
"Sudah tenang sekarang?" tanyaku meletakkan cokelat hangat di meja.
"Un! Maaf karena perbuatanku tadi," jawab Charlotte.
"Jadi apa yang harus aku lakukan? Membayarnya dengan tubuhku?" lanjutnya yang membuatku tidak sadar menyembur cokelat hangat ketika meminumnya.
"A-Apa yang kau katakan! Aku tidak akan melakukan hal serendah itu!" jawabku setelah terbatuk sebelumnya.
"Tapi kamu memelukku begitu erat lho? Bahkan keluargaku saja belum pernah memeluk sangat erat seperti yang dirimu lakukan," ungkap Charlotte membuat pose yang seolah-olah dia telah kehilangan sesuatu yang berharga.
Ugh, apa dia benar-benar Gadis Malaikat itu? Dari sudut pandang ku, dia lebih ke Gadis Menyebalkan lho! Aku menghela nafas untuk menenangkan diri, lalu melanjutkan minum cokelat hangat dan mengabaikan perkataannya barusan.
"Jadi bisa kau ceritakan alasanmu hingga ingin melakukan hal bodoh itu?" tanyaku serius.
Charlotte yang sedang meminum cokelat hangatnya segera terdiam. Tangannya terlihat gemetar, bahkan tatapan matanya kini kosong. Sialan! Apa aku baru saja menginjak ranjau? Tapi jika aku tidak menanyakannya, bagaimana aku bisa membantunya?
Tunggu, membantu? Apa aku berniat membantunya? Bukankah aku mengabaikannya ketika dia dirundung siang tadi? Apakah aku benar-benar bisa membantunya? Orang seperti diriku?
"Ah, jika kau tidak mau menceritakan hal itu tak masalah!" ungkapku.
"Sebenarnya, aku.. ingin berenang disana, tehe~" balas Charlotte berbohong.
Yup, sangat jelas sekali kalau dia berbohong. Tetapi kenapa..
"Jika kau ingin berbohong, cari alasan yang lebih masuk akal, bodoh!" gumamku.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Charlotte yang sepertinya mendengar gumaman barusan.
"Tidak ada. Setelah pakaianmu kering, hubungi orangtuamu untuk minta jemput, oke?" jelasku.
"Tidak mau," balas Charlotte singkat.
"Hah? Apa yang kau katakan? Kau tahu aku tinggal sendirian disini kan?" tanyaku sedikit kesal.
"Aku tahu," jawab Charlotte.
"Kalau begitu, pulanglah! Aku tidak ingin mendengar rumor buruk dari tetangga sekitar!" ungkapku.
"Aku tidak mau pulang!" balas Charlotte yang membuatku semakin kesal.
"Oke. Serahkan ponselmu!" pintaku.
"Huh? Untuk apa?" tanyanya bingung.
"Sudah berikan!" balasku memaksa.
Charlotte membuka ponselnya dan menyerahkannya padaku. Aku kemudian mencari nomor keluarganya dan segera menghubunginya.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan! Kembalikan!!" ucap Charlotte yang sadar dengan tujuanku.
"Bagaimana juga, orangtuamu harus tahu keadaan anaknya! Bagaimana jika mereka khawatir?" ungkapku.
Entah kenapa aku sedikit bangga dengan tinggi badanku, berkat itu setidaknya aku bisa membuatnya pulang ke rumah. Atau itu yang aku harapkan, sebelum Charlotte menggigit tanganku dan merebut kembali ponselnya.
"Aw! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau malah menggigitku?" kesalku.
Aku mencoba untuk mengambil kembali ponselnya, tapi saat dia bertingkah layaknya kucing yang tidak ingin makanannya direbut. Itu membuatku kesal, tapi pada saat yang sama entah kenapa dia terlihat.. imut?
"Hah, terserahlah. Aku tidak akan menghubungi orangtuamu, tapi setidaknya besok pulanglah ke rumahmu," jelasku mengusap rambutnya yang lembut.
"Karena ini sudah malam, apa yang ingin kau makan? Itulah yang ingin aku tanyakan, tapi saat ini hanya ada mie instan. Apa tidak masalah?" tanyaku.
"Kamu makan mie setiap hari? Bukankah itu tidak baik untuk kesehatan?" balasnya yang mengenaiku tepat sasaran.
"Ugh.. apa boleh buat! Uang bulananku mulai menipis. Aku juga tidak bisa kerja paruh waktu untuk sementara waktu," jelasku.
"Oy! Tunggu, kemana kau pergi?!" tanyaku yang mengikutinya keluar.
"Kemana? Tentu saja ke apartemenku!" jawabnya yang telah membuka pintu apartemen sebelah.
"..."
"EH!! KAU TINGGAL DISEBELAH SELAMA INI?!" ucapku terkejut.
"Begitulah! Mohon bantuannya yah, tetangga!" balasnya dengan tersenyum manis.
***
TAP~ TAP~ TAP~
Charlotte memotong-motong sayuran menggunakan talenan, bahkan dia menggunakan celemek saat memasak. Bukankah itu sudah seperti seorang istri?
"Duh! Apa yang aku pikirkan sih," gumamku pelan.
"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya Charlotte yang masih memotong sayuran.
"Ti-Tidak ada, haha. Tapi aku tidak menyangka kalau kau tetanggaku," jawabku.
"Ya, itu wajar. Aku baru pindah kemarin dan saat aku mencoba ingin memberikan salam, ibu disebelah apartemen milikmu bilang kalau kamu tengah kerja paruh waktu," jelasnya.
"Jujur saja, aku juga agak terkejut lho!" lanjutnya yang memasukkan sayur-sayuran tersebut ke panci.
Mungkinkah, alasan dia tidak ingin orangtuanya tahu karena tidak mau dibawa pulang ke rumah orangtuanya? Jika iya, entah kenapa aku merasa bersalah karena hal itu.
Tanpa aku sadari semangkuk besar sup ayam, dua ikan goreng dan dua piring nasi putih telah ada di meja makan. Charlotte juga menuangkan teh hangat untukku dan dirinya. Sungguh, bukankah dia benar-benar mirip seperti seorang istri?!
"Silahkan dimakan!" pintanya dengan tersenyum.
"Hey, bukankah ini sedikit kebanyakan?" tanyaku.
"Tidak masalah! Jika sup ayamnya tidak habis, kamu bisa meletakkannya di kulkas dan jangan lupa untuk dipanaskan lebih dulu!" jawabnya menjelaskan.
"Bukan itu, maksudku," ujarku.
Pada akhirnya aku pun memutuskan untuk memakan masakannya. Aku mengambil potongan daging ikan dan memasukkannya ke mulut bersama nasi. Rasa gurih dari ikan gorengnya benar-benar sangat terasa! Terlebih lagi jika dipadukan bersama nasi dan juga supnya benar-benar enak!
"Bagaimana?" tanya Charlotte yang masih tersenyum.
"Enak," jawabku singkat.
"Syukurlah jika itu sesuai dengan lidahmu, hehe," balasnya tertawa ringan.
Charlotte pun ikut makan bersamaku dan malam itu karena makanannya begitu lezat, aku sampai menambah 3 porsi nasi dan sup ayamnya. Aku benar-benar tidak menyangka dapat merasakan makanan lezat seperti ini. Seperti yang diharapkan dari Gadis Malaikat, dia benar-benar multi talenta!
"Ah, biarkan saja piring kotornya! Aku akan mencucinya besok!" ungkapku saat menyadari kalau Charlotte tengah bersiap mencuci piring.
"Jangan khawatir! Aku tidak keberatan melakukannya kok!" balas Charlotte.
"Tapi aku yang merasa tidak enak! Apalagi kau telah memasakkan makanan lezat untukku," jelasku.
"Tidak masalah! Aku tidak terlalu memikirkannya. Mendengar kamu begitu menikmati masakanku saja sudah cukup kok!" ungkapnya yang mulai mencuci piring.
Aku tidak bisa membalas ungkapannya itu. Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka ini akan terjadi padaku. Bisa memakan makanan lezat seperti itu, sudah seperti anugerah bagiku. Aku pun memutuskan untuk membantunya, meskipun hanya mengeringkan saja. Tapi aku ingin berguna untuknya, karena itulah aku pasti akan melindungi senyumannya itu.
Walaupun itu mungkin akan sulit bagiku, tapi aku akan melakukannya. Tidak peduli apa yang akan terjadi padaku nanti, tidak akan aku biarkan dia menangis seperti tadi. Jadi dengan begitu, maka dimulailah kehidupan manis bersama dengan gadis yang disebut sebagai Malaikat.
Namun dibalik semua itu, dia menyembunyikan kehidupan yang menyedihkan dan kacau dengan senyuman miliknya. Meskipun demikian, tidak peduli apa yang dialaminya. Aku akan membuatnya bahagia dan itu pasti!
...Prologue End...