
"Selamat pagi," sapaku saat memasuki ruang kelas.
"Pagi!" sahut beberapa orang yang mendengarnya.
Aku lalu berjalan menuju tempat dudukku, disaat yang sama juga aku mendengar beberapa orang tengah membicarakan Charlotte Widyaningrum. Seorang gadis yang dikenal sebagai Gadis Malaikat dan menjadi idola sekolah.
Bukan hanya karena kecantikannya saja, tapi dirinya yang selalu tersenyum manis, ramah dan pandai dalam semua bidang lah yang membuatnya dijuluki seperti itu. Tetapi aku tidak seperti mereka, meskipun aku mengakui fakta tersebut. Aku tidak akan pernah memujanya seperti itu.
"Ya ampun, pagi-pagi sudah bergosip? Mereka benar-benar aneh kan, Rian?" tanya seorang pria berambut merah.
Namaku Adrian Rizky Aditya, sering dipanggil Rian oleh orang-orang sekitarku. Yah, aku tidak terlalu peduli bagaimana cara mereka memanggil namaku. Selama itu bukan panggilan yang aneh, aku tidak terlalu memikirkannya.
"Kau mengatakan itu karena pacarmu bukan, Dani?" sahutku.
"Hahaha, mungkin seperti itu?" balasnya.
Pria ini adalah sahabatku dari SMP, namanya adalah Daniel Ramdani. Dia satu-satunya orang yang sering mengajakku bicara dan dia jugalah yang mau berteman denganku sampai sekarang setelah mendengar cerita masa laluku.
Meskipun dia terlihat seperti pria berandalan, tapi dia memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Aku benar-benar bersyukur bisa memiliknya sebagai sahabat. Dani —Daniel Ramdani— memiliki seorang pacar yang merupakan teman masa kecilku, Miranda Aprilia.
Meskipun aku mengatakan dia teman masa kecilku, tapi aku tidak tertarik dengannya dalam hal percintaan. Jadi aku tidak masalah dia ingin berpacaran dengan siapa. Selama pria itu tidak menyakitinya, aku tidak akan memikirkannya.
"Bicara tentang itu, dimana Mira? Bukankah kalian selalu berangkat bersama?" tanyaku.
"Oh? Dia saat ini tidak bisa hadir karena demam," jawab Dani yang membuatku agak terkejut.
"Huh? Seriusan? Kenapa dia tidak memberitahuku?" tanyaku memastikan.
"Entahlah? Aku sendiri tahu dari ibunya," jelasnya.
"Apa kau berniat mengunjunginya?" tanya Dani seperti mengajak.
"Tidak. Walaupun aku teman masa kecilnya, aku tidak berhak melakukannya. Selain itu, bukankah akan lebih bagus pacarnya yang mengunjungi?" jawabku.
Dani tidak membalasnya dan hanya diam tersenyum. Aku tidak tahu maksudnya tersenyum seperti itu. Tapi aku tidak mau terlalu memikirkannya.
Ding~ Dong ~
Tidak lama setelahnya, bel berbunyi. Menandakan bahwa pelajaran segera dimulai. Semua orang segera duduk ke bangku mereka masing-masing, terlebih lagi saat ini seorang guru telah masuk dan segera memulai pelajarannya.
***
"Baiklah! Masih ada waktu sebelum istirahat, kalian bebas menggunakan waktu yang tersisa sesuai keinginan kalian! Tetapi jangan terlalu berisik!" peringat seorang guru sebelum akhirnya pergi meninggalkan kelas.
"Baik~" sahut semua orang.
Para Siswa membuka ponsel dan mulai main bersama, sementara para siswi mulai berkumpul dengan teman-teman mereka melanjutkan gosip mereka. Aku tidak tertarik dengan apa yang mereka lakukan, aku lebih memilih untuk lanjut membaca Novel daripada melakukan hal seperti itu.
"Kau terlihat serius sekali," ujar Dani.
"Jangan mulai menggangguku hanya karena pacarmu itu sakit dan tidak masuk hari ini," balasku ketus.
"Jahatnya~ Apa kau tidak bisa membiarkan sahabatmu ini bicara denganmu?" sahutnya.
"Daripada itu, kenapa kau tidak Mabar saja bersama mereka?" tanyaku.
"Ah? Apa kau barusan mengusirku?" sahutnya.
Aku tidak menjawabnya, walaupun itu sebenarnya hanya candaan bagiku. Tapi jujur saja, aku sedikit terganggu karena dia terus mengajakku bicara disaat aku tengah asik membaca Novel. Aku lalu menutup Novelku dan berdiri dari tempat duduk.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Toilet," jawabku singkat melambai tangan.
***
"Huft.. Akhirnya aku bisa lepas darinya," gumamku menghela nafas.
"Huh?"
Aku terhenti didepan kelas yang saat ini hanya ada seorang gadis berambut pirang dengan mata birunya. Dia adalah Charlotte Widyaningrum, sosok idola yang dianggap sebagai seorang Malaikat.
"Wajahnya suram? Apa dia tengah dalam masalah? " pikirku.
Tidak lama setelah itu, dia membuka plastik yang terlihat kotor dan mengeluarkan tempat makannya dari sana. Isinya terlihat berantakan, apa dia benar-benar membuatnya sendiri?
"Eh?"
"Oops! Maaf~ Aku tidak sengaja menjatuhkan bekal makan siangmu, Nona Malaikat~" ujar gadis yang terlihat seperti berandalan tersebut.
Charlotte tidak membalasnya, dia hanya terdiam sebentar. Sebelum akhirnya angkat suara dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.
"Tidak apa. Lain kali, berhati-hatilah," balasnya berdiri dan mengambil kembali makanan yang jatuh ke lantai dengan tangannya.
Gadis itu berjalan keluar setelah menyadari keberadaanku. Karena tidak ingin masuk dalam masalah, aku mengalihkan pandangan dan melanjutkan langkahku.
"Tunggu!" panggil gadis tersebut yang menghentikan langkahku.
"Maaf, apa kau perlu sesuatu?" tanyaku sedikit panik.
"Kau melihatnya kan?" balasnya bertanya balik.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan? Maaf, tapi aku tengah buru-buru pergi ke toilet! Jadi permisi," jelasku mengabaikannya.
Sungguh, aku benar-benar tidak bisa percaya. Sosok yang di idolakan sebagai Malaikat, ternyata mendapatkan perundungan seperti itu. Terlebih lagi, bukannya membantu. Aku malah pergi meninggalkannya?
"Sial!" umpatku pelan.
***
"Baiklah, apa ada yang bisa menyelesaikan pertanyaan ini?" tanya guru matematika.
"Rian! Maju ke depan dan selesaikan soal ini!" panggilnya yang membuatku terkejut.
"Eh? Aku?" bingungku.
"Salahmu sendiri malah menatap langit! Sekarang, kau ingin maju mengerjakannya atau berdiri di depan kelas hingga jam pelajaranku berakhir?!" balas guru matematika itu.
"Ugh.. aku mengerti," sahutku yang tidak punya pilihan lain kecuali mengerjakannya.
Yah, soalnya cukup mudah bagiku. Meskipun aku sempat melakukan kesalahan menghitung, tapi aku segera menggantinya dengan jawaban yang benar.
"Bagus! Kau boleh duduk lagi," ucapnya.
Aku pun kembali duduk dan kini tidak lagi menatap langit mendung. Melainkan aku saat ini berpura-pura fokus pada pelajaran, sedangkan pikiranku masih saja mengingat kejadian barusan.
"Sepertinya hujan akan sangat deras sore nanti?" gumamku yang melirik ke jendela saat menemukan kilatan petir muncul sekilas tadi.
***
Dreez~ Dreez~
Hujan deras benar-benar terjadi, beberapa orang yang membawa payung segera pulang tanpa ragu. Bahkan beberapa dari mereka ada yang melakukan berbagi payung. Aku sendiri langsung pulang dengan payung cadangan dari sekolah.
Harusnya sih begitu, tapi saat aku sudah pertengahan jalan dan sampai di sebuah jembatan besar. Aku melihatnya, seorang gadis yang dianggap sebagai Malaikat tengah berdiri dipinggir jembatan dan bersiap melompat.
"Apa yang dia lakukan?!" ujarku berlari secepat mungkin untuk menghentikan tindakan bodohnya.
Tanpa ragu, aku memegang perutnya dan menariknya hingga jatuh menindihku. Dia memberontak untuk dilepaskan, tapi aku harus menolak hal tersebut.
"Lepaskan! Biarkan aku melakukannya!" berontak Charlotte.
"Apa kau gila?! Mengakhiri hidupmu tidak akan menyelesaikan masalah!" sahutku.
"Jangan pedulikan aku! Kamu sendiri bahkan mengabaikan ku sebelumnya bukan?! Jadi kamu tidak berhak mengatakannya!" balasnya yang mengenaiku tepat sasaran.
"Me-Meskipun begitu, mengakhiri hidup bukanlah pilihan! Kau hanya melarikan diri tanpa melawannya!" ungkapku.
"Berisik! Berisik! Berisik! Memangnya apa yang kamu ketahui hah?!" ucapnya.
"Setidaknya, pikirkan tentang orang-orang yang kau sayangi! Bagaimana perasaan mereka saat tahu kau berniat mengakhiri hidupmu!" balasku yang membuatnya berhenti memberontak dan mulai menangis.
Aku melepaskan peganganku dari perutnya. Sialan, karena terjatuh tadi payung cadangan dari sekolah rusak. Bagaimana caraku menggantinya?
"Ya, lupakan itu dulu. Rumahku dekat dari sini, bagaimana kalau kau ikut denganku saat ini?" ajakku.
Aku tidak mengerti apa yang membuatnya menjadi seperti itu. Tapi apapun yang terjadi, sebenarnya itu bukanlah urusanku. Lagipula dia tidak meminta bantuanku. Namun saat melihatnya barusan, aku seperti melihat diriku dalam dirinya. Apakah ini yang orang-orang sering menyebutnya dengan Pertemuan Takdir?