The Crown

The Crown
Bab 6



Pintu menjeblak terbuka dengan keras. Suara si kecil Aurora melengking saat dia melompat ke atas ranjang sang kakak.


"Kakak, Pinus melarikan diri lagi. Bantu aku mencarinya!" Aurora mengguncang tubuh Alice yang berbalut selimut.


Bukannya bangun, Alice semakin menekan wajahnya ke bantal. Tubuhnya berbalut selimut tebal, hanya menampakkan sebagian rambut yang acak-acakkan.


Aurora menatap sedih. "Kakak, kau kenapa?"


Alice tidak menjawab. Tubuhnya tidak bergerak se-inchi pun. Aurora menoleh ke pintu. "Lihatlah ibunda, kakak sudah seperti ini dari semalam."


Alice mengeratkan selimutnya, mengetahui sang ibu juga berada di kamarnya. Tak lama kemudian, suara ranjang berderit terdengar. Ratu Rose menarik selimut yang membungkus kepala putrinya, namun Alice bersikeras mempertahankan selimut itu.


"Putriku," panggil Sang Ratu.


"Tidak biasanya Putri seperti ini. Bicaralah pada ibu."


Gelengan dia dapatkan dari kepala berbungkus selimut itu.


"Putri tidak boleh seperti ini. Putri membuat ibunda dan ayahanda khawatir. Bangunlah nak, ceritakan pada ibu."


Bujukan Ratu disambut isakan dari balik selimut. Alice berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya, tapi sangat sulit hingga dia nyaris tersedak. "Ibunda, sepertinya aku hanya demam—" ujarnya dengan suara bergetar dan nada seperti tercekik.


"Putri Alice..." Ratu Rose sangat khawatir.


Alice bangkit untuk duduk, dengan pelan dia membalikkan tubuhnya menghadap Ratu. Menunjukan wajahnya yang kacau. Rambut yang berantakan, lingkaran di bawah mata dan air mata yang berlinang di wajahnya. Saat menatap Ratu, dia terisak lalu memeluk Sang ibu. "Hiks, ibu aku ingin bubur merah."


Ratu mengusap punggungnya. Dia cemas dengan keadaan putri Alice. Putri Alice tampak begitu terpukul dan banyak pikiran. Mengurungkan niatnya untuk bertanya, Rose memerintahkan para Dayang untuk membuatkan apa yang putri Alice inginkan.


Tubuhnya tidak panas, wajahnya tidak pucat. Putri Alice tidak sakit. Ratu Rose tahu ada yang mengganggu pikiran putrinya.


***


Xavia membuka matanya. Matahari semakin menguning di balik ventilasi udara. Sudah memasuki waktu sore, sudah lewat dua hari dia berada dikurungan, namun belum ada kabar yang dia terima atas penawaran yang dia ajukan. Xavia menatap ke balik jeruji, tidak ada tanda-tanda kehidupan lain.


Bibirnya mengering. Tanpa makan dan minum, ini penyiksaan. Apa semua tawanan diperlakukan seperti ini? Rakyat Aevum akan cepat mati jika mendapat perlakuan seperti yang Xavia dapatkan.


Xavia menarik tubuhnya yang semula bersandar di dinding untuk duduk dengan tegap. Punggungnya terasa sakit, luka bekas sayatan pedang itu belum sembuh. Tidur pun tanpa alas, dinding batu menjadi pilihan tidur daripada lantai yang tidak rata.


Xavia mengusap pelipisnya. Suara derap langkah membuat Xavia menegakkan tubuhnya. Dua orang prajurit muncul dan membuka kurungan. "Yang Mulia meminta anda untuk menghadap."


Xavia sudah menunggu ini. Berada dalam kurungan membuatnya sesak. Dia perlahan bangkit berdiri. Lalu berjalan dengan agak limbung. Perjalanan menuju ruang utama cukup jauh, wajar, ruang tahanan jauh terisolasi dari istana. Kaki Xavia sudah gemetar untuk berjalan.


Sampai di ruang utama, Kaisar Arthur sudah rapi dengan jubah kebesaran dan singgasananya. Para petinggi keKaisaran berbaris di sisinya. Karena tidak kuat berdiri, Xavia merendahkan diri untuk berlutut dengan sebelah kakinya, layaknya Ksatria.


"Jenderal atau panglima di medan perang, hari ini aku akan mengumumkan keputusan atas permohonan yang kau ajukan. Keputusan ini atas persetujuan segala pihak. Tidak ada bantahan atau pembelaan," ujar Kaisar Arthur. Xavia diam—menunggu. Kaisar Arthur mengutus Jenderal Aiden untuk membacakan hasil keputusan.


"Permohonan anda untuk menebus diri sendiri dikabulkan. Dengan dipenuhinya beberapa persyaratan. Pertama, tidak mendapatkan makanan dan minuman selama dua hari seperti yang telah dilewatkan..."


Xavia mendengus diam-diam. Rupanya berpuasa dua hari penuh termasuk persyaratan bebas.


"Kedua, anda ditugaskan membangun sebuah pendopo di sayap barat istana yang harus diselesaikan dengan waktu tak lebih dari satu minggu. Anda diizinkan menggunakan tenaga kerja tambahan."


"Ketiga, seperti tawanan lainnya, anda turut serta dalam kebutuhan kepentingan Exalos."


"Keempat, segala peraturan dapat berubah sesuai dengan kehendak Yang Mulia Kaisar Arthur dan jajarannya di kemudian hari. Sekian."


Xavia mengernyit. Semudah itu? Ini tidak sesuai dengan ekspetasi Xavia. Xavia tidak pernah mengira hukumannya akan seringan ini. Dahinya berkerut memikirkan ulang yang disampaikan jenderal Aiden. Ada yang ganjil, Xavia yakin.


"...Xavia."


"Xavia saja?"


Xavia mengangguk. "Hanya Xavia."


Kaisar Arthur terkekeh. "Baiklah Jenderal Xavia. Sebelum itu, aku akan menambahkan hukum cambuk sebanyak 50 kali karena telah melukai putra mahkota Exalos."


Xavia mengangkat kepalanya. Tatapannya beralih ke sisi Kaisar. Tepatnya pada putra mahkota yang duduk tenang di samping Ayahnya. Pria yang memimpin Exalos menyerang Aevum. Xavia sangat ingat wajahnya yang keras dan tidak berperasaan menjajah tanah Aevum.


Xavia menatapnya datar. "Baik Yang Mulia. 50 kali hukum cambuk. Tapi tolong cambuk kakiku saja. Punggungku masih terluka bekas sayatan pedang putra anda," ujarnya telak, menyindir Putra Mahkota dan membalas ucapan arogan sang Kaisar.


Kaisar Arthur tersenyum seadanya. "Dikabulkan."


Xavia digiring ke aula istana. Proses hukum cambuk dilaksanakan hari itu juga. Jubahnya ditanggalkan begitu juga dengan lapisan terluar pakaiannya, menyisakan kemeja putih sebagai lapisan terakhir.


"...delapan!"


Xavia menengadah menatap langit sore. Kedua tangannya mengepal dengan kuat. Mengatur napasnya yang mulai tersendat-sendat. Satu persatu cambukan di kakinya membuat tubuhnya menggigil.


"...empat belas!"


Xavia menunduk dan memejamkan mata.


"...lima belas!"


"Akh!!"


Xavia menjerit. Cambukan ke lima belas tidak mengenai kakinya, melainkan punggungnya. Lutut Xavia menghantam lantai, dia terjatuh terkapar di lantai ubin. Pembuluh darah mencetak di leher dan lengannya yang mengepal, karena rasa sakit luar biasa yang menjalar dari punggung ke otak.


Napas Xavia tersendat, dia nyaris tersedak saat mengangkat pandangan pada jenderal Aiden yang menjadi pengawas di sisinya, meminta keadilan karena Xavia sudah meminta untuk tidak menyentuh punggungnya. Jenderal itu melihatnya dengan kasihan.


"Maaf Jenderal. Sepertinya prajurit tidak sengaja mengenai punggung anda."


Persetan. Xavia mengerang marah dengan dahi menempel di lantai ubin. Semuanya omong kosong. Itu jelas di sengaja. Meleset tidak akan sejauh itu dari betis ke punggung.


Jenderal Aiden bungkam. Dari punggung Xavia, noda merah menembus ke kemeja yang putih, makin lama makin besar hingga kemeja itu kuyup dengan cairan merah, menempel ke punggung yang terluka.


Erangan Xavia belum berakhir. Suaranya terdengar pilu menggaruk-garuk lantai ubin. Membuat siapapun yang mendengar, tahu bahwa itu lebih dari sakit akibat cambukan biasa.


"Jenderal, jika anda tidak ingin cambukan mengenai punggung anda lagi, berdirilah dengan benar," suara Jenderal Aiden lagi. Jenderal itu menatapnya miris, kasihan, namun tugasnya hanyalah mengawasi.


Xavia sekuat tenaga untuk bangkit. Tubuhnya menggigil hebat. Ini harus cepat selesai. Cambukan terus berlanjut.


"...delapan belas."


Cambukan lagi-lagi mengenai punggungnya. Xavia roboh. Telinganya berdengung dan kepalanya berkunang-kunang. Pipinya menempel di lantai ubin. Anak-anak rambut menempel di wajahnya yang banjir keringat.


"Brengsek!" pekik Xavia dengan sisa tenaganya. Dia memejamkan mata. Rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata membuat otaknya serasa hendak pecah. Kuku-kukunya menggaruk ubin dengan kuat hingga melukai jemarinya. Darah dari punggung sudah merambat ke kemeja bagian depan, bagian perut dan dada.


Xavia tidak punya tenaga lagi bahkan untuk membuka mata. Tapi dia masih sadar. Telinganya samar-samar masih bisa mendengar suara angin yang berhembus kencang, dan langkah kaki yang mendekat. Air matanya mengalir, lenguhan keluar dari bibirnya, penuh rasa sakit.


***