The Angel Wants To Be Spoiled With Me

The Angel Wants To Be Spoiled With Me
Malaikat Itu Tersenyum - Apa Itu Hal Wajar?



"Hey, anakku. Bisakah kamu menjelaskan kata-kata tadi?" ungkap Ibuku yang telah tersadar dari lamunannya.


Uh.. bagaimana menjelaskannya yah? Banyak hal yang telah terjadi dua hari belakangan ini. Tetapi jika aku tidak menjelaskannya, aku yakin Ibu pasti akan memaksaku untuk menjelaskan semua yang terjadi.


"Sebenarnya--" ucapanku terhenti oleh tangan Ibuku.


"Sebelum itu, akan lebih baik jika mendengarnya sembari mengobrol. Kamu tidak masalah kan.. siapa namamu, sayang?" potong Ibuku, bertanya dengan lembut.


"Char, Charlotte Widyaningrum. Bagaimana cara saya harus memanggil bibi?" balas Charlotte memperkenalkan dirinya.


"Oh? Kamu benar-benar sangat sopan! Kamu bisa memanggilku dengan sebutan Ibu, kok!" jelas Ibuku.


"Hey, Ibu! Bukankah itu perkenalan yang salah?" ungkapku sedikit kesal.


"Mungkin kamu benar. Kalau begitu, panggil aku Ibu Mertua!" balas Ibuku.


Ah~ Percuma saja. Jika sudah begini, Ibuku tidak bisa dikendalikan lagi dan ini malah akan jadi bertambah buruk.


"Saya mengerti, Ibu!" sahut Charlotte yang membuatku terkejut.


"Wah! Kamu benar-benar anak yang manis!" ungkap Ibu memeluk Charlotte.


Seperti yang diharapkan dari Gadis Malaikat. Tapi apa dia tidak masalah seperti itu? Aku mencoba berbicara tanpa suara untuk memastikannya dari Charlotte dan dia hanya membalasnya dengan anggukan kepalanya.


Yah, jika Charlotte tidak masalah dengan ini. Aku pikir tidak masalah kan?


***


Kami duduk di sofa sembari meminum teh buatan Charlotte. Sungguh, dia benar-benar hebat bisa menguasai banyak hal yah!


"Terimakasih, sayang!" ucap Ibuku.


"Tidak masalah! Saya senang bisa melayani Ibu dengan baik," jelas Charlotte.


"Hey, Rian! Bagaimana caramu bisa menemukan pacar secantik dan seanggun dirinya?" tanya Ibuku yang membuatku tersedak.


"Uhuk.. uhuk.. hah?" bingungku terbatuk-batuk.


Aku melihat kearah Charlotte, berusaha meminta bantuan untuk menjelaskannya. Tapi saat aku melihatnya, dia tengah tersipu malu sembari bergumam pelan dan membuatku semakin panik.


"Ibu! Bisa hentikan ini? Aku dan Charlotte masih belum memiliki hubungan apapun!" jelasku.


Namun bukannya memperbaiki suasana, yang ada malah memperburuknya. Itu terlihat jelas dari wajah Charlotte yang semakin memerah, bahkan kini aku bisa melihat asap keluar dari atas kepalanya. Sial! Apa aku baru saja benar-benar menginjak ranjaunya?


"Masih belum, kah? Itu artinya suatu saat kalian akan berpacaran?" goda Ibuku.


Wajahku menjadi merah segera setelah mengetahui apa maksud perkataanku barusan. Tidak hanya itu, bahkan Ibuku menikmatinya dengan tawa ringan.


"Ibu! Bisa hentikan itu?!" pintaku.


"Maaf, maaf! Habisnya kalian sangat seru untuk digoda, fufu," ucap Ibu.


"Jadi sekarang, bisa kamu jelaskan semuanya pada Ibu?" lanjut Ibu bertanya.


Aku menghela nafas dan mulai menjelaskan semua yang terjadi. Namun aku mengubah sedikit ceritanya. Dimana aku tidak menceritakan Charlotte yang hendak melompat dari jembatan dan mengalami perundungan saat berada di sekolah.


Charlotte terlihat enggan saat aku mengubah ceritanya, tapi apa boleh buat? Mana mungkin aku akan menceritakannya pada Ibuku bukan? Karena jika dia mengetahuinya, mungkin Ibu akan menuntut anak-anak perundung tersebut setelah melihat video yang aku miliki.


Bukan berarti aku ingin mereka tetap berada disekolah yang sama dengan kami. Namun saat ini aku benar-benar tidak bisa berbuat apapun kecuali menahan perbuatan mereka pada Charlotte untuk sementara waktu.


"Apa itu benar-benar cerita yang sesungguhnya?" tanya Ibuku yang terlihat ragu.


Charlotte hanya mengangguk sembari mempertahankan senyum palsunya. Namun bukannya berdampak baik, Ibuku terlihat semakin curiga dengan memincingkan matanya yang tajam kearah Charlotte dan berhasil membuatnya sedikit takut dengan memejamkan mata.


"Ya, aku rasa aku akan percaya dengan cerita ini," ujar Ibuku.


Kuh.. Ibu benar-benar curiga yah? Tapi aku sedikit tenang karena Ibu tidak bertanya lebih dari ini.


"Oh, benar! Bagaimana dengan PTS yang kamu jalankan minggu lalu?" tanya Ibuku mengalihkan topik.


"Tentang itu, tidak perlu khawatir. Aku telah memastikan untuk tidak mendapatkan nilai merah!" jelasku menunjukkan skrip nilai yang telah aku siapkan.


Ibuku memeriksanya dengan seksama, dia menaikkan kacamatanya dan memeriksa skrip nilai tersebut dengan serius. Yah, bagaimanapun akh telah berusaha yang terbaik dan mendapatkan nilai 80 keatas untuk semua Mapel.


"Cukup bagus! Tapi ini masih kurang bagi Ibu," ucapnya memuji sembari mengelus kepalaku.


"Ibu, aku bukan anak kecil lagi!" sahutku yang tidak bisa menolak elusan kepala darinya.


Aku bisa melihat Charlotte yang tertawa ringan dan diam-diam mengambil gambarku dengan ponselnya. Sial! Berhenti tertawa dan tolong jangan potret wajahku diam-diam dong!


"Ah! Ibu harus segera kembali sekarang!" ungkap Ibuku mengingat sesuatu.


"Apa ini tentang makan siang Ayah?" tanyaku.


"Yup! Benar sekali! Kalau begitu Ibu pamit sekarang!" jawab Ibu berdiri dan berjalan keluar menuju pintu.


Aku dan Charlotte mengantar Ibu keluar dari apartemenku. Lalu saat Ibuku sudah berada diluar, dia pun pamit sekali lagi tapi bukan untukku.


"Nah, kalau begitu Charlotte. Tolong rawat anakku dengan baik yah! Meskipun dia sangat ceroboh tentang makanan, tapi dia adalah anak yang baik!" pamit Ibu yang membuat wajahku semakin merah.


"Baik! Tolong serahkan pada saya!" balas Charlotte yang membuatku semakin malu.


"Cepatlah pergi dan urus suamimu itu!!" kesalku.


"Fufu, kamu benar-benar kesal yah? Oh, ya Char. Saat pertemuan kita berikutnya, tolong jangan kaku lagi yah?" pinta Ibuku pada Charlotte sebelum benar-benar pergi.


"Ya ampun, dia benar-benar menyebalkan jika sudah seperti itu. Maaf karena telah membuatmu kerepotan, Char-- Tunggu?! Kenapa kau menangis?!" ungkapku panik saat melihat Charlotte.


"Huh? Tidak.. ini bukan seperti.. aku menangis karena sedih.. aku hanya.. hiks.."


Aku segera menenangkannya dengan memeluk dan mengelus rambutnya yang lembut.


"Maaf karena membuat dirimu harus menahan diri, Char," ucapku lembut.


"Hiks.. kamu benar-benar curang.. Rian," balasnya yang masih menangis.


Sungguh, aku tidak mengerti lagi dengan apa yang aku rasakan saat ini. Pada satu sisi aku tidak terlalu peduli padanya, tapi sisi lainnya membuatku ingin sekali melindunginya. Mungkinkah tanpa aku sadari perasaan yang ingin aku lupakan dulu mulai muncul kembali?


Aku benar-benar tidak bisa memahaminya. Tentang perasaan yang orang lain sebut sebagai cinta. Apakah ini hal yang wajar? Aku sungguh tidak memahaminya..


***


"Yah~ Siapa sangka putraku benar-benar sudah dewasa? Bisa menemukan gadis secantik dan semanis itu, aku benar-benar tidak menduganya!" ungkap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu Adrian.


"Tetapi mungkin ini akan sedikit sulit untuk gadis itu bisa mendapatkan hatinya? Mengingat hal yang tidak mengenakkan itu, apa Rian benar-benar bisa melupakannya?" lanjutnya khawatir.


Wanita itu menghela nafasnya, sebelum akhirnya menaiki kereta yang akan membawa dirinya menuju stasiun terdekat dengan rumahnya.


"Aku hanya bisa mengharapkan yang terbaik untuk mereka," gumamnya pelan.