diri. Sisanya sibuk memotong tubuh si rusa.


Xavia sendiri melompat ke atas batu besar dan duduk di sana. Panah dan perlengkapan berburu lainnya dia lepaskan. Tatapannya beralih pada prajurit Tridentum sang sibuk memotong rusa sembari bergurau. Dia tersenyum tipis.


"Jenderal, apa tidak apa kita tidak membantu di istana?" celetuk seorang prajurit.


Xavia mengangguk. "Jangan khawatir. Ada ribuan orang di istana," jawabnya mengacu kepada ribuan prajurit Tridentum yang lainnya.


Xavia menghela napas. Dia akan pulang saat matahari terbenam. Setelah itu, kunjungan dari Salona akan datang. Bagaimana pun Xavia harus hadir di acara itu.


"Jenderal!" panggil prajurit yang sedang mengurusi daging rusa. Tapi Xavia sudah menghilang.


"Biarkan saja. Putri sedang menangkap kelinci liar," sahut prajurit yang lain. Mereka kembali sibuk dengan rusa.


Sementara Xavia menerobos semak-semak, melompati kubangan becek dan berlari cepat menyusul hewan kecil itu. Sulit memang jika harus berlari, Xavia akhirnya memutuskan mengendap-ngendap. Setelah bersusah payah menunggu, akhirnya dia bisa mendapatkan kelinci berbulu lebat itu.


"Hah, hanya karena binatang kecil, energiku terkuras," gumamnya setengah geli. Tubuhnya terbaring menelentang di atas rerumputan dan lumut, sementara si kelinci berada dalam pegangannya di atas perut.


"Tenang rabbit, kau tidak akan ku sembelih," ujarnya. Dia usap-usap kepala kelinci itu dan dia bawa kembali ke lokasi peristirahatan mereka.


Xavia menatap matahari. Sudah dua per tiga hari. Xavia menghela napas. Mereka harus cepat kembali ke istana.


***


"Aurora!"


Aurora terkejut. Dia segera menyembunyikan tangannya ke belakang tubuh dan nyengir pada sang kakak.


Alice melotot dan berkacak pinggang. "Tunjukan tanganmu," katanya galak.


Aurora menunjukan tangan kanannya. Alice menggeleng. "Keduanya."


Aurora merengut.


"Kau mencuri?" Alice memelankan suaranya.


"Noo. Aku tidak mencuri," bantah Aurora namun di akhir dia terkikik malu-malu. Alice menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kembalikan. Sekarang bukan waktunya mencicipi kue-kue itu.


Aurora cemberut dan merengek. Alice mencubit pipinya. " Putri tidak boleh merengek. Jangan cengeng."


"Tapi aku putri yang kecil."


"Putri kecil yang nakal."


Alice menengadahkan tangannya, meminta curian Aurora. Aurora dengan berat hati mengeluarkan curiannya. Namun sebelum sampai di tangan Alice, si bungsu itu berlari, kabur membawa curiannya. Alice berteriak kesal dan mengejar sang adik. Aurora tertawa terbahak-bahak.


"Pencuri kecil."


Karena asik menghindar, Aurora menginjak gaunnya sendiri hingga dia tersungkur ke depan.


"Aurora!" Alice berlari kencang menghampirinya. Karena ceroboh, kakinya juga ikut tergelincir gaunnya sendiri. Hampir saja menimpa adiknya yang masih terduduk di lantai. Hampir, karena tiba-tiba ada yang memeluknya agar tidak terjatuh.


Alice syok, lebih terkejut lagi melihat siapa yang menolongnya. Saking syoknya, Alice hanya bungkam—tidak dapat berkata apa-apa. Kedua kakinya tidak menjejak lantai. Tubuhnya diangkat, diputar dan diturunkan jauh dari Aurora.


Aurora sadar dari keterkejutannya. Tidak ingin terlihat memalukan, dia buru-buru bangun dari posisi tersungkurnya. Namun terlalu ribet dengan gaun panjangnya. Xavia ikut membantu menarik lengannya untuk berdiri.


Xavia tersenyum tipis di balik penutup wajah tipisnya. Dia sodorkan kelinci yang dia bawa, yang dia pegang di bagian telinga ke hadapan Aurora. Bola mata Aurora membesar, segera dia peluk kelinci itu dengan girang.


Xavia menatap Alice yang hanya diam. Dia ambil mahkota kecil yang terjatuh di lantai dan dia letakkan ke kepala Alice. Wajah kecil itu merona saat Xavia merapikan rambutnya yang tergerai.


"Malam-malam di tempat sepi seperti ini. Berbahaya. Ayo kembali," ujar Xavia kalem. Dia bangkit dan membimbing kedua adiknya masuk kembali ke istana.


Alice menahan senyum dengan rona di wajahnya. Jarang sekali Xavia menyempatkan waktu untuk menyapa adik-adiknya. Alice gugup. Aura Xavia terlalu tajam.


Di dalam sangat meriah, tamu dari Salona disambut dengan hangat. Xavia mengantar adik-adiknya kembali ke kursi para putri. Sementara dia kembali menepi ke pojok untuk mengamati dengan tajam.


Pemimpin dan petinggi Lucerus terlibat obrolan dengan pemimpin Salona. Tatapan Xavia beradu dengan tatapan Alura yang turut serta dalam obrolan itu. Alura mengeratkan kepalan tangannya. Dia sedang meyakinkan dirinya sendiri. Saat melihat sorot Xavia, dia berkata dengan tegas. Menyampaikan jawabannya.


"Demi Lucerus dan menjaga kekerabatan kita, saya akan menerimanya."


Alura tersenyum membuat Raja James turut tersenyum bangga. Sementara Xavia mengepalkan tangannya. Tatapannya melunak saat Alura menatapnya lagi. Alura menunduk setelah menatapnya beberapa detik. Xavia tahu dia sedang tidak baik-baik saja.


Semua akan terjadi. Pernikahan itu benar-benar akan terjadi.


Xavia berbalik dan meninggalkan ruangan utama.


***