The Crown

The Crown
Bab 7



Xavia tidak tahu berapa lama dia tertidur. Matanya sangat lengket saat dia terbangun dengan posisi tubuh tertidur miring. Rasa menyengat di punggungnya kemudian membuat Xavia sadar, ingat bahwa dia terluka parah akibat hukum cambuk yang diberikan Kaisar Arthur padanya.


"Yang Mulia..."


Xavia mendengar suara bergetar memanggil. Dilanjutkan dengan sepasang tangan yang memegang tangannya. Xavia mengedip-ngedipkan matanya yang mengabur. Apa ia sekarang berada di Lucerus? Kenapa Xavia dipanggil 'Yang Mulia'?


"Yang Mulia anda sudah sadar? Bagaimana perasaan anda?"


Xavia minta untuk dibangunkan. Tubuhnya kebas, nyaris mati rasa, namun rasa sakit itu masih terasa dengan ketara. Saat Xavia berhasil duduk, seorang pelayan atau mungkin budak Exalos berlutut sembari menggengam kedua tangannya. Pakaiannya sangat lusuh dan sudah lumayan tua.


Xavia mengernyit. Rasanya familiar. "...bibi?"


Wanita itu mengusap-usap punggung tangannya. "Syukurlah anda baik-baik saja."


Xavia diam setengah tidak percaya. Kemudian tersenyum tipis. "Senang kau selamat bibi," katanya.


Wanita itu meneteskan air matanya. "Senang anda juga selamat Yang Mulia. Tapi putra saya, saya tidak tahu bagaimana kabarnya." bibi itu murung.


Xavia tidak mengatakan apa-apa. Soal keselamatan seseorang, itu di luar kuasanya. Serangan Exalos memang bencana di Aevum. Seingat Xavia saat dulu berjaga di Aevum, bibi ini hidupnya cukup sejahtera sebagai seorang pengrajin keramik. Seseorang yang cukup disegani karena kekayaan yang dia bangun bersama sang anak tunggal. Namun Exalos pukul rata, semua orang akan menerima hal yang sama.


Dari pintu masuk, muncul seorang lagi yang merupakan seorang pelayan. Dia lebih muda namun wajahnya tidak terlihat begitu ramah. Dia membawa sebaskom berisi air dan handuk kecil.


"Apa perlu dipanggilkan tabib?" tanya pelayan itu sambil meletakkan bawaannya di samping sang bibi.


"Tidak perlu." Xavia menjawab seadanya. Matanya memperhatikan bagaimana bibi yang dia kenal dari Aevum itu merendam handuk dan memerasnya.


"Mohon izin Yang Mulia. Maaf jika saya lancang."


Xavia tidak menjawab namun dia membiarkan bibi itu mengusap lengannya dengan handuk basah. Rasanya tenaga belum terkumpul betul. Otak Xavia belum bisa diajak berpikir, jadi hanya ada kekosongan dalam kepalanya.


Gadis pelayan itu ikut bersimpuh di samping sang bibi. Matanya menatap Xavia lamat-lamat. Mata Xavia meliriknya saat gadis itu menarik tangan Xavia yang satunya lagi. Meneliti dengan mata besar dan mengusap punggung tangannya.


"Yang Mulia, anda sangat cantik. Kulit anda sangat bagus. Apa anda adalah seorang putri?" tanyanya frontal.


Bibi memukul tangannya yang dianggap lancang. "Tidak sopan."


Gadis pelayan mencibir. Dia mengabaikan bibi dan kembali menatap Xavia yang hanya diam.


"Tapi sayang, lukamu sangat besar. Tidak akan hilang sampai beberapa tahun. Kaisar memang kejam. Apa dia tidak tahu kalau kau adalah seorang putri Kaisar. Mungkin dia akan memperlakukanmu dengan lebih baik."


Bibi sangat marah. Dia mencubit pinggang gadis itu. "Lancang," serunya tajam.


Pelayan itu menepis tangan bibi dengan kesal. "Kenapa? Kita sama-sama budak sekarang. Gelar setinggi apapun tidak akan berguna lagi saat menjadi tawanan Exalos."


Bibi geram dan mengangkat tangannya untuk memukul gadis itu.


"Bibi..." panggil Xavia untuk menghentikan wanita tua itu. Bibi menatapnya tak enak. Dia menatap gadis pelayan dengan tajam, namun yang ditatap hanya merengut sebal.


Xavia tidak berkata lagi. Bibi melanjutkan pekerjaannya dan Xavia larut dalam pikirannya. Gadis pelayan itu memang benar, status mereka sekarang sama. Sama-sama budak Exalos. Status yang tidak terpengaruh oleh jabatan setinggi apapun. Kasta terendah yang tidak boleh melakukan apapun kecuali menjalankan perintah tuannya.


Xavia melirik gadis pelayan. "Kau juga seorang tawanan?"


Ammar Kingdom. Seingat Xavia, keKaisaran itu dulunya terkenal akan rempah. Kemudian terlibat hutang dengan Exalos hingga Ammar direbut paksa. Sudah lama sekali sejak kejadian itu. Sekarang Ammar kingdom sudah terkubur di bawah kota besar Exalos. Ya, Exalos besar hanya dengan menjajah keKaisaran lain. Tidak salah Xavia menyebut mereka semua monster, karena Exalos memang setidak-berperasaan itu.


Bibi menyenggol gadis pelayan itu. "Buatkan bubur untuk Yang Mulia."


Gadis pelayan itu berdecak malas. Namun saat dia melirik Xavia yang juga meliriknya, gadis itu bangkit. Saat sedang sakit pun, aura tajam dan mendominasi Xavia tidak berkurang. Karena itulah gadis pelayan itu seketika segan walau Xavia tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Bibi, berapa lama aku tertidur?" tanya Xavia seperginya pelayan itu.


"Semalam dua hari Yang Mulia," jawab bibi sambil menyeka kaki Xavia.


Xavia mendesis saat bibi membersihkan luka bekas cambuk di kakinya. Sial, waktunya sudah terbuang dua hari. Xavia harus segera keluar dari tempat ini dan mulai mengerjakan pendopo. Sisa waktu yang tidak lebih dari lima hari lagi, Xavia tidak yakin akan menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Jika tidak selesai sebelum lima hari, dia akan selamanya menjadi budak di Exalos.


"Bibi, apa kau punya sesuatu yang bisa digunakan untuk menulis?"


Bibi mengangkat kepala dan menggeleng. "Budak tidak difasilitasi dengan hal itu Yang Mulia," jawabnya murung.


Xavia menghela napas. Dia menyerah untuk meminta lagi. Semua lukanya dibersihkan dan kain diganti dengan yang baru. Gadis pelayan pun sudah kembali membawa semangkuk bubur dan minuman hangat. Sembari makan, Xavia menatap gadis pelayan yang membantu bibi membereskan bekas-bekas kain kasa dan obatan lainnya.


"Bibi..." panggilnya. "Dengan apa bibi harus aku panggil? Beritahu aku namamu."


Bibi tersenyum, senang saat sang putri menanyakan namanya. "Maria. Panggil saya Maria."


Xavia tersenyum tipis dan mengangguk. Dia menoleh pada gadis pelayan. "Bagaimana denganmu?"


"Lila"


Xavia mengangguk. Dia menatap gadis pelayan bernama Lila itu. "Lila bolehkah aku minta tolong?"


Lila menatapnya bingung. Dia menatap bibi Maria yang juga menatapnya.


"Tolong temui Jenderal Aiden. Katakan padanya aku butuh alat tulis dan kanvas. Bisakah kau melakukannya untukku?" Xavia menatapnya dalam-dalam. "Kau tahu tugasku membangun pendopo hanya tersisa lima hari lagi. Sesegera mungkin aku harus kembali ke Lucerus, adikku akan segera menikah. Aku harus berada di sampingnya."


Lila terdiam. Dia benci sekali diperintah oleh orang asing. Tapi mendengar dan melihat Xavia meminta, kepalanya mengangguk tanpa sadar. Sihir macam apa yang digunakan putri ini? Lila bahkan tidak protes atau mengeluarkan bantahan. Kepalanya mengganguk patuh dan tubuhnya berputar untuk keluar dari pondok para budak.


***


Xavia menghabiskan waktu semalam penuh menyelesaikan desain pendopo yang akan di buat. Pagi-pagi sekali, Xavia mencoba menggerakkan tubuhnya. Dia tidak ingin lukanya menghambat pekerjaan yang harus dia lakukan. Tanpa tidur dan istirahat. Bagi Xavia, luka seperti ini bukanlah masalah besar. Di medan perang, Xavia bahkan berjaga berhari-hari, karena sekejap tertidur adalah kesempatan musuh menyerang. Xavia sudah terbiasa merasakan rasa sakit, jadi dia harus bangkit, agar segera keluar dari Exalos.


Jenderal Aiden mendatangkannya 5 orang budak untuk membantunya membangun pendopo. Xavia sangat terbantu sekali, karena lukanya, dia belum bisa banyak bergerak. Jadi sepanjang waktu dia hanya mengamati proses pembangunan atau mengoreksi.


Xavia melompat ke batu besar dan meringis karena lukanya mendadak nyeri. Tapi dia gadis keras kepala, tak peduli dengan hal itu. Angin tipis menerbangkan anak rambutnya sembari dia mengamati lagi desain yang telah dia buat—membandingkan dengan proses pekerjaan para budak.


"Ada apa ini?"


Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari sisi kanan Xavia.


"Apa yang kalian lakukan? Kalian merusak tamanku."


***