The Crown

The Crown
Bab 10



Jenderal Aiden berpeluh, sangat berat mengatakan kejelekan putri Silvana dan pangeran Andres di depan kakak tertua mereka. Namun saat menoleh pada Xavia, wanita itu memberikan tatapan setajam pedang yang tidak berhenti di asah. Di sini, Xavia butuh keadilan, di sisi lain, berat bagi Aiden mengatakan keburukan para anak-anak Kaisar.


"Ada sedikit masalah Yang Mulia,"


Pangeran Alex berdehem singkat. "Jika adik-adikku berbuat salah, jangan ragu untuk mengatakannya padaku jenderal. Tidak apa. Katakan saja."


Xavia melirik pangeran itu dalam diam. Tatapannya tidak memancarkan apapun. Tidak suka, tidak benci. Pangeran Alex memang tidak berperasaan saat menjajah Aevum, tapi sekarang Xavia berpijak di istananya. Xavia tidak bisa terang-terangan menunjukan kebencian, tidak bisa juga menunjukan rasa suka cita.


"Seperti yang Anda tahu, jenderal Xavia dari Lucerus mendapat hukuman untuk membuatkan sebuah pendopo di sayap barat dalam kurun waktu satu minggu. Dan pendopo itu sudah selesai setengah bagian, namun pagi ini, Putri Silvana dan Pangeran Andres mengumpulkan pasir dan mengubur pekerjaannya. Jadi jenderal Xavia ingin meminta kompensasi dan keadilan dari yang mulia Kaisar."


Pangeran Alex mangut-mangut. "Begitukah? Adik-adikku memang keterlaluan dalam becanda," katanya kemudian menatap Xavia. Tiba-tiba dia tersenyum kecil. "Tapi, aku rasa istana tidak akan memberikan kompensasi apapun," lanjutnya membuat Xavia mengernyit.


"Pardon?" Xavia menajamkan tatapannya. Apa maksudnya itu?


Pangeran Alex bersedekap dada. "Istana hanya bertugas untuk mengawasi, sementara kerusakan selama pengerjaan, sepenuhnya tanggung jawab yang diberi hukuman."


Xavia terkekeh pelan. "Seingatku, Kaisar pernah berkata bahwa segala hal yang bertujuan menghalangi jalannya pembangunan, layak untuk diberikan sangsi yang berat. Dan aku sebagai pihak yang dirugikan berhak mendapatkan kompensasi."


Pangeran Alex tertawa. "Aku juga ingat, bahwa Kaisar pernah berkata, peraturan dapat berubah sesuai dengan titah Kaisar dan jajarannya. Tidak mungkin kau tidak tahu, jajaran Kaisar itu siapa saja jenderal."


Wajah Xavia merona sampai ke leher. Bibirnya mengatup rapat dan tangannya mengepal erat. Semua ini hanya permainan istana. Mereka berniat untuk menjadikan Xavia budak selamanya di Exalos.


"Seharusnya kau juga sadar dengan status putri Silvana. Merugikanmu atau tidak, kau tidak berhak menyalahkan seorang putri Kaisar."


Xavia tercengang tidak percaya. Dia terkekeh getir. "Baiklah yang mulia. Terimakasih telah mengingatkanku akan satu hal. Aku harus banyak bersyukur dibesarkan di Lucerus dan bukan di Exalos. Setidaknya di Lucerus, generasi raja selalu mengajarkan istana untuk mempertanggung jawabkan segala ucapan dan perbuatannya."


Setelah berkata demikian, Xavia menunduk dengan hormat lalu pergi dari hadapan sang pangeran. Jenderal Aiden meneguk ludahnya menatap kepergian Xavia. Dia segera menghadap pangeran Alex dan membungkuk dalam-dalam. "Saya akan menyusulnya yang mulia," katanya, turut merasa segan karena keberanian Xavia yang dinilai kurang sopan terhadap pangeran pertama Exalos.


"Tidak perlu," jawab pangeran Alex namun dia pergi ke arah Xavia pergi, jadi Aiden buru-buru mengikutinya dari belakang.


Sementara Xavia sendiri diliputi rasa marah. Wajahnya merona hingga ke leher dan telinga. Dalam lautan emosi, Xavia terus memutar otak.


"Pfftt...sepertinya seseorang tidak berhasil meyakinkan Kaisar. Haha wajahnya lucu sekali."


Xavia tidak mempedulikan hinaan putri Silvana. Matanya menoleh pada pangeran Andres yang ikut tersenyum mengejek. Matanya berkilat dan otaknya memutar dengan cepat.


"Aku dengar pangeran Andres adalah seseorang yang mahir dalam berpedang. Apakah itu benar?" Xavia bertanya dengan tenang, melupakan semua kemarahannya dalam sekejap.


Pangeran Andres mengernyit dan melepaskan pandangan sangsi. "Lalu kenapa jika itu memang benar?"


Xavia melebarkan senyumannya. "Well, aku penasaran seberapa hebat pangeran Andres melakukannya."


Tatapan pangeran itu menghunus tajam pada Xavia. "Lalu apa? Kau menantangku?"


Xavia masih setenang air danau saat menjawab. "Tidak yang mulia. Aku hanya penasaran. Namamu begitu dielukan semua orang sebagai yang terhebat. Aku tidak menahan rasa ingin tahuku yang dalam," jawabnya. "Tapi beradu bakat bukan hal yang buruk. Aku pikir pangeran Andres adalah pria sejati, jadi tidak mungkin 'kan, seorang pangeran yang hebat ini menolak tantangan konyol dari seorang budak kotor sepertiku?"


Putri Silvana melotot membuat bola matanya serasa hendak keluar dari rongganya. "Lancang!" pekiknya menggelegar. "Kakak." Dia menoleh pada pangeran Andres yang wajahnya sudah semerah tomat. "Budak ini harus dihukum."


"Diam." Putri Silvana menutup mulutnya saat Andres menjawab dingin. Pangeran itu menggertakkan giginya pada Xavia. Harga dirinya sebagai seorang pangeran yang terhormat baru saja diuji. Dan pelakunya hanyalah seorang budak rendahan yang kastanya jauh berbeda dengannya. Sementara Xavia tidak terganggu sama sekali, pembawaannya luar biasa tenang, berbanding terbalik dengan pangeran Andres yang seperti sudah kebakaran jenggot.


Xavia memiringkan kepalanya. "Yah, sayang sekali jika ekspektasi semua orang salah. Pangeran Andres yang dibanggakan ternyata..." Xavia tidak melanjutkan kata-katanya. Tidak perlu lagi, karena wajah Andres sudah semerah tomat masak.


***


"Tutup mulutmu budak. Pergi ke lapangan dan cobalah menyentuhku kalau kau bisa."


Xavia tersenyum tanpa makna. Sempurna.


Memprovokasi pangeran ke tiga memang semudah ini. Pangeran yang begitu mencintai kehormatan, sudah seharusnya terpancing akibat si provokator Xavia.


Xavia menatap pedang dalam genggamannya. Sudah terasa begitu lama dia tidak berteman dengan benda mati itu, padahal seumur hidup, Xavia dan sebuah pedang adalah teman akrab. Gagang pedang dia genggam dengan mantap, menikmati rasa akrab saat Xavia memutarnya dengan santai.


Dia menatap pangeran Andres yang mengangkat dagu dengan sombong. "Untuk permainan yang adil, kau aku izinkan untuk membuat peraturannya, apapun," ujar sang pangeran.


Xavia tersenyum culas. "Mudah saja. Yang pertama menjatuhkan pedang adalah yang kalah dan dia berkewajiban mengabulkan satu permintaan pemenang. Sesederhana itu."


Pangeran Andres mendengus remeh.


"Satu lagi pangeran, pertandingan kita hanya antara kita berdua. Tidak boleh ada pihak yang ikut campur dan hasilnya tidak boleh disangkut pautkan dengan hal apapun. Semua yang berada di sini adalah sebagai saksi," lanjut Xavia.


Pangeran Andres mengangguk malas. "Baiklah. Aku rasa itu cukup. Seranglah aku. Selain budak, kau adalah seorang wanita, tidak sopan rasa laki-laki sejati menyerang duluan," ujarnya dengan seringai lebar.


Xavia berdecih. Baiklah. Anggap saja Xavia memberikannya sebuah penghormatan sebelum Xavia melemparkannya ke dalam tanah. Jadi Xavia memulainya. Disaksikan banyak pengawal, lima orang budak, dan putri Silvana. Seharusnya cukup menjadi saksi agar yang kalah mau mempertanggungjawabkan kekalahannya nanti.


Sebenarnya Pangeran Andres cukup lihai dalam berpedang, namun Xavia berada di level yang berbeda. Pemuda yang pandai berpedang dalam istana tentu kalah adu bakat dengan seorang panglima yang besar di medan perang. Sangat mudah untuk menjatuhkan pengeran ini, namun Xavia ingat, dia masih memiliki dendam khusus.


Pangeran itu memuntahkan darah yang bersumber dari gusinya yang terluka, membuat putri Silvana berseru panik. Selama pertarungan, Xavia selalu menghindari sabetan pedang pangeran Andres dan balas menyerang dan pukulan atau tendangan di tubuhnya. Tidak, Xavia tidak ingin semuanya berakhir secepat itu. Belasan pukulan bersarang di wajah sang pangeran membuatnya terlihat mengerikan.


"Gadis, cepat jatuhkan saja pedangnya. Jangan membuang waktu," ujar paman Ron yang menonton dengan gusar. Xavia menatap pangeran Andres. Pedang masih dia genggam dengan erat di tangannya sementara wajahnya lebam sana sini. Xavia tersenyum tipis.


"Aku masih ingin bersenang-senang," katanya tanpa menoleh. Pengeran Andres kegeraman. Dia bangkit dan menyerang Xavia membabi buta, tidak peduli jika serangannya beresiko menyebabkan kepala Xavia terpenggal. Yang jelas, dia tidak ingin kalah dan dipermalukan di depan orang-orangnya sendiri.


Tapi masih belum cukup menghadapi Xavia. Gadis itu bahkan menghantamkan lututnya beberapa kali di wajah pangeran Andres. Merasa puas menghajar, Xavia menendang perutnya hingga Pangeran Andres terjungkal dan mendarat di gunung pasir yang menutupi pendopo Xavia. Pedangnya terlempar ke samping membuat Xavia tersenyum.


"Kakak..." Putri Silvana memanggil dengan cemas. Kedua tangannya dia kaitkan di depan tubuhnya.


Pangeran Andres bangkit dengan tubuh remuk. Dia terbatuk dengan memuntahkan pasir dalam mulutnya.


"Hoekk...uhukk..."


Xavia tersenyum tipis. Menyaksikan pangeran itu meratapi rasa sakitnya. "Apa sekarang pangeran mengakui kemenangan budak ini?"


Pangeran Andres mengusap mulutnya dan menatap Xavia bengis hingga bola matanya memerah. Xavia mengerti perasaannya. Marah dan malu tentu saja. Entah kenapa hati Xavia merasa senang karena itu.


"Brengsek!" tak dapat menahan malu lagi, pangeran itu bangkit dan tertatih pergi dari hadapan Xavia.


Putri Silvana menghampiri pangeran Andres dan memegangi tangannya. "Kakak, biarkan aku membantumu," katanya. Namun tangannya ditepis pangeran Andres. Pangeran itu berbalik sedikit ke arah Xavia, melirik dengan tatapan benci.


"Apa yang kau inginkan?" tanyanya dingin.


Xavia tersenyum manis. "Mudah saja pangeran," katanya lalu bergeser ke samping kiri, menunjukan gunung pasir di belakangnya. "Kembalikan pendopoku seperti sediakala dalam waktu satu malam dan datangkan 20 orang budak yang bisa mematuhi segala perintahku."


Pangeran Andres berdecih. Tanpa menjawab, dia pergi dengan cepat meninggalkan lokasi. Putri Silvana segera menyusulnya bersama para pengawal. Meninggalkan Xavia bersama lima orang budak itu.


"Gadis, kau baik-baik saja?"


"Gadis, dari mana kau belajar ilmu itu?"


"Gadis, aku tidak percaya kau sangat berbakat."


"Ya Tuhan, kau sangat cerdas."


Xavia hanya terkekeh menanggapi ucapan budak-budak itu. Awalnya Xavia juga sangat kebingungan dengan masalah ini, apalagi dengan istana yang memihak putri dan Pangeran. Namun, Xavia adalah jenderal berbakat di Lucerus dan panglima di medan perang. Dia ahli strategi yang paling diandalkan kerajaan. Pengalamannya sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mampu berpikir tenang dalam situasi yang paling buruk.


Xavia tersenyum tipis dengan keberhasilan rencananya. Mata menitik ke teras paviliun yang tidak jauh dari taman. Senyumnya melebar melihat pangeran Alex dan jenderal Aiden berdiri di sana. Xavia senang mereka bisa melihat semua ini. Seharusnya mereka sadar untuk tidak memandang rendah Xavia di lain waktu.


***