
Tubuh Putri Xavia dibersihkan dengan telaten. Selimut sutera menutupi tubuhnya yang hanya dibalut piyama tipis. Sang putri telah tertidur hampir dua hari, membuat istana cemas dan kamarnya tidak pernah kosong. Selalu ada dayang yang berjaga dan Ratu Rose selalu berkunjung ke kamarnya, menunggu Sang Putri bangun.
"Bibi..."
Kepala Pelayan Sima tertegun. Dia terkejut saat melihat Putri Xavia sedang menatapnya dengan tenang.
"Putri, saya akan memanggilkan tabib," ujar Sima dan tergesa-gesa keluar dari kamar Putri Xavia.
Putri Xavia menghela napas. Padahal dia ingin meminta air minum karena tenggorokannya sangat kering. Namun Sima sudah terburu-buru keluar tanpa mendengarnya terlebih dahulu.
Putri Xavia dengan perlahan mengangkat tubuhnya dengan susah payah. Tubuhnya sakit dan pegal luar biasa. Efek berjalan dua hari penuh baru terasa sekarang. Kakinya terasa mati rasa dan kepalanya sakit. Dia melihat gelas air minum yang diletakkan di nakas samping tempat tidur.
Xavia mengulurkan tangannya namun suara langkah yang berderap menghentikan Xavia. Sima kembali membawa tabib dan beberapa dayang lainnya. Sang tabib segera memutari tempat tidur menghampiri Xavia.
"Putri, bagaimana perasaan anda?"
"Hmm haus."
Sima salah tingkah. Salahnya tidak menanyakan terlebih dahulu keadaan putri Xavia, malah buru-buru pergi. Dia segera mengambilkan air dan membantu Xavia meminumnya.
"Maafkan saya, Putri."
Xavia tidak menjawab, kerongkongan sudah basah dan dia kembali diam.
"Putri, bagaimana luka di punggung anda? Apakah masih terasa sakit?" tanya Tabib.
Xavia mengangguk singkat. "Sakit. Tapi masih bisa aku atasi. Tabib Eden, tolong berikan minyak urut untuk kakiku. Kedua kakiku mati rasa."
Tabib Eden, memijit kaki Xavia di beberapa tempat, untuk memeriksanya. Xavia menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur sambil menghela napas. Tubuhnya sakit sekali. Tabib Eden memberikan apa yang Xavia minta. Selimut dia singkap, menampilkan kedua kaki Xavia yang membengkak dan lecet di beberapa tempat. Kaki itu diurut untuk melancarkan peredaran darahnya.
Sementara di luar kamar, berdiri rombongan pelayan, dayang-dayang Ratu yang datang berkunjung ketika mendengar kabar putri Xavia sudah sadar. Namun, Ratu masih membeku. Kakinya seolah tidak memiliki tenaga untuk melangkah masuk. Pandangannya mengintip ke dalam melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat.
Kedua tangannya bertaut di depan perut dan bola matanya bergerak-gerak gelisah.
"Apa Putri baik-baik saja?" tanya Ratu seorang diri. Sima keluar dari kamar karena permintaan Putri Xavia yang ingin makan.
"Sima, tolong berikan masakan terbaik dari Issa dan pastikan putri makan dengan baik."
Sima terkejut namun dia tetap membungkuk. "Baik Yang Mulia." Tidak ingin membantah, Sima segera menuju dapur kerajaan, menemui tukang masak Ratu, Issa.
Tukang masak Ratu adalah tukang masak khusus. Ratu memiliki alergi terhadap makanan-makanan tertentu sehingga Raja membuat tukang masak khusus agar Ratu tidak salah makan. Makanan dijamin aman dan kualitas bahan masakan terbaik. Bahkan ketiga Putri Lucerus tidak pernah dimasakkan oleh tukang masak Ratu.
Dari segala hal yang bisa dilakukan oleh seorang ibu, mengapa hanya ini yang bisa Rosetta berikan? Rosetta memang pengecut. Dari awal dia memanglah seorang pengecut.
***
"Putri Xavia adalah gadis yang kuat. Sudah cukup pantas memimpin Lucerus menggantikan ayahnya. Mengapa Yang Mulia masih bersikeras menikahkan putri-putrinya? Lucerus bisa berdiri sendiri tanpa bantuan kerajaan lain."
"Jika Putri Alura benar-benar dinikahkan, berarti dia yang akan memimpin Lucerus bersama suaminya. Wah, benar-benar tidak masuk akal. Dikemanakan putri Xavia? Padahal dia yang lebih tua."
"Putri Alura bahkan tidak pernah keluar dari istana dan melihat rakyat Lucerus. Tubuhnya mulus tanpa sedikit pun lecet. Sedangkan putri Xavia menghabiskan separuh hidupnya di medan perang, mempertaruhkan nyawa demi Lucerus. Padahal dia juga merupakan putri. Ini sangat tidak adil."
"Jika saja aku memiliki kedudukan yang lebih tinggi, aku akan memperjuangkan hak putri Xavia. Dia sangat berjasa pada kerajaan, memenangkan setiap peperangan dan festival. Dia pantas diberi penghargaan. Namun Raja tidak pernah mengungkit prestasinya, selalu triple A."
"Andai Putri Xavia memiliki kerajaan sendiri, aku ingin menjadi dayang di sana. Pasti hidupku terjamin. Dia putri yang bijaksana."
Taman kerajaan dilingkupi suasana damai. Alura menatap ke arah kursi panjang yang terletak di tengah dengan bungkam. Kakaknya memang hebat. Tidak seperti dirinya. Alura selalu terlindung dari cahaya matahari. Tubuhnya molek karena terus dirawat. Sementara Xavia hidup di bawah terik matahari. Tubuhnya terpoles bekas luka karena karena peperangan dan latihan prajurit. Xavia tidak mempunyai waktu untuk merawat diri, tidak hanya untuk berendam di air mawar.
Xavia memang pantas diapresiasi. Dia gadis paling tangguh dalam sejarah Lucerus. Alura hanya seujung kuku dari Xavia. Semua orang tahu itu, tapi Alura pura-pura tuli, padahal dia juga ingin dapat pengakuan.
"Kita kembali." Putri Alura berjalan lurus. Mengubah langkahnya yang semula akan berbelok memasuki taman.
"Putri, bagaimana dengan hadiahnya?"
Putri Alura berhenti, membuat rombongan dayang di belakangnya turut berhenti. Alura menatap buket bunga di tangannya. Lalu menoleh lagi pada Xavia yang sedang berjemur di taman.
"Buang saja."
Putri Alura tersenyum tipis. Kecewa. Padahal dia ingin menyambut kepulangan sang kakak. Barangkali Xavia butuh hiburan sehabis menghadapi peperangan. Alura bersedia menemaninya mengobrol seharian, menceritakan bagaimana jalannya peperangan. Namun hatinya kecewa. Alura takut Xavia akan menyadari perasaannya yang kacau. Selain pintar berperang dan berstrategi, Xavia sangat peka terhadap perasaan seseorang.
***
Xavia membuka matanya yang semula terpejam menikmati hangatnya matahari pagi. Di sisinya, ada Kepala Pelayan Sima yang baru saja kembali entah darimana.
Kepala pelayan Sima menggeleng. "Tidak Putri. Saya tidak sedang sibuk."
Xavia menatap ke depan. Keringat mengalir dari wajah pelayan itu, namun dia masih berkilah tidak sibuk.
"Apakah Putri ingin kembali?" tanya Kepala Pelayan Sima.
"Kenapa? Apa bibi ingin segera aku kembali? Agar tidak perlu repot menjagaku lagi?"
Kepala Pelayan Sima panik seketika. "Ampun Putri, saya tidak bermaksud demikian. Saya rasa anda sudah berjemur terlalu lama Putri, matahari semakin terik. Ampuni hamba jika lancang."
Xavia tersenyum tipis. Dia menatap ke langit yang cerah tanpa awan. "Kenapa istana sangat sibuk?" tanyanya bergumam.
Kepala Pelayan Sima membungkuk. "Yang Mulia Raja memerintahkan kami untuk mempersiapkan pesta penyambutan kunjungan kerajaan."
Xavia mengernyit. "Dalam rangka apa?"
"Pernikahan Putri Alura." Kepala Pelayan Sima membungkuk dalam-dalam.
Xavia terkesiap. Kepala Pelayan Sima tidak berani mengangkat kepalanya. Sementara Xavia sendiri masih belum bisa percaya. Sang Putri berdiri, membuat Sima menatapnya cemas.
"Putri, tolong perhatikan kesehatan anda."
Xavia mengabaikan Kepala Pelayan Sima. Dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih, dia melangkah memasuki istana. Jubah sutera panjang yang menyelimuti tubuhnya yang hanya berbalut gaun tipis, menyapu lantai dengan indah. Rambutnya yang disanggul tidak rapi tidak mengurangi kecantikannya.
Xavia melihat di kanan dan kirinya di sepanjang perjalanan, para pelayan sedang sibuk merias atau mengerjakan sesuatu. Kuatlah perasaannya jika Lucerus akan dipinang kerajaan lain melalui Alura.
Langkah kakinya dipercepat menuju ruangan utama. Menemui Sang Raja di singgasananya. Raja yang kala itu ditemani para petinggi dan penasehat, menghentikan diskusi mereka.
"Ada apa putri Xavia?" tanya Raja.
"Aku di sini bicara sebagai putrimu, bukan sebagai panglima," ujar Xavia meminta izin.
Raja menghela napas. "Apa ini tentang pernikahan Alura?"
"Apa ini bisa disebut sebagai pernikahan?"
Raja menegakkan tubuhnya dan menatap Xavia lekat-lekat. Xavia melunakkan pandangannya. "Lucerus masih bisa menjalankan roda pemerintahannya sendiri. Kita juga punya sistem keamanan yang baik. Apa yang ayah takutkan? Kenapa terlalu terburu-buru menyerahkan Lucerus pada kerajaan lain?"
Xavia tahu ayahnya hanya ingin memperkuat posisi Lucerus, tapi bagi Xavia, menikahkan Alura sama artinya melebur Lucerus dibawah kerajaan lain. Menjadi boneka kerajaan suaminya.
"Xavia, keputusan ini diambil bersama. Sudah saatnya Lucerus bangkit dari kurungan ini. Kami yakin, besan akan membawa pengaruh baik untuk Lucerus."
Xavia mengernyit tidak terima. "Alura masih 21 tahun. Dia bahkan belum dididik untuk menjadi seorang Ratu. Alura masih butuh kebebasan Ayahanda, dia bahkan belum pernah melihat dunia luar."
Sang Raja menghela napas dalam-dalam. "Ini untuk Lucerus Xavia. Mengertilah."
Xavia mengatupkan mulutnya rapat-rapat. "Kerajaan apa itu?"
"Salona."
Xavia terperangah. "Salona Kingdom?" tanyanya tak percaya. "Exalos baru saja menjajah Aevum dan sekarang ayah akan membiarkan Salona meminang Lucerus? Lelucon macam apa ini Yang Mulia?"
Exalos lah yang telah memerangi Aevum, anak kerajaan Lucerus. Sementara Salona adalah salah satu anak kerajaan terbesar dari Exalos.
"Apa maksudnya semua ini Putri?" tanya Raja dengan tajam. Semuanya masih abu-abu dalam kepala Raja.
Xavia menghela napas. "Aevum diakuisisi oleh Exalos 16 bulan ini demi persenjataan dan pinjaman dana untuk perekonomian dengan syarat semua transaksi Aevum hanya pada Exalos. Philip mengkhianati perjanjian tersebut dengan mengadakan hubungan kerjasama dengan kerajaan lain, belum lagi hutang finansial yang menumpuk di beberapa sektor. Konsekuensinya adalah Aevum menjadi hak milik Exalos. Philip menolak hingga Exalos datang mengambil Aevum secara paksa," tutur Xavia menjelaskan.
Raja murka. "Bagaimana ini semua bisa terjadi? Lalu kemana Philip?"
"Philip melarikan diri dan sekarang menjadi buronan Exalos."
Xavia menundukan kepalanya saat Raja berteriak marah.
"Ayah," panggilnya. Xavia mengangkat kepalanya dan menatap sang Raja yang masih mengatur emosinya. "Begitu pun aku, statusku sekarang adalah buruan Exalos. Bagi Exalos, semua yang terlibat perang adalah tawanan bagi pemenang."
Ruangan utama ricuh seketika. Begitu pun Ratu yang mendadak sesak napas di singgasananya. Xavia menunduk dalam-dalam. Nampaknya kepulangannya ke Lucerus semakin menambah beban Raja.
***