
"Apa yang kalian lakukan? Kalian merusak tamanku."
Xavia melirik pemilik suara. Pemilik suara merupakan seorang gadis yang kelihatannya adalah seorang putri, terlihat dari pakaian dan pelayan-pelayan yang mengiringinya. Dia mempunyai wajah yang kecil dan mata kucing—tajam. Perawakannya tidak begitu tinggi, tidak juga begitu rendah. Dia terlihat kesal.
"Hentikan semua ini. Taman ini milikku. Tidak ada yang boleh mengusiknya tanpa seizinku."
Xavia memutar bola mata dan menurunkan kanvas yang semula dia pegang. Dia memutar tubuhnya menghadap sang putri. Putri itu juga menatapnya.
"Aku bilang hentikan. Apa kau tuli?"
"Maaf, kau siapa?" tanya Xavia.
Putri itu mendengus. "Hei budak rendahan. Tidak mengenal putrinya sendiri adalah sikap yang lancang. Dasar tidak tahu diri."
Xavia nyaris saja tertawa sarkas. Apa dia bilang?
"Apa kita saling mengenal?" balas Xavia dengan pandangan menilai. Kurang ajar betul mulut anak ini. Tidak sopan.
Putri itu terlihat kesal, namun dia menahannya. Tubuhnya dia tegakkan lalu kembali menatap Xavia. "Aku putri Silvana. Putri bungsu Kaisar Arthur. Aku memiliki kuasa untuk menghukum para budak yang kurang ajar. Taman ini adalah kekuasaanku. Jadi ku perintahkan untuk menghentikan ini semua sekarang juga. Dan kalian para budak, akan mendapatkan sepuluh hukum cambuk karena telah lancang merusak tamanku."
Xavia melirik sepuluh budak yang membantunya. Para budak itu terlihat ketakutan karena ucapan Putri Silvana. Xavia mendengus kemudian menarik napas. Waktu akan terbuang sia-sia karena ini.
"Maaf putri, tapi ini adalah perintah Kaisar. Jika kau tidak suka, bisa bicarakan langsung dengannya."
Putri Silvana mendelik. "Lancang!"
"Maaf Putri, dibandingkan dengan Kaisar, kekuasaanmu bukanlah apa-apa. Tentu saja kami akan lebih menuruti Kaisar daripada seorang putri sepertimu." Xavia tersenyum. "Silahkan putri, kau bisa tinggalkan tempat ini."
Emosi Putri Silvana meledak-ledak karena tidak ada satupun orang menuruti perintahnya. Hidungnya kembang-kempis. "Pengawal! Bawa orang-orang ini ke aula untuk mendapatkan hukuman. Jika tidak bisa diajak bekerjasama, paksa saja."
Xavia memutar bola mata. Para budak mulai ketakutan melihat para prajurit pengawal yang menuruti perintah putri Silvana. Dia menoleh ke arah berlawanan. "Bagaimana ini jenderal Aiden? Putri Silvana hanya membuang-buang waktuku yang sedikit. Tolong berikan kami solusi."
Memang sedari tadi jenderal itu berada di sana. Mengawasi pekerjaan Xavia sesuai perintah Kaisar. Saat atensi beralih padanya, dia berdehem. Menyahuti panggilan Xavia untuk menghentikan putri Silvana.
"Maaf Putri, tapi memang benar bahwa ini adalah perintah Kaisar. Pendopo ini dibangun atas persetujuan Kaisar dan dalam pengawasan saya. Dan berdasarkan hal tersebut, semua tindakan yang bertujuan menghalangi jalannya pembangunan dianggap pelanggaran dan berhak mendapatkan hukuman."
Para pengawal yang semula hendak melaksanakan perintah putri, mengurungkan niat. Tentu saja, tidak ada orang yang ingin mendapatkan hukuman dari Kaisar. Selain itu mengerikan, hukuman akan merusak reputasi penduduk keKaisaran walaupun mereka hanyalah pengawal. Pengawal-pengawal itu mundur teratur.
Putri Silvana sangat tidak terima. Mulutnya komat-kamit layaknya ikan dalam aquarium Kaisar. Dia menatap jenderal Aiden, kemudian pada Xavia. Silvana merasa bahwa jika ia membuka mulut lagi, harga dirinya akan hancur berkeping-keping ke bumi. Jadi sambil mencak-mencak, dia pergi meninggalkan lokasi taman—dengan wajah yang memerah sampai ke telinga.
Xavia terkekeh geli. Dia menyuruh para budak untuk melanjutkan pembangunan pendopo yang tertunda. Xavia memutar tubuh menghadap jenderal Aiden. Jenderal itu masih berdiri beberapa meter dari lokasi pembangunan. Dengan sekali gerakan, Xavia melompat turun dari batu. Dia meringis, lupa bahwa lukanya masih basah.
"Sial," gumamnya.
"Berhati-hatilah Jenderal, jika kau ingin segera keluar dari sini sebaiknya gunakan akalmu."
"Tentu jenderal. Aku tidak akan menjadi seorang jenderal jika tidak bisa menggunakan akalku dengan baik," jawabnya setengah tertatih.
Jenderal Aiden diam saja. Sambil menatap pekerjaan Xavia, dia berkata. "Jangan mencoba menantang para putri dan Pangeran di Exalos jenderal. Aku hanya memperingati agar kau berhati-hati."
Xavia terdiam dan mengangkat pandangannya menatap jenderal itu. Jenderal Aiden, setelah mengatakan itu rautnya berubah menjadi sangat serius. Menurutnya ini adalah hal yang penting, dia melakukan ini karena dia kasihan dengan Xavia. Xavia pun tampaknya bukan orang yang suka merendahkan dirinya di hadapan orang lain.
"Di sini, semua orang bermain dengan akal bukan dengan otot."
Xavia tahu jenderal ini serius, tapi mendengar ucapannya, Xavia tertawa dingin. "Kau berkata seolah merendahkanku jenderal. Apa menurutmu aku tidak punya akal?"
Jenderal Aiden berdehem, sadar dengan ketidaksopanannya. Lagipula Xavia juga merupakan seorang jenderal dan panglima di medan perang. Tidak mungkin dia adalah orang yang bodoh.
Xavia mendenguskan tawa dingin sembari membuang pandangan ke taman yang luas. Benar, bisa ular memang lebih berbahaya dari terkaman harimau. Mereka diam-diam menusuk dari belakang, dan menanggalkan kulit mereka yang sudah rusak kemudian lalu berbaur bersama dedaunan, sulit dikenali.
Seperti apa para penduduk istana sebenarnya?
***
Semakin terik, Xavia masih sibuk berpikir. Sembari mengamati pekerjaan pendoponya, Xavia sibuk merencanakan sesuatu dalam otak cerdasnya. Dia memikirkan cara agar semua tugasnya dapat diselesaikan dan dapat kembali ke Lucerus sebelum pernikahan Alura. Walaupun pernikahan ini ditentang olehnya, bukan berarti dia rela melewatkan hari bersejarah adiknya itu. Setidaknya Xavia harus memberikan sebuah hadiah yang akan selalu Alura kenang.
"Paman Ron." Xavia menegakkan tubuhnya dan melipat kedua kakinya di atas batu. Budak yang bernama Ronald itu mengusap peluhnya sembari menyahuti Xavia.
"Mari kita istirahat sebentar. Ada hal yang ingin aku tanyakan," katanya. Akhirnya, pekerjaan dihentikan sementara. Para budak menatapnya, menunggu hal apa yang ingin Xavia tanyakan pada mereka. Tapi, sebelum itu, Xavia mengernyit bingung.
"Kenapa berdiri seperti itu. Duduklah. Apa kalian tidak membawa air minum?"
"Tidak ada nona. Tidak ada budak yang diperlakukan seperti itu. Nanti kami sendiri yang akan mengambilnya di camp para budak," jawab seorang pria berjambang yang bernama Bill sembari menggeleng seadanya.
Xavia terperangah. Sulit mempercayai bahwa masih ada sistem yang seperti ini apalagi pada Kekaisaran sebesar Exalos. "Gila," gumamnya. Xavia menatap budak itu getir. Kehidupan itu memang tidak adil. Yang tinggi akan semakin tinggi sementara yang rendah akan semakin rendah. Sudah hukum alam.
Xavia bangkit dan turun dari batu. "Duduk dulu paman. Aku akan kembali sebentar lagi," katanya meletakkan gulungan sketsanya di bebatuan.
Salah seorang budak menahannya. "Gadis, jangan menyulitkan dirimu sendiri. Kami sudah terbiasa dengan cara ini. Lebih baik pikirkan dirimu sendiri."
"Paman tenang saja. Aku tidak datang untuk membuat keributan."
Para budak itu menatapnya dengan cemas. Mereka tahu bahwa Xavia tidak bisa dihalangi dengan mudah. Xavia meninggalkan lokasi dan pergi ke dapur istana. Dia ingin meminta air dan beberapa camilan yang bisa digunakan untuk mengganjal perut para budak. Bagaimana pun, para budak itu sekarang bekerja untuknya. Xavia merasa dia punya tanggung jawab.
"Hei putri. Sedang apa kau di sini?"
Xavia bertemu dengan Lila di pintu masuk dapur. Lila menatapnya dengan horor. Gadis itu sedang membawa sebuah wajah besar di pinggangnya, celingukan kesana-kemari.
"Kenapa?" tanya Xavia melihat raut Lila yang memucat.
"Kenapa anda datang ke sini? Status anda sekarang adalah seorang budak. Tidak ada budak yang boleh masuk ke bagian internal istana," katanya cemas.
"Begitukah?" Xavia mengernyitkan dahinya. "Hmm, aku hanya ingin bertanya dan setelah itu keluar," lanjutnya. "Kau tahu budak yang bekerja untukku tidak diberikan makan dan minum saat mereka bekerja. Aku mempertanyakan hal itu."
Lila menarik tangannya dan tergesa-gesa pergi ke balik pilar besar dekat pintu masuk dapur. Bersembunyi sehingga tidak ada yang bisa melihat mereka.
"Putri, kau sangat lancang sebagai seorang budak. Kalau para petinggi keKaisaran tahu, kau akan berada dalam masalah besar. Soal konsumsi, itu adalah konsekuensi mereka sebagai seorang budak. Tidak ada alasan apapun."
Xavia tercengang. "Konsekuensi? Kau pikir menjadi budak adalah kemauan mereka sendiri?" katanya agak sinis. Dia rasa, Lila harus mengoreksi ucapannya. Xavia pun cukup tersinggung karena jawaban Lila. Tapi tampaknya Lila tidak menyesal dengan semua yang dia katakan.
"Lalu apa? Mengajukan protes? Kau pikir budak dapat melakukan itu? Bahkan kami para pelayan, yang statusnya lebih tinggi dari seorang budak, tidak dapat melakukan apapun. Apa yang kau harapkan? Di Exalos, langkah terbaik yang harus kau ambil agar tetap hidup aman adalah menurut."
Xavia tersinggung. Tidak menyangka bahwa status seorang budak bisa serendah itu di mata Exalos. Xavia menemukan satu lagi cela Exalos di matanya. Selain suka merampas milik orang lain, kekaisaran ini suka membunuh tanpa menyentuh.
Lila menyentuh lengannya. Dia mengerti apa yang Xavia pikirkan. Bagaimana pun, Xavia tetaplah seorang putri Kaisar. Dia pasti terluka karena status putrinya di sini turun drastis menjadi budak kotor. Tapi Lila hanya mengatakan realita.
"Kembalilah putri. Jangan membuat masalah yang akan merugikan dirimu sendiri."
Xavia mendengus. Perasaannya memburuk saat dia berbalik dan meninggalkan dapur istana tanpa membawa apa-apa. Xavia kesal sekali, tapi dia tidak ingin bertindak gegabah. Lila benar, statusnya di sini tidak membenarkan Xavia melakukan sesuatu yang Xavia inginkan. Walaupun itu hanya meminta sepotong roti ke dapur istana.
***