
Untuk kesekian kalinya Xavia menghela napas. Kakinya membawanya bagian terluar istana. Langit malam saat itu sangat cerah dan berbintang, namun tidak dengan hatinya.
"Jenderal."
Xavia menoleh. Melihat seorang prajurit yang terlihat tergesa. Raut prajurit itu menarik perhatian Xavia, sang putri mengernyit. Secara insting, matanya mengarah pada arah belakang prajurit dan menemukan segerombol prajurit tak dikenal di pintu masuk istana.
Xavia melewati prajurit Lucerus itu. Sang prajurit mengikutinya, mengurungkan niatnya untuk masuk ke istana memberitahu sang raja, karena Xavia sudah ada di sana.
Prajurit-prajurit tidak dikenal itu dihadang di pintu masuk. Menunggu izin untuk memasuki istana. Xavia tertegun. Dia menatap pendatang itu dari atas ke bawah.
"Ada apa ini?" tanya Xavia.
"Kami ingin bertemu Yang Mulia Raja Lucerus," jawab salah seorang prajurit asing itu.
"Aku adalah orang kepercayaan Raja James. Kalian bisa mengatakannya kepadaku."
Prajurit asing itu mengernyitkan dahinya. Mengatakan tujuan mereka pada sembarang orang bukanlah wewenang mereka. Apalagi, Xavia sekarang tidak jelas identitasnya. Belum lagi dengan penutup wajah yang Xavia kenakan. Keraguan prajurit itu bertambah.
"Kami diperintahkan untuk menghadap Raja James secara langsung."
Xavia membuang wajahnya sambil berdecak. "Kalian tidak akan kuizinkan masuk jika tidak mengatakan tujuan kalian datang ke Lucerus," ujar Xavia tegas.
Prajurit itu saling berpandangan. "Kami datang untuk menjemput panglima perang Lucerus."
Xavia terbelalak. Dadanya bergemuruh dan tanpa diminta, matanya menatap ukiran burung gagak di lengan pakaian prajurit itu.
"Exalos," gumam Xavia. Prajurit itu mengernyit saat tanpa sengaja mendengar bisikan Xavia. Namun dia tidak bertanya lebih lanjut.
"Saya jenderal dari Exalos Kingdom. Diperintahkan untuk menemui Raja James, karena menurut kami panglima perang Lucerus sekarang adalah tawanan kami. Kami datang untuk menjemputnya secara baik-baik."
Xavia memejamkan matanya. Dia memutar tubuhnya menghadap istana Lucerus yang menjunjung tinggi, berkali-kali helaan napas dia buang. Xavia mati langkah, dia tidak tahu harus berbuat apa. Dugaannya benar, kedatangan Exalos, bentrok dengan Salona. Jika Yang Mulia tahu kedatangan Exalos untuk menawan, apa yang akan terjadi?
Xavia dengan kalut membalikkan lagi tubuhnya—menatap jenderal dari Exalos itu. "Itu aku."
Jenderal itu mengernyit.
"Panglima perang yang kalian cari adalah aku sendiri."
Jenderal itu tersenyum tipis membuat Xavia menatapnya tajam. "Ternyata itu benar anda. Saya saat itu juga berada dalam peperangan dengan Aevum. Saya tidak menyangka anda mau mengakuinya."
Xavia membuang wajah. "Aku akan pergi ke Exalos. Tidak perlu menemui Raja."
"Jenderal," seru prajurit Lucerus yang berjaga. Khawatir begitu mendengar ucapan Xavia yang akan ditawan ke Exalos.
Xavia membalikkan tubuhnya. Dia tatap prajurit-prajurit itu satu-persatu. "Jangan beritahu Raja atau Ratu atau siapapun tentang ini. Sampaikan pada mereka bahwa aku berkunjung dan menginap di dinasti Navarre. Mengerti?"
"Tapi jenderal, keselamatan anda—"
"Aku bisa mengatasinya." Xavia menepuk bahu prajurit itu. Dia tersenyum tipis. Senyum pasrah.
"Kakak..."
Xavia terbelalak. Remaja Alice menatapnya dengan penuh kebingungan di belakang para prajurit. Xavia menghampirinya dan membawanya menjauh lalu memegang bahunya.
"Tempat ini di luar batasanmu putri Alice," katanya tajam.
"Kelinci Aurora lepas. Aku membantu Aurora mencarinya," jawab Alice. "Kemana kau akan pergi?" tanyanya dengan suara bergetar. Alice mendengar semuanya, namun dia ingin memastikan apa yang dia tangkap dari hasil menguping pembicaraan orang dewasa.
Xavia mati lidah, dia membuang pandangannya sambil membuang napas, kemudian menunduk lagi menatap sang adik. "Tolong sampaikan pada Ayah, aku akan berkunjung dan menginap ke Navarre dalam beberapa waktu."
Alice menggeleng ribut. "Bohong. Aku mendengar semuanya."
"Putri Alice..." Xavia mengeratkan pegangannya di bahu Alice. "Aku akan baik-baik saja."
Alice menggeleng.
"Tolong ya. Kakak percaya kau mau tutup mulut. Kakak mempercayaimu." Xavia melunakkan tatapannya dan mengusap kepala Alice lembut. Dia mundur dan berbalik, bergabung bersama prajurit Exalos yang sudah menunggu.
Alice tidak mampu menahan tangisnya. Dia terisak saat rombongan itu meninggalkan istana.
***
Rombongan yang membawa Xavia sampai di Exalos siang hari. Raut Xavia murung semenjak dia meninggalkan Lucerus. Sekarang dia berada di kota besar kerajaan paling berpengaruh di masa ini.
Xavia mengepalkan kedua tangannya. Jika memang harus seperti ini, Xavia harus menyelesaikan semuanya dengan cepat. Jika Exalos memang meminta pertanggungjawabannya, Xavia akan bertanggung jawab.
Sekarang, istana Exalos menjunjung sangat tinggi di hadapannya, dengan benteng pertahanan yang tak kalah tinggi. Ada begitu banyak prajurit penjaga di sepanjang perjalanan masuk istana. Istana Exalos lebih besar dari Lucerus. Lebih mewah dan tentunya lebih kuat. Xavia dengan tenang mengikuti Jenderal Exalos yang menjemputnya semalam, masuk ke aula yang luas dan ruangan utama tempat sang pemimpin
***
"Jenderal Aiden memasuki ruangan utama."
Atensi Raja Arthur mengarah ke pintu masuk. Petinggi kerajaan sudah berada di tempatnya masing-masing. Sudah menunggu karena kabar kepulangan Jenderal Aiden sudah dikabarkan semenjak rombongan itu sampai di perbatasan Exalos.
Seharusnya tidak perlu seantusias ini, yang mereka sambut hanya tawanan perang. Namun kabar yang mengatakan bahwa ini berhubungan dengan Lucerus—kerajaan yang akan menjadi kerabat Exalos lah yang membuat mereka penasaran. Tawanan perang mereka adalah dari kerajaan calon besan. Kabar lainnya, sang panglima adalah seorang wanita.
Tatapannya antusias Raja membara, mengingat tugas yang dia berikan kepada jenderal tersebut. Jenderal sudah kembali, seharusnya sang jenderal membawa apa yang dia minta.
Rombongan jenderal Aiden memasuki ruang utama. Tatapan terfokus pada sang tawanan yang melangkah dengan tenang. Jubah hitamnya melambai mengikuti gerak tubuhnya. Sebilah pedang tersarung, diikatkan ke pinggang. Rambutnya diikat ekor kuda di belakang. Ikat kepala berhiaskan emas melingkari dahinya, dan anak rambut panjang hampir menutupi mata kirinya. Terakhir, penutup wajah hitam transparan, menutupi separuh wajah, diikatkan ke belakang kepala. Hanya mata yang terlihat dan siluet garis wajah, hidung dan bibir.
Misterius.
"Salam Yang Mulia." Jenderal Aiden berlutut.
Raja Arthur tersenyum tipis. Dia tidak membalas salam Jenderal Aiden, tatapannya beralih pada Xavia yang tidak berlutut seperti yang lainnya.
Putri yang dia ketahui hanya sebagai panglima perang dari Lucerus itu berdiri dengan tegap. Menatapnya dengan sorot datar, tidak gentar dan percaya diri meskipun sekarang statusnya sebagai tawanan perang.
"Salam Panglima." Raja merendahkan harga dirinya menyapa Xavia terlebih dahulu.
Xavia membungkukkan sedikit kepalanya. "Salam Yang Mulia."
Raja Arthur tersenyum. "Maaf jika prajuritku berlaku kasar."
"Tidak. Saya menyerahkan diri."
Raja Arthur terdiam. Dalam hati memuji keberanian Xavia. Sungguh watak yang menyegarkan. Raja belum pernah bertemu satu yang seperti Xavia.
"Aku sudah mendengar semua tentangmu. Hubunganmu dengan Aevum dan Lucerus. Sayangnya panglima, ini adalah tradisi. Semua yang terlibat perang dengan Exalos, adalah tawanan bagi pemenang."
Xavia mengangkat pandangannya dan tersenyum di balik penutup wajah yang tipis. "Beruntung sekali Exalos tidak berhadapan dengan Lucerus. Karena sekarang Exalos berkerabat dengan Lucerus melalui Salona. Bukan begitu Yang Mulia?"
Raja Arthur tertegun. Beberapa detik kemudian dia terkekeh kecil. Panglima ini mempunyai pemikiran yang tajam. Dia dapat dengan mudah membaca niat terselubung Exalos. Raja Arthur tentu tidak mau mengakuinya.
"Aku cukup terkejut mengetahui bahwa Aevum adalah anak kerajaan calon besan."
"Aku pun terkejut mengetahui Aevum dan Exalos memiliki hubungan yang sudah cukup jauh."
Raja Arthur terkekeh lagi. Dia memerintahkan prajurit untuk membawakannya tawanan lain dari Aevum. Xavia menyipitkan matanya. Tawanan itu adalah Raja Philip. Pria yang diangkat Raja James untuk memimpin Aevum. Raja yang membuat perjanjian ceroboh dengan Exalos. Orang yang melarikan diri saat peperangan.
"Yang Mulia..." Philip bersujud pada Xavia saat prajurit melepaskannya. Dia menampilkan raut menyesal yang ketara. Tubuhnya terdapat banyak luka dan kakinya terlihat mengalami cedera yang cukup parah.
Xavia mengepalkan tangan. Menahan keinginan untuk memenggal kepala Philip saat itu juga.
Raja Arthur berdehem. "Panglima, mengingat anda orang terhormat kerajaan Lucerus, saya bingung hendak memberikan anda tugas apa. Seperti yang anda tahu, tawanan di Exalos selalu dijadikan budak. Tapi tidak mungkin Panglima Lucerus juga dijadikan budak kami. Terlebih anda adalah seorang wanita."
Xavia berdecih dalam hati. Semua kata-kata Raja Arthur terdengar seperti omong kosong. Mereka adalah monster, sudah jelas.
"Anda juga melarikan diri. Seharusnya hukuman yang diberikan lebih berat terhadap tawanan yang menolak di tawan. Di Exalos, yang kalah selalu jadi tawanan. Mengapa Anda melarikan diri? Anda sudah tau prinsip kami."
Xavia dengan tenang menjawab. "Karena bagi Aevum dan Lucerus, setiap pihak yang kalah berhak untuk menyelamatkan diri. Terlebih kami diserang tanpa pemberitahuan. Kalah tanpa persiapan."
Raja Arthur tertawa keras. Puas sekali dengan jawaban Xavia. "Aku mengerti."
Xavia menghela napas. "Aku datang untuk bertanggung jawab. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus statusku di Exalos."
Raja menatapnya lekat. "Harus ada seseorang untuk menebuskanmu Panglima. Tanpa orang yang menebuskan, tawanan akan selamanya jadi tawanan."
Xavia tertawa kecil, tidak percaya. "Yang benar saja," gumamnya. Keluarga istana bahkan tidak tahu dimana dia sekarang. Kecuali Alice.
Xavia berpikir keras. "Apa yang harus aku lakukan untuk dapat menebus diri sendiri?"
Raja Arthur menggeleng, tapi dia tersenyum penuh makna. "Panglima, anda baik sekali tidak ingin meminta bantuan Lucerus," pujinya. "Baiklah, karena keberanian anda, saya akan mempertimbangkannya terlebih dahulu. Anda bisa menunggu di kurungan."
Xavia menatap lantai sembari menghela napas. Prajurit memegangi kedua tangannya, menggiringnya untuk segera keluar. Xavia berhenti di hadapan Philip yang masih bersimpuh di lantai.
Dia melepaskan diri dari prajurit dan berdiri tepat di hadapan Philip. Philip menunduk dalam-dalam, meminta permohonan maaf. Tapi tangan Xavia sudah sangat gatal. Kerah pakaian lusuh Philip dia tarik hingga pria itu berdiri. Pukulan sekuat tenaga dia layangkan ke wajah Philip hingga pria itu terjengkang, tulang pipinya remuk.
"Bajingan," maki Xavia pelan. Setelah itu dia berlalu dari hadapan Philip, keluar dari ruangan utama mendului prajurit yang membimbingnya.
***