The Book Of Martial God

The Book Of Martial God
99. Anya



15 Menit kemudian Tian Long dan Anya telah selesai makan. "Aku akan pergi." Tian Long melihat Anya. "Jangan pergi." Anya memegang tangan Tian Long. "Baiklah, aku tidak akan pergi." Tian Long duduk di kursi.


"Jika kamu ingin menangis. Menangislah." Tian Long melihat Anya yang duduk di sampingnya. Mendengar kata Tian Long, Anya mulai menangis. Tian Long kemudian merangkul Anya. "Huuaa." Anya semakin menangis dengan kencang.


Beberapa menit kemudian Anya telah berhenti menangis. "Tian Long, bisakah kamu tinggal bersamaku. Aku takut tinggal sendiri." Anya melihat Tian Long. "Baiklah, aku akan tinggal denganmu." Balas Tian Long. "Terimakasih Tian Long." Anya mengusap air matanya.


"Apa kamu mau ikut denganku ke kebun." Tanya Tian Long. "Aku ikut." Anya mengangguk. Tian Long tersenyum kemudian berdiri. Tian Long berjalan ke luar rumah di ikuti Anya.


Beberapa menit kemudian Tian Long dan Anya tiba di kebun. Setelah tiba di kebun Tian Long menyiram bibit tomat. "Anda menyiram bibit tomat Exp +5000." Tian Long melihat pemberitahuan yang muncul di depannya.


"Tian Long, mengapa kamu suka berkebun." Tanya Anya melihat Tian Long. "Sebenarnya aku tidak suka berkebun. Tapi aku di beri misi untuk berkebun." Balas Tian Long.


"Siapa yang memberimu misi untuk berkebun. Apa kakekku yang memberimu misi berkebun." Tanya Anya. "Tidak. Suatu saat kamu akan tahu siapa yang memberiku misi berkebun." Tian Long tersenyum dan menyiram bibit tomat. "Anda menyiram bibit tomat Exp +5000."


30 Menit kemudian Tian Long sedang memotong pohon dengan pedang. "Slassh." "Bruakk." Pohon terpotong. "Dari mana kamu mendapatkan pedang yang begitu tajam." Tanya Anya melihat Tian Long. "Aku membuat pedang ini sendiri." Balas Tian Long. "Aaahh. Jadi kamu bisa membuat senjata. Lalu mengapa kamu menyuruh kakek untuk membeli cangkul." Tanya Anya.


"Aku tidak mempunyai peralatan dan material untuk membuat cangkul." Balas Tian Long. Tian Long telah menggunakan semua material yang dia punya untuk membuat pedang miliknya. "Ahh. Jadi begitu." Anya mengangguk.


2 Jam kemudian Tian Long yang sedang memotong tumbuhan liar melihat Anya yang berjalan ke arahnya. "Tian Long, ayo pulang. Hari sudah mulai gelap." Melihat matahari yang mulai terbenam Tian Long berkata. "Ayo kembali." Tian Long dan Anya berjalan pergi meninggalkan kebun.


Beberapa menit kemudian Tian Long dan Anya telah kembali di rumah. Tian Long dan Anya kemudian masuk ke dalam rumah. Anya melihat kamar kakeknya dan menghela nafas. "Jangan bersedih, saat ini ada aku yang menemanimu." Tian Long menepuk bahu Anya. "Terimakasih Tian Long. Kamu bisa tidur di kamar kakekku." Kata Anya. "Baik." Balas Tian Long.


1 Jam kemudian Tian Long berada di sebuah kamar dan mendengar ketukan pintu. "Tokk." "Tokk." "Masuklah." Kata Tian Long. Pintu terbuka dan Anya masuk ke dalam kamar.


"Tian Long. Bisakah kamu menemaniku tidur. Aku takut tidur sendirian." Anya melihat Tian Long. "Baiklah. Aku akan menemanimu tidur." Tian Long berdiri kemudian mengikuti Alya kembali ke kamarnya. Tian Long dan Anya kemudian masuk ke dalam kamar.


"Kamu bisa tidur di atas Kasur. Tapi jangan lakukan hal yang aneh." Anya tersipu. "Bagaimana jika aku melakukan hal yang aneh padamu." Tian Long tersenyum. "Aahh. Jika kamu melakukan hal aneh padaku. Kamu harus bertanggung jawab saat terjadi sesuatu padaku." Balas Anya tersipu malu. "Baiklah. Ayo tidur." Tian Long naik ke atas kasur. "Baik." Anya mengangguk dan naik ke atas kasur.


30 Menit kemudian Anya yang sedang berbaring di ranjang bergumam. "Mengapa dia tidak melakukan sesuatu padaku. Apa aku kurang menarik. Jangan bilang Tian Long tidak tertarik dengan wanita." Jika Tian Long tahu apa yang di pikirkan Anya. Mungkin Tian Long akan menampar pantat Anya.


10 Menit kemudian Tian Long dan Anya telah selesai makan. "Aku ingin pergi ke kebun. Kamu mau ikut denganku." Tanya Tian Long. "Aku ikut." Anya mengangguk. Tian Long kemudian berjalan keluar rumah di ikuti Anya.


Beberapa menit kemudian Tian Long dan Anya tiba di kebun. "Tian Long, aku akan membantumu menyiram bibit tomat." Kata Anya mengambil alat penyiram sayuran. "Baiklah, aku akan membersihkan tumbuhan liar." Balas Tian Long.


5 Jam telah berlalu Tian Long dan Anya sedang makan siang bersama. "Tian Long, masakanmu lebih lezat dari masakanku. Wanita yang menjadi pasanganmu pasti beruntung. Karena bisa makan makanan lezat setiap hari." Kata Anya melihat Tian Long.


"Apa kamu mau menjadi wanita beruntung itu." Tian Long melihat Anya. "Jangan bercanda, bukankah kamu tidak menyukaiku." Balas Anya. "Siapa bilang aku tidak menyukaimu. Aku menyukaimu." Balas Tian Long menatap Anya. "Aahh. Benarkah." Anya terkejut.


"Benar, aku menyukaimu. Apa kamu juga menyukaiku." Tian Long menatap Anya. "Aku menyukaimu Tian Long." Balas Anya tersipu. Tian Long tersenyum kemudian mencium bibir Anya. "Eeem." Anya memejamkan matanya dan memeluk Tian Long.


Tian Long membaringkan Anya ke tikar dan membuka pakaiannya. "Tian Long, apa kita akan melakukan hal itu disini." Anya tersipu malu melihat Tian Long. "Benar, tidak ada siapapun di kebun ini selain kita berdua. Jadi jangan khawatir." Balas Tian Long melepas pakaian Anya.


"Jika begitu lakukan dengan pelan. Ini adalah pertama kalinya bagiku." Anya tersipu. "Aku tahu." Tian Long tersenyum kemudian mencium bibir Anya.


4 Jam kemudian Tian Long sedang menggendong Anya meninggalkan kebun. "Tian Long, kamu berasal dari mana. Kakek tidak mengatakan tentang asal usulmu padaku." Anya melihat Tian Long. "Aku berasal dari negara yang sangat jauh." Balas Tian Long.


"Aahh. Seperti apa negara tempatmu berasal." Tanya Anya. "Di negaraku berasal orang-orang suka memain game virtual reality." Balas Tian Long. "Seperti apa game virtual reality itu." Tanya Anya penasaran. Tian Long kemudian menjelaskan game virtual reality kepada Anya.


"Ahh, ini akibatnya jika aku terlalu lama tinggal di pegunungan. Aku tidak tahu bahwa di negara lain teknologi begitu canggih." Kata Anya saat mendengar penjelasan Tian Long. "Kita sudah sampai." Tian Long melihat rumah kayu di depannya. Tian Long kemudian menurunkan Anya.


Tian Long dan Anya kemudian masuk ke dalam. "Hari ini sungguh melelahkan." Kata Anya duduk di kursi. "Kamu ingin makan apa." Tanya Tian Long melihat Anya. "Aku ingin ayam dengan bumbu merah." Balas Anya. "Baiklah, aku akan membuatnya." Balas Tian Long berjalan ke arah dapur.


40 Menit kemudian Tian Long dan Anya berada di ruang makan. "Hmm, dari baunya saja sudah membuatku meneteskan air liur." Anya mencium bau masakan Tian Long. "Baiklah, ayo makan." Tian Long tersenyum. "Selamat makan." Anya tersenyum kemudian mulai makan.


20 Menit kemudian Tian Long dan Anya telah selesai makan. "Aku akan mandi." Kata Anya berjalan ke arah kamar mandi. Tian Long tersenyum kemudian mengikuti Anya. "Aaahh. Mengapa kamu ikut kesini." Anya terkejut melihat Tian Long masuk ke dalam kamar mandi. "Aku ingin mandi bersamamu." Tian Long tersenyum. "Baiklah ayo kita mandi bersama." Anya tersipu malu.