
Kingdom of Lucerus, diberkati dengan tiga orang putri yang cantik jelita. Lucerus dikenal dengan angkatan perangnya yang tak tertandingi, yang dipimpin oleh para jenderal dan panglima perang terbaik. Namun, Raja James harus tetap menikahkan putri-putrinya dengan pangeran-pangeran terbaik untuk memperkuat kerajaan karena Lucerus tidak memiliki pangerannya sendiri.
Exalos Empire, memiliki kehidupan yang makmur dan sejahtera. Sejarah mencatat, Exalos adalah kekaisaran teladan berdasarkan catatan ekonomi dan pertumbuhan penduduk yang setiap tahunnya semakin besar. Kekaisaran itu terus berkembang dan bertambah besar setiap tahunnya. Selain itu, setiap Raja melaksanakan tugasnya dengan baik hingga makmurlah kerajaan tersebut.
Suatu ketika, pecah perang antara Exalos Empire dan Aevum Kingdom. Exalos mengklaim bahwa Aevum telah menjadi milik Exalos akibat perjanjian yang pernah dibuat. Namun Aevum menolak hingga Exalos memutuskan untuk menggunakan kekerasan.
Dalam peperangan, pangeran menghadapi seorang jenderal tangguh yang mengacungkan pedang padanya. Namun dia sendirian, sedang Exalos tidak. Jenderal itu berhasil disudutkan, namun berhasil melarikan diri, menggagalkan upaya pangeran untuk menjadikannya tawanan.
***
Rosetta sedang duduk dengan anggun di kursi panjang taman Lucerus. Taman ini dibuatkan khusus oleh Raja untuk istri dan putri-putrinya. Terletak di depan paviliun Ratu hingga Ratu betah berlama-lama di sana. Menghabiskan sepanjang dari hanya untuk sekedar berjemur atau merangkai bunga-bunga.
"Ibunda..."
Rosetta tersenyum saat putri bungsu menghampirinya. Gaun merah muda menyapu rerumputan saat dia berlari kecil ke hadapan Rose. Segenggam bunga Lili dia tunjukan kepada ibunya.
"Apakah ini cantik? Bagaimana menurut ibu?" tanyanya dengan lembut.
"Duduklah. Bagaimana putri Aurora melakukannya?" tanya Rosetta sambil menarik putri bungsunya duduk di sebelahnya.
Aurora duduk dan dengan semangat mulai menceritakan bagaimana dia merangkai bunga-bunga ini. "Aku memetiknya di depan air mancur. Mereka terkena sinar matahari yang cukup, jadi mereka tumbuh dengan baik dan terlihat cantik. Aku pilih yang putih karena mereka melambangkan hati yang suci dan tulus. Aku ingin menunjukan pada Ibunda bahwa aku menyanyangi ibu tanpa alasan. Tidak ada alasan untuk mencintai ibunya sendiri. Cinta anak kepada ibu tidak perlu ditanyakan alasannya."
Rosetta terenyuh lalu mengusap kepala putri Aurora. Putri Aurora tersenyum lembut. Pipinya merona karena terkena sinar matahari yang hangat. Anak-anak rambut yang beterbangan membuatnya tampak mempesona dan manis di saat yang bersamaan.
Putri Aurora adalah yang termanis se-Lucerus. Dia terkenal akan perilakunya yang antusias. Gadis periang yang akan membuat semua orang tersenyum karena senyumnya. Manis dan penurut. Dia mencintai semua orang dan tidak menyimpan rasa benci pada siapapun. Sangat tulus dan polos.
Di antara saudaranya, Aurora lah yang paling dikasihi oleh Raja dan Ratu. Raja bahkan membuatkannya rumah kaca khusus karena putri Aurora sangat suka dengan tumbuhan dan kupu-kupu..
"Terimakasih Putri," ujar Rosetta penuh kasih sayang.
"Ibunda." panggilan lain terdengar. Dari arah yang sama, putri yang lain muncul dan menghampiri dengan semangat.
"Duduklah Putri. Ceritakan bagaimana kau merangkai bunga-bunga ini."
Putri itu duduk di sisi Rosetta yang lain. Dia menunjukan rangkaian bunga mawar merah yang indah. "Setiap bunga memiliki keindahannya sendiri. Aku memilih mawar karena dia melambangkan ibu. Indah namun pemberani. Ibu adalah wanita terhebat dalam hidupku."
Rosetta terkekeh. "Kata-kata yang bagus putri Alice. Terimakasih."
Putri Alice adalah putri Lucerus yang kedua. Dibandingkan dengan Aurora, Alice tidak begitu banyak bicara. Dia selalu melakukan sesuatu dengan porsi yang pas, tidak berlebihan atau kekurangan. Sangat anggun. Putri Alice terkenal akan etiket baiknya. Dia sangat cerdas dan berbakat.
"Selamat hari ibu." Alice mengecup punggung tangan Rosetta membuat Rosetta mengusap kepalanya.
"Hmm kenapa Kakak Alura sangat lama?" tanya Aurora sambil menatap ke taman.
Alice menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Kakak Alura menyiapkan banyak hal. Lihat saja." Dia terkekeh.
Selang beberapa menit kemudian, putri terakhir muncul dengan senyumnya yang cantik. Di tangannya ada sebuah buket bunga yang dirangkai dengan apik.
"Wah, indah sekali. Bagaimana kakak melakukannya?" tanya Aurora antusias.
Alura tersenyum. "Ibunda, aku memetik yang terbaik di Lucerus. Tempat hidupnya agak lembab hingga wanginya tetap terjaga. Yang lebih penting, Krisan melambangkan kejujuran. Tidak peduli dengan apapun, Ibu adalah orang yang paling aku sayangi dari lubuk hatiku yang terdalam. Tolong percayai rasa cintaku ibu."
Putri Alura adalah yang tertua. Dia selalu melakukan segala hal dengan sempurna. Dia sempurna. Kecantikan yang sempurna. Etiket yang tidak ada celanya. Kecerdasan yang patut dipuji. Bakat yang melimpah dan kemampuan sosialnya yang diapresiasi Raja. Putri Alura adalah yang paling dibanggakan se-Lucerus.
"Selamat hari Ibu. Semoga tahun ini dan tahun-tahun seterusnya ibu selalu dilimpahi keberkahan dan keselamatan. Semoga Tuhan selalu menyertai langkahmu dan kebahagian disetiap waktumu."
Rosetta memeluk ketiga buket bunga itu sekaligus. Dia mengucapkan terimakasih dan menatap putrinya satu-persatu. Kebahagian ini seharusnya sudah sempurna. Hidupnya ini seharusnya sudah sempurna. Rosetta memiliki hidup impian yang didambakan setiap ibu. Tapi, masih ada celah kosong dalam hatinya. Cinta ketiga putrinya tidak sanggup mengisi kekosongan itu.
Alura menyadarkan Rosetta. Ketika sadar, pipinya sudah berlinang air mata. Rosetta bangkit dari duduknya tanpa mengusap air mata itu. Ketiga putrinya sontak berdiri dan menatapnya dengan khawatir.
"Ibu akan kembali ke paviliun. Terimakasih putri-putriku," ujarnya dengan serak. Tanpa menunggu jawaban, sang Ratu beranjak dari taman, meninggalkan ketiga putri yang terdiam dengan pikiran mereka masing-masing.
***
"Yang Mulia..."
Raja menurunkan surat-surat dokumen yang sedang dia baca. Keningnya berkerut melihat tangan kanannya tergopoh-gopoh memasuki ruang utama.
"Ada apa Kasim Zam?"
Kasim Zam menautkan kedua tangannya di depan perut. Wajahnya terlihat tidak tenang.
"Putri Xavia Yang Mulia..."
Tubuh sang Ratu—Rosetta, tegak seketika. Jantungnya tiba-tiba berdebar mendengar ucapan Kasim Zam. "Apa Putri Xavia sudah kembali Kasim Zam?"
Kasim Zam mengangguk dengan kaku. Dada ratu Rosetta mengembang karena perasaan senang. Dia mengangkat gaunnya untuk turun dari singgasana dengan semangat, ingin segera keluar menemui Putri Xavia.
"Tapi Yang Mulia—"
Sebelum Kasim Zam menjelaskan, dari pintu masuk ruangan utama, Putri Xavia masuk tanpa diminta. Menghentikan langkah Rosetta yang belum sempat turun dari singgasananya. Mata sang Ratu melebar melihat kondisi Putri yang jauh dari kata baik-baik saja. Sang Raja menyimpan kembali semua dokumennya dan menegakkan tubuhnya saat Putri Xavia yang setengah tertatih berhenti di depannya.
Raja memandang dengan tajam. Alisnya berkerut menunggu penjelasan. Ratu menautkan kedua tangannya gelisah.
"Aevum diserang," ujar Putri Xavia pendek sembari berlutut.
Raja bangkit dengan marah. "Lalu kalah?"
"Bagaimana mungkin kerajaan sekecil Aevum bisa menang? Kami kekurangan senjata dan prajurit. Lagipula kedatangan Lucerus ke Aevum bukan untuk perang. Apakah kami dibekali dengan persiapan yang cukup, Yang Mulia?" tanya Putri Xavia dengan tenang.
"Seharusnya sudah cukup. Aku sudah mengirimkan prajurit terbaik Lucerus. Aevum pun dalam pengawasanmu beberapa tahun ini. Bagaimana mungkin angkatan perang Aevum selemah itu?" sanggah sang Raja. Sangat tidak terima dengan kekalahan Putri Xavia.
Putri Xavia tersenyum tipis. "Aevum hanya seujung kuku Exalos. Bagaimana mungkin kami menang menghadapi angkatan perang monster itu?"
Raja dan Ratu terkejut mendengar bahwa Exalos Empire lah yang menyerang Aevum. Mendengar kerajaan paling besar ini yang menyerang anak kerajaannya, Raja semakin murka.
"Kesalahan apa yang telah kau lakukan sehingga Exalos menjajah ke Aevum? Tidak mungkin Exalos menyerang tanpa alasan. Pasti ada kesalahan yang telah diperbuat."
Putri Xavia mengangkat wajahnya. Wajahnya yang lusuh menampilkan raut yang kosong. Menatap sang Raja dengan hati berdenyut. Tubuhnya sangat lelah sehabis perjalanan panjang. Tidak makan dan minum dalam beberapa hari.
"Ayah, aku baru saja kembali sehabis perang. Tidakkah kau menanyakan keadaanku terlebih dahulu? Menanyakan luka dan pukulan yang aku dapatkan?" tanyanya membungkam sang Raja.
Wajah Putri Xavia sangat pucat. Beberapa lebam di wajahnya memperparah parasnya. Pakaiannya yang robek di sana-sini menjelaskan bahwa kondisinya tidak baik-baik saja. Putri Xavia tidak mendapatkan jawaban apa-apa atau pun perintah Raja yang setidaknya menyenangkan hatinya.
Sang Putri berdiri dengan tertatih. "Aku terluka dan kelaparan. Aku akan menjelaskan detilnya nanti. Izin aku membersihkan diri dan mengobati luka."
Tidak ada jawaban. Putri Xavia pun tidak membutuhkan jawaban Raja. Keterdiaman Raja adalah jawaban Ya. Maka putri Xavia membalikkan tubuhnya untuk undur diri dari hadapan Raja.
Para dayang segera menghampiri putri dan membantunya untuk pergi ke paviliunnya di arah timur.
Ratu Rosetta dengan gelisah segera menyusul Putri Xavia.
***